
Selesai makan, bahkan Aluna tak membantu Dion merapikan alat yang telah dipakainya, Aluna benar benar menguji kesabaran Dion.
Tapi Dion tak mempermasalahkan sikap Aluna yang sekarang, bagi Dion pantas Aluna kecewa. Dia hanya ingin Aluna kembali padanya dan bersikap hangat seperti dulu, meski itu nanti akan banyak menguras waktu dan tenaganya.
"Sayang ada buah potong yang sudah aku siapkan di kulkas."
"Terimakasih, tapi aku buru-buru. Aku akan siap-siap."
Dion tetap mengambilnya. "Setidaknya tetap makanlah beberapa potong untuk mencuci perut."
Dion menyodorkan buah segar khusus untuk istrinya. Tapi Aluna malah pergi.
Karena kasian dengan nasib buah Dion akhirnya makan semuanya sebelum ditinggal pulang.
Aluna hanya bisa tersenyum dalam hati melihat Dion makan buah dengan perasaan kesal.
Aluna siap-siap akan kembali ke negara asal, semua acara fashion show yang dijanjikan Enzo gagal total, Aluna harus kembali mengubur cita-citanya menjadi seorang model, lagipula Aluna tahu menjadi model sangat beresiko bagi kelangsungan rumah tangganya, berpose seksi di depan banyak orang sangat melukai hati Dion. Aluna akan membuka usaha lain saja dengan uang dan tabungan yang sudah dia miliki.
Aluna menyeret koper menuju lift, Dion mengejar Aluna dan meminta koper dari tangannya. "Biar aku yang bawa."
Aluna tidak keberatan menyerahkan koper pada Dion. Aluna tak percaya Dion niat sekali meluluhkan hatinya yang sebenarnya sudah luluh.
Sambil membawa koper, Dion langsung menghubungi Beni agar pulang sekarang juga, Dion meminta Beni agar menyusul ke bandara.
Beni segera bergegas, membawa semua barang majikan dan miliknya lalu meluncur ke bandara, Beni datang sepuluh menit setelah Aluna, mereka terlihat menunggu di ruang antri penumpang.
Aluna saat ini duduk dengan menatap orang yang lalu lalang, Dion sibuk memperhatikan istri cantiknya, bahkan dia sibuk kesal pada beberapa orang yang menatap Aluna lama-lama
"Sayang kamu pasti haus, biar Beni belikan minuman ya?"
"Tidak perlu, aku bisa beli sendiri, Beni bukan asistenku" jawab Aluna tanpa menoleh.
Beni ingin tertawa keras namun dia tahan. Melihat bosnya yang sekarang telah menjadi budak cinta.
Dion yang menyadari kelakuan Beni, sungguh dia ingin sekali menendang pantat laki-laki itu, beraninya menertawakan dikala bos sedang menderita.
Pesawat sepuluh menit lagi berangkat, Aluna segera berjalan menuju nomor kursi, tak menyangka Aluna duduk di kursi yang sama dengan Dion.
__ADS_1
Aluna juga menolak Dion memberi perhatian lebih seperti memasang kacamata dan penutup telinga. Sungguh Aluna berhasil menyiksa Dion dengan caranya bersikap acuh seperti ini.
Sampai di bandara Juanda, Dion dan Aluna segera turun dari pesawat, Luna terlihat sangat cantik meski dengan baju sederhana., dia memakai kulot panjang warna krem dan kaos tanpa lengan dilapisi dengan cardigan. Kacamata hitam ukuran besar menambah kesan elegan.
Dion yang disebelahnya tak kalah tampan, dia memakai baju yang senada dengan Aluna dan juga kacamata besar.
Mereka disambut dengan antusias oleh beberapa orang yang sudah mengenal siapa Aluna, dan yang belum tahu mereka terpaksa tahu setelah mendengar dari kawan-kawannya. Mereka berhisik. "Dia Aluna Model yang sedang naik daun tahun ini."
Yang paling mengejutkan adalah kedatangan Nabila dan Adrian, rupanya dua orang itu sengaja menjemput Aluna dan Dion yang baru pulang.
Yang menjadi pusat perhatian Aluna dan Dion adalah jemari Nabila yang berada dalam genggaman Adrian. Apa yang terjadi diantara mereka? Benarkah Nabila dan Adrian resmi pacaran?"
"Siapa yang memberi tahu ini?" Dion menatap Aluna dan Beni bergantian.
"Luna!!" Pekik Nabila. Membuat genggaman tangan Adrian terlepas.
"Nabila!! Pekik Aluna.
Mereka berdua kini berpelukan layaknya saudara.
Adrian mendekati Dion yang masih di belakang bersama beni, dan mereka berpelukan.
"Akhirnya kau ketemu dengan pujaan hati."
"Ya, dia masih marah padaku, aku harus berjuang mendapatkan senyumnya lagi." Dionenatap istrinya yang lebih dulu bersama Nabila dengan senyum gemas.
Nabila menarik dagu Aluna supaya melihat perdamaian dua saudara itu. Nabila dan Aluna tersenyum kecil. "perang saudara sudah berakhir."
"Apa yang telah terjadi? Apakah benar gunung es di kutip utara mencair?" Aluna heran. Tapi juga bahagia.
Setelah menyaksikan dua saudara yang tak pernah akur itu, Nabila kembali bercerita. "Luna aku sudah jadian sama Adrian."
"Benarkah?" Aluna ikut bahagia. "Selamat, aku senang sekali mendengarnya. Kapan itu terjadi?"
"Baru tadi, dia mengajakku menjemputmu, lalu kita mampir di restaurant dan dia mengatakan kalau ingin kita pacaran, dia suka sama aku Luna, cintaku pada Adrian tidak bertepuk sebelah tangan."
"Tadi?" Aluna tetap tersenyum meski merasa ada yang janggal.
__ADS_1
'Benarkah Adrian mencintai Nabila. Kenapa waktunya pas sekali dengan aku pulang, apakah Adrian melakukannya hanya untuk membuat Dion agar tak cemburu lagi padanya, apakah dia melakukannya agar aku tak pergi jauh dari Dion.'
Saat pikiran Aluna berkelana, dia mendengar Beni mengakui perbuatannya. "Maaf, tadi aku yang memberitahu kalian pulang, karena sejak lama Adrian selalu mengkhawatirkan hubungan kalian. Adrian ingin kalian berdamai."
Terjawab sudah kecurigaan Aluna, Adrian pasti mengutarakan perasaannya karena dia tak mau membuat hubungan Dion dan Aluna kembali terganggu.
"Syukurlah Nabila, semoga hubungan kalian langgeng." Aluna memeluk Nabila kembali dan berjalan menuju mobil Adrian. Sedangkan kaum laki-laki masih tertinggal di belakang.
Saat berjalan menuju mobil, Nabila tak henti-henti memperlihatkan rasa bahagianya pada Aluna. Dia terus saja berbicara sepanjang jalan menceritakan mantan suaminya Luna itu.
"Na apakah kamu bahagia?"
"Tentu, Adrian sosok yang selama ini aku impikan Luna, kelihatannya dingin tapi dia hangat, aku pasti akan sangat bahagia bisa bersamanya sepanjang hidupku."
"Syukurlah, semoga kalian langgeng Sampai ke pernikahan."
"Iya, Luna, semoga Adrian serius dengan ucapannya, dan semoga dia benar-benar melupakanmu, lagian dia tak ada harapan lagi kan? Kamu sudah bahagia sama Dion."
"Iya, aku sudah sangat bahagia dengan Dion," kata Aluna sambil melirik suaminya yang berjalan semakin mendekat. Nabila tidak perlu tau jika saat ini Aluna sebenarnya sedang pura-pura marah.
Aluna duduk di bangku tengah bersama Nabila sedangkan Dion dan Adrian di kursi paling belakang. Sedangkan Beni si jomblo tulen kebagian mengemudi.
"Kita kemana ini?"
"Langsung pulang, kasian ada yang sedang nahan rindu karena lama berpisah," canda Adrian.
"Wah, rupanya kalian ini pengertian juga. Aku dan Aluna memang sudah saling merindukan, dan kami akan seminggu mengunci diri di kamar," kata Dion lalu tertawa.
Aluna dan Nabila saling pandang. Aluna memasang wajah kesal.
Nabila menggoda. "Cieee, yang mau mengurung diri di kamar."
"Tidak, jangan dengarkan dia, lelaki itu sudah gila." Aluna menahan malu.
"Sayang, jangan kau bilang aku gila. Tapi tak apalah kau sebut gila, aku mang tergila gila denganmu, Honey."
"Cieee." Nabila kembali menggoda Aluna, pipi Aluna seketika merona semerah tomat.
__ADS_1