Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 233. Harus kerja keras.


__ADS_3

Dion meninggalkan semua orang dan masuk ke ruang rawat istrinya. Luna rupanya sudah bangun dan dua bayi Dion juga terlihat menggeliat haus. 


Nabila yang baru saja memeriksa Luna dia menghentikan langkahnya dan  menoleh pada inkubator, dimana bayi Dion mulai mencecap bibirnya karena haus. 


"Kak Dion, tolong gendong si sulung dan bantu dia meneguk ASI langsung dari Mbak Luna, biar aku yang gendong si bungsu dan memberi ASI yang baru saja ditampung." Kata Nabila yang ikutan menyibukkan diri membantu Dion merawat putranya. Untung begitu keluar ASI milik Aluna melimpah, jadi cukup untuk dia putra dan putrinya.


Saat kembali dari luar ruangan, Dion sudah tidak sebahagia seperti saat baru keluar tadi. Aluna tentu menyimpan sebuah tanya.


Dion sepertinya harus mengatakan secepatnya perihal ibunya yang beberapa kali ingin menunjukkan jati dirinya. Sedangkan kenyataan lain yang memberatkan adalah wanita itu ibu dari Angeline juga. 


"Luna, apakah kau merindukan sosok ibu kandung?" 


"Ibu kandung? Kenapa Tiba-tiba tanya seperti itu?" Luna menatap suaminya yang menunjukkan gelagat aneh. "Aku sudah ikhlas jika memang dia benar-benar sudah pergi ke surga, tapi aku juga merasa janggal kenapa bapak tidak pernah menunjukkan pusara ibu. Aku yakin ibu masih hidup dan tak pernah menginginkan anak sepertiku," kenang Luna yang merasa dirinya begitu buruk di masalalu. 


"Mungkin ibu malu. Punya anak sepertiku." imbuh Luna lagi yang mulai merasa sesak di dada.  


Aluna tiba-tiba meneteskan air mata, dia selalu menangis kala ingat ibu, Aluna selalu berdo'a untuk ibu semoga bahagia di surga. Andai masih hidup dia sudah melupakan sosok yang tak mau menyusuinya itu. 


"Bagaimana jika ibu kamu tiba-tiba datang." 


"Tidak Mungkin, itu tidak mungkin, tentu aku tidak mau." Air mata Aluna berlinang membasahi pipinya dan bahkan ada yang jatuh membasahi baju yang dia kenakan. 


Dion tentu tidak mau ini terjadi, dia usap lelehan air mata istrinya yang terus menganak sungai.


"Sayang, kok malah nangis sih," Dion mengacak puncak kepala Aluna. "Sudahlah lupakan saja kata kataku tadi, aku tak mau kamu sedih." Dion memeluk istrinya dan menempelkan bibirnya lama sekali di rambut Luna yang hitam berkilau. 

__ADS_1


Nabila yang memergoki Dion dan melihat Luna berpelukan, dia segera keluar lagi. Nabila tak mau mengganggu keromantisan pasangan yang sedang berbahagia itu. 


Namun, sepertinya usaha Nabila menuai kegagalan. Dia malah menabrak suaminya yang tadinya ingin melihat bayi Luna. 


"Sayang, kamu kenapa?" Adrian menatap wajah istrinya yang mendongak memamerkan bibir seksinya. 


Adrian tentu saja terpukau dengan wajah Nabila yang makin lama makin terlihat cantik. Istrinya belakangan ini selalu bisa membangkitkan si megalodon dimanapun berada. 


"Sayang, ikut aku, jangan ganggu dia." Adrian salah paham, dia mengira Aluna dan Dion sedang bermesraan. 


"Kemana sih?" Mau tidak mau, Nabila mengikuti langkah suaminya, kemanapun membawa dirinya. 


Adrian rupanya membawa Nabila ke ruang pribadi istrinya. Tak lupa dia mengunci rapat pintu berbahan dari kayu jati itu. 


"Sayang, selain melihat bayi Luna dan Dion aku sengaja datang untuk melepas kerinduan si megalodon ini padamu." 


"Ini istirahat sayang, sebentar saja, habis itu kita di bersama, lalu aku balik kantor dan kamu periksa pasien lagi." Bujuk Adrian sambil membuka jas putih yang dikenakan Nabila dan menyampirkan di sandaran sofa. 


"Sayang kenapa kau tiba-tiba jadi bar bar begini, aku harus kerja, nanti kakak marah." 


"Kakak nggak bakal marah, jika dia terus marah, mungkin bukan karena kamu membuat kesalahan, tapi karena dia terelalu lama jomblo. Bilang ke dia suruh cari pacar, masa depan juga sudah cerah, kurang apa lagi," kata Adrian panjang lebar sambil membuka kelima kancing kemejanya dan melepas kemeja warna cream karena Adrian tak mau kemeja yang dipakainya akan kusut. 


Nabila tak tega melihat Adrian yang begitu menginginkan dirinya, di terpaksa menuruti keinginan suami yang terlihat tak bisa dibendung lagi. 


Adrian dan Nabila melakukan ritual suami istri untuk pertama kalinya di rumah bersalin. Setelah melihat bayi-bayi Dion dan Luna yang  membuat Adrian makin semangat untuk mencetak gol, Adrian yakin usaha yang keras tidak akan mengkhianati hasil. 

__ADS_1


Adrian merebahkan tubuh Nabila diatas meja kerjanya, Adrian juga membuka kaki Nabila yang menggantung selebar lebarnya, Adrian mulai memompa miliknya yang sudah menegang ke milik Nabila karena sejak tadi hanya mendapat belaian lembut dari  bibir Nabila. 


Sudah sudah, Kak. Nanti di rumah lagi, aku nggak enak kalau tiba-tiba ada yang memergoki kota.


Adrian menuruti keinginan istri kecilnya, sebenarnya Nabila nggak kecil sih, cuma dia memang memiliki wajah yang face dan imut. 


Ketakutan Adrian terbukti, baru saja berhasil mencapai puncak dan ingin menggapai langit tujuh, suara ketukan pintu terdengar bertubi tubi. "Adrian buru buru memakai  kemejanya dan merapikan tubuhnya di depan cermin. 


"Ini semua karena Kak Adrian." Nabila pura pura kesal, dia tadi sempat merasakan nikmat yang menjalar di seluruh tubuhnya, tapi rasa nikmat itu berubah jadi panik ketika dia ingat ini tempat kerja.


"Dokter Nabila, apa kamu baik baik saja?" pekik Dion saat mendengar nafas Nabila memburu, Dion khawatir Nabila terkena serangan jantung dadakan.


"Maaf Kak Dion agak lama buka pintunya, tadi ketiduran," Nabila sengaja memperlihatkan diri seolah baru bangun tidur. sedangkan Adrian bersembunyi di belakang pintu.


Mereka berdua memang kadang konyol, harusnya Adrian tidak perlu bersembunyi, toh mereka juga sudah resmi menjadi suami dan istri.


"Na, cairan infus Aluna sudah habis. Aku sengaja datangi kamu langsung sambil lihat-lihat keadaan sekeliling rumah sakit, bagus banget." kata Dion yang tak tahu apa yang terjadi baru saja. Namun, dia menangkap sebuah kejanggalan.


"Baiklah Aku akan segera mencabut jarumnya, kalian hari ini sudah boleh pulang." kata Nabila dengan jantung yang masih terpacu kuat.


Dion lalu pergi meninggalkan Nabila. Adrian keluar dari persembunyian dan memeluk istrinya kuat, menciumi seluruh wajahnya.


"Sayang, sudah jangan ganggu aku lagi." Nabila memperlihatkan wajah serius.


"Iya Sayang, maaf suamimu ini sedang ingin bayi, jika kamu tak segera memberi aku akan terus mengganggumu." Adrian kini kembali mengunci pintu dan tanpa izin dia menggendong Nabila. Seluruh bajunya sudah dia tanggalkan di dalam kamar mandi termasuk baju Nabila, dua insan itu mandi romantis dibawah guyuran shower yang tiada lelah mengucurkan air dari setiap lubangnya.

__ADS_1


bibir Nabila bergetar kedinginan, Adrian matikan shower, lalu memeluknya sambil melingkarkan handuk kimono pada tubuh polos istrinya.


"Terimakasih, hari ini aku bahagia sekali." Adrian semakin sayang dengan Nabila selain cerdas dan pengertian, dia juga menyenangkan.


__ADS_2