Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 211. Berlahan cinta akan hadir.


__ADS_3

Adrian menunggu Nabila hingga siang hari, Nabila kini baru tahu kalau Kakak Jay sedang mengerjainya. 


"Mau kemana kamu."


"Aku mau menunggu Nabila di luar saja."


"Ya silahkan, disini pun kau tak akan bisa membantuku apa-apa."


'Sial, andaikan aku dokter, pasti akan aku bantu, sedangkan aku ini lelaki dengan jiwa pebisnis," kesal Adrian dalam hati. 


"Pergilah!" usir Jayden. 


Adrian benar-benar pergi dari ruang Jaiden, dia sengaja mondar mandir di depan ruang Nabila. 


Tiba-tiba Adrian dikejutkan oleh suara dari dalam ruangan. "Sayang, kamu sejak kapan disitu? Kok nggak masuk?"


Adrian sontak langsung menoleh. "Lhoh, emang sejak kapan kamu di dalam? Aku sejak pagi mencari kamu loh. Na?"


"Kak, sejak pagi aku nggak kemana mana, aku di sini sejak berangkat pagi tadi. Mungkinkah aku ada di toilet waktu kakak datang. Soalnya sepertinya aku masuk angin, kak Jay pagi banget sudah minta berangkat tadi."


"Aku sejak tadi cari kamu mondar mandir lhoh, tapi beneran aku nggak lihat kamu, makanya aku nunggu di ruang Kak Jay yang selalu ngeselin kalau sama aku itu." Adrian meremas rambutnya, bisa-bisanya dia begitu bodoh.


Nabila tersenyum sangat manis, "Kak Jay bilang apa?"


"Kak Jay bilang kalau kamu sedang menangani pasien kritis di luar rumah sakit ini."


"Dan Kak Adrian percaya?"


Adrian mengangguk lalu tersenyum lebar. Betapa dia tak tahu kalau sedang dikerjain abis abisan oleh Jay, selama tiga jam hanya duduk, menunggu seseorang yang tak kemana mana.


"Sayang, kakak kamu iseng banget."


"Sabar ya, Kak Jay emang gitu, tapi sebenarnya dia baik banget kok. Dia cuma nggak rela kalau adik semata wayangnya akan pergi ninggalin dia, nanti Kak Adrian pasti akan ngerasain hal sama saat Chela akan pergi dari rumah." 


Nabila mempersilahkan Adrian masuk, dia sangat bahagia rupanya Adrian sudah mencarinya sejak pagi, Setidaknya Nabila tahu Adrian sudah mulai menganggap dia ada. 


Adrian masuk dan segera mengecup kening Nabila. Ini pertama kalinya Adrian bertindak agresif pada kekasihnya itu. 

__ADS_1


Nabila merasakan keningnya basah dia sangat bahagia. Dia membiarkan bekas itu mengering di sana. 


Usai mengecup kening Nabila, Adrian duduk di sebuah kursi untuk pasien yang sedang ingin konsultasi mengenai penyakitnya.


"Dokter Nabila, aku lagi sakit tolonglah." Adrian segera membuka dua kancing kemejanya hingga menunjukkan bulu-bulu halus di dada. 


Pipi Nabila merona seketika mendengar Adrian yang selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan berkata gombal. 


Nabila menghindari Adrian, Nabila malu kelihatan tersipu dan pipinya menjadi merah-semerah tomat,


Sekarang wanita itu mengalihkan pekerjaannya dengan berdiri di dekat meja lain dan menata banyak berkas. Adrian hanya melihat dari jauh, setelah diperhatikan kekasihnya itu cantik juga.


Adrian mendekati dan memeluk pinggang sang kekasih.Adrian berbisik pelan di telinga Nabila. "Dokter ayo periksa aku, tubuhku sangat panas karena memendam rindu. Kenapa kau sejak pagi tak bisa di telepon."


"Sungguh ini rencana Kak Jay, ponselku dibawa sejak pagi," kata Nabila berkata jujur. menoleh ke arah kekasihnya, Adrian mengecup kening Nabila.


"Sayang kau serius dengan ucapan semalam?" tanya Adrian lagi.


"Iya. Kak Jay minta kita tunangan lalu kita menikah, tidak boleh lama lama pacaran."


"Baiklah akan aku kabulkan."


Melihat Nabila sudah selesai menata berkas dan data pasien, Adrian segera membalik tubuh sang kekasih hingga menghadapnya.


"Sayang tutup mata dulu," pinta Adrian sambil membelai rambut Nabila lembut.


Nabila tahu, arti tutup mata artinya akan ada surprise, begitulah yang dia lihat di film-film, Nabila akhirnya menurut, dia menutup mata dengan rasa penasaran yang amat besar.


"Jangan buka sebelum aku memintanya," pinta Adrian.


Nabila mengangguk. "Ya, baiklah."


Jujur Adrian bersikap semanis hari ini, sanggup membuat jantung Nabila Dag Dig Dug.


Adrian mencari dua tangan Nabila dan menggenggam pucuk jemarinya, mengangkatnya lebih tinggi dan mengecup satu persatu.


"Apa aku sudah boleh buka mata?" tanya Nabila yang sudah tak sabar.

__ADS_1


"Belum, tunggu sebentar lagi." Adrian mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


Adrian membuka dengan berlahan, memeriksanya lebih dulu benda dalam kotak kecil warna merah yang dia beli semalam, saat Nabila meminta untuk melamarnya. lelaki itu langsung membelokkan mobilnya ke toko perhiasan yang kebetulan buka sampai malam hari.


"Sayang, jangan buka mata dulu sebelum aku perintahkan," kata Adrian lagi.


Nabila merasakan ada benda kecil yang kini berlahan masuk ke dalam jari manisnya.


Setelah Adrian melihat benda kecil itu pas dan cantik di jari manis sang kekasih, Adrian tersenyum.


"Sekarang buka mata, Maaf cuma ini yang bisa aku kasih, semoga kamu akan suka."


Cincin emas yang bagus meski bukan dari berlian seperti punya Aluna waktu itu, Nabila terima dengan senang hati dan penuh syukur. Nabila tahu kondisi Adrian lagi dalam fase sulit, dia butuh berjuang untuk bangkit.


Nabila menggigit bibir bawahnya lalu mengulum senyum, sungguh dia bahagia dengan keseriusan Adrian hari ini.


"Na, aku melamar kamu, meski dengan cara seperti ini tapi aku serius, aku tak pernah main-main ingin menikahimu, apakah kamu nanti akan bersedia menjadi istri baik dalam suka maupun duka?"


Nabila belum bisa berkata dengan lancar, perasaan haru masih menyelimuti kalbu.


"Aku terima lamaran Kak Adrian, dalam keadaan apapun insha Allah aku akan selalu menerima dalam keadaan apapun, asal Kak Adrian mencintai Nabila dengan tulus dan menjadikan aku satu satunya yang ada di hati ini." Nabila menempelkan telapak tangannya tepat di dada dekat jantung Adrian.


"Kakak sudah berusaha, Cuma Nabila yang ada dihati kakak sekarang. Lihatlah gara-gara pagi tadi tidak mendengar kabar darimu, apa yang terjadi. aku bingung, aku tidak bekerja."


"Maaf." Nabila menenggelamkan wajahnya di dada Adrian, Adrian mempererat pelukannya, memangkas jarak diantara mereka berdua. Nabila mengecup puncak kepala Nabila.


Saat mereka saling memeluk dan menentramkan jiwa, Adrian merasakan perutnya terus berkumandang.


"Kak, perutnya kosong, minta diisi tu."


"hehehe, Iya, Aku sampe lupa belum sarapan."


"Ayuk sarapan dulu Kak, aku nggak mau kalau Kakak Rian sampe sakit."


"Nggak apa sakit, aku punya calon istri dokter dia yang akan merawatku" canda Adrian.


"Tidak perlu sakit, Jika kita sudah menikah nanti, aku tetap akan merawatmu Kak."

__ADS_1


"Janji ya"


"iya janji." Nabila menggamit lengan Adrian dan merwka berdua berjalan menuju kantin. sedangkan Jayden sudah melihat semua yang dilakukan adiknya dari CCTV yang sengaja di pasang di setiap sudut ruang Dokter.


__ADS_2