Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 177. Salah paham.


__ADS_3

"Sekarang kamu percaya?" Tanya Adrian sambil mengelus punggung Nabila yang masih bergetar karena menangis terisak. 


"Itu bukti benar-benar asli, aku sama sekali tak merekayasa. Kekasihmu dan sahabatmu sering menginap bersama. Kau hanya dimanfaatkan oleh Ferdi, dia tidak tulus, tapi cintamu yang amat besar membuat kau terlalu percaya."


"Iya, maaf, aku tadi sudah menyalahkan anda. Aku benar-benar bodoh."


"Baru sadar!" Adrian tersenyum. Nabila menarik kepalanya dan memukul dada bidang Adrian.


Adrian menggerakkan pahanya yang pegal karena Nabila belum juga turun. Menyadari posisinya terlalu menguntungkan Adrian, Nabila segera turun. 


"Jangan cari kesempatan di dalam kesempitan."


"Apa? Kau yang minta dipeluk, aku hanya menuruti apa maumu, karena kau lagi sedih." 


Nabila meninggalkan Adrian sendiri di balkon, lelaki itu sedikit lega bisa memberitahu yang sebenarnya meski harus ada air mata. 


Aluna yang baru selesai berbincang dengan Dion lewat video call segera mengisi baterai ponselnya.  Dia sempat melihat Nabila dalam keadaan menangis masuk kamar tamu.


Firasat Aluna tidak enak, takut gadis itu kenapa napa, Aluna terpaksa menemui Adrian yang masih duduk di kursi kecil dari kayu yang ada di balkon sambil meletakkan jemari yang sengaja ditautkan, di atas meja. 


Aluna mengambil kursi yang ada di depannya. Memandang Adrian sebentar lalu segera mengalihkan pada cakrawala dan awan yang melayang di udara. 


"Apa yang membuatnya menangis tergugu seperti itu?" tanya Luna. 


"Bukan aku, tapi laki-laki lain." kata Adrian sambil terus memandangi Aluna yang makin cantik dengan tubuhnya yang sedikit berisi, Adrian menduga bayi dalam perut Aluna pasti perempuan. Adrian pernah dengar kalau wanita itu semakin cantik pasti sedang mengandung bayi perempuan. 


"Kekasihnya selingkuh, sebagai laki-laki yang punya adik perempuan, aku juga tak mau gadis lugu seperti dia diselingkuhi, katakan permintaan maafku pada dia Lun, aku sudah membuat dia bersedih."


Luna memainkan jemarinya pandangannya sekarang menunduk. 


Adrian, Nabila gadis baik, kenapa tidak kau dekati dia, aku yakin dia tidak akan menyakitimu seperti aku, atau Angeline.


"Jangan bilang begitu, Luna, kamu nggak pernah menyakitiku, justru sebaliknya, aku selalu membuat kamu sakit hati."

__ADS_1


"Luna, terimakasih." Adrian memajukan tubuhnya hingga menempel di tepian meja, lalu menggosokkan telapak tangannya.


"Untuk apa." Aluna tak mengerti, terpaksa dia kembali menatap Adrian. Adrian tersenyum teduh membalas tatapan Aluna.


"Selama ini sudah bersedia menjadi istri bo'ongan, meski ada hati Dion yang harus kau jaga. Aku berharap kesalahan ku terakhir adalah padamu, aku tak ingin ada wanita yang tersakiti lagi karena kelakuanku."


"Jangan ngomong gitu lagi, aku percaya berlahan pasti akan ada cinta lain yang datang." Aluna berusaha meyakinkan Adrian jika masih banyak cinta lain yang lebih indah jika dia mau membuka hati.


Adrian mengalihkan pembicaraan. Adrian tahu sampai detik ini dia belum bisa melupakan Aluna, belum ada yang bisa menggeser satu nama itu di hatinya.


Suasana menjadi canggung, berdua saja dengan mantan sama sekali tak nyaman. "Em, ya udah aku lihat Nabila dulu."


"Silahkan, aku sekalian pamit," Adrian dan Luna sama-sama berdiri. Aluna hendak masuk tapi Adrian meraih jemarinya. "Luna ini sudah menjadi milikmu, aku menemukan benda ini tertinggal di kamar."


Cincin berlian yang kini ada di tangan Adrian itu, dulu tiba-tiba ada dijari manis Aluna. Aluna baru sadar memakai cincin ketika bangun tidur.


Saat itu Aluna yakin cincin itu pemberian Adrian. Karena hanya Adrian yang bisa melakukan kekonyolan itu.


Aluna membuang semua kenangan yang ada, termasuk cincin itu.


"Mbak Luna!  Kak Rian!" Tatapan Jessica jelas sekali terlihat guratan kecewa. 


"Apa yang kalian lakukan? Kak Adrian merayu Mbak Luna, karena Kak dion tidak ada disini," tuduh Jessica.


"Apa, yang kamu katakan itu nggak benar Jess." Aluna berusaha meluruskan salah paham. 


"Ini apa?" Jessica mengambil paksa benda yang ada di genggaman Aluna. Membaca inisial huruf yang ada di cincin bagian dalam. "A dan A. Ini maksudnya Aluna dan Adrian. Kenapa Mbak Luna mau menerima? Mbak Luna lupa, Kak Dion sudah sayang banget sama mbak Luna, sekarang dia makin giat bekerja karena butuh uang bermilyar untuk membangun rumah untuk Mbak Luna dan anak-anak kalian nanti"


"Jess … Jessica, kamu salah paham, Aku kasih cincin itu ke Luna karena memang milik dia tertinggal."


"Aku tidak percaya, ini pasti, Alasan kalian supaya aku nggak mengadu ke kak Dion." Jessica berlari menuju pintu keluar, Jessica sangat menyayangi Kak Dionnya. Dia tidak mau kakaknya mendapat ketidakadilan.


"Jess! Tunggu! Jesica!" Aluna terus memanggil nama adik iparnya, Jessica tak mengindahkan panggilan Aluna. 

__ADS_1


Luna yang tak mau ada kesalahpahaman, dia segera berlari mengejar Jessica. 


Tapi entah kenapa Adrian tak tega Aluna berlari, mengingat wanita itu tengah hamil muda yang rentan keguguran. "Luna berhenti, Luna sudah biarkan saja dia pergi." Adrian mengejar Luna dan lelaki itu berhasil menghentikan langkahnya.


"Tapi Rian, dia akan mengadu pada Dion, Dion bisa salah paham, bagaimana kalau Dion percaya. Aku tidak mau Dion akan berpikir macam macam." Aluna hendak kembali menyusul Jessica, tapi Adrian kekeh menahan tubuh Aluna. Adrian tak mau hal buruk menimpanya. 


"Biarkan aku yang menjelaskan. Kau tunggu disini." Adrian segera berlari, 


Aluna setuju sambil terus memeluk perutnya yang terasa nyeri karena kram. Nabila yang mendengar keributan dia segera keluar dan mendekati Aluna. Lalu membawa wanita yang masih terus meremas perutnya itu  masuk.


Beni yang melihat Jessica menangis di sepanjang jalan, dia segera menghampiri Luna dan menanyakan kondisinya


"Nona apa anda perlu ke dokter.?" Beni menatap Aluna yang berkeringat dingin.


"Tidak Beni, aku hanya butuh istirahat saja, antar aku ke kamar," pinta Luna yang sedang dalam keadaan strees. 


 Nabila dan Beni membawa Aluna ke kamar, setelah berada di posisi yang benar, Nabila harus mondar-mandir mengambil air dan obat untuk Aluna. jessica sangst khawatir dengan calon bayi yang masih dikandungan. 


Mbak Luna, tolong jangan lakukan ini lagi, berlarian, pikiran stres harusnya tidak dilakukan oleh wanita hamil. 


"Maaf, Na. Aku benar- benar minta maaf," kata Aluna sedikit lega usai minum


***


Sedangkan Adrian sudah berhasil menghentikan langkah Jessica.


 "Jessica kamu salah paham, Aku yamg salah karena memberikan cincin itu, karena itu memang miliknya, aku sudah memberikan untuknya dulu," kata Adrian dengan nafas terengah karena lebih banyak berlari.


"Tetap saja kalian berdua salah, aku tahu Kak Rian masih ingin merebut mbak Luna lagi. Karena kak Rian merasa yang paling pantas untuk Mbak Luna. 


"Jess, kamu ini sedang salah paham, tolong jangan buat suasana makin keliru." Adrian mendekati Jessica dengan wajah memohon. 


"Kak Rian datang ke penthouse ini saja sudah keliru. Lalu kebenaran yang mana yang kalian pertahankan!" Jesica masih salah paham.

__ADS_1


 


__ADS_2