Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 25. Penyelidikan Angel.


__ADS_3

"Aku tidak ada hubungan dengan OG itu, jangan membuat suasana hati menjadi buruk Angel" Adrian masih berusaha menutupi semuanya, kali ini alasannya bukan sekedar tak mau Angel tahu, Namun ada perasaan lebih besar dari itu.


Adrian duduk dan fokus pada berkas didepannya, mulai konsentrasi dengan pekerjaan. 


Angeline menggenggam jemari kanan dan memukulkan pada telapak satunya, tak percaya demi gadis cupu itu, Adrian membentaknya untuk pertama kali. 


Angeline yang diabaikan dia pergi dari ruangan Adrian tanpa sepatah kata. 


"Aluna kamu kenapa?" Pria memakai hem putih tulang berpapasan dengan Aluna, lelaki itu langsung bisa menerka kalau sedang terjadi sesuatu pada kucing lemah berkacamata.


"Pak Tito aku baik-baik saja, aku akan bawakan pesanan Pak Tito," Aluna menolak memperlihatkan wajahnya, dia langsung nyelonong pergi dan ingat masih banyak pekerjaan lainnya. 


Tito mengerti, itu privasi Aluna, mau bercerita atau tidak, dia tak bisa memaksa. 


Aluna masuk ke kamar mandi, dia menghapus air matanya ketika sendiri di dekat wastafel, lalu berhenti sejenak menenangkan hati. Entah kenapa sesuatu yang dilihatnya baru saja membuat dia merasakan sakit di dadanya.


Aluna tahu sekarang, kalau menikah itu hanya untuk menyakiti hatinya saja, buktinya bapaknya juga tak menikah lagi setelah ibunya pergi, dia memilih hanya membesarkan Aluna sendirian. 


Aluna terkejut ketika kamar mandi tiba-tiba terkunci. Dia memang tak mengunci kamar mandi karena niatnya hanya mencuci muka sebentar. 


"Haii …." Sapa wanita cantik bertubuh ramping dan memakai sepatu hak sekitar lima belas centimeter, berjalan dengan lenggak- lenggok menunjukkan keindahan tubuhnya, senyumnya terlihat misterius.


"Aluna, kenapa kau terkejut?" Sapa Angel.


"Nona Angel, kenapa kau tak bilang kalau mau menggunakan toilet ini, aku bisa keluar lebih dulu." Aluna kembali memakai kaca matanya. 


Aluna berjalan merambat dinding, takut menyentuh tubuh mulus Angel, Aluna bisa merasakan kalau ada yang aneh dengan kedatangan Angel di toilet untuk karyawan rendahan. 


"Tunggu!" Angeline mencengkeram pundak Aluna ketika mereka bersisian jalan. 


"Aluna aku mau tanya sesuatu, kamu kan kerja di rumah Adrian, sudah berapa lama? menurutmu apa yang paling disukai Adrian?" Angel berusaha menahan panas di dadanya. 


"Pak Rian … Dia sangat suka dengan kopi Aceh buatan saya, dia juga suka dengan kentang goreng dicocol sama saos untuk menjadi pendamping saat sedang di depan laptop."


"Terus apalagi?" Angel belum puas dengan jawaban Aluna. 


"Dia juga sering meminta lobster bakar pakai saos, udang jumbo itu juga makanan favoritnya."

__ADS_1


"Kau yang memasak untuknya, dan apa masakan kamu itu dia makan sampai habis?"


"Iya, Dia memakannya, Nona?" Aluna menjawab dengan suara gemetar, ketika rambutnya yang diikat ekor kuda dan berwarna sedikit coklat alami itu ditarik oleh Angeline dan di pelintir membuat kepalanya sedikit mendongak. Aluna tahu Angel sedang cemburu dengannya. 


Wanita cantik didepannya ternyata memiliki rasa cemburu yang besar, jika itu menyangkut Adrian 


"Adrian pernah berterima kasih dengan masakan yang kau berikan?" Tanya Angel dengan memaksa senyumnya. Deretan giginya terlihat begitu putih.


"Tidak Nona, aku hanya pelayan di rumah itu dan dia adalah majikannya, tak perlu harus berterima kasih untuk hal kecil."


"Apa dia pernah meminta kau datang ke ruangan khusus yang ada di kamarnya?" Angeline bertanya lagi. Angeline tahu Adrian tak akan menyuruh siapapun masuk ke ruang kerja pribadinya yang penuh dengan sejuta rahasia itu, Adrian pernah melarang Angeline masuk, dan dia penasaran apa Aluna pernah membersihkan ruang khusus itu. 


"Tidak Nona, bahkan saya tak pernah menyentuh ruang pribadi Pak Rian, hanya saja dia pernah memintaku menata buku di kamarnya." 


Angeline melonggarkan cengkeramannya, dia tahu Aluna tidak special untuk Adrian, tapi Angel masih kesal karena Adrian makan-masakan Aluna sampai habis, sedangkan waktu dia pernah membawa masakan untuknya, Adrian hanya memakan tak lebih dari dua sendok. 


"Oke, aku tau kamu tak spesial buat Adrian, pergilah. Laporkan padaku jika ada wanita yang menggodanya, kupastikan dia akan mampus." Angel melepas rambut Aluna dan mengizinkan pergi, Angel menatap tubuh sekal dan ramping yang menjauh dari pandangannya. 


'Kucing kecil yang menggemaskan, dia sangat polos, pantaskah aku merasa tak aman dengan gadis sepertinya? Aku lebih segalanya dari dia," batin Angel.  Angel tersenyum smirk. Lalu gegas mencuci tangannya yang telah menyentuh Aluna. Dia merasa jijik karena jemari halusnya telah memegang rambut yang diikat mirip ekor kuda tadi.


Tito yang menjadi sahabat Adrian segera ke ruang CEO, dia melihat Adrian menyalakan laptop tapi pandangannya ke bawah sambil mengurut keningnya. 


Adrian baru sadar ada makluk yang menghampirinya, ketika suara hentakan kaki  Tito sudah dekat dengan meja yang menopang sikunya. 


"Hai, duduklah."


"Oke, makasi Rian." Tito menarik satu kursi untuk dia duduki. 


"Apa Aluna kembali melakukan kesalahan? Aku lihat dia sangat sedih." tanya Tito.


"Kenapa? Apa mengganggu kinerja mu?"


"Tidak, aku cuma ingin dia nyaman disini, aku berhak melihat dia betah bekerja, karena aku yang merekomendasikan dia masuk perusahaan ini."


"Yakin cuma itu? Jangan jangan kau menyukai dia?" Senyum mengejek Adrian terlihat begitu jelas, dia menggeser laptopnya demi ingin melihat wajah Tito lebih dekat lagi. 


"Dia single, aku yakin tak ada masalah juga aku suka dia, lagian dia manis. Dia seperti mutiara bagiku, digosok sedikit pasti akan sebening berlian."

__ADS_1


Adrian terdiam, mencerna ucapan Tito. Apa benar Aluna seistimewa itu.


"Dasar playboy, kau bukannya menyukai Sisil dan Rosa? Kenapa kau sekarang malah memuji dia?" 


"Sisil dan Rosa juga cantik, tapi dia terlalu mudah di tahlukkan, aku lebih suka dengan tantangan. Apa kau mendukungku jika aku memacari gadis istimewa itu?"


"Dia tak akan mau denganmu." Jawab Adrian memundurkan tubuhnya sambil menggoyang pelan kursi yang ia duduki. 


"Kenapa? Apa CEO Alexa Fashion Compani juga suka.


Bukan itu, Aluna tak akan berpacaran dengan lelaki yang satu kantor dengannya, kau jangan lupa, ini masih berlaku untuk karyawan. 


Tito tertawa. "Apa kau lupa? Bukannya peraturan itu sudah lama di tiadakan? Dan diganti dengan peraturan yang baru, jika suami istri dilarang bekerja satu kantor. Jadi ketika Aluna menikah denganku, akan aku pastikan dia tak usah bekerja. 


Mendengar jawaban Tito, Adrian merasakan kalau obrolannya kali ini unfaedah, dia menutup laptopnya dan menggebrak meja. "Bicarakan soal pekerjaan di jam kerja atau kau keluar saja."


"Oke, maaf, hanya ingin kabarkan kalau karyawan akan liburan minggu depan, yang sudah menikah boleh ajak istrinya, yang berpacaran boleh mengajak kekasihnya."


"Ya, atur perubahan skedul untukku, aku akan ikut berlibur dengan kalian semua."


"Siap." Tito mengangguk, dia hendak beranjak, tetapi langkahnya kembali terhenti ketika Adrian membuka mulutnya lagi.


"OB dan OG tak boleh ikut. Dia akan tetap membersihkan perusahaan."


Tito pun kembali melanjutkan langkahnya, baru saja dia membayangkan ingin bermain air di pantai Kuta bersama Aluna. Mimpi itu kembali raib oleh satu kalimat terakhir dari Adrian.


****


Aluna sekarang berada di ruang OG, bersama Nina dan Reno duduk bersantai setelah pekerjaan selesai. Tiba-tiba ponsel aluna berdering. 


"Hai, luna," wajah tak asing itu terlihat bahagia di seberang. 


"Hai." Luna membalas senyum Dion.


"Pak Dion nggak sibuk?" Luna bertanya dengan sangat polos. 


"Nggak, kalau sibuk tak mungkin bisa telepon kamu." Dion menjawab dengan enteng. Lelaki itu terlihat sedang mengayunkan tubuhnya di kursi putar. Dia juga melihat Ben sedang berdiri siaga didekatnya. Dari situ Aluna bisa tahu kalau Dion adalah CEO. Sama seperti Adrian.

__ADS_1


__ADS_2