
Dion segera meminta Beni supaya segera menghubungi penghulu beserta saksi dan wali hakim.
Dion terpaksa menikahi Aluna ketika masih di rumah sakit. Alasan Dion sangat kuat. Dia ingin selalu berada di dekat Aluna ketika sakit.
Aluna juga sudah setuju menikah. Keinginan calon suami sudah tak bisa dibantah lagi, meski Papa sudah menyarankan lebih baik menikah ketika Aluna sudah sembuh sekalian acara pesta.
Tapi Dion memilih menikah dulu baru pesta. Terpaksa keluarga ikut keinginan mempelai.
***
Penghulu sudah datang ketika perdebatan belum selesai. Pernikahan tak bisa terelakkan lagi.
"Luna, Sayang. Menikahlah dengan Dion. Dia sangat takut kehilangan kamu," kata Melani. Sambil memakaikan kerudung putih untuk Aluna yang kini tengah duduk di ranjang pasien.
"Iya Tante. Semoga cinta Pak Dion memang ditakdirkan untuk Luna." jawab Aluna. Merapikan kerudungnya.
Sedangkan Dion memakai hem putih dan celana hitam. Begitu saja sudah membuatnya sangat tampan.
Dion segera menjabat tangan lelaki berkemeja hitam yang ditunjuk menjadi wali Aluna. Dengan lantang dia mengucapkan bacaan ijab, dan Dion segera membalas dengan ucapan Qobul.
"Gimana saksi sah!" Tanya penghulu.
"Sah!" Semua keluarga serempak. Adrian juga ikut menjawab sah meski dalam hati.
"Alhamdulilah." Dion mengusap kedua telapak di wajahnya.
Pernikahan disaksikan oleh keluarga Dion dan keluarga Adrian. Mereka semua nampak duduk dengan rapi, hanya Adrian yang terlihat gelisah dan matanya merah. Meski airmatanya tidak menetes tapi sangat kentara dia sedang terluka hatinya.
__ADS_1
"Kak Adrian yang sabar ya! Kakak Adrian bahkan sudah menikah dulu dengan Angeline. Jadi Luna tidak juga berhak bahagia." Kata Jessica dengan gaya bicaranya khas anak muda.
"Aku dan Angel menikah hanya untuk sebuah nama didepan publik. Dan aku sadar aku tak butuh itu semua. Ternyata cinta yang lebih aku butuhkan Jess, bukan nama besar yang dikenal banyak orang dan disegani."
"Kak Rian tidak serius sayang?"
Adrian menggeleng. Dulu memang iya, tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah tahu semua kebusukan Angel dan papinya. Pura puraensukungku, tapi ternyata dia juga yang telah membuat perusahaanku bergantung padanya.
"Hehe, Jessica belum terlalu faham soal bisnis. Pasti sebentar lagi Tuhan akan tunjukkan jodoh kak Adrian yang sesungguhnya. Jika ternyata Kak Aluna jodoh Kak Dion. Sabar," kata Jessica lagi.
Sejenak mereka berdua saling diam.
"Menurutmu kenapa Dion suka sama dia?"
"Kak Adrian serius nggak tahu?"
Cukup, Jess. Jangan katakan apa-apa lagi semakin kau sebut semuanya, penyesalanku tiada akhir, semua hanya akan melukaiku lebih dalam lagi," kata Adrian mulai sesak. Jessica dan Adrian kembali diam menyaksikan pengantin yang terlihat tersenyum sumringah saat Dion memakaikan cincin yang diduga Adrian harganyaencapai seratus juta.
Sedangkan Adrian belum pernah membelikan apapun pada Aluna. Jangankan cincin, baju saja belum pernah.
Usai acara ijab dan Qobul Dion langsung mengecup kening Aluna yang terdapat perban. Aluna sesikitwnindukwnyambut kecupan bibir Dion. Semua yang ada di ruang rawat VVIP Flamboyan ini bertepuk tangan pelan.
Adrian memilih keluar ruangan bersama Jessica. Jessica kasian dengan Adrian yang sedang patah.
Dokter Clara juga hadir, meski sedikit terlambat. Dia juga membawa kado buat Aluna dan Dion. Kadonya lumayan besar, entah apa isinya.
"Dion selamat ya, semoga Aluna dan kamu akan bahagia, dan kalian akan lekas diberi momongan. ujar Clara.
__ADS_1
"Mas Dion dan Mbak Luna, semoga kalian langgeng, dan semoga hubungan kalian akan selalu seperti ini sampai nini dan aki. Jika istri sakit suami selalu ada, jika suami sakit sebaliknya." Kata pak penghulu memberi wejangan.
Luna dan Dion mendengarkan dengan seksama. Mereka berdua menunduk, dan mengangguk mendengarkan wejangan.
Melani dan Davit nampak lega. Keinginan terbesar putranya akhirnya terwujud. Meski Dion tidak menyukai menantu impiannya, Melani dan Davit mencoba mengalah untuk anak, dia yakin Dion memilih Aluna pasti sudah memiliki pertimbangan yang kuat.
Nenek meminta maaf tidak hadir, padahal
"Papa keluar Ma, kita kasih waktu untuk pengantin baru supaya bisa berbicara bebas tanpa kita."
"Iya. Clara. Mari kita keluar." Melani menarik lengan Clara, gadis itu tersentak dari lamunannya.
Clara terpaksa pura pura bahagia, memberi selamat pada Aluna dan Dion. Padahal hatinya saat itu sedang sedih sekali.
"Clara apa menurut mu dia serasi?"
"Se-serasi Tante," kata Clara tergagap.
Dion dan Aluna sejak tadi nampak saling pandang. Aluna yang sempat nervous sampai sekarang jantungnya masih dag-dig-dug. Ada rasa tak percaya, bahagia, dan juga syukur bercampur aduk.
"Luna, cepat sembuh ya. Sayangku, Istriku Aku janji setelah menikahimu akan selalu membuatmu merasa paling istimewa."
"Pak Dion, jangan terus membuat Aluna melambung ke langit, kalau jatuh nanti pingsan," canda Aluna.
Dion memeluk lalu mengecup kening Aluna dengan gemas.
"Honey." Kata Dion sambil memeluk Aluna makin erat. " Mulai sekarang Aku akan memanggilmu 'Honey' Dan jangan terus manggilku Pak Dion. Aku jadi terlihat sangat tua."
__ADS_1