Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 51. Usaha


__ADS_3

Aluna masih tinggal di rumah Adrian, sebelum surat perceraian itu selesai dan jatuh ke tangannya.


Adrian mengatakan suratnya tak akan lama lagi sudah jadi. Aluna dan Adrian sama-sama menunggu. Namun Adrian melarang Aluna untuk ikut ke pengadilan. Andrian bilang dia sendiri yang datang untuk menjelaskan di pengadilan, dirasa sudah cukup.


Setiap hari Luna sudah tak memakai kaca mata, penglihatannya sudah pulih, karena rajin memeriksakan ke dokter dan dan tak pernah absen minum jus wortel sampai bosan.


"Luna aku kurang enak badan, aku ingin hari ini kamu yang melayani kebutuhan ku, dan jangan pernah jauh-jauh, karena aku bisa kapan saja membutuhkan sesuatu secara mendadak.


Adrian yang berbaring karena suhunya naik dua derajat celcius, terus saja mengingatkan Aluna akan pekerjaannya merawat dirinya. 


Gadis itu mengangguk. "Sekarang apa yang anda butuhkan?"


"Luna, tolong aku ingin makan sushi buatan kamu."


"Baik pak akan saya buatkan." Aluna dengan cepat menuju dapur membuatkan sushi untuk Adrian. Bahan-bahan sudah disiapkan oleh bibi yang baru pulang dari supermarket. 


"Luna kamu yakin akan meminta berpisah? Kenapa kamu menyerah Luna?"


"Luna bukan menyerah Bi, tapi Luna sadar pernikahan ini sejak awal memang sudah dipaksakan, aku tak mau membuat kebahagiaan keluarga ini menjadi hilang. Chela, Mama, Pak Rian, mereka semua tak ada yang menginginkan Aluna."


"Tapi bagaimana dengan amanah bapak kamu?"


"Aluna yakin, Bapak dulu melakukan semuanya karena dia takut Aluna akan sendirian, menganggap Aluna lemah. Bapak lupa kalau Aluna sudah besar dan bisa mandiri. Aluna yakin jika melihat anak gadisnya sudah mandiri, Dia disana pasti akan bahagia."


"Luna, kalau begitu bibi do'akan semoga kamu akan menemukan kebahagiaan ya?"


"Makasih, Bi." Luna tersenyum sambil menyiapkan sushi ke dalam piring. Dan Luna juga membuatkan segelas teh hangat. 


Luna segera kembali ke kamar Adrian dia tak mau suaminya menunggu lama. "Ini Pak, makanan yang bapak inginkan  sudah saya siapkan."


"Ya bawa kesini biar langsung aku makan," pinta Adrian. Lelaki itu berusaha bangkit. 


Adrian sakit karena waktu hari terakhir di Bali dia lupa makan justru malah datang ke bar bersama Tito, setelah mengetahui Luna sudah pulang lebih dulu dengan Dion, entah kenapa hati Adrian meradang dan ingin sekali menjadikan minuman keras sebagai pelampiasan.

__ADS_1


"Duduk di sini, kamu tolong suapi aku, tanganku gemetar, aku takut nanti makanannya malah tumpah," pinta Adrian lagi, menginginkan Luna duduk di dekatnya.


Kata Adrian selama surat itu belum turun, Aluna masih sah sebagai istrinya, Aluna masih berkewajiban mematuhi perintahnya. Aluna tentu saja mengiyakan kata-kata Adrian.


Sambil menerima suapan dari Aluna Adrian banyak bertanya. Tak ada lagi kebencian yang terlihat dari sorot matanya. Menurut pemikiran Aluna, Adrian jadi baik pasti karena sebentar lagi mereka akan berpisah. Toh dirinya juga sudah sangat hati-hati saat dalam bekerja. 


"Luna kamu yakin akan keluar dari perusahaan juga setelah kita bercerai?"


"Iya Pak."


"Kamu mau kemana Luna? Apa mau ke perusahaan Dion?"


"Saya belum tahu dan tidak tahu Pak. Tapi saya ingin pergi dari kota ini saja."


Mendengar jawaban Aluna Adrian yakin Aluna juga tak tertarik bekerja di perusahaan dion. Tapi mau kerja apa dan dimana? Sedangkan bapaknya anak tunggal, ibunya juga lama pergi.


Luna, bagaimana kalau tetap bekerja di Alexa Fashion dan aku akan menjadikanmu kepala OG, biar Tito yang atur semuanya. 


Maaf Pak. Ada yang lebih lama dan berpengalaman menjadi kepala OG disana,  rasanya tak adil untuk mereka jika saya tiba-tiba jadi kepala OG. 


'Maaf Luna, aku belum mengajukan surat cerai itu, aku sekarang memiliki rencana lain, bagaimana kalau kau tetap menjadi istri rahasiaku, dan Angeline istriku di depan publik, kamu dan dia akan menjadi istri ku.' batin Adrian saat Aluna kembali memberikan suapan terakhir.


"Pak Adrian, apa anda ingin nambah lagi, sushi ini sudah habis, aku masih menyisakan beberapa potong dibelakang."


"Nggak aku sudah kenyang Luna, sekarang kau tetap disini. Aku ingin kamu mendengarkan aku bicara."


"Sejak tadi kan Luna sudah mendengarkan bapak bicara." 


"Benar juga."


Adrian mencari tangan Luna, dia ingin menempelkan di pipinya sampai harus merubah tidurnya. Telapak tangan Luna membuatnya nyaman. 


Adrian kini memiliki niat ingin tidur di pangkuan Aluna, bersandar pada paha istri menurutnya lebih nikmat. Dan telapak tangan ada dipipinya. 

__ADS_1


Melihat Adrian yang manis membuat Aluna bingung. Kenapa saat ingin bercerai dia malah bersikap seperti ini, sedangkan kemarin kenapa tak pernah sedikitpun tersentuh. 


Untuk bernafas saja Luna sangat hati-hati, takut suara deru jantungnya akan mengusik tidur beruang kutub yang menjelma menjadi kucing jantan. 


Aluna ingin sekali membelai rambutnya seperti saat Gemoy loncat di pangkuannya. Tapi Aluna tak punya keberanian. Dia memilih untuk bersandar di sisi ranjang dan Adrian pulas dalam pangkuannya. 


***


Esok hari Adrian sudah baikan. Luna berperan penting untuk kesembuhannya hari ini. 


"Luna!"


"Iya, Pak Rian. Memanggil saya?"


"Iya, kamu bisa bantu aku pasangkan dasi ini?" Adrian menyodorkan kain panjang warna hitam pada Aluna.


"Bisa Pak," Aluna yang ada di ruang setrika karena menyetrika seragamnya 


"Bagus, aku ingin kamu pasangkan sekarang."


"Pak Rian terlalu tinggi, tolong sedikit menunduk."


"Oke," Rian kini bukannya menunduk, malah memilih duduk di kursi kecil dan Aluna ada di depannya tepat diantara kedua paha Adrian. 


Adrian bisa mencium aroma tubuh Aluna yang wangi karena sehabis mandi, bahkan Aluna juga hanya memakai handuk kimono saja karena seragam kerja barunya yang akan dia pakai masih belum selesai di setrika. 


Adrian mengendus aroma wangi hingga berulang kali. Kulit dadanya yang putih membuat jiwa lelakinya meronta. Adrian sengaja menempelkan kepalanya di perut atas tepat di bawah naungan dua gunung. Kedua lengan Adrian melingkar di pinggangnya membuat tubuh Aluna menempel ketat.


"Pak Rian, Anda tidak boleh melakukan ini semua, kita akan bercerai, Pak." 


"Masih belum, kau masih istriku." Justru Adrian malah sengaja mempererat pelukannya dan mendongakkan kepalanya, bibirnya hampir saja menyentuh titik sensitif yang ada di puncak gunung Sahara. Leher jenjang Aluna yang putih tak ada sedikitpun noda merah satu titik pun membuat Adrian yakin kalau Dion tak menyentuh wanitanya sama sekali. 


"Pak Rian aku harus berangkat sekarang, anda pasti akan marah kalau saya terlambat."  Luna membebaskan diri dari belenggu Adrian, dia tak mau tepedaya oleh permainan drama yang sedang dimainkan. Bagi Luna Adrian adalah aktor handal yang bisa bermain segala peran. 

__ADS_1


*Happy reading.


__ADS_2