
Dua jam Nabila berada di kamar mandi. Gadis itu membersihkan diri dan bibirnya berulang kali. Nabila selain malu dia juga kesal. Bisa bisanya dia dengan mudah dikelabui oleh Adrian.
"Na, aku mau minum obat!' Adrian memanggil dari luar pintu kamar.
"Minum obat sendiri saja! Anda sudah sehat, dan tugasku disini selesai!" Nabila berkata dengan suara serak karena usai menangis. Nabila berkemas akan pergi dari rumah ini sekarang juga. Karena menurut Jayden, Adrian sudah sembuh, dia tidak butuh dokter pendamping lagi untuk merawatnya.
Adrian memaksa membuka kamar Nabila, ternyata tidak dikunci. "Na, kamu mau kemana?"
"Aku mau pergi! Aku akan kembali kerja di rumah sakit. Bukankah anda sudah sembuh." Nabila melirik Adrian yang hanya dua langkah di depan pintu, sedangkan dia tak menghentikan aktivitasnya melipat baju.
"Na, aku belum sembuh, Kamu tau nggak aku masih sakit, tapi sakitnya disini." Adrian menunjuk hatinya. "Aku butuh kamu ada bersamaku Na, setidaknya jadilah temanku, aku masih butuh terapi lagi untuk menguatkan hati ini."
Nabila mendongak. "Tapi untuk membantu menyembuhkan luka di hati itu bukan pekerjaan aku lagi, kata Kak Jayden aku harus balik siang ini."
"Baiklah, pergilah. Benar yang Kakak kamu katakan, kalau aku sudah sembuh." Adrian lalu kembali ke kamarnya, harusnya dia senang Nabila sudah kembali, dia dinyatakan sembuh. tapi yang terjadi justru tidak seperti itu.
Adrian mulai menyibukkan diri dengan melihat file-file yang dikirim oleh Tito, waktu terakhir kali sebelum dia hilang ingatan.
Adrian mempelajari kembali berkas berkasnya. Ketika lelah dia kembali tidur.
Kesepian, sunyi. Rasa seperti itulah yang dirasakan oleh Adrian saat ini.
"Pak Rian, ini makan siang, susu dan obat, anda pasti malas turun ke ruang makan, jadi semuanya aku bawa kesini. Aku tahu anda suka sekali makan sambil menatap jendela ke arah kolam.
"Ya, terimakasih." Adrian yang tadinya rebahan dia segera berdiri menghampiri Nabila.
Nabila tersenyum lalu sedikit membungkuk. "Terimakasih sudah mengizinkan saya magang disini, tapi kalau bukan Mbak Aluna yang minta, saya yakin anda tidak akan setuju."
Nabila meraih jemari Adrian, mengajak bersalaman lalu melepasnya dengan segera. "Aku pamit, aku minta maaf jika selama kerja, aku telah membuat anda kurang berkenan. Dan maaf jika aku kekanakan, dan suka bikin rusuh."
Adrian membalas uluran tangan Nabila dengan terpaku seperti orang linglung. Baru saja Aluna meninggalkannya, dia sedikit terhibur karena ada Nabila. Tapi sekarang malah dia pergi juga.
Nabila mundur selangkah lalu membalikkan tubuh keluar kamar.
Adrian hanya terdiam menatap wanita yang memakai seragam dokter yang kini meraih koper yang sudah disiapkan di depan kamarnya.
Adrian seharusnya senang gadis yang membuat masalah di hidupnya sudah pergi. Dia tak perlu lagi berdebat soal siapa yang paling pintar, tak ada lagi yang memaksa minum obat pahit lagi.
Nabila turun ke lantai satu dengan melewati tangga, dia pamit kepada seluruh keluarga Adrian, termasuk pada asisten rumah tangganya.
Alex sebenarnya mulai tertarik dengan Nabila untuk menggantikan Aluna, tapi bagaimana lagi, dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti dulu. Alek membiarkan Adrian menemukan jodohnya.
__ADS_1
Adrian berlari keluar kamar, menatap Nabila yang sudah sampai dilantai bawah. Gadis itu berusaha tersenyum di depan keluarganya. Meski dia sebenarnya senang mendapat pasien seperti Adrian.
"Nabila kembali ke rumah sakit, Om." Sambil mengecup tangan Alex, lalu berpindah pada Selena.
Nabila segera keluar menuju halaman. Mencari keberadaan mobilnya yang beberapa hari ini bertengger.
Nabila memasukkan barang-barang ke bagasi. Lalu dia segera mengemudikan mobil menuju rumah sakit.
Adrian sejak tadi melihatnya tanpa suara dari balkon. Sepertinya tanpa Nabila dunianya benar-benar akan makin sepi.
Nabila sudah disambut oleh Jayden di rumah sakit. Jayden senang adiknya sudah kembali.
Barusaja turun, Nabila sudah dihadiahi pelukan hangat. "Hallo dokter cantik! Kakak punya hadiah cokelat untukmu mau," kata Jayden saat melepas pelukannya.
"Mauuu!" Nabila girang,seperti anak SD dapat uang saku lebih.
Jayden langsung mengajak adiknya untuk masuk, dia periksa hasil test dan perkembangan lelaki itu.
"Bagus, kau harus dapat ucapan terima kasih, Adikku," kata Jayden bahagia.
"Kakak bolehkah aku libur satu hari!"
Tentu, istirahatlah," perintah Jayden pada Adiknya.
***
Adrian bosan di rumah, setelah Nabila meninggalkannya sendiri, dia seperti kembali kehilangan satu sayapnya untuk terbang. Perhatian yang special, kata bawelnya, semua menjadi kenangan tersendiri.
"Ah, kenapa aku harus memikirkan gadis itu, dia sudah memiliki kekasih dan dia hanya dokter yang diberi tugas merawatku, kalau bukan karena Luna tak mungkin aku setuju dia merawatku.
Adrian tidak mau selalu terpuruk, dia memilih ke kantor untuk bertemu dengan Argo dan Tito yang selama ini dia beri mandat untuk memegang peranan penting perusahaan.
Kembali kerja, dan mulai semuanya dari Nol. Adrian berjanji akan mengubur masa lalu kelam dan memulai kariernya.
Ketika Adrian akan masuk, betapa terkejutnya dia. Perusahaan sudah banyak berubah, security yang bekerja juga sudah berubah.
"Maaf anda siapa?" Tanya Security yang tak mengenal Adrian.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa ada disini? Dimana para security lama?"
"Maaf Tuan, mulai pagi tadi ada pemecatan karyawan besar besaran, terutama karyawan lama,"
__ADS_1
"Apa?! Siapa yang berani melakukan semua ini?"
"Yang melakukannya adalah Nona Angeline bersama dengan Papanya.
Dia memecat karyawan kepercayaan pemimpin lama dan mulai memasukkan karyawan baru. Bahkan para karyawan lama dikeluarkan tanpa mendapatkan hak hak yang layak, semua aturan sudah dirubah.
"Izinkan aku untuk masuk!"
"Tunggu Tuan, aku akan beritahu Nona kalau ada tamu."
"Security aku harap kamu jangan lupa, aku pemilik perusahaan ini." Adrian menatap nanar pada security.
Karena geram Adrian akhirnya mendorong tubuh security dan menerobos saja sampai di ruang pribadinya.
Security membiarkan Adrian masuk karena dia tahu lelaki itu suami dari pemimpin perusahaan yang baru.
Sampai di ruang pribadi Presdir, Adrian melihat wanita itu duduk di kursi goyang dengan santai, sambil kedua kakinya diangkat tinggi hingga diatas meja.
"Turunkan kakimu dan pergi. Apa yang telah kamu lakukan dengan perusahaanku?!"
"Apa yang aku lakukan Rian? Aku ini istrimu, aku hanya membantumu menjalankan perusahaan ini."
"Pergi kamu, dasar tak tau diuntung." Adrian menarik Angelina yang sedang hamil hingga jatuh ke lantai.
"Rian, apa yang kamu lakukan?" Angeline menatap Adrian kecewa, air mata sudah menggenang di pelupuk.
Aku sudah melakukan yang semestinya, kau wanita tak tau diri, Pargi!! Aku muak melihatmu."
"Jangan muak Adrian, ingat dulu aku pernah menjadi yang paling kamu sayang, semudah itukah kau melupakan cinta kita? Dan satu lagi, perusahaan ini masih berdiri karena ada papi, siapa yang selalu suport kamu, dan jangan salah jika kamu tak bisa membayar semuanya perusahaan ini atas nama aku sekarang karena saham papi lebih besar disini. kamu jika mau kerja hanya akan jadi karyawan biasa, paham!"
"Kau perempuan gila." Adrian memukul pipi Angeline.
"Kau laki-laki tak tau diuntung kau sama sekali tak pernah menghargai aku yang ada di sisimu. Habis manis sepah aku kau buang."
"Karena bayi itu bukan anakku!" Andrian mengutarakan keberatannya.
"Ya, maaf soal itu aku khilaf setelah dia lahir kita bisa bikin lagi yang banyak, dan aku pastikan semuanya adalah hasil kerja keras kamu, darah daging kamu gimana?"
Brakk!
"Gila! Perempuan gila." Adrian menggebrak meja.
__ADS_1
"Aku gila, kamu lebih gila, semua ini karena kamu yang mulai, aku yang pertama ada disisimu, aku yang pertama kali membuat usaha kecilmu jadi besar, dan aku yang memberi support untukmu. Tapi bisa bisanya setuju saja saat papa kamu menjodohkan dengan wanita lain. Sekarang pilihan ada ditangan anda Tuan Tampan, kita mulai hubungan kita yang baru, yang indah dan manis, Bagaimana?"
Selesai menguras energi, Angeline kembali bangkit dan berkata lemah lembut. Mendekatkan tubuhnya hingga perutnya menempel dengan perut Adrian. "keputusan ada ditangan kamu sayang?"