
Malam telah berlalu, berganti dengan sang fajar. Sang Surya belum terbit, tapi Aluna merasa panas menyengat tubuhnya melebihi panasnya matahari.
Aluna segera membuka matanya, bahkan kini menjadi seratus Watt. "Ya Tuhan."
Aluna melihat dirinya sudah terikat diatas ranjang dengan baju yang sama seperti semalam yang ia kenakan. "Tolong! tolong!
Aluna melihat api sudah membesar memutari rumah. Sedangkan Security dan Sonia juga sama seperti dirinya tetolat ketika sedang lelap dalam tidur
"Tolong! tolong!" Security dan Sonia juga terjebak dalam kamar, reruntuhan balok kayu di dekat pintu membuat langkah mereka terhenti. Aroma bensin tercium dimana mana, membuat paru-paru sesak karena kehabisan oksigen.
"Kerja yang sempurna, mereka sebentar lagi akan matang seperti kambing panggang. hahahaha." Terdengar tawa pria bertopeng yang bertubuh tinggi.
"Bos Adrian pasti akan senang dengan kerja keras kita," sahut pria bertato satunya lagi. Mereka berdua adalah pembunuh bayaran yang tak pernah gagal dalam menjalankan misinya.
'Adrian, Adrian ingin membuat aku pergi selama lamanya, apa pesta semalam adalah ucapan perpisahan, Adrian mengasingkanku disini karena ingin menghabisi nyawaku.'
Aluna terus saja meronta, berusaha sekuat tenaga agar bisa terlepas dari tali yang mengikat tangannya tapi hasilnya lagi-lagi berbuah sia-sia
Brak!!
Balok kayu jatuh di sebelah Aluna, Aluna semakin ketakutan kalau sampai mengenai bajunya yang tipis.
"Akhhhh! Pekik Aluna sambil meringkuk menyembunyikan kepalanya.
__ADS_1
"Awas Nona!!" Teriak Sonia yang melihat Luna dalam bahaya. Api mulai menjalar membakar ranjang.
'Tuhan, tolonglah aku, kirimkan seseorang untuk menolongku.' batin Aluna sambil berusaha membuat tali terlepas
Kini Aluna mengambil resiko dengan mendekatkan tangannya pada bara, Jika tali itu terbakar satu saja, maka akan putus dan Aluna bisa keluar dari petaka hari ini.
"Nona! Jangan ! Tangan anda akan melepuh." Sonia melarang Aluna setelah melihatnya.
"Nona, berhenti, biar paman saja yang melakukannya." Security sepertinya bisa melakukan seperti apa yang Aluna lakukan baru saja, memotong tali dengan menempelkan pada serpihan bara.
Usaha Security berhasil, dia sudah terlepas dari tali yang membuatnya tak bisa bergerak cepat. Dengan sigap dia bergerak menghindari reruntuhan lalu membantu Aluna melepaskan tangan dan kakinya. "Nona cepat keluar, aku akan bantu melepaskan teman yang lainnya.
"Aku akan membantu melepaskan Bibi Sonia." Alina keras kepala.
"Nona keluar saja, selamatkan diri anda cepat!" Bibi mohon pada Aluna agar tak pedulikan dirinya. Karena keras kepala security terpaksa menyeret lengan Aluna melewati reruntuhan yang masih membara.
"Kita harus pergi dari sini Paman, sebelum mereka menemukan kita lagi, biarkan mereka semua menganggap kita sudah mati," pinta Aluna dalam putus asa. Dia tak percaya lelaki yang semalam bersikap manis ternyata dia merencanakan pembunuhan untuk dirinya.
"Anda benar Nona, mereka pasti akan membunuh anda jika ketahuan masih hidup," ujar security setelah melihat luka di lengannya masih bisa di buat untuk mengemudikan mobil.
Paman Adam segera membawa Aluna pergi dari mansion terpencil bersama Sonia. Tapi mereka bingung akan pergi kemana, jika ke rumah Sonia atau Adam pasti Adrian akan menemukan Aluna dengan mudah.
"Jadi kita kemana Nona?"
__ADS_1
"Entahlah paman, bagaimana kalau kita cari kontrakan yang aman untuk bersembunyi. Kalau bisa ditempat yang jauh dari sini."
"Baik Nona," sepertinya di perumahan sederhana dan padat penduduk menjadi tempat yang tepat untuk bersembunyi. Kebetulan Adam memiliki seorang teman yang mengurus di perumahan sederhana dan padat penghuni.
Adam segera mengemudikan mobil menuju rumah temannya, yang menghabiskan waktu sekitar tiga jam untuk sampai di tujuan. Dia berharap akan langsung mendapatkan sebuah rumah untuk Aluna dan Sonia.
Sebelum tiba, mereka mampir terlebih dulu di sebuah rumah sakit yang kebetulan mereka lewati. Mereka sampai di sana ketika udara sudah semakin panas.
Sonia dan Adam mendapat perawatan oleh Dokter lebih dulu karena lukanya memang lebih parah, sedangkan Aluna memilih menunggu karena hanya luka ringan saja.
"Aluna!" suara gadis belia
"Jess kamu disini? Bukannya ini jam kuliah? "
"Temanku kecelakaan, lututnya berdarah."
"Oh, tapi kamu nggak apa apa kan?" Aluna memasang wajah khawatir.
"Nggak, aku baik baik saja." Senyum terbit di wajah Jessica. Senyum gadis itu seketika lenyap ketika melihat Aluna memiliki beberapa titik melepuh di leher dan bahunya.
"Kau ! apa yang terjadi …."
"Ini semua terjadi karena tempat yang aku tinggali baru saja terbakar. Sudah jangan berlebihan, aku baik-baik saja." Aluna menjatuhkan tangannya di paha Jessica.
__ADS_1
"Kau pergi tanpa kabar, kakakku setiap hari mencari dirimu. Nggak kasian? Ini pertama kalinya dia mengkhawatirkan wanita lain selain keluarganya," kata Jessica apa adanya.
*Happy reading.