
Aluna tertidur pulas dalam pangkuan Dion, lelaki itu dengan sabar meninabobokan Aluna dengan membelai rambutnya hingga tertidur pulas.
Dion tahu Aluna adalah gadis yang kurang kasih sayang sejak kecil, itu sebabnya Dion tak akan pernah membuat dia kurang kasih sayang lagi.
Dion diam-diam khawatir dengan kondisi Aluna yang menurutnya kurang sehat dan suka meminta yang aneh-aneh,
Dion menghubungi dokter yang tinggal di dekat penthouse, kebetulan dokter itu juga bekerja di perusahaan Dion.
"Dokter Lila. Boleh saya minta tolong?" Tanya Dion dalam panggilan pada dokter.
"Tentu bisa Pak Dion, aku siap melayani orang yang membutuhkan tenagaku kapanpun."
"Bagus dokter Lila, tolong datang ke penthouse milik saya, aku sekarang tinggal di sini bersama istriku, kebetulan istriku sedang kurang enak badan. Dan dia menolak untuk ke dokter, aku ingin anda sudi menolongku."
"Baiklah Tuan, aku akan kesana secepatnya," kata Dokter Lila menyatakan kesanggupannya.
Dion segera menutup panggilannya pada Dokter Lila.
Dokter Lila yang mendapat panggilan langsung dari Dion dia merasa tersanjung, wanita berusia empat puluh tahun itu segera mengambil tas yang berisi alat-alat medis dan juga semua yang kira-kira dibutuhkan untuk memeriksa istri CEO di tempat kerjanya itu.
Tak Ingin membuat Dion lama menunggu, Dokter Lila langsung saja mengetuk pintu utama penthouse milik Dion.
Dion sudah menunggu Dokter Lila di dekat pintu, jaga-jaga supaya saat dokter itu datang tidak membuat gaduh.
Saat membuka pintu Dion memberi isyarat pada Dokter Lila, dengan menempelkan telunjuknya di bibir. "Sttt, Dokter istriku sedang tidur, aku tidak tega membangunkannya."
"Wah bagaimana ini Tuan." Dokter Lila juga bingung jika yang diperiksa orangnya sedang tidur.
"Ya sudahlah masuk saja," Dion mempersilahkan Dokter Lila masuk ke kamarnya dan melihat Aluna yang sedang tidur pulas.
Dokter Lila melihat wajah Aluna yang sedikit pucat, wanita itu memegang kening Aluna yang dikiranya suhunya akan lebih tinggi, tapi nyatanya suhu tubuh aluna normal.
"Apa istri anda sejak pagi muntah-muntah."
"Iya, aku lihat dia muntah saat bangun tidur, tapi aku kira dia hanya masuk angin biasa, karena memang kita sering keluar di pagi buta dan pulang di tengah malam."
Dokter Lila mengangguk-angguk, tapi wanita itu tak yakin kalau Aluna hanya masuk angin. Jika dokter Lila tadi saat memegang kening Aluna merasakan panas mungkin dia yakin kalau Aluna memang lagi meriang atau masuk angin, tapi tadi kening Aluna dingin seperti orang sehat.
"Ini dugaan sementara saja ya Pak Dion, kalau istri anda muntah di pagi hari, dan susah makan, terus tidak lagi mengalami menstruasi, istri anda saya perkirakan sedang hamil muda."
"Hamil? Istri saya hamil? Tolong katakan sekali lagi, jika mual dan muntah di pagi hari itu istri saya tandanya sedang hamil?"
"Ciri-cirinya sebagian besar memang begitu Pak Dion. Tapi saya kan belum memeriksanya. Jadi seperti yang saya katakan, itu hanya praduga saya sementara, tapi untuk berapa besar keyakinan yang aku miliki, kira-kira delapan puluh persen
Mendengar Dion yang berisik akhirnya tidur terganggu juga.
"Sayang, siapa teman mu? Hoek …" Aluna segera berlari wastafel, Aluna tidak memuntahkan apapun dari perutnya, hanya saja perutnya terasa bergejolak.
Dion segera menghampiri aluna dengan tergopoh, bahkan lututnya tadi sempat kejedot sudut meja. Dokter Lila yang sempat melihatnya hanya tersenyum.
"Honey biar aku pijitin ya?" Dion meminta izin pada Aluna. Aluna mengangguk memberi restu suaminya.
Dian mulai memijat-mijat tengkuk Aluna dengan lembut. Dokter Lila yang tadi berbincang-bincang dengan Dion di luar kamar, ikut masuk.
"Kok ada Dokter? Sayang kamu yang memanggil Dokter Lila kesini ya?"
"Iya Sayang, maaf tidak yakin pada kamu lebih dulu. Saat lihat kamu pucat aku jadi panik, tapi aku tanya pada kamu katanya baik-baik saja, tapi tetap aja aku khawatir. Tidak keberatan kan dokter Lila memeriksa?"
__ADS_1
Aluna tersenyum manis meski masih terlihat wajah bantalnya. "Ya tidaklah sayang, aku malah senang." Aluna mencubit pipi Dion gemas.
Aluna kini duduk di sofa dengan bersandar dengan sandaran di belakangnya. Di depannya ada Dian yang memperhatikannya dengan antusias.
Dokter Lila membungkukkan badan oleh memeriksa detak jantung alunan dan tensi darahnya
"Semuanya normal Pak Dion. Istri anda baik-baik saja. Untuk lebih yakinnya, dan biar kita tidak menduga-duga lagi, Bagaimana kalau kita adakan tes urine."
Aluna dan Dion saling pandang dan tersenyum, di dadanya ada debar-debar kebahagiaan, Dion berharap Aluna memang sedang hamil, karena kehamilan Aluna akan menjadi mood booster untuk dirinya dan orang-orang yang menyayanginya. Nenek, Mama dan Papa semuanya sudah menunggu Sang pewaris selanjutnya di keluarga Sanderson.
Dokter Lila membeli dua tespek dengan jenis berbeda, dan sebuah cawan kecil sekali pakai berbentuk mangkok berwarna putih tulang.
Aluna yang masih pertama kalinya melihat dua benda itu, tetap menerima pemberian dari dokter Lila. Memperhatikan dengan seksama.
Tahu Aluna dan Dion sama-sama bingung. Dokter Lila menjelaskan. "Anda tolong ke kamar mandi dan masukkan sedikit urine anda ke dalam cawan, lalu celupkan alat ini, jangan melewati batas garis merah."
Aluna mengangguk mengerti, dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan semua yang diperintahkan oleh dokter.
Aluna mengamati dua benda yang satu panjang kecil dan yang satu agak besar mirip termometer.
Dua alat itu bekerja dengan sangat baik. Keduanya menunjukkan perubahan, yang tadinya hanya ada satu garis sekarang berubah menjadi dua garis.
"Dua garis artinya positif, apa artinya aku hamil, jika aku hamil berarti?" Aluna melihat perutnya yang rata mengelusnya dengan pelan dan Aluna sangat bahagia. "Ada bayi di perut ini."
Aluna segera keluar dengan menenteng dua benda pemberian Dokter Lila. Wajahnya yang pucat kembali berbinar. Bibirnya terus tersenyum sejak keluar kamar mandi zadi.
Dion dengan dokter Lila menunggu dengan antusias. Melihat Aluna yang tersenyum saja jantung Dion sudah ingin copot.
"Ini dokter hasilnya, semuanya berubah menjadi garis dua."
"Hamil? Syukurlah! Terima kasih Tuhan." Jantung Dion berdebar kencang sampai ingin melompat dari sarangnya. Tak percaya mimpinya selama ini terwujud, Dion bahagia bukan kepalang lagi dia segera mengambil benda panjang itu dari Dokter Lila. Benda kecil itu mendadak jadi barang rebutan.
"Dion segera memberikan kembali pada Dokter Lila, dokter Lila hanya bisa bengong dengan Aksi lucu tuan CEO yang terkenal cuek dingin di perusahaan.
"Istriku hamil! akhirnya istriku telah hamil! horeeeee! aku akan jadi papa aku akan dipanggil papa." Dion berteriak sambil membopong tubuh Aluna dan berputar beberapa kali.
" Sayang lepas! lepas! kenapa kamu jadi bar-bar begini, malu dilihat Dokter Lila." Aluna memukul dada Dion supaya lekas diturunkan.
"Maafkan tingkah suami saya Dokter. Dan terimakasih banyak Dokter Lila sudah memberi informasi tentang kehamilan ini," Aluna memeluk dokter Lila sebentar, dokter Lila membalas dengan mengecup pipinya.
Dokter Lila pamit, Dion dan Aluna segera mengantar Dokter Lila ke depan. Terlihat sekali aura bahagia dari pasangan pengantin yang baru menikah dua bulan ini.
Setelah dokter Lila tak terlihat lagi, Dion segera mengunci pintu dan melompat girang. Aluna hanya bisa menggeleng menanggapi reaksi berlebihan dari Dion.
Dion kembali memeluk Aluna sangat lama di dekat pintu, dia kecup pipinya dan dia peluk lagi. Aluna sampai sesak nafas karena Dion tak mau berhenti mengucap terimakasih dan terus bersyukur.
Dion segera menggandeng Aluna dan mendudukannya di kursi makan. "Sayang ayo katakan padaku apa yang kau inginkan sekarang? Orang hamil pasti akan nyidam yang bermacam-macam?"
"Apa kamu masih ingin nasi goreng seperti semalam, atau kentang goreng, ubi goreng, ketela goreng pasti akan aku buatkan. Aku juga bisa bikin puding yogurt dan masih banyak lagi ayo katakan?"
Aluna menggeleng."tidak ada."
"Ayo pasti ada yang kamu inginkan, orang hamil pasti ngidam, ayolah sayang, ngidam lah sekarang? Dion sekarang berpindah duduk di bawah Aluna sambil bertumpu dengan satu kakinya. Dengan posisi begitu Dion mudah untuk berbicara dengan calon bayinya."
"Jagung bakar, jagung rebus, sate ayam sate kambing,"
"Tidak ada, aku hanya ingin bagi kabar gembira ini dengan keluarga kita."
__ADS_1
Dion menepuk jidatnya. Lalu bangkit dari duduknya dan mengambil ponselnya."Ya Tuhan bahagia ternyata juga membuat orang jadi pelupa, seharusnya aku sejak tadi kabari mama."
Tanpa menunggu lama Dion langsung menghubungi keluarga dan kebetulan yang mengangkat adalah nenek. " Halo Dion, ada apa sore begini telepon kami? Mama lagi sibuk, papa kamu juga, nenek apalagi, nenek ingin marah sama kamu kenapa beberapa hari ini tidak pulang lagi, sengaja buat Aluna jauh dari kami ya?"
"Bukan itu maksud Dion Nek, sebenarnya Aluna dan Dion sengaja tak pulang dulu karena kita lagi menikmati masa pengantin baru. Apa itu salah? Dan sekarang Dion mau kasih kabar kalau Dion dan Aluna sebentar lagi akan memberi nenek hadiah."
"Hadiah? Nenek tidak butuh hadiah lagi, nenek sudah memiliki apapun yang nenek inginkan."
"Nenek, Nenek, nenek, dengar dulu apa hadiahnya jangan main potong saja. Hadiahnya adalah …."
"Apa! Pasti kamu lagi nge prank nenek ya?" Nenek mencurigai Dion yang suka usil itu sedang bercanda. Karena sudah menjadi kebiasaan Dion untuk mengerjai hal serupa.
"Nenek, kejutannya adalah Aluna hamil, nenek akan jadi mbah uyut."
"Dion kamu pasti bercanda, Dion tolong jangan buat kami berharap jika itu bohong, jangan main main soal kehamilan? Kabar ini terlalu membahagiakan untuk kami dengar saat ini.
"Nenek jika selama ini Dion memang suka kurang kerjaan dengan isengin nenek dengan candaan bohong, tapi kali ini Dion mang serius, Aluna hamil. Apa nenek pengen aku kirim fotonya buktinya saja biar percaya.
"Oke, oke Dion, Nenek percaya kamu tidak akan pernah bohong lagi, Kamu tinggi ya, nenek akan kesana bersama Mama dan papa kamu. Tapi tolong jangan beritahu Aluna biar jadi surprise."
"Baiklah Nenek sayang, Dion akan selalu menunggu. Tapi apa nggak keliru, sebaiknya aku dan Aluna saja yang kesana besok pagi gimana? Pulang dari periksa kehamilan?"
"Halah, itu terlalu lama buat nenek. Ya sudah dulu kalau begitu, Nenek tutup dulu teleponnya."
Nenek segera mengakhiri panggilan dengan cucunya. Nenek tak bisa menahan diri untuk tak segera memberitahu kepada Melani dan David.
Nenek yang berada di lantai satu berteriak-teriak, membuat seisi rumah terganggu.
Melanie yang mendengar teriakan nenek terus menerus tiada henti, segera turun bersama dengan suaminya.
"Mama, ada apa sih kok berteriak-teriak, nanti kalau suaranya habis nggak bisa karaoke lagi loh!"
"David, Melani sini! Aku ada kabar gembira kamu pasti senang kalau mendengarnya."
Melani dan David mengucek bola matanya yang masih mengantuk, mereka berdua juga masih memakai piyama tidur."
"Apa sih mah? Melani kan masih mengantuk, baru pulang dari kantor, Papa juga kan, masih ngantuk kan pa?" David dan Melani ogah-ogahan turun menapaki tangga.
"Mau di kasih kabar gembira kok mlempem begini, Dion baru saja telepon, kalau mantu kamu itu sekarang lagi hamil."
"Hamil? Yang bener mah Dion nggak lagi ngerjain kita kan?"
"Sama anak sendiri kok nggak percaya, biar jelas kita ke sana sekarang, suruh Beni untuk siapkan mobil, nenek nggak mau nunda mereka ke sini sampai besok."
"Pah, pah, kita mau punya cucu, Aluna hamil pah." Selena guncang-guncang tubuh suaminya. David yang tadinya masih ngantuk sekarang sudah On seratus Watt.
"Syukur ma, kalau dia hamil, itu artinya kita akan memiliki cucu, Ya Tuhan, akhirnya Dion mewarisi kehebatan papa, benar-benar kualitas premium, tokcer Ma." Melani melengos mendengar penuturan suaminya.
Nenek juga tersenyum. Masih tak percaya dengan apa yang di dengar.
"Daripada kalian berdebar di sini dan takut dibohongi oleh Dion mending kita ke sana, kita tanyakan pada Aluna menantu kita itu tak akan pernah berbohong."
David dan Melani setuju mereka berdua segera berlomba ke kamar lebih dulu dengan setengah berlari. mereka juga berebut kamar mandi pribadi yang ada di kamar.
Karena tak ada yang mau mengalah, mereka akhirnya mandi bersama.
__ADS_1