
"Sayang aku harus kembali ke rumah sakit," ucap Aluna sedikit takut.
"Baiklah aku ikut." Kata Dion sambil menutup laptopnya.
"Bukannya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Tidak, pekerjaan nomor terakhir, Aku ingin menemani istriku."
"Bagaimana kalau menimbulkan kecurigaan pada Adrian." Aluna meragukan Dion, khawatir suaminya tak bisa menjaga sikap.
Sekarang Dion dan Aluna bangkit dari duduknya, berjalan mendekati meja makan, menu nikmat tersaji semuanya dalam dua porsi.
"Akting juga butuh energi mari kita makan lebih dulu." Dion menggandeng Aluna lalu menarik kan sebuah kursi dan mempersilahkan Aluna duduk, Dion juga membuka serbet baru dan melebarkan di pangkuan Aluna.
Mereka makan malam bersama dengan suasana romantis. ada satu lilin ditengahnya dan penerangan dari lampu yang temaram.
"Sayang kamu dengar ponsel aku berbunyi nggak," tanya Aluna.
"Nggak sama sekali, mereka lagi sibuk mungkin jadi nggak ada waktu buat hubungi kamu," kata Dion dengan wajah tak meyakinkan.
"Masa sih, seharian sepi banget, biasanya juga Nabila kirim pesan."Aluna hendak beranjak mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar.
Dengan cekatan tangan Dion menahan." Sudahlah diperiksa nanti saja setelah makan, habis olahraga berat harus makan banyak, bagaimana kalau di perutmu sudah ada bayi kita, dia pasti akan ikut lapar."
Aluna tersentuh dengan ucapan Dion. Dia duduk kembali dan memulai makan malam.
Dion Menatap Aluna dengan kelembutan dan rasa sayang. "Istri yang manis. Penurut sama suami." Kata Dion senang.
Aluna makan pelan, sering kali dia mencuri pandang pada lelaki di depannya. Lelaki tampan, baik, tidak kurang satu apapun. Kenapa bisa mencintainya begitu manis.
"Sayang, makanlah dulu, jika ingin Memandang aku lebih lama, selesai makan lihatlah aku selama yang kau inginkan," canda Dion sambil menggigit sate kerang.
Aluna malu ketahuan mengamati suami begitu dalam. Dia segera meneguk air putih untuk menghilangkan kegugupan. "Aku hanya heran saja, kenapa ada lelaki tampan bersedia menjadi teman seumur hidup seorang Aluna, gadis biasa. gadis bodoh, dan miskin."
"Karena Aluna istimewa." Jawaban Dion pendek di tengah tengah kesibukannya memilih menu yang akan dia cicipi berikutnya
__ADS_1
Mereka berdua sedang menyelesaikan makan malam istimewa dengan hati bahagia, Aluna menganggap keadaan di rumah sakit sedang baik saja karena ponselnya sejak tadi masih sepi.
'Pasti Adrian sudah bisa diatasi dengan Nabila, Nabila kelihatannya juga cocok dengan Adrian andaikan mereka bisa bersatu. Tapi Angel … wanita itu sungguh licik, suami sakit bukannya malah menunggu tapi kemana dia?" Batin Aluna kesal memikirkan Angel.
Setelah makan malam selesai Aluna dan Dion bersantai. Mereka berdua duduk di sofa dengan posisi Dion duduk selonjoran dan Aluna di dekapan Dion. sama-sama baca buku, bedanya baca'an Dion buku tentang wanita agar cepat hamil, sedangkan Aluna baca buku novel.
"Sayang menstruasi tanggal berapa?" tanya Dion kemudian.
"Emm, tanggal berapa ya, kayaknya saat kita akan nikah, sebelum aku kecelakaan ditabrak mobil," jawab Aluna sambil mengingat ingat.
"Kalau begitu, kamu sekarang sedang dalam masa subur, itu artinya apa yang kita lakukan bisa saja langsung jadi baby."
Aluna mengangkat kepalanya dari dada Dion. "Benarkah sekarang masa subur. Semoga saja aku cepat hamil." Aluna mengelus perutnya. berbicara pelan.
"Dion bahagia, dia kembali meminta Aluna bersandar di dadanya. "Sayang kamu harus makan bergizi terutama yang buah, ikan dan sayur, kurangi makanan mengandung zat kimia dan berpengawet. Wah ini harus hati-hati," celoteh Dion yang sibuk dengan hal hal yang harus diperhatikan jika wanita ingin cepat hamil.
Tiba-tiba Dion menghubungi koki wanita yang sudah pulang ke rumah. "Mbak Ambar, tolong buatkan susu untuk wanita yang ingin cepat hamil dan segera antarkan kesini."
"Baik. Mas Dion, apa hanya itu saja, bagaimana kalau saya bawakan yogurd dan sekalian vitamin."
"Siap Mas."
Aluna yang mendemgar percakapan Dion dan Koki di kantor itu hanya diam. Niat Aluna yang ingin menunda kehamilan beberapa bulan sepertinya tak akan berhasil melihat usaha Dion.
Hanya dalam beberapa menit Mbak Ambar sudah datang, Aluna baru tahu kalau wanita itu ternyata tinggal di dekat perusahaan.
Aluna segera menerima makanan dan susu dari mbak Ambar. Wanita berusia sekitar lima puluh tahun itu terlihat baik dan senang sekali bekerja dengan Dion.
"Mbak Aluna, ini susu dan ramuan Jawa yang harus diminum teratur supaya cepat ada bibit bayi dirahimnya."
"Wah, mbak Ambar baik banget, terimakasih ya."
"Saya hanya menjalankan yang dimau oleh suami anda Mbak. Beruntung lho jadi istri Mas Dion. Hampir seluruh karyawan muda di kantor ini naksir sama Dia.
"Mbak Ambar, saya yang beruntung dapat istri seperti dia, mana susu yang aku minta." Tanya Dion yang tiba-tiba datang dari arah belakang. Tahu tahu nyahut aja dari arah belakang.
__ADS_1
"Sudah saya berikan pada Mbak Luna, Mas Dion. Semoga saja semuanya manjur, mulai besok akan saya kirimkan semua makanan penyubur kandungan selama Mbak Aluna masa subur."
"Bagus kalau begitu Mbak Ambar. Tolong saya ya, sudah nggak sabar pengen denger kabar istri saya hamil."
Setelah lama berbincang, Dion lalu mengizinkan mbak Ambar pulang, Aluna dan Dion tak lupa mengucap terimakasih berulang kali.
Tapi sayangnya Aluna terlihat tak suka dengan susu, mendadak perutnya jadi mual saat menghirup aroma dari uapnya.
"Sayang, susu ini aromanya aku tak suka." Aluna menutup hidungnya.
"Kok bisa tidak suka, padahal ini aromanya harum, dan ini bisa bikin kamu cepat hamil sayang." Dion melihat wajah Luna yang tiba tiba ingin muntah. Hati kecil Dion kecewa kenapa Luna tak suka. Padahal dia berharap Luna hamil di bulan ini. Dan dia segera ingin memberi tahu kabar ini pada keluarga, kalau Dion Sunderson mampu memberi keturunan untuk keluarga besarnya. Terutama papa yang ngebet ingin keturunan sampai pernah ada niat ingin menjodohkan Dion dengan Clara.
"Honey, kalau memang nggak suka nggak apa apa, dibuang saja, takut semua makanan di perut nanti malah ikut keluar."
"Tidak, Sayang. Biar aku coba. Masa sudah diusahakan susah susah malah dibuang begitu saja." Aluna berusaha meneguk susu dengan pelan.
Dion hanya bisa melihat kekonyolan Aluna yang harus menutup hidungnya rapat saat meneguk susu.
Malam semakin larut, terlalu asyik dengan suami sah, Aluna lupa di rumah sakit ada yang menunggu dengan cemas.
Nabila juga cemas karena menghubungi ponsel Aluna tak juga ada kabar balasan.
"Dokter Nabila, tadi istriku bilang kemana?" Tanya Adrian dengsn wajah tak bersahabat.
"Maaf Tuan Adrian, istri anda tidak bilang mau kemana, tapi tenang ya. Ini masih berusaha saya hubungi."
"Kemana Mbak Luna Tuhan, Tuan Rian pake bawel lagi. Makan minta sama istri, minum obat sama istri. Manja banget," eluh Nabila yang sejak awal memang sudah kesal sama Adrian.
"Dokter, anda tidak ada kerjaan lain apa selain nunggu aku disini?" Adrian terbawa emosi.
"Gara-gara anda disini, istri saya enggan balik. Pembawa sial," caci Adrian.
"Apa? Dasar pasien sint …. Uhhhh. Anda yang bawa sial di hidup saya, gara gara anda sakit, aku seharian harus tunggu anda disini, padahal aku bukan baby sister, aku lagi magang disini," sungut Nabila.
Nabila hendak keluar meninggalkan Adrian sendiri, tapi takut terjadi apa apa, karena emosi laki laki itu sedang tidak stabil. Ketika emosinya naik bisa saja dia akan merasakan sakit dikepalanya yang luar biasa.
__ADS_1