Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 192. Karena wanita.


__ADS_3

Dari atas panggung Aluna bisa melihat dengan jelas kalau lelaki yang sedang tak ingin ditemui sedang merangsek maju membelah para tamu yang hendak menyapa dirinya dan minta tanda tangan. 


Aluna segera turun dan berlari, Aluna segera menemui Tito yang sedang memperhatikan Aluna dari belakang layar. 


"Ada masalah Tuan. Nona Aluna mendadak dalam kondisi panik." kata salah satu kru.


Tito segera menjemput Aluna dan membawanya ke tempat yang aman dari gangguan para tamu. Aluna berterimakasih pada Tito sudah membawanya dari situasi buruk.


"Tito, tolong bawa aku pergi dari sini sekarang juga."


"Tapi Luna, acara belum selesai?"


"Cepat Tito aku tidak punya waktu lagi." Aluna terlihat ketakutan. 


Aluna belum siap bertemu Dion untuk saat ini, lelaki itu sudah terlalu dalam menorehkan luka dihatinya. 


Aluna masih belum bisa memberi maaf untuk Dion. Lelaki yang seharusnya ada saat dirinya butuh sandaran karena kehilangan bayinya, dia malah mengusirnya tanpa mau mendengar penjelasan apapun. 


 "Baiklah Luna kita pergi dari sini, biar aku memberi tahu Tuan Enzo jika kamu pulang lebih dulu karena ada masalah"


Aluna tak sabar, waktunya tak sebanyak itu, Aluna terus menyeret Tito hingga mereka berdua sampai di parkiran mobil, sedangkan Tito menurut dan satu tangannya sibuk mengirim pesan voice untuk Enzo. 


Enzo yang mendapat pesan dari Tito segera meminta Tito untuk membawa Aluna ke apartemen yang pernah Luna singgahi tempo hari.


Luna terkejut di sepanjang jalan sudah terpasang pengumuman yang menyatakan dirinya hilang.


Aluna segera memakai masker penutup wajah untuk menyembunyikan wajahnya. Aluna tak percaya Dion akan membuat ruang geraknya menjadi sempit 


"Luna apakah laki-laki itu alasan kamu ke kota?"


"Iya, dia lelaki yang telah membuat aku sangat kecewa, aku belum siap untuk memaafkan dia."


"Luna, dia Dion Sanderson, dia bisa membawamu kembali dengan mudah, entah kamu suka atau tidak," kata Tito yang fokus ke jalanan. 


Sedangkan Luna terlihat sangat gelisah. Setelah ini pasti dia akan menjadi buronan, mereka pasti akan berlomba membawanya kepada Dion dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. 

__ADS_1


"Jangan khawatir Luna, aku akan membantumu sebisaku. Dalam beberapa hari bersembunyilah dulu, nanti kita pikirkan cara lain." kata Tito berusaha memberi Aluna semangat. "Aku tau kamu ingin berkarier dan kamu tergiur dengan tawaran Tuan Enzo."


Aluna mengangguk. "Ya, aku ingin menjadi wanita karier, aku lelah menjadi tidak berguna." kata Luna yang kembali ingat dengan masa lalunya bersama Adrian, bagaimana Selena menghinanya karena dia wanita miskin. Dia tidak mau hal itu kembali terulang di rumah tangganya yang kedua. Meski Luna tahu justru Dion tak pernah ingin dia bekerja bagi Dion berada di sisinya sudah cukup. tapi Luna kembali tak berdaya ketika sebuah masalah besar menimpanya seperti yang dialami saat ini.


"Pikirkan Luna, dia Dion Sunderson, dia akan mudah menemukanmu. Aku tahu entah kamu suka atau tidak, dia akan menang dalam hal ini. dia tetap akan membawamu dengan caranya.


Luna diam, mengerti ucapan Tito. Tapi Aluna Masih punya waktu untuk berlari dari kejaran Dion. selama kesempatan masih ada Aluna akan mencobanya.


 Aluna ingin Dion kali ini datang dengan menyadari semua kesalahannya, bukan karena atas hak penuh atas tubuhnya.


Tito kembali memarkirkan mobilnya di basement, Enzo  memberi tahu kode kuncinya supaya Aluna bisa membukanya sendiri. Sedangkan dia berjanji akan langsung pulang setelah acara lelang selesai. 


Enzo juga tak tenang mendengar Aluna dalam masalah, sungguh dia tak mau wanita yang dia sayangi menderita. Enzo siap bertempur jika Dion nekat memaksa Aluna tanpa membiarkan dia untuk memutuskan apa yang diinginkan. 


***


Dion Sanderson terlihat marah, dia menganggap Enzo telah menyembunyikan istrinya. 


Dion mengobrak abrik ruang make up dan juga ruang lain yang ada di belakang panggung.


"Aku tidak tahu, dia bahkan pergi tanpa ganti baju terlebih dahulu."


"Bohong!"


"Aku tidak bohong," kata perias ketakutan. 


" Bos, kendalikan emosi anda, yang anda lakukan ini kampungan, jangan sampai para pencari warta ini mendapat celah untuk melihat kelakuan anda yang memalukan. Anda akan menyesal." Beni bersikap bijaksana Dion melepaskan tangan besarnya dari leher wanita itu.


"Maksud kamu aku harus diam saja saat istriku lebih memilih pergi daripada bertemu dengan suaminya?"


"Tidak Tuan, aku tak mau anda mendapat masalah lebih buruk lagi."


"Aku sadar aku salah Beni, tapi aku kini menyesal, aku sangat rindu dengannya. aku ingin minta maaf, jika Luna mau aku bersujud di kakinya aku pasti akan melakukannya," kata Dion mulai menahan air matanya. Dion mendadak sangat bodoh tanpa Aluna disisi. 


Beni tidak mau orang-orang melihat sisi rapuh tuan mudanya, Beni segera membawa Dion ke mobil dan pergi meninggalkan gedung. Beni yakin Aluna sudah pergi sejak tadi. Beni tahu Luna masih sulit melupakan majikannya. 

__ADS_1


Luna pasti menyalahkan Dion dengan semua yang menimpa dirinya, andaikan Dion tidak mengusirnya pasti dua lelaki itu tak datang untuk berusaha menodainya. 


Esok pagi Dion menemui  Enzo. Lelaki itu pasti tahu dimana Luna bersembunyi selama ini, karena  lelaki itu yang membuat Luna menjadi model utama dalam acara semalam. 


Beni dan Tito mengatur pertemuan kedua bosnya, sedangkan Aluna disembunyikan di tempat yang aman.


Pagi hari, Dion sudah menunggu Enzo di sebuah kedai kopi yang terkenal aroma kopinya sedap. 


Beni memilih duduk di kursi lain dan mengantisipasi jika bosnya kembali bertindak bodoh.  Beni tahu lelaki itu akan kehilangan kontrol jika menyangkut wanita yang disayangi. 


Tak lama Enzo datang. Lelaki tampan itu berusaha untuk bersikap baik meski dia tahu tujuan CEO King fashion memintanya bertemu. 


Enzo berusaha ramah di depan Dion. Lelaki itu mengulurkan tangan dan Dion membalasnya. "Duduklah." 


"Terimakasih."  Enzo duduk tepat di depan Dion. Hanya meja kecil yang menjadi penghalang mereka berdua. 


"Katakan padaku dimana selama ini kau menyembunyikan istriku?" Kata Dion to the point. 


Enzo hanya memperlihatkan senyum masamnya. "Bagaimana bisa kau berfikir aku menyembunyikan istri orang. Aku tidak tahu," kata Enzo sambil menempelkan punggungnya di sandaran kursi. 


"Kau berbohong, kau pasti memanfaatkan kebaikan istriku, kau tahu aku tidak mau dia jadi model atau apapun itu." kata Dion menatap Enzo dengan tatapan tajam, satu tangannya mengambil asbak dan membantingnya.


Enzo terkejut tapi dia tidak takut dengan ancaman kecil itu.


"Kalau menurutku kau terlalu egois, sehingga Luna pergi daripada memilih bertahan, dari kata-katamu baru saja kau sudah mengekang dia dengan keinginanmu, sedangkan dia bukan burung yang harus kau simpan di sangkar, dia itu manusia, dia berhak memberontak ketika harga dirinya mulai terinjak, dia berhak lari ketika tempatnya bernaung tak seteduh dulu." kata Enzo langsung mengenai jantung Dion. 


Dion terdiam, yang dikatakan Enzo ada benarnya. Tapi tetap saja Dion tak percaya jika Enzo tak menaruh hati pada Aluna. Istrinya terlalu cantik untuk membuat mata lelaki berpaling.  Dari cara Enzo memperlakukan di panggung, Dion bisa merasakan ada getar cinta di mata Enzo. 


"Jika sudah tak ada urusan lain lagi, aku akan pergi. Aku masih sangat sibuk." Enzo berdiri. 


Dion ikut berdiri dan mencekal pergelangan tangan Enzo. "Jika kamu terbukti menyembunyikan Luna, kau pasti tahu akibatnya."


"Aku tidak takut," tantang Enzo. Lelaki itu mulai tak bisa merelakan Aluna harus kembali ke kota S bersama Dion. Luna mulai membuat hari-harinya menjadi indah. 


Luna membuat dia kembali menjadi sosok hangat setelah sekian lama dia begitu dingin dengan wanita.

__ADS_1


 


__ADS_2