
Satu minggu telah berlalu, Jessica kembali bisa beraktifitas seperti biasa.
Pagi hari Jessica berangkat kuliah, sorenya dia harus mengambil laporan terbaru dari proyek dan diantarkan pada Luna. Kesibukannya hari ini membuat dia tak bisa memenuhi janjinya untuk makan siang dengan Jayden.
Jayden mencoba mengerti, dia biarkan wanita yang masih menggantung hubungannya sibuk dengan dunianya, apalagi Jessica masih mengemban amanah dari Aluna.
"Kak, maaf, makan siangnya diganti lusa saja ya, aku sibuk, apalagi ini mendekati wisuda." Kata Jessica saat di telepon oleh dokter tampan yang sengaja dia gantung itu.
"Ya, baiklah, jika ada waktu hubungi aku, aku sudah merindukanmu," kata Jayden ngegombal.
"Tapi aku tidak," goda Jessica.
"Jangan mulai, atau aku akan datang ke kampus sekarang dan mencubit hidungmu."
"Lakukan saja, aku tahu itu tak akan Kakak lakukan karena sekarang pasti sedang bersama para pasien."
"Ya kamu benar, maaf aku belum bisa jemput."
"Apakah pasiennya ada yang muda dan masih cantik?" Tanya Jessica yang keceplosan.
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Ah tidak apa-apa, cuma tanya mada nggak boleh."
"Ada banyak, ceweknya bahkan masih muda dan cantik."
Kalau takut Kakak tergoda cewek lain, cepat dong terima cinta Kakak." Jayden menagih janji cinta yang belum kunjung mendapat balas. Gadis di seberang sana terlihat tertawa renyah. Andaikan dekat Jayden ingin sekali mengecup bibir yang mengeluarkan tawa itu.
"Kak, ada Chela. sudah dulu ya. dia kemari."
"Oke, baiklah, belajar yang rajin ya."
"Jess, arloji itu?"Chela yang kebetulan satu kampus dengan Jessica tentu saja terkejut melihat Arloji yang dibeli Jayden diam-diam saat menemani dirinya jalan di mall. Kini benda cantik itu sekarang sudah ada di pergelangan tangan sepupunya.
"Iya, kenapa dengan arloji aku." Jessica memperlihatkan Arlojinya dan dia sendiri ikut mengamati benda pemberian laki laki dewasa yang telah memintanya beberapa hari untuk jadi kekasih itu.
__ADS_1
"Boleh aku lihat?"
"Boleh, Jessica melepasnya. "Kamu kayak aneh gitu lihat aku pake arloji ini."
'Merk yang sama, tapi pas Kak Jayden beli, ini tinggal satu-satunya, apa mungkin ini pemberian Kak Jayden. Tapi tidak, Jessica tidak akrab dengan dia. Aku gadis yang paling perhatian dan dekat dengan dia,' batin Chela berusaha meredam prasangka buruknya dalam dada.
'Pasti Jessica lebih dulu datang ke mall dan membeli Arloji itu, kak Jayden pasti akan memberikan padaku diwaktu yang tepat dan menjadikan kejutan di hari ulang tahunku nanti.' pikir Chela.
Chela ingat ulang tahunnya tinggal beberapa hari lagi, gadis itu tak sabar menanti ulang tahun yang ke dua puluh dua segera tiba.
"Jess, arloji kamu bagus." Chela memberikan pada Jessica. Jessica menerimanya tanpa ingin menjelaskan asal muasal Arloji yang kelihatannya memiliki daya tarik tersendiri bagi sepupunya itu.
Jessica memakai arlojinya lagi, baru saja Chela ingin bertanya lebih lanjut tentang arloji itu. Dosen Aris sudah menepuk bahu Jessica dan mengajaknya masuk karena pelajaran akan dimulai. Jessica memang akrab dengan Dosen Aris. Apalagi sudah lama dia tak melihat gadis yang supel dan periang itu, Dosen Aris tentu saja merindukan anak didiknya.
Chela hanya bisa menyimpan kegelisahannya, dan berdoa dalam hati semoga apa yang dilihatnya baru saja bukan benda yang sama yang dibeli Jayden di malam itu.
Masalahnya Chela hanya melihat dari kejauhan tanpa berani bertanya langsung pada Jayden, karena dia yakin waktu itu Jayden akan membelikan barang yang lumayan bagus itu untuknya.
Setelah Jessica tak terlihat lagi, Chela segera masuk ke kelasnya. Tapi mujurnya dosen di kelas Chela belum datang, gadis itu ingin kabur saja. Daripada mondar mandir di kampus dengan pikiran yang tak menentu.
Sedangkan Jayden pagi ini sedang sibuk memeriksa pasien yang datang dan pulang silih berganti.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan pasien. Jayden berharap bisa segera meminta dokter pembantu untuk stanby dan dia bisa keluar sebentar menemui Jessica. Wanita yang beberapa hari ini membuat tidurnya tak nyenyak itu juga selalu sibuk.
Jayden masuk ruang pribadinya. dia lepaskan jas kebesaran nya lalu dia taruh di keranjang baju kotor, pihak laundry akan mengambilnya, dan seperti biasa dia segera membersihkan diri di kamar mandi, setelah semuanya bersih, Jayden duduk sejenak di kursi goyangnya sebelum meluncur ke kampus.
Tiba-tiba tangan kecil dan jari lentik menutup kedua bola mata Jayden.
"Siapa ini? Na apakah ini kamu? Tidak mungkin jika ini Nabila," lirih Jayden.
Jayden yakin pasti bukan adiknya. Semenjak menikah Nabila tidak lagi menggodanya. Karena Adrian tak mungkin membiarkan adik tersayangnya berkeliaran, karena selain prosesif, suami adiknya mulai betah di ruang pribadi Nabila ketika sedang istirahat. Entah apa yang dilakukan yang jelas. Setiap kembali ke perusahaan rambut Adrian selalu basah begitu juga dengan Nabila.
Chela masih bertahan menutup kedua kelopak mata Jayden, Chela berharap Jayden akan menyebut namanya setelah Nabila.
"Chela, sejak kapan kamu datang."
__ADS_1
Horeeee, hati Chela berbunga-bunga. Senang sekali Jayden memanggil namanya, itu artinya dia satu-satunya gadis yang sering datang kesini.
"Kak! Kok tau sih kalau itu aku." Chela pura-pura kesal.
"Ya, terus siapa lagi, kamu yang hampir setiap hari kesini. Pasti mau mengajak makan siang ya?" tebak Jayden.
"Kok tahu sih? bener Kak, tanpa Kakak selera makan aku jadi hilang."
"Ya tahulah, biasanya kamu selalu minta aku untuk mencoba resep baru kamu itu."
"Hehehe, iya, tapi kali ini aku nggak masak Kak, aku sudah mulai kuliah lagi dan ini tadi aku kabur dari kampus. Aku kangen sama, Kakak."
"Nggak usah masak, serius sekolah aja, lagian aku setiap hari sudah ada catering khusus yang mengantar makanan buat dokter yang bekerja disini."
"Kak Jayden," lirih Chela, gadis itu bergelayut manja di leher Jayden dan lelaki itu merasa risih gadis yang dianggapnya adik itu bersikap demikian.
"Chela, lepaskan jangan seperti ini." Jayden menghempaskan lengan Chela.
"Kenapa Kak? Aku mencintaimu Kak. Aku hanya ingin kakak mengerti perasaanku selama ini." Chela lelah, usahanya selama ini tak mendapatkan reaksi apapun dari Jayden.
"Chela, kamu pasti bercanda, aku sudah menganggapmu seperti adik." Jayden berdiri dari kursi yang dia duduki. Memegang bahu Chela dan ingin menegaskan sesuatu.
"Tidak mau Kak, aku mau lebih daripada adik, aku ingin jadi yang spesial buat Kakak." Chela menatap Jayden dengan tatapan tajam, dengan airmata yang mulai menggenang di di pelupuk mata.
"Chela, tapi Kakak nggak mungkin memaksakan sebuah perasaan, pasti itu hanya akan menyakitimu." lirih Jayden, berusaha bersabar.
"Apakah Kakak sudah memiliki wanita lain?" tanya Chela lagi.
"Bukan urusanmu, aku hanya ingin kita seperti dulu, adik dan Kakak, kamu tahu Nabila adikku, dan Adrian Kakakmu, hubungan kita sudah sangat dekat," bujuk Jayden.
"Lalu bagaimana denganku Kak? Bagaimana dengan perasaanku ini? Apa aku harus melupakan begitu saja?" Chela masih tak terima jika Jayden tak mau mencintainya.
"Kamu belum mencobanya Kak, kamu seharusnya belajar menerima aku, apa kurangnya aku?" Chela melihat penampilannya yang sudah perfect. Dan Jayden hanya menggeleng tak percaya.
Chela memang tak kurang apapun, dia cantik, ukuran tubuh dan tingginya nyaris sama dengan Jessica, tinggi semampai, lekuk pinggangnya bak gitar spanyol. Hanya saja Jayden lebih menyukai Jessica yang sejak awal tak pernah mengejarnya. Jessica yang cuek justru membuatnya lebih tertantang untuk di dapatkan.
__ADS_1