Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 110. Menyadari adanya Cinta, tapi terlambat.


__ADS_3

"Tapi Dion!"


"Cukup Nenek!"


Pak Dion, nenek benar, anda pantas bersanding dengan gadis yang sederajat seperti dokter Clara, kita masih bisa berteman."


"Teman biasa, bisa datang dan pergi Luna. Tapi aku ingin kau menjadi teman hidup yang tak terpisahkan oleh jarak dan waktu, Kita akan bersama sama mengarungi samudera kehidupan ini."


"Tapi Pak, kita memang berbeda, anda biasa hidup dengan segala kemewahan, anda orang terpandang, bibit, bebet dan bobot sangat dipertimbangkan, sedangkan aku hanya rakyat jelata."


"Aluna saja bisa mengerti Dion. Kenapa kamu yang dibesarkan dengan kehidupan mewah malah terlihat begitu bodoh." Nenek membenarkan ucapan Aluna.


"Kalau kemewahan ini membuat kita memandang rendah orang lain, maka aku akan siap meninggalkan semua demi Luna."


Dion meraih jemari Luna, mengaitkan dengan jari-jarinya. Nenek tau apa itu artinya. Dion tak akan meninggalkan Luna meski apapun yang terjadi. 


"Baiklah, Nenek akan mempertimbangkan Luna menjadi istri kamu, beri waktu Nenek tiga bulan untuk mempertimbangkan semua. Nenek juga ingin mengenal sifat aslinya lebih jauh. Bukankah pepatah bilang tak kenal maka tak sayang.


Tiga bulan waktu yang lama, tapi saat itu Aluna baru selesai masa iddah.


 "Baiklah, tiga bulan, aku harap nenek tidak akan ingkar janji. Dan Aluna pasti akan menjadi cucu kesayangan Nenek, aku yakin dalam beberapa hari Aluna bisa membuat nenek tak mau jauh darinya lagi."


"Buktikan pada Nenek."


Nenek lalu pergi meninggalkan Dion dan Aluna di ruang keluarga, nenek segera masuk ke dalam Lift yang menuju kamarnya, nenek ingin istirahat sedangkan asisten segera mengekor di belakang. Di usia tua nenek sangat sulit tidur, dia harus konsumsi obat tidur terlebih dahulu, dan asisten menyiapkan semuanya.


Aluna dan Dion berdiri dan saling diam seperti patung. Aluna menunduk sejak tadi, gadis itu kembali cengeng saat berhadapan dengan orang kaya yang selalu membicarakan harta dan tahta. 


Dion segera memeluk Aluna, menempelkan kepala Luna di dada bidangnya, hingga titik air matanya jatuh membasahi hem lelaki yang menjadi bunga paling tampan di keluarga keturunan Alexander dan Sanderson itu.


"Aku sudah berjanji tak akan membuatmu bersedih, tapi kau sekarang malah menangis, sepertinya aku harus menghukum diriku sendiri yang tak mampu menempati janji."

__ADS_1


"Jangan, anda membelaku di depan nenek, itu sudah menunjukkan bukti cinta yang besar."


"Cintaku memang besar, aku sendiri tak tahu seberapa besarnya. Dunia dan isinya mungkin belum cukup untuk menggambarkan besar cinta yang kumiliki untukmu."


"Anda paling pandai ngegombal, aku jadi kenyang Pak." Aluna mencubit butiran kecil di dada Dion yang sedikit menonjol. 


"Auhh. Itu sensitif, aku akan membalasnya nanti." Dion semakin mengeratkan pelukannya.


Dion dan Aluna meninggalkan rumah nenek, dia bahagia setidaknya nenek memberi harapan. Dion yakin Nenek wanita yang penuh cinta, dan Aluna pasti bisa menaklukkan hatinya. 


***


Hari ini sidang perceraian Aluna dan Adrian akan ditentukan. Sepanjang perjalanan menuju ruang sidang, Aluna didampingi oleh Dion. 


Sedangkan Adrian didampingi Angel Chela dan Selena. 


Adrian dan Aluna bertemu. Pandangan mereka pun bertemu. 


"Bicara saja, aku akan mendengarkan."


"Bukan disini, tapi ditempat lain."


"Kenapa di tempat lain Rian, bukankah diantara kita tak boleh ada rahasia." Angel menahan lengan Adrian tapi dengan sekali hentakan genggaman itu terlepas. 


Adrian dan Luna akhirnya berjalan menuju taman, dia abaikan saja Angeline yang terlihat kesal. Dion mengangguk setuju memberi izin. 


"Aluna, apa kau yakin dengan keputusan ini?"


"Aku sudah yakin, sejak aku membuat gugatan ini."


"Kamu tahu Luna, hari ini seperti sebuah mimpi bagiku, aku sama sekali tak ingin ada hari ini. Aku hanya ingin dimana setiap membuka mata, kau ada didepan mata dan memberikan secangkir kopi untukku."

__ADS_1


"Tapi aku berharap hari ini segera berlalu, dan kita terlepas dari ikatan yang selama ini membelenggu kita. Kau hanya mengagumi kopi buatanku, bukan diriku." Aluna tersenyum dan berusaha tegar.


"Awalnya begitu, tapi lama lama aku suka sama kamu, aku saja yang tak menyadari itu cinta, sekarang baru terasa saat kau tak ada."


"Hehehe, Pak Rian bisa aja, pasti sengaja melakukan ini semua supaya perpisahan ini akan berkesan."


"Sungguh Luna." Adrian yang jarang bicara soal perasaannya, sekarang dia terang terangan mengatakan suka pada Aluna. Andaikan Adrian dulu mengatakan semuanya disaat Aluna masih bertahan, pasti dia akan bahagia. Sebesar apapun Selena dan Chela menghinanya, setidaknya dia akan memiliki bahu untuk sandaran.


"Luna mungkin aku belum pernah sekalipun menjadi istri yang baik untukmu, egoku terlalu tinggi. Aku ingin kekuasaan yang tinggi, sekaligus cinta," Adrian menggenggam tangan Luna, tatapannya begitu teduh.


Baru kali ini Aluna mengetahui Adrian juga memiliki tatapan yang indah. Mungkin ini pertama kalinya Aluna menyadari banyak hal yang berubah pada lelaki itu.


"Aku menyesal menjadikan kamu sebagai OG, supaya kamu tak betah disana,  aku menyesal membuatmu selalu melihat tingkah mesumku dengan Angeline, aku bodoh untuk memahami perasaanmu yang kuinginkan kau pergi jauh dan tak lagi mengusik hidupku.


"Dan semua itu kini benar terjadi, kau benar pergi Aluna, kau benar-benar akan meninggalkan semuanya." Adrian menitikkan air mata, meski wajahnya terlihat tersenyum, tapi Aluna tahu semua itu untuk menutupi kepedihannya. 


"Pak Adrian terimakasih sudah mampir di hidupku, dan terimakasih sudah memberi pelajaran berharga, aku berjanji akan selalu mengingat pelajaran hidup yang kau ajarkan padaku, bagi wanita dicintai akan lebih baik daripada mencintai. Setidaknya itu hikmah yang bisa aku ambil hari ini." Aluna jiga menitikkan air mata.


"Adrian mengecup kening Aluna."


"Kudoakan kau bahagia dengan Dion, semoga kau memiliki banyak keturunan yang lucu lucu nanti."


"Semoga hal yang sama juga terjadi dengan Pak Rian. Anak anda akan terlahir sehat dan lucu."


"Entahlah kalau dia anakku, kenapa seolah aku tak merasakan ikatan batin dengannya, kehadirannya tak membuatku merasakan kebahagiaan layaknya seorang calon papa."


"Anda cari saja kebenarannya, waktu itu aku juga pernah memergoki Angeline sedang bercumbu dengan pria lain. karena waktu itu aku sedang tergesa, jadi aku hanya melihat sekilas.


 


 

__ADS_1


__ADS_2