
"Tolong berhentilah, berhentiii!" Nabila melerai dua lelaki yang sama keras kepala.
"Kalian ini bisa nggak sih jangan seperti anak kecil, andai kalian damai, Aluna tidak akan pergi dari kita. Aku peringatkan untuk kamu Pak Adrian, jika kamu tidak selalu khawatir, ikut campur, dan sok peduli dengan Aluna. Dion tidak akan cemburu dan mengusir Aluna."
"Dan untuk anda Pak Dion terhormat, cemburu anda terlalu berlebihan, sehingga anda mengusir istri anda tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya."
"Cinta, kalian selalu bilang cinta pada Aluna, tapi jika anda terus seperti ini, justru cinta yang anda berikan itu bukan membuatnya bahagia, cinta yang anda berikan malah membuat Aluna semakin menderita. Dan jika sudah seperti itu apa masih bisa disebut cinta? Cinta itu merelakan, cinta itu berusaha membuat bahagia."
"Aki sudah merelakan, Na. Aku ikhlas jika Aluna memang mencintai Adrian. Tapi kenapa lelaki kurang ajar itu malah bersama kamu sekarang?" telunjuk Dion menuding Aluna.
"Karena yang dicintai Aluna itu bukan Adrian, tapi kamu Dion. Mungkin Adrian memang cinta Aluna, tapi dulu. Sekarang puaskan kalian berdua? melihat Aluna pergi."
Saat Dion mendengar penuturan Nabila, seketika lututnya terasa ngilu, hingga nyaris tak kuat menahan bobot tubuhnya.
Sedangkan Adrian terlihat sekali menyalahkan Dion yang gegabah. Angeline mulai ketakutan. Dia takut kalau ketahuan telah mengirim dua laki-laki supaya menodai Aluna.
Sebelum semuanya kejahatannya kembali tercium oleh Dion dan Adrian, Angeline segera membalikkan fakta dan menjelekkan Aluna.
"Dion, apa yang Nabila katakan itu benar, tapi masalahnya sekarang ada di Aluna, jika Aluna memang mencintai Dion seharusnya dia bertahan dan menjelaskan semuanya. Bukan malah pergi." Angeline mencoba meracuni otak Dion.
Dion, wanita baik akan selalu di sisi suaminya dalam keadaan apapun, bukan malah pergi, Aluna bersalah Dion, dia juga menghancurkan rumah tangga aku dan Adrian.
"Cih." Adrian berdecak. memalingkan wajahnya. sungguh dia sangat jijik demgan wanita ular macam Angeline.
Nabila juga tidak suka Angeline bersikap demikian di depan Dion, Nabila mulai mencurigai kalau Angeline telah mengambil keuntungan diantara mereka.
Nabila mencengkeram lengan Angeline kuat. Wajah keduanya terlihat ingin saling memangsa. "Aku sekarang tahu siapa yang telah mengirim dua lelaki bayaran supaya menodai Aluna."
"Kamu menuduhku Nabila? Berani sekali bahkan kau tak punya bukti apa-apa. Itu semua pasti karena Aluna saja maruk dengan semua pria."
Plaak! Nabila geram dengan ucapan Angel dia tak segan lagi melayangkan tamparan dipipinya. tapi sayangnya Angeline segera menepis dengan telapaknya juga.
"Jaga mulutmu. Wanita yang kau hina itu istriku!" Dion juga tak terima Aluna dihina.
Angeline sepertinya salah bicara, dia segera menenteng tas kecil miliknya dan pergi "Maaf aku hanya tak suka saja Nabila menuduhku."
Nabila tersenyum sinis. "Yah kabur, pergi sana yang jauh, hus .Eneg gue lihat kamu dimana-mana," kata Nabila sambil menatap punggung Angeline, dan mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Angeline menoleh, dan melampiaskan amarahnya dengan memberi tahu betapa tinggi kedudukannya."Jaga mulutmu, ya! Atau aku akan membuat kamu dalam masalah besar, kamu tahu kan, aku sekarang pemegang saham di perusahaan Alexa Fashion." Teriak Angel saat belum jauh. Sambil melirik Adrian, dalam hati menertawakan mantan suami yang sombong itu, karena Adrian menolak untuk bekerja sama memajukan Alexa Fashion.
Adrian membiarkan Angel berbicara sesuka hati dan keterlaluan. Adrian tak kaget lagi.
Adrian fokus memikirkan mantan istrinya. Kasihan dengan apa yang menimpa Aluna, semakin dia masuk dan ikut campur dalam hidup Aluna, masalah Aluna semakin banyak dan benar kata Nabila hanya akan membuat wanita itu menderita.
"Kekasih baru, dan menikahinya," guman Adrian. Lelaki yang kini tengah gelisah memikirkan nasib Aluna memutuskan untuk melakukan hal besar Adrian yakin dengan menikahi wanita lain Dion tidak lagi cemburu. Dan tak akan lagi ada alasan untuk memikirkan Aluna. Tapi siapa wanita yang tepat.
Saat para wanita sedang bertengkar. Adrian menghampiri Dion.
"Dion Sunderson, seharusnya kau tak pernah lagi meragukan Aluna, dia sangat mencintaimu. Tapi jangan suruh aku menutup mata jika dia sedang dalam masalah dan kamu nyatanya seperti ini. Saat kau pergi, ada sedikit salahpaham. Jessika telah mengira aku dan Aluna berselingkuh, padahal aku menghampirinya hanya untuk memberikan kembali cincin miliknya. Meski itu aku yang beli, tapi aku sudah menyerahkan pada Aluna, jadi dia tak sepatutnya memberikan padaku lagi.
Karena Jessica memergoki kami, dia salah paham, dan Aluna mengejar Jessica yang saat itu tingkahnya kekanak-kanakan. Aluna lalu merasakan sakit perut ya aneh, dan aku kira itu kram biasa, tidak tahunya istri kamu mengalami keguguran, bayi kalian pergi sangat cepat," tutur Adrian.
"Maaf aku bertanya, apa kamu yakin itu bayiku?" Dion memotong pembicaraan Adrian.
Adrian seketika tertawa, miris dengan Dion yang masih menaruh curiga hubungan masalalu mereka sebesar itu. "Maksud kamu? Aku tidur dengan Aluna? Kamu pikir Aluna akan menyerahkan dirinya begitu mudah? Sayang sekali Dion kamu berhasil menikahi tapi belum paham Aluna yang sebenarnya. Dia bukan wanita murahan." Adrian menekankan kata katanya di akhir kalimat.
Hati Dion luluh lantak, apalagi dia barusaja juga mendengar kalau Aluna nyaris ternoda.
"Aluna, maafkan aku Honey, aku minta maaf sudah membuat kamu kecewa. Aku sudah menyakiti hatimu terlalu dalam, mungkin saat ini kau sangat kecewa denganku, hingga kau tak perlu menjelaskan apapun saat pergi. Betapa kau menderita saat aku mengucapkan kata jahat itu, saat kau baru saja kehilangan anak kita, justru kau malah membuatmu semakin menderita dengan tuduhan ku." Kenyataan yang di dengar baru saja sungguh membuat Dion terpukul, dia benci dengan dirinya sendiri yang telah menjadi suami tak berperasaan.
"Benarkah? Dion terkejut dan juga senang.
"Dokter muda itu? Kenapa tidak kau beritahu aku. Aku akan dukung seratus persen."
"Ya," Adrian berdusta.
Anggukan kepala Adrian, membuat penyesalan Dion lebih dalam lagi. ditambah lagi Adrian menghampiri dan menggandengnya.
Dion segera meninggalkan restoran setelah pamit dengan Adrian dan Nabila.
Sampai di rumah Dion tak makan ataupun minum. Dia segera bergerak cepat mencari Aluna menyisir kota bersama Beni.
Dion sudah mencoba bertanya pada Nabila, sepertinya Nabila tidak akan cerita meski dia tahu sesuatu.
Dion bahkan sampai memohon pada dokter muda otu, tetapi Nabila tetap bersikukuh tak mau mengatakan kemana perginya Aluna.
__ADS_1
***
Sedangkan di tempat lain, Aluna sedang berbaring lemah karena susah makan. Enzo yang mendengar kabar Aluna sakit tentu ikut panik, dia akan membutuhkan jasa Aluna dalam waktu dekat.
Enzo yang tak mau Aluna makin parah dia segera membawa ke rumah sakit terdekat meski Aluna menolak.
"Tuan, tak usah risaukan saya. Ini hanya sakit biasa."
"No, no no, jangan terlalu meremehkan sebuah penyakit," kata Enzo. Lalu mencoba menyentuh kening Aluna meski dengan ragu-ragu.
"Tuan saya tidak apa-apa, saya hanya …."
"Apapun yang terjadi dengan mereka, atau kamu, aku bertanggung jawab. Aku tidak mau ada yang sakit, bagaimana kalau penyakit yang kamu derita ini menular." Enzo sengaja menakuti Aluna, karena tak mau terus di tolak.
Tito yang berdiri di belakang Enzo mengangguk tanpa sepengetahuan Tuannya, yang artinya 'menurut saja, tuan Enzo tidak suka dibantah.'
Teman sekamar Aluna juga menyarankan Aluna dirawat saja, dia paling tahu hari-hari Aluna yang hanya murung dan menangis di malam hari. Valen juga mengadukan semuanya pada Enzo.
Mendengar pengaduan Valen, Enzo makin penasaran perihal masalah yang dihadapi Aluna hingga gadis cantik yang pertama kali menggetarkan hatinya itu bisa menderita sedemikian rupa.
Aluna akhirnya bangkit dari tidur, dia memilih menurut dibawa di RS terdekat, daripada Enzo bertahan di kamarnya. Aluna tidak mau peserta lain akan menganggap dirinya dianak'emaskan.
Tito dan Enzo membawa Aluna di sebuah rumah sakit, sampai di rumah sakit, Enzo malah meminta Tito untuk kembali bekerja, dan dia memilih menunggu Aluna.
Aluna yang berbaring di atas ranjang merasa sangat kikuk, si dekatnya ada Enzo yang terus menatapnya.
"Jika ada masalah, kamu bisa cerita Luna." Akhirnya Enzo menawarkan diri untuk menjadi teman curhat Aluna. Hal jodoh seumur hidup yang pernah dia lakukam.
"Tidak ada, aku hanya perlu istirahat saja, mungkin aku lelah habis perjalanan jauh."
"Kamu berbohong Luna, kenapa kamu bisa curhat sama Tito, sedangkan dengan aku enggak? Selain menjadi CEO, Aku juga bisa menjadi teman curhat."
Luna menatap Enzo sebentar, tak percaya pria yang dikatakan Tito dingin dan angkuh itu menawarkan diri untuk menjadi teman curhat, lagi pula Aluna juga tak ingin membagi ceritanya dengan Enzo. Luna tidak mau dekat dengan lelaki manapun, kaum lelaki baginya hanya akan kembali menorehkan Luka, sedangkan luka dihatinya masih menganga, Luna ingin berkarir saja.
Kalau nggak mau juga nggak apa-apa! Mungkin jika lain kali butuh teman curhat, aku akan mendengarnya, ujar Enzo lalu beranjak dari hadapan Luna.
"Tuan," panggil Luna saat Enzo sudah membalikkan tubuh.
__ADS_1
"Anda pulang saja, disini ada suster yang sudah menjaga saya."
Enzo tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah," kata Enzo pura pura setuju. Tapi sebenarnya dia keluar hanya ingin bertanya pada dokter tentang sakit Luna.