
Angel malam ini membuat janji bertemu Franky. Dia meminta sopir untuk mengantarnya hingga ke sebuah rumah makan yang disepakati.
"Selamat malam, Nyonya Adrian." Franky menyambut kedatangan Angel.
"Malam."
"Makin cantik aja." Laki-laki itu berdiri.
"Bukankah aku memang selalu cantik."
"Yayaya, kau memang wanita yang paling cantik yang pernah aku temui."
Angeline duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Frengky. Lelaki itu rela berdiri hanya demi menyiapkan duduk ternyaman buat Angeline.
"Aku akan menikah besok, jadi untuk hari ini aku ingin membuat perjanjian denganmu."
"Buatlah sesukamu aku akan menyetujuinya." Kata Franky duduk kembali, lalu meniupkan asap rokoknya tinggi-tinggi.
"Aku hamil dan ini pasti anak kamu, kau tentu tahu kita tak selevel. Tak Sudi aku menikah denganmu, aku ingin Adrian yang menjadi suamiku."
"Lelaki itu bodoh Angeline, dia tak pernah mencintaimu, kalau dia mencintaimu, dia pasti tahu setiap hal yang dilakukan kekasihnya. Kekasih hamil anak orang masa tidak curiga." Franky menertawakan Angel yang tertipu oleh cinta Adrian.
"Kau jangan tertawa, itu penghinaan buat aku," ketus Angel.
"Bukanlah kau tahu Adrian itu cintanya sama Aluna, dan dia cuma memanfaatkan kamu."
"Cukup Franky, Adrian tidak seperti itu!" Angeline marah karena Franky meremehkan hubungan cintanya dengan Adrian.
"Kamu mau aku harus melakukan apa?" Franky memajukan tubuhnya hingga menempel ketat di tepian meja.
"Mau kamu aku lakukan apa sayang? Tutup mulut." Franky menjelajah kening pipi dan bibir Angeline dengan mengusapkan jari jempolnya.
"Lepaskan tangan kotormu itu, jangan berani sentuh aku ditempat umum, kalau ada teman Adrian yang melihat akan sangat buruk akibatnya." Angeline menepis kasar tangan Franky.
Franky menarik tangannya dari wajah Angeline, kata-kata Angel baru saja terdengar begitu merendahkan dirinya.
"Muna banget Lo, Ngel. Padahal kemaren aja Lo gue bolak balik diam aja, malah keenakan."
"Jaga mulut Lo ya, gue begitu karena mabuk." arah Angel memuncak
"Yang kedua Lo nggak mabuk," sanggah Frenky
"Gue mau pulang? Sebelum Adrian mencariku. Jika kepergok berduaan denganmu pasti dia akan marah," pamit Angel
"Aku berubah pikiran, sebagai uang tutup mulut aku ingin minta sekali lagi." Frangky menahannya.
"Kamu gila ya, besok aku menikah, aku tak bisa melakukan kegilaan itu lagi Franky."
__ADS_1
"Aku hanya bercanda, selamat menempuh hidup baru Angel, asal kamu tau gue bener sayang sama kamu. Terimakasih sudah mau pertahankan calon anak kita, dia selamanya akan jadi kenangan yang ada diantara kita."
Angel terlihat diam dan mengangguk. Lalu franky memberi kode pada pelayan agar mengantar beberapa menu yang sudah menjadi pesanannya.
Angel dan franky makan malam bersama, Franky memperlakukan Angel malam ini sangat istimewa, perlakuan yang tidak pernah dia dapatkan lagi dari Adrian.
Franky mengusap bibir Angel yang belepotan usai makan. Lelaki itu sepertinya berat melepas Angeline, tapi bagaimana lagi, wanita itu hanya mencintai Adrian.
"Aku antar pulang," tawar Franky.
"Em, aku ada sopir."
"Biar dia pulang aja, aku ingin sekalian beli hadiah untukmu, nanti kamu pilih sendiri hadiahnya"
"Nggak usah repot, aku tidak perlu hadiah darimu." Kata Angel menolak.
"Aku tau kamu nggak butuh apa apa dariku, tapi aku yang ingin memberinya, nanti pakai topi dan jaketku, pasti tidak ada yang mengira kalau itu kamu."
"Baiklah kalau kamu memaksa, tapi aku tidak mau pulang lewat jam sepuluh malam."
"Baiklah." Angel akhirnya menurut, dia keluar dari cave dengan memakai jaket dan topi Franky. Angeline yang sekarang berpindah naik mobil Franky menuju sebuah pusat perbelanjaan dengan bergandengan tangan.
Salah besar jika Angel merasa aman, sejak dia mengatakan hamil, Adrian mulai membuntutinya. Kalau tak bisa sendiri, dia menyuruh Arga dan Argo dalam penyamaran.
Angeline dan Franky memilih pernak pernik untuk bayi, dia memilih yang warnanya netral saja, karena mereka berdua belum tahu jenis kelamin calon bayinya.
"Entahlah, aku hanya mencintai Adrian, lelaki itu sudah membuatku jatuh hati dan aku tak ingin pria lain menemaniku di sisa umurku."
"Bagaiman jika seumur hidup dia tidak pernah tulus."
"Mungkin aku akan selingkuh."
"Bukannya kau sekarang sudah selingkuh."
"Iya, kau sudah tahu. Kenapa bertanya?"
"Datanglah padaku seperti biasa, aku akan selalu meluangkan waktu untukmu."
"Semoga Adrian kembali mencintaiku seperti dulu, hingga aku tak perlu lagi untuk lari padamu."
Frengky tidak berkata lagi, hanya saja dia tidak yakin Adrian akan kembali seperti dulu.
Usai berbelanja, Franky membayar semuanya di kasir, dia tidak peduli hari ini belanja menghabiskan semua tabungannya, karena dia pikir ini terakhir kalinya dia bisa menyenangkan Angel sebelum menikah.
Angeline dan Franky sudah selesai belanja, dia ingin segera mengantar pulang, dia tidak mau esok harinya dia terlambat menghadiri pesta pernikahannya sendiri.
Saat di mobil Franky tidak langsung menjalankan mobil, dia diam sejenak di dalamnya.
__ADS_1
"Angeline, jika Adrian menyakitimu, pergilah padaku, aku akan membahagiakanmu," ucapnya sekali lagi.
"Iya, terima kasih." Jawab Angeline.
Franky yang sudah siap memutar kunci mobil, kini dia berubah haluan dengan berbalik menatap Angeline, mengecup bibir merah tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
"Ummpph." Angeline kuwalahan dengan permainan lidah Franky. Lelaki itu terus membelit dan Melu**mat bibir wanita di depannya tanpa ampun.
"Lepas Franky."
"Maaf, aku terbawa suasana."
"Kamu ceroboh, bagaimana kalau ada yang melihatnya."
"Iya aku salah." Franky menyalakan mobilnya dan mereka meninggalkan tempat yang menjadi pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
Semua rekaman Angeline langsung terkirim pada Adrian, lelaki yang baru meninggalkan rumah nenek menuju kantor itu segera membuka pesan yang masuk ke ponselnya.
Adrian terkejut melihat kenyataan yang ada, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Adrian yang mengira Angeline bisa menjaga mahkotanya rupanya dia mengandung benih dari laki-laki lain.
Adrian langsung mengirim semua foto itu pada Papa Angeline. Tapi justru Papa Angeline mengatakan kalau semua itu rekayasa dan mengancam akan membuat wanita yang dia cintai menderita seumur hidup.
Papa Angeline sudah tahu semuanya tentang Adrian, dia juga beberapa hari ini sudah mengirim mata-mata untuk memantau Adrian, bahkan papa Angeline tahu kalau lelaki itu sudah mulai berpaling.
"Pernikahan batal, maka bukan hanya perusahaan yang hancur, kau, keluargamu, dan wanita yang ada di foto ini."
"Om jangan pernah main main, aku sudah tidak ada hubungannya dengan dia."
"Fisik memang sudah tidak ada hak, tapi hati tak bisa berbohong, Kau sering membuat Angeline menangis hanya karena gadis kampung itu."
Adrian sekarang sadar dia ternyata sudah masuk dalam perangkap keluarga Angeline, dia sadar dan baru tahu ketika Aluna sudah benar-benar lepas dari genggamannya.
"Sial. Kenapa aku baru tahu ketika semua benar benar terlambat. Seharusnya aku tidak pernah menuruti Aluna yang ingin pisah dariku."
Adrian merasa semua belum terlambat, dia bisa meminta Chela dan Mama untuk pergi keluar negeri dengan memberi tiket segera, sedangkan Aluna ada Dion yang akan menjaganya, dengan begitu dia tak perlu melanjutkan pernikahannya dengsn Angeline.
Usai menyusun rencana baru dan menghubungi orang rumah, Adrian juga ikut serta menuju bandara, tapi sekali lagi Adrian kalah cerdik dengan papa Angeline.
Mobil Adrian sudah diapit oleh orang suruhan papa Angeline.
Beberapa orang bertubuh lebih besar dari Adrian turun dari mobil, tiap mobil menurunkan satu bodyguard.
Ada apa ini?! Apa yang akan kalian lakukan?"
Bodyguard itu tak mengindahkan kata kata Adrian, dia memaksa meminta dibukakan pintu dan terus menggedor-gedor. Setelah pintu terbuka dia langsung menempati setiap kursi kosong di mobil Adrian.
__ADS_1