Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 17. Sepasang Kelinci.


__ADS_3

"Hati-hati, Lun!" Tito melambaikan tangan pada Aluna. Senyumnya juga tak pernah ketinggalan. 


'Kata Nina, Tito playboy, tapi dia sepertinya pria yang baik.' batin Luna saat motor ojol membawa tubuhnya menjauhi lelaki terbaik di dunia, menurutnya.


'Luna aku pikir gadis unik sepertimu sudah musnah, kau sengaja menutupi kecantikanmu itu dengan kepolosan. Tapi namaku Tito, aku pasti tahu kalau kau sejatinya adalah gadis yang cantik, bola matamu sangat indah tadi.'


Tito melambaikan tangan, tersenyum sambil mengamati punggung Luna yang kian menjauh. 


Adrian yang melihat semua kejadian itu hanya bisa mendesah kesal. Dia tak bisa menunjukkan apapun di depan semua orang. Bahkan akan sangat lucu jika dia melarang Tito untuk mendekati Aluna.


Sedangkan hubungan dia dengan Angeline sangat lengket setiap harinya, sudah layaknya sepasang kelinci kawin.


'Aku tidak boleh memikirkan gadis jelek itu, Luna hanya istri tiada artinya, dan tugasku hanya membuat dia pergi dari jerat pernikahan rahasia ini. Dengan siapapun berteman, aku yakin dia akan menjaga rahasia,'  Monolog Adrian saat dia kembali melihat Aluna dan Tito begitu akrab. 


Adrian memutuskan untuk masuk mobil yang bertengger di basement yang digunakan khusus untuk parkir. Baru saja menghempaskan pantatnya, lelaki sedingin kutip Utara itu sudah dikejutkan oleh suara seseorang.


"Adrian!" Seorang wanita cantik menurunkan kaca mobilnya, di bagian kemudi memanggil namanya.


"Rian, aku ingin kita jalan-jalan," pekik wanita itu lagi. 


Wanita  itu keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri mobil Adrian. 


"Aku nunggu kamu sayang!" Angel segera masuk tanpa nunggu persetujuan dari Adrian lebih dulu.


Tanpa basa basi Angel langsung duduk di sebelah Adrian yang menempati kursi penumpang, menarik wajah kekasihnya supaya hanya menoleh ke arahnya. "Sayang, kau menghindari ku. Kau tak pernah lagi datang ke ruangan ku."


"Maaf, lagi sibuk, kamu lihat sendiri kan aku juga baru pulang."


"Iya semoga saja hanya karena sibuk, aku berharap tak ada wanita lain lagi di hatimu yang sedang kau pikirkan." Angel mendekatkan wajahnya di depan Adrian. Bahkan wajah mereka hampir bersentuhan. Angel mencurigai ada sesuatu pada diri kekasihnya. 


"Tentu tidak, kau satu-satunya." Adrian menjawab dengan cepat. 


Angeline percaya, dia senang dengan jawaban Adrian.


Angel menggelitiki dada Adrian. Bahkan dia mulai agresif dengan memasukkan jarinya di balik hem sang kekasih, mencari tonjolan kecil berwarna coklat dan mencubitnya. 


Adrian tersenyum, dia segera mengulum bibir merah di depannya. Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut. Puas bermain di bibir Angeline, Adrian mulai menurunkan kecupannya hingga leher dan dada.  Adrian bermain di dada Angeline kanan dan kiri. 

__ADS_1


Nafas Angeline tersengal, dia menginginkan lebih dari ini, Angeline ingin Adrian segera memasukinya, menghilangkan rasa penasarannya selama ini. Namun lagi-lagi rencana gagal, saat Angeline sedang berusaha mengeluarkan tongkat sakti milik kekasihnya, karena dua pengawal yang mendampinginya mendekat tanpa perintah dari Adrian. 


"Tuan, sepertinya kita harus pulang sekarang, apa anda lupa ini hari ulang tahun nyonya."


"Iya, benar. Terima kasih sudah mengingatkan, aku hampir saja lupa" jawab Adrian salah tingkah kepergok bermesraan..


"Pengawal sialan. Kenapa kau harus datang lebih cepat." Angel memiringkan tubuhnya ke dalam sambil membenahi baju dan vest yang berantakan. 


"Maaf, Nona, karena saya harus mengingatkan kalau Tuan Muda harus pulang lebih cepat." jawab pengawal yang selama ini kurang suka dengan Angel yang sering sekali mengumpatnya.


Adrian sudah selesai merapikan kemejanya, dia hanya tersenyum melihat Angel kesal, menepuk pipi wanitanya, dan perempuan itu pergi. 


Aluna segera keluar dari basement dan memacu mobilnya sangat kencang. Pengawal Adrian hanya menggelengkan kepala. 


Adrian duduk bersandar pada jok di belakangnya, pengawal yang bernama Arga mengambil posisi duduk di kemudi sedangkan Argo duduk di belakang. Adrian mendapat perlindungan dari depan dan belakang. 


Sampai di rumah Adrian segera menemui Selena, rupanya rumah sudah ramai dan banyak tamu dari kawan sosialitanya. 


Acara sengaja dibuat sederhana karena Alex masih diluar negeri, rencananya kalau Alex pulang akan diadakan pesta lagi.  


Adrian dan Chela ikut beramah- tamah dengan tamu Selena sebentar. Dia juga bertemu dengan calon mertua yaitu mama Angel. 


Aluna segera menaruh gelas diatas nampan dan membawanya keluar. Luna menyuguhkan satu persatu pada tamu-tamu. mereka semuanya berpakaian glamour dan memakai perhiasan  branded.


"Kamu baru ya kerja disini?" Tanya salah seorang yang berwajah cantik. dia paling cantik diantara yang lainnya.


"Iya Tante."


"Kamu dari kampung ya?"


"Maaf Tante, Luna tinggal dikota ini juga."


"Oh, kamu cantik, hanya saja wajah kamu butuh sedikit perawatan dan sentuhan makeup." ujar wanita yang sejak tadi menatapnya dengan intens. Mereka seperti pernah bertemu, tapi entah dimana.


"Kenapa pembantu harus cantik sih jeng, tak usahlah perawatan segala, takutnya nanti anak majikan jadi kepincut." Wanita bertubuh subur menimpali. 


"Maaf, saya kebelakang dulu, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Aluna masuk dengan cepat. Dia mengambil langkah lebar agar segera sampai.

__ADS_1


"Luna!" Selena mengejar anak menantunya. "Luna berhenti!"


"Iya, Ma." Gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mama.


"Jangan panggil aku Mama, Luna. Bagaimana kalau mereka dengar. Panggil aku tante saja."


"Iya Tante." Luna berusaha tersenyum. 


"Kau pasti sudah tau kalau Adrian akan menceraikan kamu setelah kasus yang dihadapi oleh suamiku tenggelam dan tertutup oleh banyak kasus baru, Polisi tak akan membahas kematian ayahmu lagi jika kami menambahkan dengan memberi banyak uang," ungkap Selena dengan senyum jahat.


Walaupun negara Indonesia adalah negara hukum, tapi tak bisa dipungkiri uang memang selalu ikut Andil di dalamnya. 


"Saya mengerti Tante. Saya juga disini karena amanah bapak, kalau tidak … pasti saya sudah pergi dan mencari jalan hidup yang saya inginkan," jawab Aluna tak ada yang ditutupi lagi.


Selena tersenyum, Aluna yang lemah sudah mulai berani menjawab kata-katanya. 


"Asal kau tau Aluna, wanita yang berbicara denganmu adalah Mama Angel, kau jangan membuat Adrian kehilangan kekasih cantiknya dengan mengetahui kenyataan siapa kamu di rumah ini."


"Tante tenang aja, Tidak akan terjadi," jawab Aluna lagi. Aluna kembali berjalan menuju dapur dengan baki masih ditangannya. Selena keluar lagi menemui tamu-tamunya. 


Chela yang lapar datang ke dapur  ingin memilih makanan yang paling enak, diam-diam gadis itu mulai suka masakan buatan Aluna, hanya saja dia terlalu naif untukya mengakuinya.


"Aku ingin kamu buatkan makanan enak dan segar."


"Iya Nona muda," Aluna mengangguk patuh. walau hatinya kesal dengan adik tak ada akhlak itu.


Dengan cepat Aluna segera membuatkan minuman yogurt kesukaan Chela.


Gadis itu menunggu dengan sabar, Otak jahil Chela mulai kambuh, dia berencana ingin membuat Aluna kesal dan membencinya lebih dalam lagi.


"Upssss, maaf" Chela menumpahkan segelas air putih ke baju Aluna.


" Chela!"


"Hai kakak ipar, gitu aja marah, aku tidak sengaja." Chela tersenyum puas.


"Nona, ganti baju Anda sekarang dan istirahatlah." Imah menghampiri Aluna dan membantu melepas celemek yang dipakai Luna.

__ADS_1


"Iya terimakasih, Bi."


"Oh iya Luna, kamu lumayan cantik pakai kaca mata itu, sudah banyak duit aja?" tanya Chela yang dilanda penasaran, kenapa Luna memakai kaca mata yang berbeda dari biasanya, dia terlihat jadi tak lucu lagi. Bahkan saat tersenyum Aluna terlihat manis dengan sebuah lesung pipi.


__ADS_2