
"Cie, Angel, Pak Riannya sudah datang tu," celetuk Sisil
"Dah ditungguin dari tadi lho Pak Adrian, sama Angel."
Adrian hanya tersenyum sedikit pada dua sahabat Angeline.
"Eeeeh, kemana kalian?" Angel tertawa melihat temannya langsung pergi begitu Adrian datang. Teman yang sangat pengertian, dia tak mau mengganggu keromantisan Angeline dan Adrian.
***
Aluna dan Dion sudah sampai di bandara ketika hari sedang terik. Mereka bertiga turun dari pesawat sekitar pukul sebelas. Dion paling depan dengan memakai kacamata hitam jaket kulit warna coklat, jeans dan kaos dengan warna hitam.
Entahlah, kenapa Dion tiba-tiba hari ini suka dengan warna hitam. Namun, warna hitam yang kontras dengan kulitnya, justru membuat penampilan Dion lebih memukau, tak sedikit mata wanita yang memandang kagum dan bibirnya berdecak kesal, kenapa bukan dirinya yang menjadi wanita beruntung itu bisa selalu ada di dekatnya.
"Apa pusing lagi?" Tanya Dion yang cemas pada keadaan Luna. Saat dia baru Turun satu tangga.
Luna berusaha berjalan tegak, dengan ekspresi wajah yang dibuat senormal mungkin, kepalanya menggeleng cepat. "Aku baik-baik saja, aku lebih baik dari waktu berangkat kemarin."
"Bagus, tubuhmu cepat belajar menyesuaikan diri." Dion mengangkat tangannya hendak mengacak rambut Aluna karena gemas. Tapi dia urung melakukan. Dia menurunkan kembali tangannya.
Luna sedih melihat Dion urung mengacak rambutnya, entah kenapa dia mulai merindukan kebiasaan Dion yang satu itu.
Ben pamit lebih dulu untuk mengambil mobil di penitipan, Dion memberi izin. Sambil menunggu Ben, Dion berinisiatif memesan makanan di Depor terdekat yang ada di depan parkiran bandara..
"Kita makan siang, kali ini aku akan mencoba makanan yang kau sukai." Dion meraih lengan Aluna sambil tersenyum. Seketika perasaan Aluna yang tadi bersedih langsung meleleh seperti ice cream.
Sampai di depot ramai pengunjung Dion masih menarikkan satu kursi untuk Aluna. Gadis itu segera duduk dan menunggu Dion memesan makanan.
__ADS_1
Selang beberapa menit Dion sudah kembali, dia duduk di depan Luna di dipisahkan dengan meja kecil dengan lutut hampir bersentuhan.
Tak lama dua mangkok bakso dan es jeruk sudah datang di depan mata, waitres cantik mengantarkannya dengan senyum menawan untuk Dion.
"Luna, aku dengar kamu selain suka cilok juga suka bakso."
"Iya, bapak kok bisa tahu semua tentang saya."
"Aku pernah melihat beberapa kali kamu membeli di pedagang kaki lima."
"Iya, asalkan rasanya enak, Apapun aku suka." jawab Luna
"Sama kalau begitu." ungkap Dion.
Dion memanggil Ben dan mengajaknya makan siang sekalian, seperti biasa penduduk di nomor meja yang berbeda.
"Eh, lihat kesamping dong, ada cowok cakep."
"OMG, cakep banget."
"Sayangnya, udah punya cewek. ceweknya penampilannya biasa banget lagi."
"Iya, pakai dukun kali ya, cowok tampan bisa tertarik dengan cewek biasa banget begitu. Cantik sih, tapi penampilannya itu lho."
Dion mendengar obrolan dari dua gadis di sebelahnya, hanya tersenyum. Sedangkan Aluna terlihat menekuk wajahnya sambil mengaduk.
"Sayang, kamu tahu nggak apa yang buat aku jatuh cinta sama kamu? Dion menarik dagu Aluna dan melanjutkan aktingnya, dengan tujuan untuk membungkam mulut dua gadis di sebelahnya.
__ADS_1
"Aku suka banget dengan kamu saat dandan sederhana di luaran begini, kamu tahu nggak, justru itu semakin membuat aku penasaran saat kau tampil seksi saat kita sedang berdua saja di ranjang sayang."
"Pak Dion apa yang anda katakan?" Ucap Aluna dengan lirih. Dion mengedipkan matanya.
Aluna mulai mengerti dia akhirnya diam dan hanya tersenyum.
"Kau begitu cantik dan berbeda, dan tak pernah membuatku bosan untuk melihatmu, Sayang. Sangat berbeda dengan wanita yang suka mengumbar tubuh di manapun, terlihat sekali begitu murahan."
"Terimakasih, Mas." Aluna ikut menyempurnakan sandiwara Dion. Dion mengecup jemari Aluna.
Dua orang yang menghina Aluna barusan langsung pergi tanpa menyelesaikan makannya. Begitu tertampar dengan kalimat Dion.
"Pak Dion, terimakasih sudah menjaga Aluna dari rasa malu penghinaan dua wanita tadi."
"Malu kenapa? Tak semua yang kukatakan itu sandiwara. Itu harapanku jika kamu jadi istriku nanti." Dion kembali tersenyum dan mengerlingkan mata.
Aluna mati kutu oleh tingkah romantis Dion, dia hanya melipat bibirnya ke dalam dan mengaduk es jeruk di depannya yang seharusnya tak perlu dilakukan.
"Aluna, aku sudah jadi penjahat dalam beberapa hari ini."
"Maksud Pak Dion?"
"Ya, aku mengajak istri orang tanpa izin suaminya, jalan-jalan berdua."
"Kalau begitu ini yang terakhir saja Pak. Sebenarnya tak ada niat untuk saya berbohong, tapi Pak Rian yang mau saya merahasiakan hubungan pernikahan ini"
'Tidak mungkin bisa Aluna. Sehari saja tak mendengar suaramu aku merasa ada yang kurang dalam hari hariku. Semoga saja takdir masih bisa diubah.
__ADS_1