
Esok yang sangat indah bagi Adrian. Semalam dia menghayal tidur dalam dekapan Aluna, hingga kebawa dalam mimpi yang indah.
Angeline pagi sekali sudah ada di kamar mandi dia terus saja mual.
Adrian kasihan melihat wanita yang sedang hamil itu hanya sebagai manusia, bukan sebagai istri.
Adrian memijit tengkuk Angeline. Angeline sangat senang.
"Terimakasih Sayang."
"Sama-sama."
"Kamu nggak ke kantor?" Tanyanya.
"Aku akan ke kantor. Aku sudah lama tak hadir disana."
"Ya, aku akan minta bibi siapkan semuanya." ujar Angeline dengan wajahnya yang terlihat pucat.
"Apa ingin aku temani."
"Kau dirumah saja, aku akan segera pulang." kata Adrian bangkit dari ranjang dan menuju kamar. Lelaki itu mulai masuk kamar mandi.
Angeline ingin sekali mandi bareng dengan Adrian layaknya pengantin baru, tapi lagi-lagi lelaki itu sudah mengunci rapat dari Luar
"Sayang!" panggil Angeline.
"Jangan berfikir kita bisa mandi bersama, sebelum semuanya yang kau rahasiakan dariku mendapat kebenaran." Kata Adrian yang seakan bisa menjawab apa yang ada
Angel milih bersabar, Adrian sosok yang tak suka dipaksa, daripada nanti akan membuat Adrian marah dan tak mau pulang lagi.
Usai mandi Angelin sudah menyambutnya dengan baju baru, celana baru, dasi dan sepatu serba baru, Angeline berharap Adrian mau dan suka pilihannya.
"Sayang, ini aku yang beli jauh hari sebelum kamu menikah denganku."
"Oh, terimakasih, taruh disitu saja, nanti aku pakai,"ucapnya dingin.
Adrian hari ini tak ada niat bekerja, dia sadar kalau dia semangat karena Aluna selalu datang setiap pagi membuatkannya kopi yang beraroma harum. Koki yang sekarang saja dia tak bisa membuat kopi senikmat buatan Aluna.
Adrian keluar dari rumah mewah milik mertua, beberapa security mengangguk ketika mobil mewah melewatinya.
Adrian pergi menemui Arga dan Argo di sebuah kedai kopi untuk membicarakan rencana selanjutnya. Tapi karena hal lain dia malah membatalkan semuanya.
Saat duduk di kedai kopi bersama dua asistennya. Adrian melihat mobil Dion melintas. Adrian yakin Dion dan Aluna pasti akan bersenang senang.
__ADS_1
Sisi buruk Adrian kembali muncul, laki laki itu ingin tahu apa yang dilakukan sepasang kekasih yang baru menikah itu, Adrian juga ingin tahu apakah mereka sudah melakukan ritual pengantin baru.
"Bro, tolong lakukan saja yang terbaik menurut kalian, perusahaan harus secepatnya mandiri. Aku ingin segera terlepas dari belenggu mertua. Kau pasti bisa." Adrian buru-buru pergi setelah menepuk punggung Argo. Berlari mengejar Dion yang entah akan kemana.
Adrian dengan tak tahu malu mengejar mobil Dion, setelah dekat Adrian mengambil jarak sekitar lima belas meter, ada satu mobil di antara mereka.
Dion menyalakan lampu sein menuju rumah sakit.
"Ke rumah sakit? Apa Aluna masih sakit? Atau jangan jangan dia memeriksakan kandungan karena hamil." kata Adrian berbicara lirih. Seolah kemudi di depannya bisa mendengar, suaranya dan teman curhat terbaik.
Rupanya pagi ini Dion tak membawa pengawal, semua itu semakin membuat Adrian cemburu, tanpa pengawal Artinya Dion sendiri yang membantu Aluna.
Dion segera turun dengan setengah berlari, dia membuka pintu satunya lagi dengan cekatan dan wajah berbinar.
Adrian melihat Dion membantu Aluna turun, rupanya Aluna sudah bisa berjalan tanpa kursi roda. Adrian lega. Kaki Aluna tak patah, tetapi hanya dagingnya yang robek lumayan dalam.
"Honey, biar aku gendong."
"Nggak usah, Sayang. Aku sudah bisa jalan."
"Yakin? Nggak mau digendong." Dion khawatir.
"Yakin sayang, aku bukan anak kecil." Luna menepuk pipi suaminya gemas.
Dion merebut jemari Aluna dan menciumnya.
"Sayang, jangan lebay malu dilihat orang."
"Biarin orang melihat, biar mereka tahu aku suaminya, biar nggak jelalatan lihat istri orang." Dion merengkuh pinggang Aluna.
Adrian yang mendengar hanya bisa menelan salivanya yang tiba tiba rasanya pahit. Kata-kata Dion seakan bagai busur panah menembus dada dan tepat menusuk di jantungnya.
Dion dan Aluna masuk ruang Dokter Jayden. Lelaki tampan seusia Adrian yang sanggup membuat istri Aluna cemburu. Tapi Dion berusaha untuk menyembunyikannya.
"Sayang, kenapa kalau di depan Dokter Jayden kamu suka cemberut, nanti senyum ya? Biar nggak dinilai sombong." Aluna berhenti, seketika Dion ikut berhenti, Aluna yang masih memakai perban di kepala, menarik bibir Dion sedikit hingga bibirnya terlihat lebar dan jelek. Seketika tawa Dion dan Aluna pecah.
"Aku tidak suka dia menyentuhmu." Kata Dion sambil merengkuh kembali punggung istri setelah mengecup keningnya.
"Ya Tuhan, maksud Anda dia harus mengobati lewat udara begitu. "
"Ya, seharusnya, biar dia tidak menyentuhmu."
"Lebay ah, Pak Dion. Dokter Jayden itu hanya bekerja sesuai profesinya. Lagipula aku ingin dia dekat dengan …."
__ADS_1
"Dekat dengan siapa? Kenapa tidak dilanjutkan? Suka dekat dengan siapa?" Dion serius. Posesifnya mulai memuncak.
Tak terasa mereka sudah sampai di pintu lift, sebentar lagi menuju ruang Dokter Jayden.
"Nggak jadi, belum ngomong aja ekspresinya sudah mau marah, aku takut," canda Luna.
"Aku nggak mau sampai istriku dekat dengan lelaki manapun selain aku. Itu saja." Dion mengungkapkan alasannya.
"Aku sayang, aku harus menjaga, aku harus mencintai, dan membahagiakan. Jadi kamu sekarang tanggung jawabku,"kata Dion lagi sambil memegang kedua bahu Aluna.
Aluna menatap mata Dion yang juga menatapnya dengan intens. '
'Oh beginilah, ketika dicintai, lelaki yang mencintai wanita itu ternyata sangat posesif,' batin Aluna.
Merasa terharu Aluna segera memeluk suaminya sangat erat. Dion membalas pelukan Aluna sama eratnya.
"Aku akan menjaga kepercayaan yang kau berikan. Semampu diri ini." kata Aluna ketika masih dalam dekapan Dion.
"Aku ingin Jesika mengenal lelaki seperti Dokter Jayden, dia terlihat dewasa dan baik, tapi apa yang menurutku baik, belum tentu baik menurut Jessica, jadi karena itu aku ragu mengatakannya.
Dion memeluk Aluna makin erat, bahkan membuat paru-paru Aluna kehabisan pasokan oksigen.
Melihat Aluna yang terengah, Dion segera melepas pelukannya.
"Maaf. Sayang aku terlalu bersemangat.
Mereka kini sudah sampai di lantai lima, dimana ada Dokter Jayden yang menunggunya. Dion dan Aluna segera keluar dari lift dengan hati-hati. Tanpa tahu di lift berikutnya keluar orang yang sedang penasaran dengan kisah rumah tangganya.
Dokter Jayden menyambut dua pasien yang sudah ditunggu.
"Maaf, saya terlambat sedikit Dokter."
"Saya maklum Nona, Tuan, anda pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya."
"Anda, bisa saja, istri saya masih sakit." Kata Dion.
"Jadi anda belum …." Dokter menjeda kalimatnya. Maaf, apa yang kita bicarakan ini sudah keluar dari topik.
"Tidak apa-apa Dokter, anda saat ini yang lebih paham mengenai istriku. Jadi katakan saja kapan kita bisa melakukannya, tanpa mengganggu kondisi kesehatan istriku."
"Sebenarnya sejak kemarin sudah boleh, luka istri anda tergolong masih luka di luar tengkorak kepala, hanya saja saat kecelakaan itu terjadi, istri anda dalam kondisi stress berat jadi dia pingsan lumayan lama."
"Jadi aku harusnya sudah bisa melakukannya tadi malam, ya Dok?" Dion bertanya sekali lagi seolah-olah dirinya sudah kalah banyak, semalam tak meminta haknya.
__ADS_1
"Iya Tuan. Lakukan kewajiban anda secepatnya," kata Dokter Jayden sambil menunduk menahan senyum, Membuat Dion makin tak sabar.
Sedangkan Aluna mengerucutkan bibirnya, merajuk. Karena yang ditanyakan Dion pertama kali bukannya perkembangan kesehatan, melainkan malam pertama yang belum terlaksana.