
Satu Minggu sudah berlalu, Nabila tetap memantapkan hati untuk menikah dengan Adrian meski dalam kondisi Adrian yang tak lagi kaya raya.
Selena sangat senang memiliki menantu seorang dokter, setidaknya setelah Alex pergi dan menikah dengan wanita di luar negeri, dia akan memiliki kehidupan yang lebih baik lagi, Adrian memulai bisnisnya, dan Nabila yang memiliki separuh dari saham rumah sakit yang ada di Central City.
Pernikahan dilangsungkan pada hari ini, Adrian akan kembali mengucap ijab dengan wanita yang berbeda. Mereka tinggal menunggu kedatangan Kakak laki-laki Nabila yang akan menjadi wali.
Aluna dan Dion datang bersama, entahlah saat seperti ini, Aluna tidak lagi Alergi dengan bau badan Dion, rupanya alergi Aluna bisa ditanggulangi jika Dion memakai parfum yang beraroma buah-buahan.
Semua tamu hanya dari kerabat terdekat dan sahabat saja. Tidak ada yang lain lagi. Pesta pernikahan hari ini jauh dari kata meriah.
Aluna dan Dion datang paling awal, ada Melani, Davit, Nenek dan juga Jessica. Datang menggunakan mobil lainnya.
Nabila terlihat bahagia meski memakai gaun sederhana, sedangkan Adrian lebih banyak diam karena dia tahu Aluna dan Dion pasti akan menertawakan hidupnya yang sekarang.
"Rian, selamat ya, semoga ini pernikahan terakhir." kata Dion memberi selamat, ucapan Dion begitu tulus, permusuhan diantara mereka seolah kini sudah pupus.
"Ya, terimakasih. Selamat juga atas kehamilan Aluna, semoga kali ini tidak terjadi sesuatu pada calon bayi kalian." kata Adrian lalu menarik Dion ke dalam dekapan.
"Thanks, Rian. Do'anya." Dion melepas pelukan Adrian, dan giliran Nenek dan lainnya bersalaman.
"Dokter Nabila, Selamat ya kamu sudah jadi istri Adrian Alexander."
" Terimakasih, Luna, kau adalah perantara dipertemukannya diriku dan dia." Nabila melirik calon suaminya yang sedang sibuk bersalaman dengan tamu dan sibuk menerima hadiah dari keluarga Dion.
"Jangan terlalu lelah, sisakan tenagamu untuk menghadapi malam pertama kalian nanti malam," canda Aluna sambil menggoda sahabatnya.
"Aluna!! Pekik Nabila sambil mencubit bahu sahabatnya. Mereka berdua kembali berpelukan.
Aura bahagia makin terlihat, saat Aluna dan keluarganya datang. Setelah menyapa pengantin Aluna dan Dion duduk pada kursi-kursi yang sudah disediakan.
Tak ada hiburan khusus dalam pesta ini. Sehingga tak ada pilihan lain bagi tamu selain langsung menyantap hidangan yang ada sambil berdua dengan keluarga dan sahabat.
Aluna melihat Chela terus menatapnya, mungkin Chela ingin mengucapkan maaf, hanya saja telatnya belum sekuat niat.
Aluna membalas tatapan Chela dan tersenyum. Gadis itu membalas senyum Aluna, lalu membawakan buah potong untuk mantan kakak ipar yang dulu begitu dia rendahkan..
__ADS_1
Aluna menerima piring isi buah dari Chela. "Terimakasih,"
"Sama, sama. Maafkan aku selama ini sudah jahat sama kamu Lina." kata Chela yang bisa didengar Dion.
"Sttt, sudahlah, jangan bahas yang sudah berlalu. Ini hari bahagia. Kita rayakan kebahagiaan ini."
Gadis itu mengangguk. Dia meraih jemari Aluna. "Aku minta maaf."
Aluna menatap Chela. "Aku sudah memaafkan jauh hari sebelum kau memintanya. Tenanglah, jangan bebani hidupmu dengan rasa bersalah kepadaku." kata Luna berusaha meyakinkan Chela kalau semua sudah berlalu.
"Sayang, aku makin sayang sama kamu. Mudahnya hatimu memaafkan adik yang tak tahu diri ini." Justru Dion yang tak suka Aluna mudah memaafkan Chela.
"Sayang, apa yang kamu katakan! Aku sudah memaafkan Dia. Karena kesalahan masalalu, aku bertemu dengan lelaki seperti kamu, Sayang."
"Benar juga, tapi tetap saja dia tak seharusnya melakukan hal buruk padamu." Dion memeluk Aluna dan Aluna membalas pelukan Dion. Dion tersenyum senang karena Aluna tidak mual lagi di dekatnya. Mungkin bayi dalam perut Aluna mulai bisa berdamai dengan calon papanya. Atau memang bantuan farfum beraroma jeruk itu membuat Dion selamat.
Chela memohon diri untuk pergi, dia tak mau lama-lama berdiri di depan pasangan teromantis dan paling serasi siang ini. Chela hanya akan menjadi pelampiasan kekesalan Dion saja.
"Sayang kau terlalu mudah memaafkan dia,"kata Dion setelah Chela pergi.
"Aku sudah minta maaf sayang. Aku menyesal. Tolong jangan ungkit semua itu lagi."nDion memasang raut menyesal dengan menjewer kedua telinganya sendiri.
Aluna tertawa melihat tingkah konyol Dion. Luna hanya menggeleng sambil tersenyum lalu meneruskan memakan es buah yang lumayan nikmat di perutnya.
Apa yang dilakukan Dion beda halnya dengan sepasang mempelai yang mulai gelisah. Sudah datang sejak 1 jam, tapi kakak Kandung Nabila belum juga terlihat.
Selena mulai panik, begitu juga dengan Nabila, berulang kali dia menghubungi Jayden, tapi tidak sekalipun tanda panggilannya diterima, panggilan dari Nabila seakan diabaikan.
Usai menikmati hidangan, Aluna dan Dion dikejutkan dengan kedatangan mobil mewah yang tentu menaruh perhatian para gadis termasuk Chela dan Jessica.
"Itu pasti Jayden!" pekik Aluna yang langsung mengenali plat nomor mobil Jayden.
Dion segera menatap ke arah mobil yang baru datang dan terparkir di halaman, begitu juga Aluna.
" Akhirnya dia datang juga." Dion mengambil nafas dalam, ikut lega.
__ADS_1
Aluna dan keluarga yang lain menyalami Jayden, berusaha ramah tamah pada lelaki tampan dan terlihat berwibawa itu.
Chela nyaris tak berkedip menatap Jayden yang begitu tampan.
Kemeja putih dengan garis hitam dipadu dengan celana oxford warna hitam begitu serasi.
'Maaf, aku sepertinya terlambat.' kata Jayden ramah. Menyalami keluarga Adrian dan Luna beserta semuanya.
Chela dan Jessica mendapat giliran salaman paling terakhir. Chela menggenggam tangan Jayden begitu lama.
"Che-che-la."
"Jayden." Jayden merasa Chela sengaja menahan lengannya. Jayden segera menariknya dan pindah pada Jessica.
"Aku Jessica."
"Jayden … senang bertemu dengan kalian berdua." Jayden tersenyum pada Jessica dan Chela dua gadis belia yang memakai gaun anggun dan hampir senada itu.
Setelah meninggalkan senyum manis untuk dua gadis masih dalam satu ikatan darah itu,Jayden segera mendekati Nabila dan Adrian yang sudah menantinya sejak tadi.
"Kakak, terimakasih sudah datang," wajah Nabila yang tadi cemas berubah menjadi ceria.
"Aku pasti datang, tak mungkin aku tidak datang, kau pasti akan menangis, sedangkan aku sudah berjanji pada kedua orang tua kita, kalau aku tak akan pernah sekalipun sengaja membuat adikku ini bersedih." Jayden membelai rambut adiknya yang sudah tertutup hijab.
Adrian di sebelah Nabila ikut mendengarkan percakapan kakak adik itu,dalam hati Adrian akan berusaha menjadi Kakak yang hebat seperti Jayden sekaligus suami yang baik.
"Dan kamu Adrian, sampai kau membuat adikku ini bersedih, sudah pasti aku tak akan tinggal diam."
"Kakak, tentu aku tidak berani melakukan semua itu, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Nabila. Meski …."
"Apa?" Jayden memotong kalimat Adrian."
"Meski, cintaku datangnya pelan tapi pasti, aku akan selalu mencintai dengan segala kelembutan bagai air hujan yang meresap dalam pori-pori tanah. cintanya akan abadi hingga menumbuhkan butiran benih menjadi aneka tanaman yang indah.
"Baiklah Kak, kasian penghulu sudah menunggu sejak tadi, bagaimana kalau pernikahan dilaksanakan sekarang saja." Nabila tak enak dengan penghulu dan tamu yang sudah menunggu.
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai saja." Jayden duduk bersila di depan meja pendek yang sudah disediakan khusus untuk mengucap janji suci. Sedangkan tepat di depannya ada penghulu yang sudah duduk dan siap untuk menikahkan kedua mempelai.