Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 45. Membuatmu nyaman


__ADS_3

Suara kursi berderit pelan ketika Dion menarik ke belakang untuk seorang princes. Tangannya memberi isyarat pada Aluna supaya lekas duduk.


"Aluna duduklah."


"Iya, terima kasih Pak Dion." Aluna duduk, menurut dengan apa kata Dion. 


Dion segera menyusul duduk, hatinya sangat bahagia. "Luna …."


"Pak Dion liatnya gitu amat, seperti nggak pernah lihat Luna sebelumnya."


"Aku suka kita bertemu lagi Luna, maaf selama ini aku tak serius mencarimu."


"Pak Dion, anda sudah bertemu saya sekarang. Anda pasti sudah tenang. Bahkan sedikit yang dilakukan oleh bapak saya anda sudah membalasnya dengan banyak kebaikan, nggak pantas saya dapatkan semua perhatian ini."


Dion tersenyum, bibirnya membentuk lengkungan huruf U, Tangannya merambat meraih jemari Aluna yang berada diatas meja.


Aluna terkejut, dia menoleh pada Adrian yang juga menatapnya.


Adrian pasti marah, Dadanya kembang kempis dan tataapnnya sepeti elang ingin menerkam mangsa. 


Angel yang tahu dia segera mencari cara untuk merebut perhatian Adrian. "Rian sayang, suapin aku donk, kamu lihat siapa sih."


"Tidak, aku tidak lihat siapa-siapa."


"Oh, lihat kesini dong, lihat aku yang sudah dandan cantik untukmu."  Angel menarik wajah Adrian agar fokus padanya saja.


"Kamu mau apa tadi? Aku suapin?"


"Iya Rian, Sayang." Angel terus saja merengek manja. 


Angel ingin membuat Aluna makin terbakar api cemburu. Dengan seperti itu dia akan kalah dan pergi dari rumah Adrian. Dia akan menjadi nyonya Adrian Alexander satu-satunya. pria yang saat ini sangat dicintai.


Rian menyuapi Angel tapi pandangannya tak bisa jauh dari tangan Dion yang masih setia menggenggam tangan Aluna. 


"Rian, ini hidung, gimana sih kamu suapin nggak lihat orangnya."


"Maaf, maaf hidung ya?" Adrian segera mengambilkan tisu dan mengelapnya. 


Angel berdecak kesal, mulai tersulut emosi, tapi kembali sebisa mungkin mengendalikan diri.


***


"Apa yang ingin anda katakan tadi pak Dion?" 


Aluna berusaha mengacuhkan Adrian dan hanya fokus pada Dion.


"Apa yang ingin aku katakan, aku lupa." Dion mendadak bersikap seperti anak ABG sedang jatuh cinta. Megusap rambutnya sendiri  yang masih rapi.


 "Aluna kamu sangat cantik, apa kamu sudah punya kekasih?"


"Kekasih? Kekasih saya telah memilih wanita lain pak."


"Oh, jadi dia berselingkuh. Aku benci lelaki yang selingkuh." Dion mengambil kedua tangan Aluna dan menggenggamnya. 


"Kalau begitu, biar aku saja yang menggantikan lelaki bodoh itu, kekasih sebaik dirimu harusnya di pertahankan."

__ADS_1


"Pak Dion jangan buru-buru, anda nanti akan kecewa. anda belum mengenal saya"


"Baiklah, aku akan memberimu waktu, hal penting tidak boleh diputuskan dengan buru buru." Dion mencoba memahami Aluna. 


Aluna menarik tangannya. Dion terlihat tak rela melepas jemari Aluna. 


"Pak, saya ingin ke kamar mandi dulu." Aluna bangkit dari kursinya, karena kurang hati hati dia malah terkilir


"Aaaaa" tubuh Luna Oleng.


",Lunaaa" Dion menangkapnya.


Mereka berdua saling pandang.


"Maaf." Aluna segera bangkit dari pelukan Dion, dia tak ingin lelaki di depannya mendengar detak jantung yang begitu kuat.


"Hati-hati Luna, sepertinya kamu harus banyak belajar memakai highell." Dion bercanda.


Adrian yang melihat Dion sengaja memeluk Luna berlama lama, rasanya sudah tak tahan lagi dengan apa yang dilihat. Ingin sekali mendekati dan menarik tubuh wanita yang sah menjadi istrinya. Tapi bagaimana dengan Angel yang sejak tadi sudah mendominasi dirinya.


Aluna pergi ke toilet yang lumayan jauh dari tempatnya duduk tadi, dia harus melewati beberapa belokan. 


Angel, aku mau ke kamar mandi. 


"Ok jangan lama lama ya."


Angel meremas ujung rok yang dia pakai, kesal dengan Adrian yang makin hari makin aneh. 


"Aluna tunggu!"


"Cukup bermain main Aluna, apa maksud semua ini?"


"Maksudnya, Pak?"


Tak mendapat jawaban, justru Adrian mendorong tubuh Aluna kedinding dan mengunci dengan ke dua tangannya.


"Aku bertanya kenapa kamu kesini dengan Dion? Kamu sengaja mau bikin saya cemburu?" Tersenyum mengejek. 


"Tidak Pak Rian, aku kesini memang murni rencana pak Dion."


"Bohong, bilang aja Luna, kamu ingin membuat aku cemburu, dengan kamu dandan cantik seperti ini, lalu pamer kemesraan di depan saya. Haha, kamu itu wanita licik."


"Buktinya anda sekarang cemburu?" Bantah Luna. 


"Cemburu? Kamu bilang aku cemburu."


"Iya, bapak cemburu! Kalau tidak kenapa Anda kesini."


"Aluna kamu hanya kucing yang lemah bagiku, aku tak perlu cemburu dengan wanita sepertimu, karena aku juga bisa memilikimu sekarang juga jika aku mau," ujar Adrian dengan senyum smirk membuat bulu kuduk Aluna berdiri. 


Apa maksud ucapannya, Aluna tak mau terjebak dengan lelaki yang tak mencintainya. 


Adrian menarik tangan Aluna dan menciuminya. Menjilat dengan mata terpejam. 


Aluna tau lelaki itu hanya ingin menyiksanya dengan kekuasaan yang dimiliki. 

__ADS_1


"Pergi!" Aluna mendorong tubuh Adrian sekuatnya hingga mundur beberapa langkah. 


"Anda orang jahat, jika anda mencintai Angeline, kenapa anda melakukan ini pada saya."


"Aku memang mencintai Angeline, tapi sekarang aku juga ingin memilikimu. tidak salah kan aku."


"Pak, anda kenapa jahat sama saya. hiks."


Mereka terdiam setelah mendengar bunyi sepatu fantovel.


"Luna, kau masih disini! Kenapa lama sekali."


"Pak Dion, maaf saya hanya menunggu toilet sepi."


"Tapi kenapa suara kamu seperti orang ketakutan? Jika ada yang mengganggumu katakan padaku, aku akan melindungi mu." Dion melayangkan pandangan pada Adrian yang terdiam dengan tangan mengepal.


"Apa majikan ini yang mengganggumu?"


"Tidak Pak Dion, Pak Rian hanya ingin saya harus segera pulang, di rumah banyak pekerjaan yang menunggu."


"Oh, iya? Baiklah soal pekerjaan ya? Berapa hutang Aluna pada keluarga kamu Rian? Aku akan …."


"Tidak bisa, Aluna akan tetap bekerja dan tinggal di rumahku, tak ada nominal yang bisa menggantikannya."


Dion mulai mencurigai sesuatu, dia juga punya pembantu di rumah, tapi tidak pernah mengikatnya. Sebenarnya kesalahan apa yang dilakukan Luna. Tanda tanya mulai berputar di kepala Dion. 


"Jika sudah selesai, mari." Dion mengulurkan tangannya, Aluna ragu akan menerima uluran tangan Dion.


"Luna ikutlah bersamaku, kita kembali ke kamar."


Baik pak, Aluna ikut bersama Dion. Tangan mereka terus bergandengan. Aluna tahu ini salah, tapi Adrian adalah guru terbaik dari perbuatannya sekarang. 


Adrian merasakan hatinya seperti diremas, antara rasa marah dan cemburu bercampur jadi satu. Harusnya dia tidak mengijinkan Aluna bekerja, hingga pertemuan dengan Dion tak pernah terjadi. 


Dion dan Aluna sampai di lift, mereka terlihat menjaga jarak, Aluna ada di sudut kanan dan Dion ada di sudut kiri. Dua makluk dengan pahatan indah itu sama sama melipat kedua tangannya, hanya saja Luna selalu menunduk, sedangkan Dion terus menatapnya dalam kebingungan.


"Katakan padaku Luna, jika lelaki itu mengancammu."


"Tidak Pak Dion, Dia hanya ingin Aluna bekerja dengan benar."


Jika kamu tidak betah disana, aku akan membantumu keluar rumah itu, aku bisa menyuruh orang-orangku untuk menyembunyikan dirimu. Aku sudah terlanjur berjanji, aku akan melakukan apapun untuk buatmu bahagia."


"Terimakasih Pak, jangan terlalu membuang waktu untuk memikirkan saya, waktu anda sangat berharga." Aluna menatap Dion dengan mata berkaca. Terharu dengan lelaki didepannya yang begitu baik. 


Melihat Aluna menangis dion mendekat dan menarik tubuh setinggi dada itu bersandar padanya. Mereka sama-sama memejamkan mata. 


Andaikan pertemuan dengan Dion sebelum terjadi tragedi tabrakan waktu itu, pasti Aluna adalah satu satunya orang paling bahagia di dunia. Mendapatkan perhatian lelaki yang tulus, dan satu-satunya pria yang menghargai keberadaannya.


Aluna sudah sampai di depan pintu kamar, dia kembali melihat senyum terbit di wajah pria blesteran dan pemilik mata amber.  "Luna, selamat malam. Semoga mimpi indah, mimpi aku saja."


"Pak Dion, ada-ada aja. Selamat malam juga." Aluna dengan malu-malu kucing melambaikan tangan, Dion membalasnya sebelum hentakan kakinya semakin menjauh. 


"Cepat tidur, jangan main hp terus."


Mengangguk. "Iya, anda juga."

__ADS_1


*happy reading.


__ADS_2