Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 187. "Apakah dia bidadari?"


__ADS_3

Dion mulai putus asa, dia sudah mencari Aluna dimanapun, tapi sayangnya tak ada jejak Aluna lagi di kota ini. 


"Bos, mungkin istri anda sudah pergi jauh dari sini." 


"Jika memang pergi jauh tapi kemana? Aku juga tidak pernah tanya apakah dia punya saudara, bibi, paman, atau sepupu. akhhh kenapa aku bodoh sekali. Selama ini aku terlalu sibuk untuk mencintainya sampai aku lupa dengan  yang lainnya."


'Aluna, kemana kamu Honey, aku minta maaf Honey, semua aku yang salah, aku yang bodoh, aku hanya bisa mencintai, sudah ku coba untuk selalu menepis semua rasa cemburu selama ini, tapi entah kenapa aku masih terjebak juga.'


Beni kini mengunjungi kos yang pernah menjadi tempat tinggal sementara Aluna itu untuk mencari informasi, sementara Dion menunggu di mobil. 


Mantan tetangga Aluna keluar ketika Beni  mengetuk pintu. "Ada apa tuan?" ucapnya sopan.


Beni segera menyodorkan ponselnya, Maaf mau tanya, apa di kos ini ada penghuni baru bernama Aluna. Wajahnya seperti yang ada di foto ini.


Setelah menggeser tubuhnya lebih dekat dari Beni, Tetangga itu pun langsung tahu kalau itu Aluna yang mengalami kisah tragis karena nyaris dinodai dua preman.


"Ooo, iya saya kenal," pekik tetangga itu dengan suara keras.


Beni pun lega, beberapa hari sudah lelah keliling kota untuk mencari Aluna tapi hasilnya nihil.


Dion yang mendengar nama Aluna disebut dia segera melompat dari mobil dan menghampiri Beni. 


"Syukurlah pak, apa dia ada di salah satu kamar ini?" tanya Dion dengan harap-harap cemas


Tetangga itu menggeleng. Lalu bercerita. "Wanita itu tinggal di sini beberapa hari. Saat pertama datang, dia kelihatan sakit, tapi seminggu kemudian sudah sembuh. Saya juga kasian sama dia, kok ada suami yang membiarkan istrinya pergi dari rumah dalam keadaan seperti itu. Dan seminggu kemudian, dia mengalami kisah tragis, mbak Luna ini nyaris dinodai dua preman saat kondisi kos lagi sepi-sepinya. Untung mbak Luna berhasil lari meski kondisinya terluka di wajahnya karena ulah preman itu."


"Sekarang dia ada di kamar nomor berapa? Aku akan segera menemuinya, Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan istriku." Beni tak sabar ingin tahu.


"Sudah pergi lagi tiga hari yang lalu, sehari setelah kejadian na'as itu," terang bapak itu lagi. 


Mendengar penuturan lelaki itu. Dion seketika lunglai, dia harus memegang sebuah tiang agar bisa tetap bersandar, apalagi sejak kemarin sore tak ada makanan yang masuk ke mulutnya kecuali air putih. Salivanya tiba-tiba terasa pahit, 


"Ben aku tak percaya ini." sepenggal kata yang keluar dari bibir Dion. 


"Bos, tenang dulu kita pasti bisa menemukan istri anda." 

__ADS_1


Tetangga itu melihat Dion, dia kecewa dengan lelaki di depannya yang telah menelantarkan istrinya, meski Dion terlihat tampan dan baik tapi kondisi Aluna sangat menyedihkan. 


"Ya Tuhan Luna, andai kau ketemu Honey, aku ingin meminta maaf sambil bersimpuh di kakimu, bahkan nyawa ini rasanya tak berharga lagi tanpamu."


"Pak beritahu kami, kemana Aluna pergi? Apa dia memberi tahu pada salah satu penghuni kos ini, atau tak sengaja bercerita ingin kemana gitu?" Beni terus


bertanya demi menggali informasi. 


"Tidak, dia tidak memberi tahu pada kami, mungkin dia tidak ingin pergi dari masalah yang menyakitkan. Kasian punya suami kaya tapi diabaikan," sindir bapak itu lagi.


Pak, sungguh, ini salah paham, aku sudah menyesal, andaikan aku bertemu dengannya, aku akan membuatnya bahagia. Itu janjiku," kata Dion berharap lelaki itu menyebunyikan rahasia. 


"Yang aku dengar waktu itu dia ingin keluar kota, tapi entah ke kota mana, saat itu ada satu sahabatnya yang sering kesini. Naaa …."


"Nabila?"


"Iya, betul, Nabila. Dia yang mengantar istri anda ke terminal."


"Nabila pasti tahu Aluna kemana Bos." ujar Beni mulai menerka.


"Kita paksa Bos, kalau perlu kita takut takuti dia supaya mengaku." 


Dion diam saja, jika Nabila keras kepala, cara itu pasti akan dia tempuh." Baiklah, jika itu memang jalan satu-satunya. 


Wanita yang tengah dibicarakan itu, hari ini sedang berada di rumah sendirian.  Nabila kesepian, karena kakaknya masih di rumah sakit. Dia pulang lebih dulu karena kurang enak badan.


Nabila saat ini sedang ada di kamarnya, dia berdiri di dekat jendela mengamati sinar rembulan, Nabila bingung kenapa Adrian tiba tiba memberi perhatian lebih padanya, mengantarkan makan siang, lalu kue keju, meski lewat kurir, sedangkan beberapa minggu lalu dia masih sangat mencintai Aluna dan cinta itu masih begitu dalam dan besar. 


Nabila mencoba menghubungi Aluna, berbagi cerita dengan sahabatnya akan meringankan dilema yang kini tengah melanda.


Tut! Tut! Tut!


Nabila mengulangi panggilan hingga berulang kali. 


"Apakah Luna ganti nomor? Mungkin Luna sedang ingin bersembunyi dari masalalunya. Tapi bagaimana jika terjadi hal buruk dengannya?"

__ADS_1


Nabila menggenggam ponselnya lagi, lalu duduk di tepi ranjang, setelah lelah menerka keberadaan Aluna sekarang. Nabila memutuskan untuk membuka laptop dan bermain game sebentar. 


Saat asyik main game Nabila dikejutkan oleh suara mobil. Setelah mengintip ternyata Dion dan Beni. Lelaki itu terlihat sekali tergesa-gesa. 


Dion mengetuk pintu dengan tak sabar. Beberapa detik Nabila segera membukanya. 


"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah bilang aku tidak tahu dimana Aluna, andai saja aku tahu pasti sudah kuberi tahu." Nabila mulai melihat gerak-gerik aneh Dion, senyumnya juga terlihat menakutkan.


Dion mendorong Nabila hingga tubuhnya membentur dinding, kedua tangannya segera mengunci tubuh Nabila. "Kamu berbohong padaku. Aku sudah tahu kamu yang mengantar Aluna ke terminal bus, Aluna pasti cerita akan kemana."


Mendengar tatapan mata Dion yang tajam, jantung yang berdegup kencang, membuat Nabila semakin takut. "Aku tidak tahu, Aluna bilang dia akan pergi jauh, dan dia akan memberi kabar padaku setelah sampai, tapi sekarang malah nomor ponselnya tidak aktif."


"Kamu pikir aku percaya!" Dion berpura-pura melepas dua kancing hem miliknya, meski dia tidak ingin melakukan hal keji itu sama sekali, Dion yakin wanita baik-baik akan takut saat ternoda daripada menerima pukulan yang keras. Sedangkan Beni si pemberi ide  bodoh dia mengawasi keadaan luar rumah. 


"Katakan atau aku akan melakukan sesuatu yang sangat buruk padamu, kau tahu kan?" Dion kembali mengunci tangan Nabila.


"Aku tidak tahu! ya aku tidak tahu! Aku memang mengantar Aluna tapi dia tidak cerita, dia masih bingung akan kemana! Tolong jangan lakukan itu, aku sudah memberitahu semuanya." Dion bukan malah melepaskan Nabila tapi lelaki itu malah mendorong tubuh mungil wanita itu hingga terjerembab di sofa. 


Dion hanya berfikir pasti Nabila bohong, setiap hari mereka pasti berhubungan lewat telepon.


Dion kini melepas semua hem dan kaos, roti sobeknya terlihat jelas oleh Nabila. Nabola menggeser duduknya karena takut. Akhirnya Nabila memberi tahu apa yang dia tahu saja. "Aluna pergi ke kota J, dia kecewa karena kau mengusir tanpa mau mendengar ceritanya. Luna sangat mencintaimu dia tidak percaya kau akan melakukan hal kejam itu. Kejarlah dia, mumpung cinta itu belum berubah menjadi sebuah rasa jemu."


Nabila yang kedua pergelangan tangannya digenggam begitu kuat oleh Dion, kini mulai memerah.


Genggaman Dion perlahan mengendur. Nabila segera bangkit dan merapikan bajunya. Sedangkan Dion mengambil kemeja yang tadi dia lempar di atas meja. 


Sedikit informasi sudah membuatnya lega. Dion sekarang tahu Aluna ada di ibukota. Lelaki itu langsung pulang setelah selesai memakai kemejanya.


Nabila masih ketakutan dan mengatur nafasnya yang tersengal, Dia tak percaya Dion akan sekejam itu padanya. Meski bagi Dion itu pura pura, tapi Nabila tidak menganggap itu bohongan.


***


Dua hari dirawat dirumah sakit membuat Aluna berhutang budi dengan Enzo, bahkan Aluna tak punya uang untuk membayar biaya perawatan di ruang VIP yang menghabiskan biaya sepuluh juta untuk sakitnya. 


Malam ini Luna terpaksa menemani Enzo di ulang tahun mantannya. Awalnya Enzo tak mau datang, tapi wanita masa lalunya itu terus menghubungi, karena Kania sebenarnya masih sayang. Akhirnya Enzo memutuskan untuk mengajak Aluna.  

__ADS_1


Malam ini Enzo bersiap menjemput Aluna, dia ingin memakai baju terbaik di pernikahan mantan. Enzo terlihat semangat karena Aluna bersedia datang dan menemani di sepanjang pesta. Enzo tak lupa membawakan baju couple untuk Aluna supaya dipakai juga di malam ini. 


__ADS_2