
Saat Nabila pulang, dia langsung masuk kamar. Jayden langsung membuntuti adiknya dan memasang raut wajah masam.
"Kamu yakin Na akan menikah dengan Adrian?" Tanya Jayden hampir setiap hari.
"Yakin Kak, aku semakin yakin menikah dengan dia setelah kakak selalu mengerjainya dan Adrian selalu bisa melewati semuanya."
"Dengan membeli gaun murah itu? Dia membohongimu Na, dia pengusaha terkenal, kenapa hanya gaun murah itu yang dibelikan untukmu," ujar Jay sambil melipat tangannya di dada. Ingin sekali menertawakan adiknya yang sudah berubah bodoh karena cinta.
Karena Jay laki-laki yang punya mimpi, seandainya suatu hari mencintai wanita, dia akan membuat hidup wanita itu begitu istimewa.
"Kak, bagaimana jika Kak Rian sedang menguji Nabila seperti Kakak yang selalu membuatnya melewati rintangan yang berat saat ingin ketemu Nabila.
"Entahlah, terserah kamu jika memang kau sudah sangat mencintainya. Tapi kakak tidak mau dengar jika suatu hari nanti kau akan kecewa karena dia akan menyakiti hatimu. Ingat! di hatinya masih ada Luna."
"Tapi dihati Luna tidak ada Adrian, dan aku akan membuat Adrian melupakan Luna."
"Dasar keras kepala," eluh Jayden.
"Karena aku memiliki kakak yang juga keras kepala." Jawab Nabila.
Jayden memilih pergi dari kamar Nabila, rasanya percuma mengingatkan orang yang sedang jatuh cinta.
***
Keesokan harinya Adrian kembali ke perusahaan barunya yang sangat kecil dan hanya beberapa orang saja yang bekerja disana, Adrian melihat keuntungan perusahaan di bulan ini masih sangat sedikit.
Jika dia memakai untuk kebutuhan pribadi terlalu banyak pasti akan mengalami devisit.
Adrian tahu, Nabila sebenarnya bisa merayakan resepsi dan pesta mewah, tapi sebagai kaum laki-laki Adrian masih punya harga diri. Adrian tak mau jika Nabila yang membiayai semuanya.
Saat sedang duduk di kursi goyang di ruang pribadinya, sambil menatap hamparan luas warna hijau di kejauhan, yang terlihat dekat seakan ada di depan kaca itu, Adrian dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
__ADS_1
Wanita itu tiba-tiba datang dan mengecup tengkuk kekasih. Sebelum sempat menoleh, gadis itu menutup kedua mata Adrian dengan telapak tangannya.
"Na." Adrian tersenyum dan ingin melepas jemari Nabila tapi gadis itu menahannya.
"Sayang. Kau kah ini?"
Adrian meraba jemari lembut itu, dia langsung bisa mengenali cincin yang dipakai oleh wanita yang tengah menggodanya.
"Na, kok nggak bilang kamu mau kesini, tau gitu aku pesankan sesuatu terlebih dulu."
"Tidak perlu Kak. Nabila sengaja ke sini diam-diam, kalau bilang pasti kakak melarangnya."
Nabila lalu melepaskan tangannya dan sekarang berdiri di depan Adrian sambil memeluk handbag yang selalu dia bawa kemanapun pergi.
Adrian berdiri meninggalkan Nabila terpaku dengan posisinya sekarang. Adrian mendekati jendela.
"Na, lihatlah, bagaimana keeadaanku sekarang, sangat buruk sekali, tolong pikirkan sekali lagi untuk jadi istriku, aku bukan Adrian pemegang King Fashion seperti yang kau tahu dulu, dan seperti yang orang-orang tahu." kata Adrian dengan raut sedih.
"Apa Kakak Rian kira, aku akan menikahi harta Kak, bagaimana jika cintaku ini tulus tanpa memandang harta?"
"Na kamu akan menyesal," kata Adrian melepas pelukan Nabila dan Tentu saja gadis itu terkejut.
"Na, apakah kamu tahu, tidak akan ada yang bahagia tanpa harta, Apalagi kamu sudah terbiasa, dan keluargamu yang tahu keadaan aku sebenarnya dia belum tentu juga mau. "
Nabila mendongak, ingin mengamati wajah kekasih yang membelakanginya, namun tak terlihat, Nabila kembali memeluk pinggang Adrian dan memeluk lebih erat daripada tadi.
"Jangan katakan itu lagi, jangan buat sesuatu yang tak berarti menjadi penghalang cinta kita, Kak."
'bukan cuma itu Na, aku belum bisa mencintaimu se kokoh yang kau harapkan, apalagi kondisiku seperti ini jujur saja rasa percaya diriku hilang. Kau tahu, Kakak tersayang mu itu pasti akan melarangmu jika tahu yang kualami. Pesta mewah, gaun mewah. Gedung mewah, Hidangan pernikahan yang mewah, pasti semua itu hal yang ditunggu oleh keluarga besar kalian.'
.
__ADS_1
Lama memeluk tubuh kekasih dari belakang, Nabila merasa Adrian terlalu dingin dengannya. Nabila mengubah posisi kekasih dengan memutar tubuh kekarnya. Adrian menurut dengan dua tangan ada di dalam saku.
Setelah Adrian duduk pada teralis jendela, Nabila kembali memeluknya dari depan. "Aku tidak ingin pernikahan kita terhalang oleh perasaan-perasaan tak berguna Kakak. Aku mencintaimu. Meski awalnya aku hanya kagum, tapi semakin hari perasaan itu tumbuh dan semakin besar. "Nabila memeluk Adrian dari depan, menempelkan kepala di dada dan merasakan detak jantung sang kekasih yang semakin lama semakin terdengar kencang.
Ruang sederhana yang sepi itu memberi kesempatan pada dua insan yang saling mencintai untuk berbicara dari hati ke hati.
Adrian mengangkat tangannya dari saku dan membalas pelukan Nabila.
Adrian dan Nabila sama-sama memejamkan mata untuk merasakan seberapa dalam cinta yang sudah menyusup ke dalam raga.
Adrian mengecup rambut Nabila. Diperlakukan demikian mesra tubuh Nabila menghangat.
Nabila mendongak dan tersenyum. Bibir merah itu melebar hingga nyaris dua senti. "Kakak apakah kita akan melangsungkan pernikahan di gedung?"
"Tidak Na, pernikahan akan dilaksanakan di rumah saja." jawab Adrian cepat. Adrian memang tak memiliki rencana menikah di gedung seperti saat dengan Angeline. Dia ingin akad nikah dilakukan di rumah dan hanya dilanjutkan dengan resepsi kecil.
Harapan Nabila kembali pupus dia hanya bisa menahan air matanya agar tak jatuh. Pesta mewah di gedung juga bagian dari impiannya sejak lama.
"Gimana? Apa keberatan?" Tanya Adrian lalu menarik dagu kekasih. Adrian bisa melihat kesedihan di wajah Nabila, sebesar apapun Nabila berusaha menyembunyikan, tapi tetap saja terlihat.
"Kau sedih kan? Kalau begitu kita menikah kapan kapan saja, tunggu aku sukses." Adrian hendak pergi meninggalkan Nabila. Tapi Nabila segera menahan jemari kekasih yang sudah meninggalkan beberapa langkah. "Aku tidak masalah menikah dengan cara sederhana sekalipun, asalkan suaminya adalah Kak Rian."
Adrian berhenti lalu menoleh sekilas. "Yakin? Jujur aku juga tidak mau membuat mu seperti ini, andai kau bersabar menunggu beberapa tahun lagi, tapi sayang, kau tak memberiku kesempatan. Kau ingin semua berjalan cepat."
"Kakak yang meminta, maaf jika cara menyatukan hubungan kita ini salah. Tapi jujur aku tidak keberatan hanya dengan pesta sederhana, bukankah pesta mewah bisa dilakukan kapan saja."
Adrian tersenyum, Nabila ternyata gadis dengan pemikiran dewasa sekali, Adrian merentangkan kedua tangannya dan memeluk Nabila lebih erat dari biasanya.
Nabila bergelung nyaman sekali dalam dekapan hangat Adrian, lalu Adrian membungkukkan badan dan mengecup bibir Nabila.
Nabila membuka sedikit bibirnya dan Adrian meperdalam ciumannya, semakin lama tautan bibir mereka semakin menuntut. Ini ciuman yang kesekian kali diberikan Adrian pada Nabila. Namun bagi Adrian ini ciuman paling berkesan.
__ADS_1
Belum pernah dia mencium Nabila sehangat hari ini. Semakin hari cinta Adrian mulai bersemi berlahan-lahan, seperti tunas yang tumbuh di pucuk daun di musim semi.