
Selena tahu sedikit banyak kalimat yang dia katakan itu pasti mampu menyakiti hati Dion. Lelaki akan rapuh jika mendengar istrinya tidak setia.
Sekarang dia hanya perlu mencari Chela dan Selena yakin gadis itu ada pada Dion. Dan Dion tak akan melakukan hal yang buruk pada sepupunya.
Dion sampai di rumah, Aluna menyambut dengan senyum seperti biasa. "Sayang sarapan dulu, aku sudah siapkan semuanya." Aluna menggamit lengan Dion dengan bahagia."
"Ya, terimakasih. Makanlah dulu. Aku belum lapar." Dion langsung ke kamar mencuci tangan dan kaki lalu duduk di sofa sambil memangku laptop
"Sayang, kalau kamu nggak mau makan, aku juga nggak makan." Aluna membujuknya.
Aluna tidak tahu kenapa Dion terlihat kacau saat baru pulang tadi. Tapi Aluna yakin bukan dia sasaran kemarahannya. Wanita hamil itu hanya berfikir pasti suaminya sedang ada masalah dengan klien atau karyawan.
Aluna segera mengambilkan Dion sepiring nasi, lalu memberikan lauk diatasnya. Aluna duduk di sebelah suaminya. Dion masih mengutak atik laptop membaca file-file yang dikirim Reihan.
"Sayang, makan ya, aku sejak tadi menunggu kamu, bayinya lapar." Luna menatap Dion manja.
'Luna, kau begitu cantik, sampai sampai Adrian susah move-on darimu, apakah aku pantas jika tanya langsung dengan apa yang kamu lakukan disana bersama Adrian. Pasti lelaki itu terus merayumu.'
"Maaf Honey, aku sudah membuat kamu dan calon anak kita menunggu, baiklah mari kita makan, sepiring berdua pasti akan sangat nikmat," Dion berusaha membuang prasangka buruk, Dion tak mau membuat Aluna sedih, apalagi saat ini tengah hamil anak pertamanya.
"Tadi Nenek memaksa supaya aku makan dulu, tapi aku tak mau. Aku yakin diluar sana suamiku pasti juga belum makan." kata Aluna sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulut Dion. Dion juga menyuapi Alina dengan ketiga jarinya.
Saat makan Dion terus saja menatap Aluna. Merasa bersalah telah percaya dengan ucapan Selena yang jelas ingin sekali menghancurkan rumah tangga mereka.
"Kok lihatnya begitu amat?"
"Karena sayang," jawab Dion.
"Jadi takut," ujar Aluna.
"Takut? Takut Tiger nakal ya." Dion mencuri kecupan di pipi Aluna.
Aluna mengusap pipinya karena bibir Dion basah dan dingin habis minum, Dion dengan jahil menambah banyak kecupan di pipi dan kening.
Nenek yang melihat mereka begitu rukun dan mesra sangat bahagia.
Jessica kesal dengan Dion yang makin cuek dengan dirinya. "Kalau sudah cinta dunia serasa milik berdua," ujar Jessica..
__ADS_1
"Kalau begitu yang lain ngontrak dong, sana pergi bocil dilarang mendekat," canda Dion.
Jessica yang kesal dengan Dion dia melempar boneka kecil. Boneka mengenai punggung Dion membuat lelaki itu gemas. Dion membalas melempar bantal kecil berbentuk persegi yang ada disebelahnya.
"Selena yang melihat aksi kekanakan Jessica, dia melerai, "Sudah besar masih seperti anak kecil, Jessica kamu ini jangan ganggu Kak Dion, biarkan dia bahagia dengan dunianya. Kamu sudah kuliah, sudah boleh punya pacar, kalau sudah sreg nanti kenalin mama, biar papa kesana melamar."
Foot menyahut, "mana ada yang mau Ma, dia ini manja, ngambekan, dan jutek. Cowok pasti nggak ada yang suka tipe cewek begitu."
"Kak Dion jahat banget sih, Doanya jelek banget, biar Jesica ini manja, ada kok yang naksir Jessica, cuma Jessika belum sreg aja sama Dia."
"Terus kamu mau yang kayak gimana?"
"Aku mau yang seperti ...." Jessica senyum senyum sendiri membayangkan Dokter Jayden, cowok idaman Jessica tidak jauh-jauh amat dari Dion, tinggi, tampan, dan juga mencintai pasangannya. Tapi yang paket lengkap seperti Dion juga jarang ada sekarang.
"Sayang, aku sudah kenyang, jika mau nambah aku ambilkan lagi ya!" Aluna menawari Dion. Ternyata laki-laki itu masih mau lagi, rupanya bicara dengan Selena tadi telah menguras banyak energi.
Dion dan Aluna masuk kamar dan menguncinya, keluarga yang lain juga masuk kamar dan istirahat.
Setelah mengunci pintu, Dion langsung mengangkat tubuh mungil Aluna ke ranjang dan menurunkan dengan hati-hati.
"Sayang, Apakah boleh Tiger ingin berkunjung ke sarangnya?" kata Dion dengan tatapan sayu.
"Benarkah Tiger akan menyakitinya?"
"Bisa saja, dia sangat Agresif, mending kita tanya dokter dulu."
"Baiklah, nanti sore dokter Ambar akan kesini, kita konsultasi pada dokter masalah itu." kata Dion lalu merebahkan tubuhnya di samping Aluna.
Dion lalu memeluk Aluna dan kakinya menopang pada paha. Dion ingin melupakan semua kata-kata Selena, tak tega rasanya harus melukai hati istri polosnya dengan ketidakpercayaan.
"Honey, jawab yang jujur ya, andaikan aku tidak ada di dunia ini lagi, apakah kamu akan menikah dengan Adrian lagi."
Aluna terkejut dengan pertanyaan Dion, wanita yang sedang memainkan jemarinya di dagu suaminya yang agak kasar karena potongan kumis itu terkejut.
"Kenapa tanyanya begitu?" Aluna menoleh menatap Dion, memiringkan tubuhnya lalu membalas pelukan suami. "Aku tidak suka ah ngomong gitu."
"Sayang masih tidak percaya dengan istrimu ini? Terus aku harus jelaskan dengan cara seperti apa?" Tangan Aluna mengelus kening Dion. Mengecupnya hangat. Dion memejamkan mata. Hatinya amat tenang.
__ADS_1
"Aku takut saja, kamu masih menyimpan perasaan pada dia, aku takut kamu tidak pernah cinta, andaikan aku tahu kamu berkhianat dan selingkuh dengan pria lain, mungkin aku akan memilih pergi, aku tak mau ada di dunia ini lagi."
"Jangan pernah berpikir macam- macam, aku akan menjadi sahabat semasa hidup dan aku akan meminta pada Tuhan supaya dipertemukan kembali di akhirat nanti."
Terimakasih sayang, aku lega mendengarnya, mari kita bobok, biar bangun nanti badan frees dan kita ketemu dokter dalam keadaan sudah fress. Dion menurunkan suhu AC di kamarnya, lalu menarik selimut untuk berdua.
***
"Pak Rian, anda harus minum obat dan jangan lupa tidur siang dan sore olahraga. Terserah mau olahraga renang, angkat barbel, atau lari." Kata Nabila membaca jadwal Adrian yang sudah direncanakan sejak semalam.
"Ok, aku pilih angkat barble."
"Tapi untuk bebannya hanya boleh masing masing lima kilo, tidak boleh lebih." Nabila menjelaskan.
"Apaaa!! Kamu kira aku anak SD, harus angkat barbel lima kilo, memalukan ganti! ganti! Aku mau renang saja, sepertinya aku sudah lama tidak renang." Lagi-lagi tatapan tajam yang diberikan oleh Adrian pada Nabila.
"Ok, berenang, pilihan yang bagus sekali." kata Nabila lalu pergi dengan gayanya yang jual mahal.
Nabila juga istirahat di kamarnya yang ada di dekat kamar Adrian. Lalu dia membuka lukanya yang masih nyeri, hanya saja saat di depan Adrian dia berusaha profesional.
Nabila memberi antiseptik pada lukanya yang sudah mengering dan nyaris sembuh. Lalu dia mengganti perban dengan yang baru. Nabila kesulitan mengganti seorang diri, hingga dia meringis. Suara Adrian meringis mirip dengan desisan ular.
Adrian yang hendak mengambil minum mendengar suara erangan Nabila jadi tak tega, laki-laki itu menghentikan langkahnya lalu belok ke kamar Nabila.
"Hei kucing persia, kenapa? Lagi pengen ya?"
"Apa!! Sialan, emang kamu pikir aku gadis apa'an yang suka main solo."
"Oh, jadi kamu suka duet."
"Dengar ya, Pak Adrian yang terhormat. Gue ini gadis yang bisa jaga diri, gue nggak pernah main duet maupun solo seperti ucapan anda." Nabila sudah melotot dan berdiri dari kursi lalu mendekati Adrian hingga tubuh mereka nyaris menempel.
Andrian menggaruk kupingnya, sepertinya dia barusaja telah salah bicara, dengan nakal dia memandang ke bawah hingga terlihat aliran sungai yang sedang kering itu. Karena kebetulan baju yang dia kenakan memiliki lingkar leher yang lebar. Nabila segera menutup dadanya dan mundur.
"Dasar laki-laki mesum," sungut Nabila lalu duduk kembali.
"Kalau nggak bisa sendiri minta bantuan padaku, aku pasti akan membantu."
__ADS_1
"Maaf Pak Rian, aku bisa sendiri, tidak butuh bantuan pada lelaki seperti anda, ya. Pergi sana," ketus Nabila.