Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 12. Kata-kata menyakitkan


__ADS_3

"Nona harus hati-hati dengan Angel, gadis itu terlihat begitu berambisi ingin menikah dengan Tuan Adrian, jika tau semuanya dia pasti tak akan melepaskan anda Nona."


"Iya Bi." Dibalas Anggukan oleh Luna.


Aluna hari ini memasak untuk pertama kalinya di mansion Adrian Alexander. Karena Aluna lagi kangen sama Yusuf, dia ingin memasak kesukaan bapaknya, dan tentunya juga kesukaan dirinya. 


"Nona Luna, sebentar lagi acara sarapan bersama akan dimulai, Anda bisa segera mandi dan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan, duduk di ruang makan, Nona sekarang anggota keluarga ini." Butler Imah mengingatkan Aluna.


Aluna menurut, dia melepas celemek dan bergegas mandi, lalu segera menuju meja makan. Chela dan Selena memasang senyum palsu pada Aluna saat bayangan tubuhnya  Aluna segera membalas senyum mertua dan adik iparnya. 


Chela dan mertuanya sudah cantik. Tampil perfeck dan cantik untuk dua wanita di rumah ini sepertinya adalah kebutuhan utama. 


"Selamat sore Mama, Chela"


"Sore, Luna duduklah disini." Chela menepuk kursi kecil di sebelahnya. Aluna menuruti keinginan adik cantiknya. 


Saat Aluna hendak menghempaskan bokongnya diatas kursi, kaki Chela menarik kursi hingga bergeser ke belakang membuat bokong Luna terhempas ke lantai granit dengan bebas. 


Chela dan Selena tertawa terbahak, karena berhasil mengerjai Luna. "Maaf ya Luna, hahahaha. Aku nggak sengaja please maafin aku ya …" Chela memasang wajah mengejek lalu kembali tertawa. 


"Ya Ampun, Chela, kamu pasti sengaja ya? hahaha." Selena ikut tertawa. Ibu dan anak itu tertawa bersama setelah berhasil mengerjai Aluna. 


Aluna menatap Chela dan Selena bergantian. Aluna tau kalau dua orang di depannya itu hanyalah sedang menguji kesabaran nya saja, sejak awal dia memang tak pernah menyukai kehadirannya walau seujung kuku


"Kasiaaan, sini tangannya, aku bantu berdiri." Chela mengulurkan tangannya di depan muka Aluna." Ayo mana tangannya biar aku bantu."


Aluna berharap Chela tidak sedang mempermainkannya lagi, dia mencoba berprasangka baik. Aluna menerima uluran tangan Chela, dengan tetap siaga berpegangan pada tepi meja. 


Dugaan Aluna meleset Chela benar-benar membantunya. Namun selera makan Aluna kini sudah hilang, dia ingin pergi saja, makan malam bersama bibi pasti lebih menyenangkan. 


"Hei !! Kemana? Kamu belum lupa kan Aluna. Keluarga ini memiliki tradisi makan di meja yang sama setiap hari, kecuali untuk mereka yang sedang diluar rumah.


"Luna masih ingat Ma, tapi Aluna masih ada urusan di belakang."


"Sudahlah, kamu selesaikan nanti saja, lagian kamu bukan pembantu disini,masih ada Imah dan yang lainnya." 


Selena mulai membuka piringnya dan mengambil nasi dan lauk yang terhidang beraneka ragam, dan salah satunya ada buatan Aluna. 


"Chela buruan makan, ini ada masakan Aluna juga Lho."


"Iya Mam, pasti Chela akan makan, kalau perlu semuanya. Tapi Mam, Chela sepertinya sakit perut dan harus minum obat maag dulu deh." Chela mengernyitkan wajahnya berulang kali sambil kedua tangannya meremas perutnya. 

__ADS_1


"Kak Aluna. Bisa minta tolong ambilkan obat Chela di kotak obat yang ada di laci ruang keluarga."


"Bisa Chel, biar aku ambilkan." Aluna segera berdiri dia melangkahkan kakinya menuju dimana kotak obat disimpan. Setelah mendapatkan benda yang dicari Aluna segera kembali. 


"Ini Chel obatnya. Mau aku bukain sekalian," tawar Aluna. 


"Iya boleh." Jawab Chela. Lalu meraih teko dan menuang air ke dalam gelas hingga setengahnya.


Aluna memberikan pil yang baru dikupas kepada Chela. Gadis itu buru-buru mengambil dari tangan Aluna dan menelannya. 


***"


Bi Imah memanggil Adrian yang ada di ruang kerja, untuk segera menyelesaikan makan siangnya sebelum jam makan terlewat. Pria itu pun turun setelah berhasil mengemasi berkas dan Filenya. 


Adrian belum pernah sekalipun satu meja dengan Aluna, dan hari ini akan menjadi pertama kalinya. 


Adrian duduk di dekat Aluna dengan sempurna, lalu mengambil serbet dan di pasang di pangkuannya. Aluna segera mengambil piring untuk Adrian. Namun, lengan Adrian mencekal peprgelangan tangan Aluna. " tak perlu, aku bisa sendiri.


Aluna mengurungkan niatnya, dia hanya terpaku menatap laki-laki tampan di sebelahnya.


Aluna mengangguk lalu membenarkan kacamatanya. Sedangkan Chela dan Selena hanya melirik tingkah laku dua orang di depannya. 


Adrian memulai makannya dengan Elegan, memotong motong-daging bistik dengan lihai dan menusuknya dengan garpu, sedangkan Aluna memilih sayur sop dengan perkedel buatannya. 


Uhuk uhuk, Adrian tersedak saat tak sengaja ada potongan cabe masuk ke mulutnya. 


"Ini, Pak Rian. Minum dulu." Aluna segera menuang air dari teko. Adrian langsung meminumnya hingga tandas. 


Aluna tersenyum Adrian menerima bantuannya. Dia tak bisa lagi menyembunyikan rona merah di wajahnya. 


"Lanjutkan makanmu, jangan besar kepala karena aku menerima air yang kau berikan tadi."


"Tunggu Rian, apa yang Luna katakan tadi? Pak Rian. Kenapa dia memanggil kamu dengan sebutan Pak Rian?"


"Iya Mam, Aluna ini bekerja di kantor. Dia sekretaris Tito."


"Apa? Modelnya begini bekerja jadi sekretaris? Tito kok mau maunya punya sekretaris dia, apa nggak bikin mood kerjanya hancur. 


"Tito alergi sama cewek cantik, Mam. Jadi dia cari model yang kayak beginian, lagian cari sekretaris seperti Luna juga langka, bahkan tak akan pernah ditemukan di seluruh planet ini kecuali dia hahaha"


Hati Luna yang tadinya sempat melambung kini kembali terjatuh, Adrian berbohong demi menutupi identitas Aluna di kantor, setelah itu kembali menghinanya dengan mengatai kalau dia tetap wanita terjelek yang ia temui. 

__ADS_1


Aluna mengunyah nasi di dalam mulutnya yang semakin lama semakin hambar.  Tak percaya lelaki tampan dan manis seperti Adrian bisa memiliki mulut yang pedas. 


Chela hanya bisa tertawa terpingkal pingkal mendengar pernyataan kakaknya.


"Tito-Tito, teman kakak yang satu itu memang aneh ya. Dimana-mana cari sekretaris itu yang seksi yang cantik, nggak malu apa, kalau meeting sama klien."


Aluna yang merasa tersudut oleh tiga orang di ruang makan itu langsung berdiri, membuat kursi yang ia duduki mundur dan berderit.


Apapun wujud dan rupanya sekarang. Bapaknya dulu tak pernah menghinanya.


Aluna berlari ke kamarnya, saat menapaki satu per satu anak tangga, dia masih bisa mendengar suara tawa adik ipar, mertua dan suaminya yang menggema.


Aluna menatap dirinya di pantulan cermin, dia mulai bisa melihat betapa udiknya dirinya jika dibandingkan dengan penampilan Chela dan Angeline. 


Aluna melepas kacamatanya perlahan, lalu mengusap air matanya. Bayangan dirinya di cermin menjadi kabur. 


'Apa kacamata ini yang buat aku terlihat begitu buruk dimata orang-orang. Tapi kalau aku melepasnya aku tak bisa melihat dengan baik.'


Aluna memakai kembali kaca matanya, kini penglihatannya sudah normal kembali. 


'atau rambut ini, yang membuat aku terlihat aneh dan kampungan. "Aluna membuka tali kepangnya.


Aluna kembali menangis sesenggukan, kata kata Chela dan Adrian yang menertawakan dirinya terus saja terngiang. Harusnya dia tak merasakan sesakit ini, bukankah sebelumnya sudah banyak yang menghinanya.


"Nona!" Imah menghampiri Aluna.  


"Bibi." Aluna menoleh, dia merasakan begitu damai saat melihat pimpinan asisten itu menghampirinya. 


Imah mengambil sisir yang tergeletak di depan Luna, lalu mulai menyisir Luna berlahan. "Non Luna, jangan nangis terus. Bibi jadi sedih lihatnya. Pak Alex setiap hari tanya kabar Non ke saya."


"Katakan saya baik saja Bi, soalnya Papa disana kan bekerja. Aluna nggak mau sampai kepikiran dengan saya.."


"Iya, bibi sudah bilang begitu pada tuan Alex, tapi kalau Nona masih nangis terus, ya nggak janji bibi bisa selalu berbohong." 


Aluna menarik nafasnya. Dia bisa merasakan Imah begitu menyayanginya. Sampai dia berfikir, apakah sosok ibu itu seperti Imah.


"Curhat sama Imah, kenapa nangis lagi?" Tanya Imah.


"Nggak tau Bi, pengen nangis aja. Entah kenapa Pak Adrian kata katanya hari ini begitu menyakitkan, padahal aku sudah biasa dihina semua orang."


"Nona pasti mulai suka pada Tuan Rian. Biasanya kalau yang menyakiti hati kita itu orang yang kita sayangi, sakitnya akan lebih nancap disini." Imah menyentuh jantungnya. 

__ADS_1


" Jangan sampai Bi, Aluna tak mau jatuh cinta, Pak Adrian juga tak mencintai Luna."


__ADS_2