
"Honey." Panggil Dion lirih.
Firasat Aluna tidak salah dia tahu Dion akan meminta haknya lagi. Laki laki itu sudah terbiasa melakukan berkali kali dalam satu malam.
Dion mengecup puncak kepala Aluna dan menarik tubuh Aluna hingga miring menghadapnya. Dion senyum-senyum sendiri membuat Aluna heran dengan suaminya yang akhir-akhir ini menjadi murah senyum.
"Kenapa selalu senyum," tanya Aluna ingin sekali mencubit hidung suami.
"Kenapa nggak boleh senyum? Kan lagi seneng." Dion mengeratkan pelukannya.
"Sayang kira-kira kalau kita punya anak nanti kamu mau anak pertama cewek apa cowok?"
"Apa ya? Terserah dikasihnya sama Tuhan apa?cewek atau cowok sama saja"
"Iya, aku tahu, tapi tetep kan ada keinginan dan harapan dari hati kamu sendiri, Honey."
Aluna menggigit bibir bawahnya sambil berfikir. "Emmm … aku pengen anak pertama Laki-laki. Aku berharap jika nanti yang brojol pertama Cowok, dia bisa melindungi adik-adiknya.
"Kalau kamu, Sayang?" Aluna bertanya balik pada Dion.
"Aku pengen anak pertama kita nanti lahir cewek dan cowok, aku pengen anak pertama dan seterusnya kembar semua." kata Dion sambil tertawa.
"Ih … dikira ngelahirin itu nggak sakit apa, maunya double terus." aluna mencebikkan bibirnya.
"Hahahaha, sudahlah, laki laki dan perempuan semuanya sama saja. Aku akan sayang sama mereka nanti melebihi diriku sendiri. Kita berusaha lagi ya sayang, biar cepat jadi."
"Tu kan,pasti kalau baik begini ada maunya."
"Enggak kok, aku selalu baik terus sama kamu sayang."
"Kalau ada maunya." Aluna mengubah posisinya terlentang sedangkan Dion mulai merangkak menaiki tubuh Aluna dari arah samping.
"Enggak sayang." Kata Dion bercanda.
"Kalau ada maunya … emphh" Aluna tak mau kalah, tapi Dion bergerak cepat. kembali menyesap bibir Aluna dan memperdalam ciuman mereka.
Aluna dan Dion mulai permainan panas mereka di ronde kedua, kalo ini mereka mencoba banyak gaya, di permainan kedua Dion mengajari Aluna untuk menjadi pengendali permainan.
Dion begitu menikmati permainan Aluna yang berulang kali membuat tubuhnya terkapar. Tak percaya istri polosnya sekarang sudah sangat pandai dan mahir memuaskan Tiger..
__ADS_1
"Honey, kamu sangat hebat," puji Dion saat Aluna berada diatasnya. Dion dengan rakus memelkkuk Aluna dan mer*mas dua buah yang terayun ayun dengan lembut.
Dion berulang kali mengerang merasakan milik istrinya yang terus menjepit ketat. "Oh honey, yess …." Dion terus saja meracau seiring dengan suara des*han aluna yang tertahan.
"Tidak akan ada yang mendengar Honey keluarkan saja suara indahmu, aku sangat suka mendengarnya," rancau Dion yang begitu menikmati percintaan panas mereka.
Aluna yang masih memimpin permainan kini mulai kelelahan setelah berulang kali menggapai puncak. Tubuhnya menjadi lunglai . Dion yang belum mendapatkan pencapaian kedua dia tersenyum penuh kemenangan. Dion bisa sedikit bersabar untuk permainan ketiga kalinya yang lebih panjang nanti.
Aluna kembali tertidur setelah merasakan tubuhnya berulang kali melayang di udara, rambutnya berantakan dan tubuhnya penuh dengan tanda merah.
"Sayang, aku ingin tidur, tubuhku sangat lelah," rancau Aluna.
Ya, tidurlah Honey, aku akan menemanimu disini. Dion bersandar di sisi ranjang. Aluna merekbahkan kepalanya di pangkuan Dion. Dion mengelus rambut Aluna penuh kasih.
"Sayang kenapa dia belum tidur." Aluna terkejut, adek kecil Dion masih berdiri setegar tombak.
"Iya Honey dia belum keluar, tadi baru kamu yang sudah mencapai puncak lebih dulu, aku tidak ingin melanjutkan permainan disaat tubuhmu sudah kelelahan. Kita bisa lakukan lagi setelah tubuhmu kembali bisa menerima serangan tiger beberapa jam lagi." kata Dion sambil terus menina bobokkan Aluna dan wanita itu tertidur sangat pulas di pangkuan sang suami.
'Sayang terima kasih sudah memilihku, aku lelaki paling beruntung yang mendapatkan kegadisanmu meski aku sudah pernah melakukan kesalahan bodoh. Sayang kau akan selalu mendapatkan tempat istimewa di hati ini. Kau sudah berhasil mengunci hati ini dari wanita lain diluaran sana yang mungkin tak pernah lelah menggoda. Aku berjanji akan membahagiakanmu sebesar yang ku bisa. Kau akan menjadi orang pertama yang terus merasakan betapa hebatnya cintaku,' batin Dion sambil memandangi wajah istrinya yang mulai pulas.
Aluna butuh istirahat sebelum kembali melayani tiger yang tak pernah punya lelah itu. Dan benar, setelah bangun ranjang mereka kembali dilanda gempa dahsyat. Dion dan Aluna kembali melakukan penyatuan dan bahkan kali ini dia mencoba berbagai gaya, dengan posisi duduk diatas meja rias, bersandar di dinding, bahkan Dion mencoba gaya dengan menggendong Aluna di depan sambil berjalan jalan seperti anak koala. Dan terakhir, pagi hari sebelum ke kantor Aluna dan Dion bermain kamar mandi di dalam bathup.
Tubuh Aluna kini rasanya remuk-remuk sedap, kulitnya seperti dilolosi dari tulangnya. Aluna benar-benar merasakan pembalasan Tiger yang sudah berhari hari menahan puasa.
"Sayang bersiaplah ke kantor, aku bisa sendiri." Aluna tidak mau dibantu mengeringkan rambutnya. Tapi Dion tidak mendengar, lelaki itu tetap membantu Aluna dan mengeringkan tiap helai dengan sabar. Dua insan itu sama-sama menghadap ke cermin dan pandangan mereka sesekali bertemu.
"Honey, katakan padaku jika ada yang tidak kamu sukai dari caraku memperlakukanmu."
"Tidak ada sayang, Aku sangat menyukai semuanya," jawab Aluna dengan ekspresi malu-malu.
Setelah rambut Aluna lumayan kering Dion menyudahi menggunakan hair dryer. Dion memilih menyisir dan membiarkan tergerai.
Setelah selesai Dion segera membopong Aluna dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Sayang aku harus memasak, aku tidak mau malas seperti ini." Aluna tidak nyaman terus malas-malasan.
"Lupakan memasak honey, tugasmu sekarang hanyalah istirahat, maaf sudah membuatmu lelah." Dion mengecup puncak kepala Aluna sebelum dia meninggalkan istrinya ganti dengan pakaian kantor.
Aluna berdoa dalam hati semoga dia akan segera hamil. Dia sudah tak sabar membagi kabar gembira itu kepada Nenek dan juga keluarga besar mereka.
__ADS_1
Luna mengamati suaminya yang ganti baju dan tak lupa membersihkan kumis dan bulu yang belum terlihat. Aluna sebenarnya sangat senang meraba dagu kasar Dion yang menurutnya memberi sensasi tersendiri.
Setelah rapi Dion menghampiri Luna lagi, Dion sudah lengkap dengan kemeja putih bersih, celana hitam dan jas hitam. Arloji mahal melingkar di pergelangan tangannya serta dasi menggantung di leher.
Ketampanan Dion tak diragukan lagi. Dia adalah bunga paling indah dalam keluarga Sanderson.
Saat ingin mengecup bibir Luna, Dion dikejutkan oleh suara bel yang berbunyi dua kali dari luar. "Sayang apa kau ada janji dengan seseorang. Atau jangan-jangan Nabila yang datang." tebak Aluna.
"Tidak mungkin Nabila, Honey. Pagi begini dia pasti ke rumah sakit." Dion mengingatkan kesibukan sahabat baru Aluna.
"Tetaplah disini aku yang akan membuka pintunya." Dion beranjak dari kamar. Lelaki pemilik tubuh tegap itu sudah tahu yang datang, dugaan Dion pasti pegawai dari pihak catering yang mengantar sarapan untuk berdua.
Dugaan Dion tak salah, menu sarapan mereka sudah datang. Dion segera mengambil dari kurir dan menyiapkan ke dalam piring. Dion ingin Luna bisa langsung sarapan setelah semalam bertempur habis-habisan.
"Honey apakah mau sarapan di meja makan atau di kamar." Tanya Dion.
"Di ruang makan saja."
Baiklah kalau begitu semua sudah siap, mari kita sarapan."
Aluna yang tentu merasa lapar dia segera bangkit dan berjalan.
"Apakah butuh bantuan?" tanya Dion.
"Tidak, ini bukan malam pertama." jawab Aluna. "Aaaaa."pekiknya kemudian yang merasakan ngilu di intinya.
Dion tersenyum. "Biar aku bantu, aku tahu ini bukan yang pertama, tapi kamu tetap merasakan sakit karena kita semalam bermain melampui batas." Dion menggendong Aluna yang masih memakai handuk saja.
Membayangkan Luna tak memakai apapun di dalamnya saja sudah mampu membuat Dion kembali gelisah. Tapi Dion tak mungkin akan meminta lagi sedangkan kondisi istrinya masih kelelahan.
Bahkan sepanjang sarapan, Dion terus saja menyuapi Aluna dengan telaten, membantu mengambil duri ikan gurami jumbo yang dibakar dan dibubuhi saos pedas asam.
Aluna hanya terima jadi, membuka mulut dan mengunyah daging empuk gurami tanpa bersusah payah. Dion sudah menyuapi dengan telaten.
"Honey, semoga kau tak pernah bosan dengan semua ini. Inilah caraku menunjukkan betapa aku mencintaimu." kata Dion setelah sarapan selesai.
Dan segera mencuci tangan dan mengeringkan memakai lap lalu mengambilkan Aluna minum.
Aluna meneguk air pemberian Dion. Setelah meneguk habis Aluna meraih dua tangan Dion dan menggenggam jemarinya. "Aku tak mungkin bosan sayang, aku selalu meminta pada Sang Pemberi Hidup, semoga kau selalu ada disisiku melewati suka dan duka dalam kehidupan ini.
__ADS_1
"Tentu honey, tentu." Dion mengecup puncak kepala Aluna dan memeluknya meski posisi Aluna duduk. Dion sudah melihat bayangan Beni yang akan membawakan tas kerjanya.