
Aluna memiringkan tubuhnya sambil mengelus dagu Dion yang kasar. Aluna suka meraba dagu yang habis dicukur dan memberi sensasi geli milik suaminya itu.
'Sayang, kau lelaki pertama yang mencintaiku dengan tulus, semoga aku tak akan menjadi istri yang mengecewakan untukmu. Kau yang mengajariku percaya diri untuk menghadapi dunia ini, kau yang selalu memberikan apa yang aku butuhkan, kau selalu ada untukku. Dan yang terpenting semoga cintamu selamanya hanya untukku seorang." kata Aluna pelan nyaris hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri sambil setia mengelus dagu Dion yang dikiranya masih tidur nyenyak.
Dion memeluk Aluna dengan mata terpejam. Aluna berdoa semoga saja dion tak mendengar gumaman lirih tadi.
Aluna terkejut, lelaki bermata indah itu menarik tubuh nya ke dalam dekapannya. Padahal saat ini dia sedang ingin buang air dan membersihkan tubuhnya yang lengket. Aluna juga terkejut ada banyak sekali merah-merah di dada dan lehernya. Mungkin tadi terlalu terbuai oleh belaian lembut Dion hingga tak menyadari kapan lelaki itu membuat cupangan begitu banyaknya.
Aluna pelan-pelan menurunkan tangan Dion dan menaruh guling di bawahnya, karena ingin beranjak ke kamar mandi, dia pelan-pelan turun dari ranjang.
Saat ingin melangkah, Tiba-tiba area inti Aluna terasa sangat sakit, Aluna terpaksa duduk kembali dan menoleh ke arah Dion. Aluna tak mau mengganggu suaminya yang baru tertidur beberapa menit itu.
Aluna terkejut bekas tempat tidurnya ada tetesan darah, dia lalu meraba miliknya, dan benar sekali itu darah dari **** *.
Aluna kini benar benar kehilangan kegadisan yang sudah dia jaga selama ini. Tapi dia bersyukur yang mengambil adalah lelaki yang mencintainya.
Tanpa sadar air mata Aluna kembali menetes, Aluna lalu mengecup pipi Dion.
Merasakan ada yang menyentuh pipinya, Dion menggeliat dan mencari sumber sentuhan lembut itu.
"Sayang, maaf aku ketiduran," kata Dion yang beberapa hari ini baru bisa menidurkan Tiger.
Melihat tubuh Aluna hanya tertutup dengan selimut. Tiger kembali bangun.
Malu ketahuan istri, Dion segera memakai celana segitiga miliknya, tapi tetap saja Tiger terlihat mengembung.
Sudah cukup masalah Tiger, Dion abaikan untuk sementara waktu. Sekarang Dia ingin kembali pada Aluna yang terlihat menangis.
"Sayang, kenapa? Kamu menyesal" tanya Dion yang salah paham.
"Tidak, kenapa harus menyesal, justru aku saat ini sedang bahagia," jawab Aluna sambil mengusap lelehan air matanya.
Dion masih bingung, jika bahagia kenapa menangis. Dion kembali menarik Aluna dalam dekapan.
"Aku tidak suka melihat kau menangis lagi, Honey. Kau sangat berharga, aku tak ingin melihat kesedihan lagi di wajah cantik ini."
__ADS_1
Dion kembali mengecup kening Aluna.
"Sayang, ini air mata bahagia, aku senang bisa mempersembahkan mahkota paling berharga untuk suamiku," kata Aluna sambil terisak.
"Terimakasih, terimakasih." Dion kehabisan kata-kata, dia hanya bisa mengekspresikan dengan memeluk Aluna erat. Dion juga terharu, senang bahagia, bercampur aduk.
Aluna melepas pelukannya, lalu beringsut dari duduknya.
"Kemana Honey?"
"Ke kamar mandi."
"Yakin bisa sendiri?" goda Dion.
Aluna malu jika Dion harus menggendongnya.
Tanya Dion yang baru tahu ada bercak merah di seprei.
Aluna Diam, nyatanya dia tadi tak bisa bergerak, pinggulnya sangat ngilu.
Dion turun dari ranjang pengantin. Dia menuju kamar mandi lebih dulu dan mengisi bathup, setelah bathup terisi air hangat hingga setengah Dion memasukkan beberapa tetes aromaterapi ke dalamnya.
Saat membuka kamar mandi Aluna terkejut dengan isinya, ada banyak sekali perabot untuk mandi dan semua baru serta berpasangan untuk wanita dan laki-laki. Aluna heran kapan benda itu ada di dalamnya dan tertata begitu tapi dan unik.
Dion menurunkan Aluna di dekat bathup lalu membimbing masuk ke dalamnya. Setelah aluna memposisikan diri dengan nyaman, Dion mengambil sponge dan ikut masuk ke dalamnya.
Dion mengisi sponge dengan sabun cair dan meremasnya lalu mengusap ke tubuh Aluna pelan. Saat menggosok tubuh Aluna Tiger kembali meronta dan ingin keluar dari sarangnya.
"Aku bisa sendiri, Sayang." Kata Aluna ingin merebut sponge dari tangan Dion. Aluna masih butuh waktu untuk terbiasa tanpa sehelai benang di depan suaminya. Rasa malu dan kurang percaya diri masih kerap kali hinggap di kepalanya
"Sttt … diamlah, bukanlah tidak ada larangan aku membersihkan milikku," kata Dion.
Mendengar kalimat Dion, Luna menyerah. Yang dikatakan pria itu benar, Aluna sudah menjadi miliknya. Dia berhak atas setiap inci tubuh istrinya.
Aluna memilih membiarkan Dion membasuh punggung dan sekitar lehernya, tapi tangan Dion lama-lama jadi nakal. Dion tak puas hanya dengan menyabun tubuh Luna.
__ADS_1
Lelaki itu kembali diliputi oleh gairah, setelah merasakan buah peach manis, Dion kecanduan ingin memakannya lagi dan lagi.
Detak jantung Dion kembali memburu tak bisa dikendalikan lagi.
"Honey, loving you" ucap Dion dengan suara merdu dan menggoda.
"Tidak usah diucapkan lagi, aku sudah tahu," jawab Aluna yang tahu kalau Dion tengah merayu. Karena tanpa sengaja Aluna menyentuh Tiger yang sudah kembali mengamuk.
Dion menarik dagu Aluna lalu mengecup bibirnya. " Maaf, Tiger sudah mulai kecanduan dengan rumahnya. Dia ingin sering pulang, setelah lama mengembara."
Aluna ingin tertawa mendengar umpama yang dipakai Dion. Tiger masuk kandang, buruk sekali.
"Please Honey," mohon Dion.
"Aku tak bisa menolak, bukankah kau bilang tadi berhak atas semua yang ada di diri ini." jawab Aluna.
Aluna akhirnya menyerah, tak bisa dipungkiri kalau dia juga sudah diliputi oleh gairah, energi di tubuhnya masih tersisa sangat banyak.
Dion dengan semangat empat lima kembali menyerbu bibir Aluna yang selalu terasa manis dan lembut itu. Setelah puas bermain di bibir, dion mulai merayap ke bawah menambah jumlah deretan tanda kepemilikan di leher dan sekitar dada.
Tangan Dion kembali agresif mencari titik titik sensitif yang bisa membuat Aluna mabuk kepayang.
Dion menarik tubuh Aluna lalu membuat posisi Aluna berada di pangkuannya. diposisi seperti ini Dion menang banyak. Aluna bisa dikuasai dengan sangat mudah.
Dion kembali memeluk Aluna dan mengarahkan Tiger tepat di area inti Luna.
Tiger berusaha keras untuk mengetuk pintu dan ingin segera masuk dengan susah payah. Meski bukan pertama kali, tapi Tiger masih tetap kesulitan untuk masuk.
Dion lebih agresif lagi menaklukkan Aluna dengan jurus mabuk kepayang andalannya. Aluna kini mengerang kapanasan bagaikan ikan kurang air. Tubuhnya menggelepar, karena tak tahan setiap titik sensitifnya terus mendapat perlakuan lembut dari Dion.
Setelah Aluna terbuai, kesempatan Tiger untuk masuk ke dalam istana cinta.
Aluna dan Dion kembali melakukan penyatuan dan tentu lebih dahsyat daripada pertama tadi.
Setelah terasa ada yang ingin meledak, Dion mempercepat tempo permainannya sehingga mereka keluar bersama-sama mencapai puncak.
__ADS_1
Disaat permainan ronde kedua selesai, tubuh Aluna sangat letih, tenaganya diperkirakan tinggal beberapa persen saja. sangat berbeda dengan Aluna, lelaki itu masih terlihat perkasa sekali.