
"Sayang, maafkan aku." Adrian mengecup kening Nabila yang basah oleh keringat.
"Maaf kenapa?"
"Aku minta maaf karena sudah membuatmu tak perawan lagi," kata Adrian merasa bersalah,semua sikapnya rasanya tak adil untuk Nabila. Wanita yang ada di bawah kungkungan nya itu begitu tulus mencintai sedangkan dia masih saja terbelenggu oleh sisa cinta masa lalu.
"Aku ikhlas melakukan semuanya." Kata Nabila mulai rileks, dia sangat bahagia telah menyerahkan semuanya pada orang yang dicintainya.
Adrian memacu tubuhnya maju mundur berulang kali. Membuat tubuh Nabila terguncang naik turun. Rintihan kesakitan kini berubah menjadi erangan kenikmatan.
Nabila semakin kuat mencengkram tengkuk Adrian ketika Adrian menghentakkan miliknya dengan tempo cepat dan lambat.
Tak lama kemudian Nabila sudah mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kali, Nabila merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik yang dahsyat hingga beberapa detik.
Selang beberapa menit, Adrian juga menuju puncak, Nabila sudah menanti benih benih premium Adrian mengisi rahimnya. Namun sayang sekali ekspektasi Nabila tak sesuai harapan. Adrian malah menumpahkan benih cintanya di perut Nabila.
Tau yang sesungguhnya, Nabila hanya bisa meneteskan air mata kecewa.
Tubuh Adrian Ambruk dan mendekap tubuh Nabila lalu mengecup puncak kepala sang istri.
Adrian mengira Nabila menangis karena merasakan sakit yang luar biasa tidak tahunya dia kecewa karena Adrian membuang percuma bibit-bibit berharganya.
"Sayang, sakit sekali ya? Istirahatlah," kata Adrian yang merasa lelah, nyaris sekujur tubuhnya mengeluarkan butiran kristal. Adrian segera mengelap keringat Nabila dan keringatnya sendiri, dan tak lupa cairan kental yang meluber di perut Nabila.
"Apa yang kakak lakukan?"
"Yang kulakukan sudah seperti yang kau inginkan, Na." Kata Adrian lemah lembut, lalu bangkit dari ranjang dan meninggalkan Nabila sendiri. Adrian membersihkan dirinya dan miliknya yang terdapat banyak darah, jujur milik Adrian juga sangat ngilu karena milik Nabila masih sangat rapet.
Nabila makin menangis tergugu ketika Adrian meninggalkannya ke kamar mandi.
Nabila tau Adrian tidak ingin dirinya hamil. Andaikan tidak benar, kenapa Adrian tidak menumpahkan di dalam saja.
Usai dari kamar mandi Adrian masih melihat Nabila menangis.
"Apakah masih sangat sakit," tanya Adrian.
"Tidak." Nabila menggeleng lalu memunggungi Adrian yang mengkhawatirkan dirinya.
"Lalu kenapa menangis?"
Nabila hanya diam, dia tidak bisa menceritakan sekarang jika ingin segera memiliki buah hati dari darah daging Adrian, ingin segera hamil seperti Luna.
__ADS_1
Adrian tak mengerti perubahan sikap Nabila, dia hanya bisa menerka saja.
"Sini biar aku periksa," kata Adrian yang mulai mencari cara supaya Nabila tidak terus menangis.
"Periksa?" Nabila terheran.
"Iya, biar aku tahu lukanya?" Adrian memposisikan diri duduk di bawah Nabila dan hendak memeriksa luka di inti Nabila.
"Jangan." Pekik Nabila yang tentu sangat malu.
"Tidak apa-apa, apa lukanya terlalu parah sampai kau menangis begitu." Adrian memaksa melebarkan kaki Nabila dan tentu Nabila menahan kakinya dan segera menutupi intinya.
"Jangan! Hentikan! Itu memang sakit tapi bukan karena itu aku menangis,"pekik Nabila.
"Lalu karena apa?"
"Nabila menutupi wajahnya dengan selimut dan aset berharganya, dia mendadak seperti ABG labil di depan Adrian.
"Aku bilang tidak ada apa , ya tidak ada apa-apa."
"Tidak mungkin, kalau tidak ada apa-apa tapi menangis."
"Apa?"
"Apa? Hal lain apa, Na?" Adrian mulai mendesak Nabila.
"Kakak, nggak mau aku hamil." kata Nabila di tengah Isak tangisnya.
"Na, Na, stop berprasangka buruk." Adrian menggelengkan kepala.
"Kakak ini sudah sekuat hati melupakan masa lalu dan mencintaimu dengan tulus. Tolong jangan kecewakan aku dengan bersikap kekanakan begini." Adrian berusaha sabar menghadapi Nabila.
Andai Nabila tahu betapa besar harapan Adrian ingin segera memiliki momongan, tapi Alasan untuk menundanya lebih kuat dari pada mempercepat kehamilannya.
Adrian menggendong Nabila ala bridal style ke kamar mandi. Meski sedang kesal Nabila menurut. Nabila mengalungkan lengannya di tengkuk Adrian
Adrian menurunkan Nabila dan mendudukkan didalam bathup
Nabila yang tubuhnya hanya dibalut oleh selembar kain tipis, mempermudah Adrian untuk membuka dan menyingkirkannya.
Nabila sangat malu mendapat perlakuan begitu mesra dari suaminya. Meski sudah lama kenal kecanggungan tetap saja terjadi.
__ADS_1
Nabila sudah meminta supaya Adrian keluar dari kamar mandi dan dibiarkan sendiri saja, tapi lelaki itu malah membantu membersihkan tubuhnya menggunakan sponge, yang sudah ditetesi beberapa sabun cair.
Adrian dengan penuh kasih membalur tubuh Nabila dengan lembut, Nabila berusaha menutup bukit kembarnya menggunakan telapak tangan. Adrian menatap Nabila dengan hasrat yang kembali membuncah.
"pergilah, aku akan mandi sendiri." Nabila menjauhkan tangan Adrian dari tubuh Nabila.
"Jangan pernah berfikir buruk tentangku. Aku sadar betul kita sudah menikah, tapi sebuah Alasan besar, membuat aku belum siap memiliki buah hati, kau sudah pasti akan setuju jika tahu alasannya.
Nabila menjawab dengan cepat. "Aku tahu, tidak mudah membuang bayangan dia dari hidup Kakak. Dia wanita yang terlalu sempurna.
Adrian menutup Bibir Nabila dengan dua jari tengahnya. "sttt. Aku tidak suka kau menyebut wanita lain dalam moment bahagia kita."
Nabila lalu mengunci bibirnya rapat.
"Aku belum siap karena aku masih dalam masa sulit, harus bekerja lebih keras lagi supaya saat kau hamil dan bayi kita lahir ke bumi ini sudah melihat ayah kandungnya adalah lelaki hebat dan bisa dibanggakan."
Nabila tersenyum karena dugaannya ternyata salah. "Jadi bukan karena Aluna."
"Bukan." Adrian menggeleng.
Adrian lalu berlahan menyingkap tangan Nabila yang menjadi penghalang baginya untuk bisa menikmati tubuh Nabila tanpa sehelai benang.
Meski Nabila menahan pergelangan tangan Adrian, tapi Adrian punya seribu cara Agar Nabila kembali menjadi Nabila yang agresif.
Adrian mulai meremas bukit indah menjulang, yang besarnya pas dengan ukuran tangannya.
Nabila merintih karena bagian tubuh sensitifnya kembali mendapat perlakuan yang begitu menyenangkan. "Apa yang kakak lakukan ... emphh?"
"Aku hanya ingin membuat istriku bahagia." jawab Adrian pelan.
Adrian mengecup bibir Nabila dan ikut masuk ke dalam bathup. Adrian mulai mencumbu lagi tubuh inti Nabila dengan kelembutan.
Kamar mandi yang mereka tempati sejenak, menjadi penuh dengan suara ******* dan erangan. Adrian tak memberi ampun pada
wanita yang kini berada dalam kendalinya untuk berprasangka buruk padanya
Adrian terus membimbing miliknya agar kembali masuk ke sebuah gerbang yang sudah mengajarkannya arti sebuah kata nikmat.
Setelah bertemu, Adrian dan Nabila kembali mengulang sesuatu yang baru saja terjadi di ranjang pengantinnya, kali ini Adrian tidak lagi membuang bibit premium yang didambakan Nabila. karena Nabila menahan tubuh Adrian saat mereka mencapai puncak.
Sekarang Nabila tersenyum, karena sudah tak ada lagi alasan yang membuat dia harus menangis.
__ADS_1