
Usai melakukan yang kedua, Dion segera membawa Aluna dan membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower.
Mereka berdua sama-sama menikmati segarnya air shower yang terus mengucur tak mau berhenti
Aluna menurut pada Dion, membiarkan lelaki itu membersihkan tubuhnya, toh tenaganya juga sudah habis terkuras.
Dion menyibak rambut Aluna yang menutupi pandangannya dengan lembut, lalu mengusap usap dengan sampo, dan membilasnya. setelah selesai keramas dan benar-benar bersih, kini Dion membersihkan tubuh Aluna dengan sabun.
"Honey, kamu tahu aku sangat bahagia hari ini. Kaulah sumber bahagiaku," kata Dion sambil mematikan shower lalu mendekap tubuh Aluna yang mulai dingin dengan handuk.
"Terimakasih sudah menjadikan satu satunya wanita yang ada di hatimu." Kata Aluna dengan bibir bergetar karena mulai kedinginan.
Dion membetulkan handuk kimono Aluna, lalu memakai kimono untuk dirinya sendiri. Setelah tubuh keduanya terbungkus, Dion mengangkat tubuh Aluna dan membantu mengeringkan menggunakan hair dryer.
Tak lupa, Dion memesan bibi minuman sari buah dan aneka macam buah potong yang fresh. Menurut Dion Aluna harus makan banyak buah buahan segar untuk mengembalikan energinya.
Saat mengeringkan rambut Aluna, perut Dion berbunyi.
"Anda lapar!" celetuk Aluna, yang duduk di kursi kecil di depan meja rias.
"Hehehehe, habis olahraga dua kali aku jadi cepat lapar," jawab Dion dengan tertawa ringan. Sambil tangannya tak mau berhenti memutar-mutar hair dryer di sekitar rambut Aluna.
"Kalau begitu biar aku sendiri yang mengeringkan, anda makan saja." perintah Aluna.
"Tidak, kita makan bersama disini,"tolak Dion.
"Tapi apa yang dipikirkan keluarga anda nanti. Kalau anda makan di kamar."
"Mereka akan mengerti, terutama Mama, dia paling mengerti dirimu," kata Dion sambil menaruh hair dryer lalu membungkukkan tubuhnya dan kedua tangannya ada di pundak Aluna. Mereka berdua sama-sama menatap ke cermin.
"Atau Aku bilang saja kalau istriku sangat manja," goda Dion.
"Sayang, jangan nakal, aku akan malu!" Pekik Aluna.
Dion lalu memakai baju santai dan meninggalkan Aluna yang masih memakai Kimono, turun ke lantai bawah menemui keluarga yang lain. Rambutnya basah, terlihat sekali binar bahagia di wajahnya.
"Wah gantengnya anak papa, sudah basah basah," celetuk David yang sedang ingin menggoda putranya karena sejak siang hingga tengah malam tak keluar kamar.
"Selamat malam, maaf tadi melewatkan makan siang bersama." ucap Dion dengan aura bahagia.
"Nggak papa, kami mengerti kok kalian sedang apa. Gimana sudah berhasil belah durennya sayang?" Tanya Melani ikut- ikutan menggoda.
Yang ditanyai hanya diam wajahnya saja yang semakin berbinar, seolah memberi jawaban untuk pertanyaan Mama.
Dion kini malah fokus mengamati banyak menu di atas meja. Lalu menoleh ke arah bibi yang sejak tadi ikut mencuri dengar pembicaraan keluarga Dion dengan mengelap lemari kaca. yang berisi pernak pernik alat makan.
"Bi tolong ambilkan makanan ini untuk aku dan Aluna, antarkan ke kamar sekalian."
"Baik, Den." Bibi segera mengambil baki dan beberapa piring kecil.
__ADS_1
Jessica dengan polosnya bertanya," Kenapa Mbak Luna nggak makan bareng dengan kita? Apa sakit lagi?"
"Jessica, mbak Luna memang sakit, tapi kali ini bukan kaki dan kepalanya lagi. Biarlah beberapa hari ini dia makan di kamar," jawab Melani memberi pengertian pada Jessica.
"Dion, yakin sudah Done?" Tanya Davit kali ini serius dan lirih.
Dion mengangguk. Sedikit malu, tapi papa yang bertanya harus dijawab, apalagi Nenek terlihat ikut menunggu jawaban keluar dari bibirnya. "Sudah Pa. Ma, Nenek. Semoga Aluna segera hamil."
"Syukurlah." Nenek bahagia
Bi, ambilkan semua jenis menu hari ini, untuk Aluna. Aku ingin dia makan banyak," kata Melani sambil membantu bibi mengambilkan aneka ikan dan sayur.
Bibi selesai mengambil semua aneka menu dan membawanya ke kamar Dion. Melani ikut ke kamar Dion, hanya ingin bertemu dengan menantu kesayangannya.
Tok! tok!
"Masuk!" jawab Aluna dari dalam. Aluna sudah bisa berjalan menuju ranjang sendiri meski pelan. Sekarang dia sudah bersandar di sisi ranjang dengan handuk kimono yang menutupi tubuhnya
Aluna terkejut yang datang bibi dan mama mertua.
"Mama," sapa Aluna sambil beringsut menutupi sprei yang terdapat noda merah, Dion belum mengganti dengan yang baru. Tapi sayang sekali Melani sudah melihatnya.
"Luna, Mama senang sekali kamu sudah sehat." Melani berdiri di dekat Aluna, dan menarik tubuh menantunya ke dalam dekapan.
"Mama, semua ini berkat dukungan keluarga ini, terimakasih sudah menerima Aluna dengan baik. Meski Aluna hanyalah gadis desa yang tadinya jelek dan kampungan."
Manik mata hitam Melani bertemu dengan mata indah Aluna yang membingkai wajahnya.
"Jika ada yang bilang kamu jelek, dia mungkin rabun, harus diperiksakan. Kau cantik, pantas Dion mencintaimu. Dan menjadi pebinor, mama mendukung Dion karena dia bilang kamu tersiksa dalam rumah tangga yang dulu."
Aluna memeluk tubuh mertuanya, dia terharu, karena selama ini Selena tak pernah sekalipun peduli dengan dirinya seperti yang dilakukan Melani.
"Ma, Dion lapar, habis kerja keras" keluh Dion yang meminta supaya acara pelukan diakhiri saja. Sambil mengelus perutnya yang keroncongan minta diisi.
"Suami kamu itu paling tak bisa lihat mama bahagia," eluh Melani.
"Luna, kamu makan yang banyak ya, biar kamu nggak kelelahan saat melayani Dion yang pastinya tenaganya sangat besar."
"Iya Mama, Luna akan makan banyak," kata Luna sambil melirik ke arah Dion.
Melani lalu pamit keluar diikuti bibi di belakangnya. hati melani sangat senang ternyata Aluna tidak bohong kalau dia masih gadis perawan. kalaupun sudah tidak perawan lagi, melani berjanji akan tetap menyayanginya.
Sambil berjalan keluar melani memberi perintah pada bibi supaya membuatkan Aluna jamu tradisional yang bagus untuk tubuh dan rahimnya, biar Aluna cepat hamil.
Bibi mengiyakan saja, mulai besok dia akan selalu belanja rempah rempah, seperti temu lawak kunyit putih dan lain-lain.
Dion mendekati meja makan kecil yang ada di kamarnya.dia mengambil satu piring nasi diberi kuah sayur, dan satu piring lauk dengan aneka macam.
Sayang hari ini aku ingin makan di balkon, sepiring berdua denganmu sambil menikmati cahaya bulan purnama.
__ADS_1
"Boleh, aku pake baju dulu, ya?" Memangnya sudah bisa jalan.
"Bisa, tapi masih perih."
"Aku gendong ya?"
"Mau," jawab Aluna mulai manja.
Baiklah, Dion akhirnya mengangkat pinggul Aluna dan menggendongnya, sedangkan satu tangannya membawa baki berisi piring.
Sampai di balkon, Aluna didudukkan Dion di atas ayunan. Dion ingin menyuapi Aluna sambil mengayun tubuh rampingnya.
Dion mulai mengayun tubuh Aluna pelan-pelan, Aluna tertawa sambil berpegangan kuat. Aluna dan Dion sangat bahagia.
Dion ikut naik di atas ayunan sambil memangku piring, mereka berdua mulai makan dengan saling menyuapi.
Dion juga mengambil nasi yang menempel di pipi Aluna dengan bibirnya.
"Honey, apakah kamu bahagia?"
"Kenapa tanya begitu?" Aluna tak mengerti
"Mau tau aja."
"Jawabannya adalah sangat-sangat bahagia," kata Luna lalu mengecup pipi Dion.
Dion terkejut dengan kecupan Luna yang mendadak. "Syukurlah, aku juga sangat bahagia, bahkan kata bahagia itu sendiri tak mampu untuk menggambarkan isi hati ini." kata Dion.
Setelah mereka berdua selesai makan, bibi kembali lagi dengan aneka buah potong dan minuman sari buah.
"Kenapa banyak sekali makanan? Jika begini terus, aku akan gemuk mendadak." Aluna tertawa karena di depannya penuh dengan makanan nikmat dan buah segar.
Dulu saat di rumah Adrian, dia yang mengupas buah dan memotongnya, tapi tidak ikut memakan, begitu juga masakan lezat yang selalu mengepul di dapur menusuk hidungnya. Aluna akan makan kalau mereka semua sudah selesai makan. Aluna lebih sering makan di dapur bersama dengan bibi. Chela dan Mama tak akan pernah mengizinkan dirinya makan dengan nikmat.
***
"Aluna!"
"Luna!!" Adrian memanggil Luna dalam tidurnya.
Adrian duduk dan mengusap peluh yang membasahi seluruh wajahnya.
Adrian baru saja memimpikan Aluna. Gadis yang telah membuat hatinya remuk itu terlihat sangat bahagia bersama Dion di dalam mimpinya. Dia mimpi itu hanya sebagai lelaki malang yang menjadi saksi kebahagiaan mereka.
__ADS_1