Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 248. Lampu hijau


__ADS_3

Jayden berhasil membawa turun Chela, didekapnya tubuh yang terus meronta itu.


ayen sudah tahu, ada polisi yang datang menjemputnya, rupanya Dion lebih dulu menghubungi pihak kepolisian.


"Chela, kamu tenang ya, aku tak akan pergi darimu, aku akan sering menemui mu." Kata-kata Jayden mampu membuat Chela tersenyum untuk sesaat.


Namun, ketika tiga pria berbaju coklat semakin mendekat, senyum langsung lenyap begitu saja dari wajah Chela


"Apa yang kakak lakukan?" Kakak ternyata menipuku," tuduh Chela sambil melepaskan tangan Jayden yang sejak tadi menahan tubuhnya agar tak pergi lagi.


"Chela jangan takut, aku akan sering menemui mu nanti, sebaiknya kamu ikut mereka, jangan melawan beri keterangan sesuai fakta," pesan Jayden lalu menhusap puncak kepala Chela. Chela pilih dengan kata kata Jayden, lalu dia menurut dibawa oleh tiga polisi muda.


Jayden membisikkan pada polisi paling tinggi dan kulitnya hitam manis. "Dia butuh psikiater, jadi bawa dia pada rumah sakit tahanan. Nanti aku akan menghubingimu." 


"Siap Dokter. Dia sangat cantik kenapa anda menolaknya?"


"Jayden tersenyum, Aku tidak mungkin menikahi seorang adik."


Polisi itu akhirnya mengerti.


Polisi membawa Chela ke dalam mobilnya, gadis itu menurut, dia tak memberontak sama sekali.


 Jayden mengamati Chela yang sudah sampai di parkiran, lalu mereka saling menatap untuk sesaat. 


'Chela, maafkan aku yang tak bisa membagi rasa, semoga tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu."


Jayden melambaikan tangan pada Chela. Chela membalasnya sebelum polisi membukakan pintu untuknya. 


Jessika melihat keduanya dari balik pintu dengan diam-diam. Setelah mobil yang dinaiki chela menghilang, jessica baru keluar.


"Kak, Jayden, kenapa Jessica dibawa polisi."


"Tentu untuk bertanggung jawab, dia sudah buatmu seperti ini." Jaiden merangkul tubuh kekasihnya yang memaksa berdiri, wajahnya sedikit tirus.. 


"Kak, tapi Jessica akan memaafkan Chela kalau dia bersedia tidak mengganggu kita."


"Kekasihku memang baik hati, Sudahlah jangan berpikir macam-macam dulu, mari kita masuk." Jayden membawa Jessica masuk, wanita yang ditangan kirinya membawa infus miliknya sendiri dan mengangkat tinggi itu segera di gendong oleh Jayden. 


Saat berada dalam gendongan Dokter, pemilik tubuh kotak kotak itu, Jessica terus menatap wajahnya.  

__ADS_1


'Kak Jayden memang lelaki yang tampan hidungnya saja seruncinng ini, pantas aja Chela sangat menyukainya. Sepertinya makin hari cintaku juga makin besar saja.'


"Akhh, tubuhmu sangat ringan, Sayangku. Kamu harus banyak makan sekarang." Jayden menurunkan tubuh kekasihnya di brankar, lalu dia ambil botol infus dari tangan Jessica dan menautkan pada tongkat tempat infus.  


"Jessika, biarkan Chela belajar untuk menerima ganjaran dari apa yang diperbuat. Biarkan dia menjadikan kesalahan yang dilakukan sebagai pelajaran hidupnya."


"Kak Jayden rupanya sangat dewasa, aku jadi makin terlihat seperti anak kecil saat di dekatmu."


"Aku suka yang kecil, biasanya kalau kecil rasanya makin mantap." 


"Apa itu?" Jessica melotot. Menjewer kedua pipi Jayden yang membungkuk. Jarak wajah mereka sangat dekat. 


"Kak Jay, kalau kakak seperti ini, aku nggak jadi terima cinta Kakak."


"Aku tidak perlu persetujuan mu, sayang, aku hanya butuh persetujuan dari Mama, Papa dan Kakak Dion saja. Aku lihat selama ini mama sudah nggak sabar ingin ambil aku jadi mantunya.


"Emm kakak nackal." Jessica mengerucutkan bibirnya lalu memiringkan tubuhnya menghindari pesona Jayden.


Jayden makin gemas dengan Jessica yang ngambek. 


'Kau yang nakal, Jessika. Kau yang membuat hatiku jungkir balik jika tak ada di dekatmu.'


***


"Kak, jika pulang nanti aku mau mampir ke rutan, aku pengen jenguk Chela."


"Tapi kamu masih sakit sayang, besok aja gimana." Jayden menawar. takut kalau Chela justru tak suka dengan kehadirannya.


"Em, aku mau sekarang, sekalian lah, nanti kita lewat sana juga."


"Baiklah, Pak sopir akan mengantarkan kemanapun tuan putri ingin pergi," kata Jayden sengaja bikin lelucon.


Jessica lalu bersiap untuk pulang, mama dan papa lebih sering duduk di luar kamar Jessica, dia tidak mau mengganggu kedekatan Jessica dengan kekasihnya.


Infus Jessica susah habis, saat yang ditunggu sudah tiba, yaitu pulang dan tidur di kamarnya yang kenyamanannya tak ada duanya


Kamar Jessica nyaris dipenuhi dengan boneka bear yang lucu.


Jessica nampak malas menginjakkan kakinya di lantai. Dia sudah mencoba tapi rasanya dingin dan gemetar, mungkin karena dia sudah terlalu lama berbaring. 

__ADS_1


Jaiden tersenyum melihat Jessica yang tak kunjung turun. 


"Mau digendong ya. Baiklah sampai Lift ya," kata Jayden yang seolah tau apa yang dipikirkan Jessica.


"Kok Kaka tau?" Jessica tersenyum melihat kekasihnya yang tak suka basa basi, dia langsung berjongkok di depannya. 


Jayden sengaja tidak memberi tahu pada keluarganya dulu, karena dia berniat untuk menyelesaikan administrasi perawatan dan obat Jessica, sebelum keduluan dengan mama Melani dan Papa Davit. 


"Uh, benar benar bayi besar yang sangat manja," eluh Jayden saat tubuh kekasihnya mulai naik ke punggungnya. 


"Kalau tidak ikhlas gendong, ya turunin aja, aku mau pake kursi roda."


"Jangan sayang, mending aku gendong aja. Aku masih kuat kok." Jayden menaikkan lagi tubuh Jessica yang melorot, Jessica kini melingkarkan lengannya di leher Jayden. 


Perawat melihatnya dengan sinis ke arah Jessica. Sungguh apa yang dilihat di depannya membuat harapan para perawat yang lama jatuh hati pada Jayden menjadi pupus.


"Dokter, punya adik lagi? Setahuku kan adiknya cuma Dokter Nabila, tapi nggak manja- manja amat," seloroh wanita yang menjadikan kasir di RS miliknya. Jayden tahu kasir itu masih bujangan dan cantik, selain itu dia juga sudah lama naksir ke Dokter. Hanya saja Jayden tak pernah merespons. 


"Hehehe, iya. Dia adikku, kenalkan namanya Jessica." 


Jessica tentu saja mberengut dikenalkan sebagai adik oleh Jayden. Bibirnya langsung mengerucut mirip paruh bebek. Jayden menurunkan tubuh Jessika. Wanita itu langsung bersedekap dan membelakangi kasir. 


Jayden semakin suka saat melihat Jessica marah. Atau ngambek, rasanya puas saja. Karena saat ngambek Jessica pasti akan lebih manja.


"Adik tapi halal untuk diajak kawin." Lirih Jayden yang tentu tidak didengar Jessika. 


"Kamu mengerti kan?" kata Jayden pada kasir. "Jadi jalau ketemu dia perlakukan dengan baik." Imbuh Jayden lagi, setengahnya dia mengingatkan pada kasir agar ramah pada Jessica karena lelaki itu benar-benar akan membawa Jessica untuk naik pelaminan. 


"Sayang, mau jalan atau di gendong lagi."


"Mau di gendong dong." Jessika buru-buru mlompat ke punggung Jayden, menoleh sesaat pada kasir dan menjulurkan lidahnya. Jessica seolah ingin memberi tahu pada si Kasir kalau Jayden miliknya, Agar tak kecentilan lagi. 


'Huh, sebel gue dengan gadis itu, kenapa Dokter Jayden malah memilih wanita yang masih ABG labil begitu.' gerutunya. 


Wajah Jessica memang terlihat lebih muda dari usianya mungkin karena efek dari pembawaannya yang selalu happy dan terbiasa hidup enak. jadi wajahnya selalu terlihat imut meski sudah mau menginjak usia 23 tahun.


"Jessica turun, kita sudah sampai di lift." Jayden merasakan punggungnya mulai pegal.


" Baiklah, tapi nanti gendong lagi ya," canda Jessika.

__ADS_1


"Siap tuan putri." Jayden menggoda kekasihnya.


 


__ADS_2