Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 121. Kejujuran Luna.


__ADS_3

Usai berdansa Aluna merasakan pusing, mungkin karena dia tidak biasa meneguk alkohol walau dosis rendah sekalipun. 


Aneka minuman terhidang berbagai macam,  Aluna tadi sempat penasaran dengan minuman yang diambil oleh Melani dan Selena. 


"Pak Dion, aku ingin pulang!" Rengek Aluna yang terlihat manja saat mabok.


"Ok. Honey kita pulang. Apa kamu yakin? Pesta belum berakhir lho."


"Pulang saja Pak Dion." Aluna mulai merengek. Bibirnya bergerak gerak, kadang mengerucut seperti bibir ikan. Dion tersenyum melihat sikap Aluna yang lucu.


"Luna kamu nggak pernah minum, kenapa ambil minuman yang beralkohol."


Dion segera membawa Luna sebelum pesta selesai, Dion menggendong Luna di punggungnya. 


"Mama aku antar Luna pulang dulu." Pamit Dion.


"Luna mabok ya Dion."


"Iya Ma, padahal dia tadi hanya minum yang beralkohol rendah, mungkin karena dia tak pernah minum, jadi tubuhnya merespon berlebihan.


"Hati hati ya. Calon mantu Mama jangan di apa apain."


"Mama, nggak percaya banget sama anak sendiri."

__ADS_1


"Bukan nggak percaya Dion, kamu itu cintanya sama Aluna kebangetan, takutnya dia nanti kamu apa apain, Luna kan mabok." Melani terlihat khawatir. 


"Iya Ma, Dion janji. Tapi kecuali kalau Luna yang mau."


"Dion!! jangan bercanda. Atau mama suruh seorang mata mata untuk ikut kamu"


"Iya Ma, Dion akan jaga Luna sampai pernikahan nanti. Sama anak sendiri nggak percaya banget," gerutu Dion.


"Bukan nggak percaya Sayang, Mama cuma mau kamu nanti merasakan malam pertama yang begitu spesial."


Selena yang kebetulan di dekat Melani mendengar semua obrolan itu. tak percaya dia bisa menerima Aluna yang notabene mantan menantunya. Padahal status Dion yang perjaka harusnya dia malu memiliki calon menantu yang janda. 


Untuk menghilangkan semua rasa penasaran yang membuncah Selena mendekati Melani hingga mereka bersebelahan.


Dion dengan langkah sempoyongan membawa Aluna ke mobil. 


"Kamu nggak malu punya menantu janda, apalagi dia bekas Adrian."


"Bekas? Kenapa kamu sejahat itu? Jangan kau sebut Aluna bekas, kau bisa pakai bahasa lebih baik, dia manusia, bukan sampah. Sebut mantan Selena."


"Iya maksud aku itu. Mantan Adrian"


"Aluna itu istimewa, dia sudah menyelamatkan Dion, memiliki etika dan sopan santun, cantik, pintar. Dan yang paling membuat aku suka dengannya adalah dia memiliki hobby memasak sama sepertiku, lelaki suka wanita pandai memasak, lelaki juga sangat suka makan masakan istrinya, begitu juga anak mereka nantinya. Belum lagi kalau kita tua nanti, jika kita salah pilih menantu pasti hidup kita akan merana."

__ADS_1


"Kamu yakin Aluna akan sebaik itu?"


"Yakin dong. Kalau menantu kamu, baru aku nggak yakin."


Selena diam, takut ucapan Melani menjadi kenyataan, belum jadi menantu saja Angeline kemarin sudah berani membentak dirinya waktu Adrian tidak pulang, yang kedua kalinya Angeline sudah berani menutup pintu mobil dengan kasar di depannya.


Dion mengantar Aluna pulang menuju kontrakan, di sana dia bisa melihat bibi sedang membersihkan rumah, menyapu halaman dan mengelap kaca. 


Meski tidak dihuni Aluna, Dion tetap ingin kontrakan itu terawat. Dia akan menjadikan kontrakan itu kenang kenangan bersemainya cinta mereka. Bahkan tanpa sepengetahuan Aluna Dion sudah membayar  kontrakan itu. 


Di mobil tadi Aluna terus saja merancau. Bahkan sudah sampai dia masih tetap merancau. 


"Adrian itu bodoh Pak Dion. Dia harusnya tidak menikah dengan wanita itu,  dia itu cantik hanya casing doank."


"Luna jawab dengan jujur pertanyaan dariku? Tanya Dion sebelum keluar mobil."


"Katakan saja … siapa yang melarang anda bertanya pak Dion? … Hehehehe" Kata Aluna sambil menempelkan kepalanya di pundak Dion dengan pandangan mata yang buram dan kesadaran tinggal separuh.


"Luna apakah kau mencintai Adrian?"


"Apa yang anda tanyakan? Tentu aku mencintai dia, tapi sayang dia suami yang bodoh. Dia tidak bisa menghargai wanita yang mencintainya dengan tulus … jadi … jadi buat apa aku bertahan dengan pria semacam itu." Kata Luna panjang lebar. Karena mabuk Luna jadi bicara jujur tanpa ada yang ditutupi. 


"Luna, lalu bagaimana perasaanmu denganku."

__ADS_1


"Dengan anda? Pak Dion bagaimana perasaanku dengan anda? Aku lupa … maaf." Luna menangkupkan tangannya dengan tubuh bergoyang ke kanan dan ke kiri. 


Dion akhirnya menarik Luna ke dalam dekapannya? "Katakan Luna bagaimana perasaanmu dengan pria yang ada di depanmu ini?"


__ADS_2