
Aluna keluar kamar Dion dengan perasaan sedih, sesekali dia menoleh dengan hati yang gelisah.
Aluna sendiri belum tahu bagaimana perasaan sesungguhnya pada Dion, yang ia tahu Dion baik, Dion menyenangkan, tapi itu juga belum cukup disebut cinta.
Aluna mengangkat ponselnya. Dengan setengah berbisik dia berkata pada orang di seberang sana. "Hallo, Argo!"
"Iya Nona ada kabar gembira. Tuan Adrian sudah menandatangani gugatan cerai yang saya selipkan di tumpukan berkas. Untung dia tak membaca berkas satu persatu."
"Sudah ya …!"
Tanpa sadar bulir kristal sudah menggenang di pelupuk mata, tubuhnya tiba-tiba gemetar, untung ada dinding yang bisa menjadi penopang, Aluna seharusnya bahagia dia terbebas dari belenggu rantai yang mengikat lehernya. Tapi kenapa dia bersedih, kenapa dia berat meninggalkan hubungan yang tercipta bukan berdasar dari cinta. Apa istimewanya Adrian? Tidak ada kan?
"Nona Luna, Nona! Apa anda masih ditempat."
"Eh iya apa yang kamu katakan tadi Go? Sudah berhasil ya?"
"Iya Nona, sudah berhasil, anda sekarang sudah bebas, anda bukan lagi istri Tuan Adrian, tapi aku mohon rahasiakan aku yang telah membantu anda, aku ingin namaku tetap bersih, semua aku lakukan karena aku tak ingin wanita sebaik anda selalu dijahati oleh keluarga pak Rian, apalagi Angeline yang selalu menghalalkan segala cara."
Aluna kini malah menangis tersedu, tubuhnya merosot ke bawah, membuat dirinya terduduk sambil berurai air mata.
Aluna menutup bibirnya agar suara tangisnya tak terdengar oleh siapapun, hanya isakan yang tertahan membuat pundaknya naik turun. Untung dia ada di balkon, tak ada satupun orang yang melihat aktifitasnya
"Nona, apa anda menangis? Nona kenapa anda menangis? Apakah anda sedih, jika iya aku akan menyobek kertas ini dan lupakan perceraian yang masih belum diketahui oleh tuan Rian."
"Jangan Argo, aku butuh surat itu, aku ingin Adrian bahagia dengan wanita pilihannya saja."
"Tidak akan ada yang bahagia bersama wanita seperti Angeline Nona, aku hanya berharap saja kalau tuan Adrian juga akan bahagia dengan wanita terbaik nanti, aku yakin jika tuan Rian tahu seperti apa kekasih nya di luar sana, dia tak akan menjalin hubungan hingga sejauh ini."
Aluna makin tergugu dalam tangisnya seorang diri.
"Apa yang harus aku lakukan Go?"
__ADS_1
"Saya juga bingung Nona, keputusan anda saat ini sudah tepat. Biarkan tuan Adrian menyadari betapa berharganya sosok seperti anda. Setelah dia sadar, anda sudah tak ada lagi dalam genggamannya, supaya dia menjadikan pengalaman adalah pelajaran yang berharga.
"Argo,maafkan aku yang terlalu mementingkan diriku sendiri." Aluna menutup panggilannya. Sembari menurunkan ponsel dari telinga ke dada. Aluna memeluk ponselnya seolah sebagai pelukan perpisahan pada Adrian.
"Luna! Kamu mengapa menangis?" Melani menemukan Luna saat dia sedang bersimpuh.
"Tante aku sedang ingin menangis saja." Aluna menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Apakah kau cemburu karena Dion bersama Clara?"
Aluna menggeleng. "Ada hal lain Tante, entah kenapa Luna sangat sedih. Ketika akan kehilangannya."
"Berarti kamu menyayangi benda itu, hingga kamu tak ingin jauh darinya." Melani mengusap rambut Aluna, lalu mengulurkan tangannya. Aluna menerima uluran tangan Melani. Ibu itu memeluknya erat.
"Dion menunggu beberapa hari ini, dia terlalu menyayangimu." Wanita yang tetap cantik di usianya setengah abad, memakai rok di bawah lutut dan atasan Hem pendek itu berkata dengan begitu lembut. Tapi Aluna justru memikirkan hal lain.
'Apakah aku menyukai pak Adrian? Atau aku kasihan karena dia ternyata juga dimanfaatkan oleh cintanya? Apakah aku takut lelaki itu nanti tak bahagia? Perasaan apa ini? Ketakutan apa ini, aku harus bisa move on dari semuanya, aku akan hidup bahagia jika tanpa dia.'
"Aluna jika kamu tak mau bicara pada tante sekarang tidak masalah, kamu istirahat saja dulu, minum yang dingin biar otak sedikit fresh."
"Tapi Aluna kamu kelihatannya sedang dalam masalah berat lho? yakin tidak apa apa?" Selena bertanya sekali lagi.
Tidak Tante, Aluna akan baik-baik saja, Aluna hanya butuh istirahat di rumah, siapa tahu setelah bobok nyenyak, semua masalah akan menjadi baik-baik saja.
"Terserah kalau begitu, kamu hubungi Tante segera jika butuh sesuatu. Tante akan datang kesana." Aluna mengangguk.
Mereka berpelukan sekali lagi sebelum melepas Aluna pulang. "Tolong sampaikan pada Pak Dion, aku pulang cepat. Tante"
Dibalas Anggukan oleh Melani. Dengan senyum penuh kelembutan.
Aluna segera meninggalkan Dion, dia kini naik taxi karena sopir yang mengantarnya sudah kembali ke kantor.
Sampai di depan Makam Aluna meminta turun, sudah lama dia tak mengunjungi makam ayahnya.
__ADS_1
Sampai di makam Aluna membeli sekeranjang bunga pada penjual di tepi jalan, setelah membayarnya Luna segera masuk ke dalam tempat peristirahatan bapaknya.
Luna menabur bunga dan mengucap kata maaf berkali-kali. "Pak maafkan Luna Pak, Luna tidak berbakti pada amanah bapak yang terakhir, Luna tak bisa menjadi anak baik yang bisa mengabulkan permintaan terakhir bapak. Luna tidak sanggup jika Pak Rian menikah Lagi, jika perlakuan Chela dan Mama Selena mungkin Aluna masih sabar, tapi jika dimadu, Aluna tak sanggup lagi. hiks hiks hiks." Aluna menangis sambil bersimpuh memeluk nisan Yusuf. Aluna ingin menghabiskan waktu yang lama di makam untuk hari ini.
"Luna!"
Samar-samar Aluna mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dari arah belakang.
"Luna, kenapa kamu kesini sendirian, kenapa tidak mengajakku?"
Suara familiar itu membuat Aluna segera menoleh, terkejut sudah pasti. Rupanya yang datang lelaki tampan memakai celana dan jas setelan warna hitam. Dasi maroon dan kemeja warna putih, warna hem kesukaannya.
"Kenapa Anda kesini?" Tanya Aluna berusaha mengatasi keterkejutannya.
"Apa yang kamu tanyakan itu aneh, wajarlah aku kesini, ini makam papa mertuaku."
'Papa, mertua?'
Sejak kapan Pria tampan pelit senyum itu mengakui lelaki yang makamnya ada di depannya ini mertuanya, sejak kapan hatinya terketuk untuk datang kesini. Aluna terus saja berbicara dengan batinnya sendiri.
Aluna segera menabur bunga di makam Yusuf dengan buru-buru dia akan pergi. Aluna tak mau berlama lama dengan Adrian yang hanya akan membuat hatinya goyah.
Aluna tahu Adrian belum mengerti perihal surat perceraian itu, andaikan sudah tahu pasti tatapan wajahnya tidak akan setenang saat ini.
Aluna berjongkok lalu berdoa sebentar, setelah itu dia sedikit membungkuk, pamit pada Adrian kalau dia akan pulang cepat.
"Pak Rian, aku permisi." Aluna segera pergi dan kembali menghentikan angkot yang kebetulan lewat depan makam.
Adrian juga berdo'a sebentar lalu menoleh ke arah Aluna yang masih terlihat. Karena pintu angkot tak lagi tertutup.
'Aluna, kenapa dia berpenampilan sekretaris, apa dia selama ini bekerja menjadi sekretaris? Tapi bukankah pekerjaan itu bukan bidangnya.'
Adrian terus menatap Aluna yang semakin lama semakin tak terlihat, sedangkan Aluna terus saja menangis meratapi perceraiannya.
__ADS_1
'Semoga aku mampu melewati hari-hari yang akan datang dengan sendiri, aku pasti bisa tanpa pak Adrian. Bukankah lelaki itu dulu tak peka dengan kehadiranku disisinya, mungkin semua kebaikan saat ini semata ujian untuk menggoyahkan hati yang sudah memantapkan pilihanku untuk pergi.'