Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 59. Terlepas dari belenggu.


__ADS_3

Wanita misterius tertawa dalam kegelapan, dia bahagia bisa membuat kerikil kecil hilang dari hadapan, baginya Adrian adalah miliknya, tak ada wanita lain yang boleh memiliki kecuali dirinya. 


Wanita itu yakin cinta Adrian mulai tumbuh, hingga dia harus menyembunyikan Aluna dalam mansion yang jauh dari kota. Dan yang lebih membuatnya cemburu adalah Adrian ingin menghabiskan malam panjangnya dengan si wanita. 


Dengan segala tipu daya Angel bisa membuat Adrian khawatir dengan keadaannya yang sedang main drama, pura-pura sakit adalah cara yang jitu mengambil simpati laki laki.


Adrian tentu khawatir Angel sakit, sedangkan setelah kepergiannya penjahat bayaran kelas kakap segera bereaksi, membuat kebakaran besar dan mengatasnamakan Adrian dalang di balik semuanya. 


"Mampus hahaha!!" Angel tertawa pongah ketika melihat video kiriman dari pembunuh bayaran yang dia sewa semalam.


"Angel dilawan, siapa suruh!" Angel menghapus semua bukti lalu menyelipkan ponsel di sakunya. Setelah itu kembali berbaring dan pura-pura demam setelah Adrian keluar dari kamar mandi.


"Rian Sayang, kamu mau kemana?" tanya Angel yang tiduran di atas ranjang. "Lupa ini hari minggu?" tanya Angel sambil berbaring.


"Aku ada meeting dengan klien, tolong jaga dirimu baik-baik di rumah, aku pulang agak sore. jika butuh apa apa bisa minta pada Chela, atai Mama kalian kan akrab."


"Okey ... No problem. Alu akan tunggu kamu pulang, Sayang." Angel tersenyum pada Adrian sangat manis. lelaki itu lalu mengecup keningnya. i love you."


"I love you too." Angel mengerjabkan matanya berulang kali.


"Kiss me."


"Sudahlah nanti terlambat." Adrian menjauh. Angel menahan lengan Adrian. langkah kaki pria itu langsung terhenti.


"Tidak ada izin sebelum pergi" Angel menggoda Adrian dengan bibirnya.


Adrian mulai tergoda, menghampiri Angel dan mengecup bibirnya sesaat. Angel menipunya dia tak hanya mengecup bibir Adrian tetapi juga menahan dalam pelukan.


***


Aluna dan Jesika duduk berdampingan menunggu antrian.


"Pak Dion mencariku?" Aluna terkejut, entah dia harus senang atau sedih, tapi saat Jessica mengatakan kalau kakak tampannya mencari dirinya hati Aluna menghangat.


"Dia suka menyendiri bersama gemoy. Aku rasa sikapnya mulai berubah sejak lima hari ini, pasti semua ada hubungannya dengan dirimu, tapi tenang saja aku sudah memberi kabar gembira, kalau aku sudah bertemu denganmu hari ini."


"Jangaaaaan sekarang !" Aluna menjadi gugup.

__ADS_1


"Maaf, dia sudah terlanjur membaca pesanku." Jessika tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Ishhhh …." Aluna memukul paha Jessica. dan gadis itu langsung merengkuh pundak Aluna. Walaupun Aluna tersenyum Jessica bisa tahu sahabat barunya itu sedang bersedih.


"Aluna pangastuti!" Nama Aluna sudah dipanggil dari dalam 


 Jessica segera menurunkan tangannya. "Itu namamu sudah di panggil, semoga kau baik baik saja." 


"Terimakasih  Jess," ujar Aluna yang masih terlihat cantik karena sisa-sisa make-upnya semalam. Aluna beranjak dari duduknya dan segera memenuhi panggilan dokter. Dokter memeriksa sekujur tubuh Aluna, dokter lega karena tak ada perlu dikhawatirkan selain luka luar, dalam beberapa hari pasti akan cepat kering. 


Mendengar kabar dari Jessica, Dion segera menyusul ke rumah sakit yang diinfokan oleh Jessika. satu jam Dion sudah sampai dengan wajah senang bercampur khawatir.


Dion segera turun dari mobil tanpa menunggu Beni membukakan pintu. Pria berkemeja putih dengan garis biru dan celana biru itu nampak bersemangat. 


"Luna apa kau baik baik saja?" Lelaki itu langsung nyelonong ke ruang pemeriksaan dan banyak bicara sebelum melihat kondisi Aluna. 


Dokter terkejut lelaki itu nekat masuk saat Aluna belum selesai di periksa. "Maaf anda tunggu diluar. Pasien sedang kami periksa."


Dion segera menutup pintu kembali ketika melihat Aluna sedang diolesi salep oleh dokter wanita.


"Hei, kak! Tunggu disini Aluna masih diperiksa dokter." Jessica memanggil-manggil.


Jessica mencebikkan bibirnya. " Sejak tadi dipanggil, emang kakak aja yang nggak bisa lihat Jessica, lihatnya Aluna melulu."


"Aku khawatir, kamu bilang dia terluka, jadi kakak langsung aja dari kantor terus kesini."


"Hemm, Aluna sudah memasukkan ramuan cinta ke otak kakak. Lihatlah kakak semangat banget begitu dengar kabar dia, aku sudah jadi nomor berapa sekarang, cintaku kau duakan Kak."


"Little  tahu apa kamu, Aluna sudah punya suami. kita cuma sahabat" Dion mengacak rambut adiknya. Mengacak rambut sudah menjadi kebiasaan dion sebagai ungkapan sayang.


"Aluna tidak bahagia dengan suaminya kan." Jessica menarik tangan kakak supaya duduk di dekatnya. 


Mengucap nama suami, tubuh Dion menjadi lemas. "Tetep aja dia sudah bersuami, sebelum dia cerai kakak hanya bisa menjadi teman baiknya."


"Sabar ya kakakku, Sayang. Jika Aluna tidak berjodoh dengan suaminya kakak bisa ambil dia." Jessica bergelayut manja dilengan kakaknya. 


"Buktinya dia kena masalah saja, suaminya tak datang kan? Suami itu harus ada disaat istrinya butuh."

__ADS_1


"Tahu apa sih, tentang suami dan istri. Masih kecil, kuliah aja yang benar." Dion merengkuh pundak adik kecilnya, ketika tangannya sudah bebas dari pelukan Jessica.


"Jes, kira-kira apa salah jika kakak jadi perebut istri orang demi membahagiakan wanita itu?"


"Jessica nggak tau Kak." gadis itu mengangkat pundaknya berulang kali.


"Aluna lama ya ...." Dion menatap ke depan tapi pikirannya hanya dipenuhi Aluna. Gadis itu lama sekali diperiksa. Dion jadi tak sabar ingin masuk ke ruang dokter lagi. 


"Sabar dikit napa sih?" celetuk Jessica


Tiga puluh menit Aluna selesai diperiksa, banyak luka yang ditutup dengan kapas tapi luka kecil hanya dikasih salep saja. 


Luna berjalan keluar sambil memegangi tas slempangnya yang hanya berisi ponsel dan beberapa lembar uang dari gajinya.


"Pak Dion, maafkan aku!"


"Sttt, maaf untuk apa? Nggak bikin salah kok." Dion tersenyum. Aluna menatap senyum Dion yang penuh kelembutan. Mereka berdua duduk di sebelah Jessica, masih satu bangku.


"isssh kalian berdua bikin ngiri, aku pergi dulu ya daaa." Jessica langsung ngacir masuk ke ruangan sahabatnya yang tengah di rawat.


Setelah Jessica masuk ke sebuah ruangan, Aluna kembali meneruskan kata katanya. "Maaf nggak jujur, kalau saya istri Pak Adrian, pernikahan itu bukan keinginan saya, tapi keinginan bapak. Sebelum meninggal dalam kecelakaan yang disebabkan oleh Papa Alex, bapak ingin saya menikah dengan Pak Adrian. Yang kebetulan CEO ditempat Aluna bekerja."


"Demi sebuah amanah aku akan mencoba untuk bertahan tinggal di rumah Pak Adrian yang dingin dan egois, Aku berharap dia bisa menerima diriku tapi aku salah, perlakuan Mama dan Chela juga ...." Aluna tak melanjutkan kalimatnya, sepertinya apa yang dia ceritakan pada Dion sudah menyangkut rumah tangganya lebih jauh.


 Mata Aluna memejam, titik kristal mulai jatuh berderai, teringat kembali bagaimana dia baru saja berjuang selamat dari maut, melewati api yang berkobar membakar seluruh isi mansion dan aroma gas berbahaya yang membuat paru-parunya sesak. 


Adrian, Aluna mengutuk nama itu, lelaki yang semalam bersamanya, memperlakukan dirinya istimewa bagai seorang ratu dan esoknya berencana melenyapkan nyawanya serta asisten dan pengawal yang tak bersalah. 


Aluna akan membalas semuanya, dia akan mulai bertekad merubah penampilan sepenuhnya dan mencari pekerjaan yang baru, Aluna yakin pasti ada.


"Aku maafkan, tak semua salahmu Luna, aku yang salah." Dion tak mau membebani Luna dengan kesalahan kecil yang dilakukan. Sebisa mungkin dia akan memahami hadis di depannya.


"Pak Dion aku pulang dulu, kasian Paman Adam dan Bi Sonia menunggu. Aku banyak merepotkan dia."


"Kamu pulang kemana? Ponsel kamu juga tak bisa dihubungi?"


"Iya, aku ganti nomor ponsel." Aluna mengambil ponsel dari tasnya dan membacakan nomor barunya pada Dion. sedangkan Dion mencatat dengan hati-hati. sebelum mereka kembali berpisah.

__ADS_1


 


__ADS_2