
Pagi buta Chela sudah berkemas, bersiap hendak berangkat ke ibukota, semua perpindahan diatur oleh Adrian dengan memerintahkan Argo yang masih setia.
Sedangkan Arga sudah pulang ke kampung dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya.
Adrian mendukung Chela merantau karena demi kebaikan adiknya sendiri. Dia tidak mau kalau adiknya jadi korban keganasan cinta seperti dirinya dulu.
Setelah barang pribadi memiliki Chela dan Mama Selena dibawa Argo ke apartement, Chela segera menata di kamar yang akan menjadi kamar berdua. Yaitu Mama dan Chela, Sementara beberapa potong yang perlu dibawa dimasukkan ke koper.
"Chela kamu yakin akan merantau disana?"
Chela memeluk Mama Selena. yang sejak tadi memperhatikan dirinya saat berkemas. "Yakin Ma, Chela harus mengubur semua kenangan masa lalu dan menyongsong masa depan yang cerah. Chela tidak mau kalau sampai cinta buta ini menghancurkan Chela disaat usia Chela masih muda." Tutur gadis itu berusaha tegar.
"Chela kamu jaga diri ya nak. Jangan lupa telepon mama setiap saat, mama akan merindukan kamu."
"Iya Mam. Aku akan selalu jaga diri, mama baik-baik ya bersama kak Nabila, dijagain Kak Nabila, aku yakin kak Nabila akan menyayangi mama kalau Mama nggak cerewet lagi." kata Jessica yang secara tidak langsung menyindir mama kalau selama ini dia telah cerewet.
"Ya, Chela, mama janji tidak akan cerewet lagi." Selena melepas pelukan putrinya. Tak ada kisah yang menyedihkan selain perpisahan.
.
Chela sebenarnya tidak sendiri, ada satu temannya yang juga ingin berkarir di kota metropolitan itu.
Setelah satu hari menginap di apartemen kakak nya yang sedang kosong itu. Esoknya Chela segera berangkat dengan naik kereta api, Chela sementara akan menginap di rumah saudara jauh dari papanya.
"Mama berharap kamu akan beruntung di sana Nak! Kamu akan mendapat pengganti Jayden.
-
-
-
"Chela berangkat. Makasi Ma, atas dukungan selama ini" Kata Chela melepas pelukan Mama yang mengantarnya hingga stasiun.
Kereta api jurusan Sur*baya-Jak*rta sudah datang, Chela dan temannya langsung masuk dan duduk di nomor kursi masing-masing, yang kebetilan bersebelahan.
Chela akan membuktikan kalau dia bisa lebih baik dengan belajar pada pengalaman.
***
Satu bulan telah berlalu.
Chela sudah mulai ikut pelatihan modeling di sebuah sekolah ternama, tentu semua biaya di bebankan pada Adrian dan Nabila, Alex sudah lupa dengan keluarganya di Indonesia karena sudah terbuai dengan kemolekan istri muda di negara asing.
Chela berlahan mulai bisa melupakan Jayden, dia mulai mengenal dan memiliki banyak teman laki-laki di kota metropolitan.
Sedangkan di Surabaya, Jayden dan Jessica juga sedang berbahagia.
Jessika kini berada di sebuah kamar dimana dirinya sedang mematut dirinya di depan cermin, karena selesai dirias oleh make up artist yang handal. Jessica nampak cantik dengan gaun warna ungu yang memiliki belahan dada rendah, dengan mute bertebaran lebih banyak di dua bukit menjulang, memperlihatkan betapa indahnya makluk yang ciptaan tuhan yang satu ini. Gaun mewah yang dia kenakan itu hadiah dari Dion dan Luna yang khusus dipesan dari desainer kondang Indonesia.
__ADS_1
Mempelai sudah sua minggu ini dipingit, Jayden yang dijaga oleh kaum pria, karena dilarang menemui mempelai wanita, dia terpaksa menyelinap ke kamar Jessica lewat pintu samping tanpa sepengetahuan Dion dan Adrian.
Sedangkan Aluna, Papa Davit dan Mama Selena sibuk menimang cucunya yang tengah menjadi pusat perhatian para koleganya.
'Sttt, Jessica." Panggil Jayden.
"Kakak kenapa ke sini, bukannya kita nggak boleh ketemu dulu?" Jessica terkejut Jayden mendatanginya.
"Beri aku waktu bertemu Jess, Aku merindukan kamu, Sayang," pinta Jayden. Dengan setengah berbisi.
"Orang-orang bisa marah, kalau sampai tahu Kak Jayden ada di sini."
"Sebentar saja, Aku hanya ingin melihat wajah calon istriku, Kamu semakin cantik, Sayang." Jaiden merayu istrinya sampai wajahnya merah semerah tomat. Jayden menarik Jessica keluar kamar dan kini membawanya ke taman belakang melalui jalan tikus.
"Gombal banget sih," gerutu Jessica.
"Aku tidak sedang ngegombal Sayang, suamimu ini sedang bicara apa adanya." Jayden memeluk istrinya dari belakang, sedikit membungkukkan tubuhnya, menempelkan dagunya di pundak calon istri. Kerinduan selam dia hari ini seolah tak bisa di bendung lagi.
"Sayang, kamu harus tahu aku hari ini sangat bahagia, sebentar lagi kita akan resmi menjadi suami istri."
Jessica membalas ungkapan cinta Jayden dengan senyuman penuh arti, dia sama bahagianya dengan Jayden, hanya saja Jessica sulit mengungkapkan dengan kata-kata.
"I love you, My Wife."
"Love you too," Jawab Jessica lirih.
***
Diluar ruangan sedang ada keributan, Adrian dan Dion kehilangan lelaki yang seharusnya dia kawal agar tak kemana mana sampai pernikahan sah terjadi.
"Dokter Jayden menghilang, apakah mereka di culik?" Dion tak percaya
"Tidak mungkin, emangnya balita dia tidak tahu kalau sedang di culik," sarkas Adroan.
Benar-benar pengantin menyusahkan, seharusnya dia sudah ada di pelaminan. Apalagi penghulu sudah datang." Dion kesal dengan hilangnya Jayden.
Dari dalam juga sedang terjadi keributan yang sama, Jessica tidak ada di kamar, saat asisten mama sedang mengambilkan susu dan buah untuk Jessica. Tiba-tiba Jessica hilang.
"Jika dua mempelai sama-sama hilang, itu artinya!!" Pekik Nabila, yang terpaksa ikut bicara meski kepalanya sedang sedikit pusing.
"Dimana Jessica! Apa ada orang yang ingin membatalkan pernikahan mereka?" Tanya Aluna yang ikut panik.
"Tidak, kalau menuntutku mereka sedang ketemuan diam-diam," terka Nabila.
"Apaaaa?" Dion kesal. "Kurang ajar Jayden, padahal dia sedang dipingit, nggak sabaran banget nunggu sah."
Aluna menahan senyumnya. Bisa bisanya Jayden tidak bisa menahan di detik-detik terakhir saat menuju sah, apakah cobaan yang dilaluinya begitu beratnya, sampai-sampai tak bisa menahan untuk tidak bertemu Jessica.
"Dasar, cicak buntung, merayap tak hilang bilang, apa kamu sengaja membuat kami panik karena mencarimu!
__ADS_1
Jayden dan Jessica tentu terkejut dengan Dion yang tiba tiba membuka pintu belakang dengan kasar.
Wajah kesal semua keluarga terlihat jelas, terutama Nabila.
"Kak! Memalukan, kenapa kakak bikin malu. Kalian harus menikah sekarang, malah disini." Nabila mengerucutkan bibirnya, andai saja dia lebih tua, pasti sudah menggetok kepalanya pakai kemoceng.
"Maaf, Jes. Kakak tadi tak sengaja melihat Jessica sendirian kelihatannya dia sedang bowring. Jadi Kakak mengajaknya lihat pemandangan.
"Em, Jessica, Jayden, sebaiknya kalian keluar sekarang juga dan cepat menikah, biar tak ada larangan lagi jika ingin bertemu. Benar-benar kalian berdua bikin keluarga was was." David akhirnya ikut bicara.
"Mama, Papa, Maafin Jessica, kita tadi Jessica tadi nggak ngapa-ngapain kok."
"Syukur kalau nggak ngapa-ngapain. Tapi kok mama nggak percaya?" Selena menggoda putrinya.
"Iya, Sama. Aku juga nggak percaya," kata Dion.
"Tapi kok bibir Jayden ada me-merahnya?" Luna melihat kejanggalan.
"Astaga, benarkah?" Nabila menarik wajah kakaknya, buru-buru Jayden mengusap bibirnya.
"Mana nggak ada?" ungkap Jayden padahal di telapak tangannya yang digunakan untuk mengusap itu ada bekas merah.
"Kamu sudah ketahuan bohong Jayden, karena kamu sudah bergerak cepat sebelum sah, maka sebagai hukumannya malam pertama kalian nanti tidak boleh tidur sekamar," ujar Dion
"Kok begitu?" Jelas saja Jayden terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya.
"Kakak bercanda, kah?" Jayden langsung lemas.
"Apa aku kelihatan bercanda?" Dion memperlihatkan sisi arogannya. Dia kini melipat tangannya di bawah perut.
"Tidak, itu berat sekali," tolak Jayden,
"Tidak ada pilihan,"kata Dion lagi.
Jayden yang sudah tak sabar menunggu malam pertama itu akhirnya hanya bisa setuju. Meski sebenarnya Dion hanya sedang mengerjainya.
Lima menit kemudian Jayden dan Jessica keluar bersama-sama, Jessica terus menunduk karena berdoa dalam hati agar pernikahan ini akan membawa bahagia seperti pernikahan yang dilakukan oleh Dion dan Aluna. Sedangkan Jayden duduk di dekat penghulu dengan wajah tegang, dalam hati Jayden selalu menghafal bacaan ijab supaya tidak sampai keliru sat melafalkannya nanti.
"Jika semua wali, saksi dan anggota keluarga yang ditunggu sudah hadir, maka pernikahan ini alangkah baiknya dipercepat saja, jika ingin melakukan sebuah kebaikan,alangkah baiknya tidak perlu ditunda lagi," kata penghulu.
"Mas Jayden apa saja mas kawin yang anda bawa hari ini untuk mempersunting mbak Jessica yang sangat cantik jelita ini?"
"Saya hari ini membawa mas kawin berupa seperangkat alat sholat, mobil, cincin berlian, dan juga uang tunai sebanyak seratus juta," jawab Jayden atas pertanyaan penghulu.
"Bagaimana mbak Jessica? Apakah anda sudah setuju dengan mas kawin yang dibawa oleh Abang ganteng ini."
"Saya setuju," Jessica mengangguk meski pelan.
Baiklah sebaiknya kita mulai sekarang. Penghulu memberi instruksi pada mempelai laki laki dan calon ayah mertuanya untuk berjabatan tangan dan mengucapkan ucapan ijab dan qobul. Hingga satu menit kemudian berkumandang kata sah dari seluruh tamu undangan.
__ADS_1