
Ponsel Nabila berdering.
"Aluna! bagaimana kabarmu."
"Baik Sayangku, bahkan sangat baik. Kami pasti juga lebih baik kan?"
"Iya." Kata Nabila malu-malu dengan pipi semerah tomat, seolah Aluna sudah tahu jika semalam sudah terjadi pergumulan panas.
"Terima kasih ide konyolnya Luna," Akhirnya Nabila mampu berkata jujur.
"Woww, Apa artinya kalian berdua sudah berhasil melewati hari menegangkan itu?" Luna tertarik ingin tahu.
"Iya Luna." Nabila senyum-senyum sendiri. Dia sama sekali tak bisa berbohong soal apapun pada Aluna.
"Syukurlah, Nabila. Adrian sudah memantapkan hatinya padamu. Semoga kalian cepat dikaruniai buah hati yang lucu lucu."
"Terimakasih doa terbaiknya Luna, semoga kamu juga mendapatkan kebahagiaan yang tak akan ada habisnya, maafkan aku yang mencintai mantan suamimu ini."
"Dia sudah mantan Na, hubungan kita terjalin diwaktu yang salah, aku dan Adrian tidak berjodoh, Tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaiknya, yaitu kamu."
Mereka berdua lalu saling tertawa dan bercerita.
__ADS_1
"Ngomongin siapa?" Adrian menampakkan diri dari balik pintu, tadi dia mendengar obrolan istri dengan mantannya. Tapi Adrian tak mau mengganggu.
''Eh, Kakak nguping ya" Nabila segera mematikan ponselnya sepihak.
Aluna berusaha mengerti, dia juga meletakkan ponselnya di atas nakas, dan bersiap untuk pergi melihat proses pembangunan restoran miliknya.
"Nggak nguping, tapi aku memang mendengar semuanya tanpa sengaja." Adrian gemes kini dia memeluk istrinya dan mengambil ponsel dari tangan Nabila. Adrian bersyukur panggilannya dengan Aluna sudah terputus.
"Kenapa kau katakan semuanya kepada Aluna." tanya Adrian sambil duduk di pinggiran ranjang dan bersandar.
"Kenapa emangnya, Kak?" Nabila bertanya dengan polos dan merebahkan kepalanya di pundak Adrian.
"Tapi, Luna sahabatku, Kak," kata Nabila.
"Benar sayang, aku nggak ngelarang, tapi kalau masalah yang kiranya pribadi, nggak perlu harus diceritakan. Malulah." Adrian dengan sabar mengelus rambut Nabila dengan lembut. Kecupan di kening juga tak luput Adrian berikan.
"Baiklah, Kak, aku minta maaf." Nabila kini bergelayut manja di lengan Adrian. Adrian mempererat pelukannya.
"Kenapa harus panggil Kak?" Tanya Adrian. "Aku seperti menikah sama anak kecil saja."
"Tapi aku bukan anak kecil, aku sudah dua puluh enam tahun."
__ADS_1
"Makanya jangan panggil Kak, panggil aku yang mesra dong," Kata Adrian menggoda istrinya.
Nabila mendongak menatap Adrian yang sedang tersenyum. Senyum yang selalu membuat Nabila makin jatuh cinta.
***
Sembilan bulan kemudian.
Dion sedang mengelus perut Aluna yang amat besar.
Jika awal kehamilan Aluna sangat membenci aroma tubuh Dion, berbeda sekali dengan saat usia kandungan Aluna menginjak hamil tua. Aluna sangat-sangat menyukai aroma tubuh Dion bahkan dia tidak mau jauh jauh, hingga membuat Dion sering kali kerepotan dengan tingkah manja Luna.
Seperti hari ini, Luna sedang merengek minta Dion membuatkan puding.
"Biar aku buatkan, Nona." ujar Lasmi yang masih berprofesi menjadi tukang masak pribadi Aluna.
Sesungguhnya diam diam Dion sudah tahu kalau Lasmi adalah ibu kandung istrinya, hanya saja Dion kesal dengan wanita itu dan ingin menghukumnya lebih lama lagi. Beni yang memberi tahu semuanya.
"Tidak perlu, aku suaminya, aku bertanggung jawab untuk anak dan istriku. Dia sudah ditinggalkan oleh ibu kandung yang seharusnya menyayangi danerawatnya sejak kecil."
termasuk jika nanti ibu kandungnya datang dan menyesali semuanya.
__ADS_1