
"Adrian, apa yang kau lakukan, kau membuat mimpi yang sudah kita rencanakan berantakan, harusnya kau senang mimpi kita akan segera terwujud tanpa ada penghalang. Bukan kau malah jadi patung bernafas seperti ini."
"Diam! Berhenti bicara, aku tak ingin dengar kata katamu lagi."
"Kau membentak aku Adrian! Dasar laki laki egois." Angeline berlari menuruni tangga, Adrian yang melihatnya segera menyusul dan memeluk dari belakang. Adrian tidak mau menyakiti wanita yang sedang mengandung anaknya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, hanya saja perpisahan ini begitu mengejutkan, ini terlalu cepat."
Aku tidak mau tau apapun Rian, aku tidak peduli dengan perasaanmu pada Aluna, gadis kampung itu. Apa hebatnya dia sampai kau menyamakan aku dengan dia, jelas aku langit yang tak bisa di sentuh dan dia hanya bumi yang diciptakan hanya untuk diinjak.
"Cukup, jangan bahas dia, aku ingin pulang dan menenangkan diri. Jika kauau disini, mau marah atau mau apapun lakukan saja."
Adrian buru buru masuk mobil, sedangkan di dalam mobil tempat penumpang, sudah ada Chela dan Mama.
Adrian masuk dengan beberapa kali mendengus kesal, sedangkan Angeline masuk lalu membanting pintu.
Mama terkejut dengan suara keras pintu mobil, membuat Mama memegang jantungnya yang ingin copot. Angeline dinilai keterlaluan, beraninya dia membentak calon suami yang beberapa lagi akan menikahi dirinya.
Tiba dirumah, Adrian segera mengantar Angeline ke rumahnya rupanya keluarga Angel sedang duduk bersantai di gazebo.
"Mama! Papa!"
"Sayang kamu kusut sekali, kenapa kamu sedih?"
Angeline langsung menghambur ke pelukan mama.
"Apa yang terjadi, kenapa anakku kau buat matanya merah, Adrian?"
"Tidak terjadi apa-apa Tante, hubungan kita baik-baik saja, mungkin Angeline lelah karena seharian ikut denganku," Dusta Adrian yang tak mau membuat Ibu dari kekasihnya berpikiran yang macam-macam tentang hubungannya yang mulai berjalan tidak sehat.
"Ouh … kalau begitu kami istirahatlah Sayang." Mama Angel mengusap rambut anaknya yang berantakan dan memeluknya. Sedangkan Papa Angeline juga ikut berdiri dan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Awas jika sampai putriku pulang dalam keadaan seperti ini lagi, sudah kupastikan kamu akan hancur bersama perusahaan yang kau miliki." Ancam papa Angel dengan emosi yang meletup-letup.
"Pa, sudahlah, bertengkar sesekali itu wajar, anak anak juga butuh proses dewasa, mungkin saja Angeline yang kelewat manja." Mama berusaha meredam amarah suaminya.
Angeline lalu masuk bersama kedua orang tuanya meninggalkan Adrian sendiri tanpa mempersilahkan masuk. Adrian merasa tak berharga dimata Angeline dan keluarganya.
"Kalau saja bukan anakku sangat mencintaimu, sudah aku pastikan kau akan mendapatkan pelajaran yang setimpal."
Pa, sudahlah, wajar kalau mereka sesekali bertengkar namanya juga mereka anak muda." Mama Angeline mendamaikan suaminya.
"Tapi Ma, lelaki itu tak tau diri, kurang apa anak kita, dia telah mencintai laki laki itu dengan sepenuh hati hingga hamil. Jika media mencium kehamilan Angeline, kita semua akan malu, mau ditaruh dimana muka papa ini." Papa Angeline tetap keras kepala.
Tak lama papa Angeline keluar lagi menemui Adrian yang hendak beranjak pergi. "Tunggu!"
"Baik Om."
"Kapan kau akan menikahi Angeline."
"Segera Om."
"Segera mungkin, Om." Jawab Adrian lagi yang masih ingin menyelidiki tentang kehamilan Angeline yang dia ragukan kalau itu anaknya. Adrian juga tahu Angeline akrab dengan beberapa lelaki, yang selama ini Adrian kira mereka hanya berteman.
"Plakkk!" Adrian mendapat tamparan keras dari papa Adrian.
Adrian menerima tamparan yang mendarat dipipinya dengan tegar, tak ada keinginan untuk membalas, dia tahu dia salah. Menentukan hari pernikahan, saja tidak bisa, sebagai lelaki pemilik uang, seharusnya dia bisa menikah kapanpun, besok atau bahkan lusa.
"Pecundang, harusnya anakku tidak pernah mencintai, atau bahkan mengenalmu. Dion lebih baik darimu dalam segala hal. Sayang sekali putriku mencintaimu, bedebah."
"Maaf Om, menikah itu untuk seumur hidup, aku hanya butuh sedikit waktu," kata Adrian yang sengaja tak menceritakan sedikitpun tentang pernikahan dengan Aluna.
"Jika seperti itu, harusnya kau tak membuat Angeline hamil, sumpah jika kau tak menghamilinya, aku sudah menikahkan dia dengan Dion saja, aku punya banyak cara untuk bisa membuat lelaki itu kembali pada Angeline."
__ADS_1
Adrian hanya tersenyum. "Om, kalau sudah selesai aku pamit dulu, sepertinya Angeline memang lagi marah sama saya."
"Pergilah, tapi om ingin katakan kalau pesta pernikahan kalian akan dilangsungkan tiga hari lagi.
Baiklah om, jika itu yang anda inginkan.
Adrian pergi tanpa menoleh, sampai disini dia semakin sadar kalau Aluna adalah yang terbaik, istri yang tak pernah menuntut apapun darinya, bahkan Aluna tak pernah menuntut kasih sayang darinya. Dia selalu mandiri dan tak pernah merengek manja, bahkan dia tak sekalipun meminta tolong pada Adrian.
Adrian pulang dengan hati kacau, sosok Aluna tidak dia temui lagi di kontrakan kecilnya. Rumah kosong, asistennya juga sambang pulang kampung.
Adrian memarkir mobilnya di bawah pohon besar di pinggir jalan.dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, sedangkan kakinya berada di atas kemudi.
Adrian mulai merasakan hatinya begitu hampa, ingin sekali dia membenci dirinya yang begitu bodoh, kebodohan yang tiada Tara.
"Aku sudah dipertemukan dengan jodoh terbaik lewat tragedi naas itu, kedatangan Aluna sama sekali belum terlambat untuk menyadarkan aku yang gila harta dan tahta ini, tapi apa yang kulakukan, aku sia siakan istri cantikku, pandai memasak, dan argggg… "
Adrian ingin melempar ponselnya. Tapi setelah dia ingat ada foto Luna yang di kirim Arga saat melakukan penyelidikan. Adrian segera membuka ponselnya. Dia lihat wajah cantik Aluna yang baru selesai mandi dengan rambut sengaja digerai karena basah. Aluna terlihat duduk santai sambil menikmati teh hangat di teras.
"Harusnya kau yang menjadi ibu dari anak anakku Luna, harusnya kau! Bisakah kau kembali saja padaku? Bisakah kau tidak usah pergi. Kenapa kau tidak pernah beri aku kesempatan kedua."
Adrian terus saja merancau tak karuan, hingga tubuh dan otaknya terasa lelah, andaikan waktu bisa diputar ulang, dia akan menxayangi Aluna melebihi Dion, dia akan mengabaikan Mama dan Chela yang tak pernah suka dengan Aluna.
Mungkin benar yang pernah dikatakan Alex padanya. 'jodoh kamu Aluna, artinya dia yang terbaik, kalaupun kita terlanjur berhutang pada keluarga Angeline, hutang uang akan dibayar uang, jangan korbankan masa depanmu."
Saat itu Adrian menjawab dengan entengnya. "Tak mungkin gadis kampung itu jodohku, andaikan iya aku tak akan pernah Sudi menyentuhnya.
"Alunaaaaaaaa!!!"
"Alunaaaaaa! Kembali."
Saat Adrian berteriak, beberapa orang menghampiri dengan tergopoh. "Tuan, apakah kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Adrian terkejut bukan main, saat dia melampiaskan semua kekesalannya. ternyata mengusik orang orang yang kebetulan beraktifitas didekatnya.
"Maafkan aku, aku baik baik saja, maaf, kalian kembalilah beraktifitas." Adrian memasang wajah memelas dan menangkupkan kedua tangannya. Sangat memalukan. Seorang CEO yang digilai wanita kini menangis karena kehilangan gadis yang semula lugu dan culun.