
Aluna dan Dion berada dalam ruangan yang sama, hanya saja ada kaca pembatas yang memisahkan mereka berdua.
Aluna segera duduk di kursi pribadinya, mulai membuka laptop dan mempelajari data yang ada di depannya.
"Nona Luna tolong pelajari jadwal hari ini, apa saja yang harus saya lakukan. Anda bisa mencoba menyusun supaya lebih baik atau merubahnya"
"Baik Pak Dion." Luna menoleh sebentar melihat Dion yang sedang fokus di layar laptopnya.
'Jadwal hari ini apa ya enaknya?' Aluna mencoba mengingat ingat kegiatan Adrian sehari hari saat dikantor. Setelah menyusun lima jadwal untuk hari ini Aluna segera mendekati Dion.
Dion tersenyum melihat Aluna yang berusaha provesional. Berdiri di dekat dirinya, kedua kakinya rapat dan tegak, memeluk beberapa buku dan ada sebuah note yang diminta Dion.
"Oke bacakan nona, apa skedule untuk saya hari ini."
"Pak Dion, saya sudah buat skedule ini dengan hati-hati dan semoga anda puas dengan urutannya."
"Pertama anda sarapan bersama para direktur perusahaan, guna untuk membahas problema perusahan dan tatap muka rutinan, kedua ada meeting dengan client, ketiga anda harus jalan jalan melihat lokasi produksi dan menyapa para buruh. Keempat anda makan siang kelima memeriksa dokumen di meja kerja.
Dion langsung mengangkat tangannya. "Nononono, Nona Luna tolong rubah jadwal itu, aku tidak ingin melakukan itu semua."
Dion berdiri mendekati Luna dan memeluk pinggang rampingnya. "Aku hari ini tidak ingin bekerja, aku lagi malas, bolehkan aku meminta istirahat dan bersantai untuk sejenak." Dion menatap Luna dengan gemas, lelaki itu mulai manja. Tidak ada wajah dingin seperti pada karyawan tadi. Bahkan Dion sekarang bersandar pada pundak Luna.
Entah merasa beruntung atau bernasib sial, Aluna mendapat perlakuan baik dari lelaki yang baik dan nomor satu di perusahaan ini, sedangkan gadis lain di luaran sana begitu menantikan kesempatan ada moment dekat dengan CEO mereka, seperti yang dialami Luna hari ini.
Tapi tetap saja ada nama Adrian yang masih tak bisa disingkirkan terselip di dalam hati. Bukan sebuah cinta, tapi ikatan pernikahan, jika dia menerima perlakuan romantis Dion, lalu apa bedanya dengan Angeline yang selalu bermanja dan bercumbu dengan Adrian.
"Pak Dion, tolong anda profesional, ini hari saya bekerja pertama kali, jika anda merubah semuanya, apa yang akan dipikirkan mereka, terutama sekertaris lama. Mereka akan memandang rendah karena seharian menghabiskan waktu hanya untuk anda."
Dion mengangkat kepala dari pundak Luna melepaskan tangannya dan duduk kembali. "Oke, aku akan lakukan semua jadwal, tapi kamu harus janji, sore kita main kerumah, mama mengundang dirimu makan malam.
"Baiklah Pak Dion." Aluna mencoba tersenyum. Mengangguk kecil.
Dion menarik Aluna agar menghadapnya. Tersenyum menatap penampilan Luna, "kamu cantik seperti seorang putri yang baru keluar dari kastil, bodoh sekali Adrian itu. Membuang kamu, Demi Mempertahankan wanita ****** seperti dia. Batu dan berlian saja tak bisa bedakan."
Pak Dion, saya tidak seindah berlian, saya hanya gadis cupu yang lelah dihina. Jelek, kampungan."
"Stttt." Telunjuk panjang Dion menyentuh bibir oranye yang terlihat manis sekali untuk dimakan seperti mangga.
__ADS_1
Aku tidak mau ada orang menghina diri sendiri, itu namanya kurang bersyukur. Dion menurunkan jemarinya lalu menyelipkan di saku. Pandangannya berubah pada diri sendiri." Aku seperti apa? Apa sudah tampan?
"Anda selalu tampan, tanyakan saja pada cermin itu." Tangan Aluna menunjuk cermin di dekat nakas yang biasa Dion gunakan untuk merapaikan diri sebelum meeting. Mereka berdua mendekat.
"Cermin cermin sakti katakan siapa yang paling tampan?" Aluna memutar tangannya di depan cermin sambil tersenyum.
"Tentu Tuanku CEO Dion yang paling tampan." Aluna berkata lagi.
Dion tersipu, selain menggemaskan dan cantik Aluna ternyata mampu menghibur hatinya.
Luna coba tanyakan pada cermin sakti, siapakah jodoh CEO Dion? Apakah dia Aluna pangastuti?" Dion mengeratkan tangannya di pinggang Aluna lagi. Gadis ramping itu terhuyung di dada Dion karena highell yang tinggi.
"Cermin cantik, katakan padaku apakah Aluna jodoh Dion?"
Aluna dan Dion saling pandang dan tertawa bersama.
"Pak Dion, anda berhak mendapatkan wanita cantik seperti bidadari, Aluna didepan anda ini bukan siapa-siapa."
"Kalau yang aku mau Aluna pangastuti bagaimana?"
"Harus ada surat cerai, tapi aku tak yakin Adrian tidak ingkar janji."
Dion kembali mengecup kening Aluna. Kecupan yang mampu membuat darah Dion berdesir.
"Maaf, aku telah mengganggu, Aku akan kembali nanti." Ben segera membalikkan tubuh, tapi kalimat Dion menghentikannya.
"Masuklah, ada apa Ben?"
"Semua direktur bagian, sudah menunggu di ruang meeting. Tinggal anda yang belum datang."
"Ouh, Oke, katakan aku datang sebentar lagi. Aku masih bersiap." Dion membenarkan Krah baju yang sudah rapi.
"Luna kita akan mulai meeting, nanti cukup simak saja baik baik, catat hal yang penting, dan tetaplah di dekatku.
Aluna mengangguk, mulai kembali serius karena Ben masih menunggu dan pandangannya tertuju padanya." Siap, Pak Dion"
Dion segera keluar dan Aluna mengekor di belakangnya. Ben keluar paling belakang sambil menutup pintu.
***
__ADS_1
"Maaf telah membuat kalian menunggu." Dion duduk di sebuah kursi kosong. Dan Aluna duduk di dekatnya. Sekretaris dan pimpinan memang seharusnya selalu berdekatan.
"Direktur keuangan, bagaimana laporan bulan ini." Dion mempersilahkan direktur keuangan untuk menyampaikan hasil pemasukan perusahaan selama seminggu ini.
Mendengar namanya ditunjuk lebih dulu direktur keuangan segera melaporkan secara detail mengenai kondisi harta perusahaan yang stabil, tidak naik dan tidak turun."
"Ini buruk, harusnya minggu ini kita mengalami banyak peningkatan, Direktur pemasaran apa kau mengalami kendala?"
"Benar sekali Pak Dion. Lawan bisnis kita saat ini berada satu langkah didepan kita, dia membayar model terkenal untuk menjadi sponsor acaranya, dan mereka juga memberikan secara gratis satu produk untuk setiap orang yang hadir."
"Tidak masalah kita juga lakukan hal yang sama, kita sewa model yang lebih terkenal dari Angeline untuk sponsor produk kita, kita juga bisa memberikan hadiah istimewa untuk tiap pembeli produk, hadiahnya jangan main main. Kita beri tiket liburan keluar negeri.
"Tapi Pak Dion, bagaimana kalau perusahaan mengalami pailit? kita harus hati-hati, lawan kita bukan perusahaan biasa Alexa fashion sudah menunjukkan taringnya, dia juga memiliki organisasi yang kuat di dalamnya."
"Perusahaan tidak akan mengalami pailit, justru perusahaan Alexa yang akan pailit karena kita akan mendatangkan ratusan ribu manusia untuk datang dipertunjukkan fashion. Jika kapasitas melampaui batas, mereka akan kekurangan stok, dan mereka akan malu."
"Oke, setuju dengan Pak Dion." Semua Direktur yang hadir mengangguk setuju."
Rapat masih terus berlanjut hingga beberapa jam, semua direktur berhak mengutarakan unek-uneknya. setelah semua clear rapat dilanjutkan dengan menikmati hidangan dan pesta.
Aluna merasa sejak tadi ada yang menggodanya. Salah satu direktur mengedipkan mata padanya, Aluna merasa tak nyaman, tapi sebisa mungkin dia untuk berusaha tersenyum elegan.
'Ini apalagi? Tangan siapa nakal sekali' batin Aluna yang merasa ada tangan nakal yang sengaja mengelus pahanya, membuat duduk Aluna tak nyaman. Ingin marah takut akan terjadi kegaduhan, apalagi Aluna masih baru hari ini bekerja.
"Nona anda sangat cantik sekali, pak Dion pasti sangat memanjakan anda, jangan sungkan-sungkan jika butuh apa-apa, aku juga bisa membantu." Direktur pemasaran mulai merayu Aluna dengan kekuasaan.
"Turunkan tangan anda, aku bukan wanita murahan," lirih Aluna yang tak didengar oleh Dion.
Aluna berkali kali menepis tangan nakal itu, hingga dia terlihat sekali tak nyaman. Dion yang melihat Aluna tegang segera mengambil tindakan. Dion pura pura menjatuhkan pulpen
"Dion melihat Aluna sedang intens menyingkirkan tangan nakal itu. Dion terlihat emosi, giginya gemeretak ingin segera menghabisi tangan lancang milik direkturnya yang memang sedikit genit.
"Aluna kita kembali keruangan dan meeting hari ini selesai." Dion menarik Aluna dan menatap tajam pada direktur genit.
"Kau! temui aku di halaman belakang." Sebelum pergi Dion masih sempat mengucapkan kalimat mematikan untuk lawannya.
Aluna adalah miliknya, siapapun yang menggoda atau menyakiti Aluna walau seujung kuku, Dion tak akan pernah mengampuni lelaki itu.
*Happy reading, dukung emak dengan like vote hadiah ya, dan jangan lupa tekan Love agar ada pemberitahuan saat update bab terbaru.
__ADS_1