Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 29. Pindah kamar.


__ADS_3

"Kenapa Pak Adrian?" Aluna kembali keluar dengan menyandarkan tubuhnya di daun pintu. 


Adrian pun mendekat, menatapnya dengan jarak beberapa centimeter saja. Tangannya tak bisa dikendalikan untuk tetap diam. Tangan jahil itu meraih gagang kacamata yang menyelip di daun telinga Luna. 


"Kok jadi penasaran, mereka suka sama kamu karena apa?" Adrian menatap Aluna dengan senyum madam seperti biasa. 


"Tuan Adrian terhormat, anda sudah tau saya tidak memiliki keistimewaan apa apa, jadi maafkan saya sudah datang dan mengusik hidup anda."


"Ya kamu benar, kau bukan siapa-siapa, jadi jangan pernah mengusikku, dan aku tak akan terusik lagi."


Adrian meninju pintu kamar dan pergi, Aluna menitikkan airmata karena kaget oleh suara keras Adrian dan benturan tangannya mengenai daun pintu tadi.


Lama lama Aluna merasakan hidupnya seperti dineraka, dia ingin pergi selamanya dari rumah ini saja. Tapi alunaadih punya hutang, hutang memecahkan guci itu belum terbayar. 


"Luna!"


Suara Selena memanggil dari bawah. 


"Iya Nyonya!"


Aluna segera menghampiri keberadaan Selena. 


"Luna, ada Angeline, cepat kamu buatkan dia minuman sana, Angeline malam ini akan menginap disini kamu bersihkan kamar tamu untuk dia." 


"Iya Nyonya."


"Tante Angeline boleh kan tidur di kamar yang sebelahan dengan kamar Adrian itu? Kamar itu masih kosong kan Tante?"

__ADS_1


"Iya, ma-masih ko-song kok." Selena berbicara terbata karena gugup."


Aluna hanya diam tanpa bicara, firasatnya benar Angeline ingin tidur di kamar miliknya itu.


"Nyonya, apa yang anda minta hanya minuman saja? Atau ada yang lainnya?" Aluna bertanya sebelum pergi. 


"Kau kenapa bodoh sekali, kau harusnya tidak usah bertanya, ayo suguhkan minuman paling enak dan yogurt buah yang kau buat tadi pagi. Angeline harus makan makanan sehat supaya tubuhnya tetap indah. Nggak kayak kamu dandan aja ogah."


"Tante, kalau dia memang tak becus, kenapa tidak cari asisten yang profesional saja, dia pasti sangat merepotkan, kemaren saja sudah memecahkan guci mahal itu." Angeline duduk mendekati mertuanya, sambil memangku bantal kecil yang tadinya tertata rapi di sudut sofa. 


Gadis memakai baju dengan belahan dada sangat rendah, serta celana kulot yang panjangnya hanya satu jengkal terlihat begitu agresif mendekati mertuanya. 


Bahkan yang lebih menyakitkan bagi Aluna adalah tanda merah di dadanya, Aluna tau siapa pembuatnya, itu pasti ulah Adrian yang kepergok dirinya di kantor kemarin.


Aluna menahan tangisnya pecah, dia tak pantas sakit hati, Imah yang tau Aluna sedang dalam keadaan terguncang segera memeluknya. 


"Sabar Nona, Den Andrian belum mengenal anda, hatinya masih terlalu angkuh karena tertutup oleh batu karang  yang besar, hingga dia tak bisa melihat mutiara yang berharga di balik semuanya."


"Nona, aku tahu anda orang yang kuat, anda berhak bahagia. Sabarlah dulu, penuhi amanah bapak anda."


"Tapi Bi!"


"Kemanapun anda pergi, Tuan Alexander pasti akan menemukannya, hanya saja dia sekarang tak di rumah karena sibuk.


"Iya Bi." Aluna mengangguk.


Aluna mengambil puding lalu menata di piring. Tak lupa mengambil susu rendah kalori yang disimpan di kulkas dan menambahkan yogurt rasa jeruk pada gelas bertangkai. Setahu Aluna bibi selalu membuatkan minuman seperti itu saat ada Angeline datang. 

__ADS_1


Aluna dengan hati-hati membawa keluar, sampai di ruang tengah sudah di hadang oleh Selena. Yang berjalan masuk dengan tergopoh. 


"Sudah biar aku yang bawa keluar, kamu bereskan kamar sekarang juga, bawa barang rongsok milik kamu ke kamar asisten. Cepat! Jangan sisakan apapun. Awas! kalau ada yang tertinggal dan sampai Angeline curiga." Kata pedas dan sorot mata tajam itu hanya dibalas anggukan oleh Aluna.


"Iya Ma."


Aluna segera naik tangga dengan buru-buru. Imah yang mendengar ucapan Selena segera mengekor Aluna.


"Nona, aku akan membantu memindahkan barang anda, supaya lebih cepat selesai."


"Iya, makasih banyak Bi, selalu dukung Aluna." Aluna tak bisa menahan tangisnya lagi. 


Sambil berkemas Aluna curhat dengan bibi. "Bi Aluna ingin berubah, Aluna bosen dihina terus. Bibi bisa bantu alun"


"Bisa Nona, bibi akan bimbing Nona pelan pelan, besok kalau kerja jangan pakai kulot dan kaos oblong ini lagi ya?" Bibi menunjukkan celana kebesaran milik Luna, lalu mereka berdua tertawa.


"Terus Luna pake apa, Bi?" 


"Pake baju yang lebih cantik dan feminim, nona bisa melihat penampilan Non Chela, dia selalu mengikuti fashion terbaru, jadi nggak pernah ketinggalan mode."


"Nggak ada satupun dalam koleksi Luna Bi, kalau gitu besok pulang kerja Luna akan belanja deh." Luna tak jadi sedih saat dia harus pindah kamar, obrolan dengan bibi selalu membuat dia terhibur kembali. 


Bibi menyeret koper berisi baju Luna, semua pernak pernik dan foto berbingkai di bawa Luna sendiri menuju kamar belakang.


"Nona kamar belakang tak sebagus kamar Nona yang lama, nggak ada AC, adanya cuma kipas tempel." Bibi berkata dengan memandang iba pada Aluna.


"Terus Aluna harus menangis atau bersedih gitu? nggak kan Bi? Aluna sejak awal sudah sadar diri Bi. Justru Aluna akan lebih nyaman tinggal di kamar yang sempit tanpa AC. sudah biasa waktu di kontrakan soalnya." ucap Aluna sambil memaksa senyumnya.

__ADS_1


Justru hati bibi merasa teriris saat Aluna tersenyum, senyum yang mengartikan sebuah kedewasaan.


Betapa dewasanya gadis yang sudah terbiasa hidup susah serta kurang kasih sayang sejak kecil ini.


__ADS_2