
Aluna sudah selesai membersihkan diri, dia ingin makan di dapur bersama Imah, andaikan jadi pulang dengan Tito tadi pasti dia sudah ditraktir makan rendang, atau soto ayam kampung yang dia lewati saat pulang tadi.
Tapi Luna tak mau terlalu akrab dengan siapapun selain dia ingat istri sah seorang lelaki gila. kacamata ini sudah sangat mahal, Luna tak mau terus merepotkan pria yang bukan apa-apanya.
Aluna melangkahkan kaki menuju dapur, tiba tiba Adrian memanggilnya. "Lun, Cuci baju ini."
Adrian melempar bajunya yang baru dia pakai dari kantor hingga menutup semua bagian kepala Aluna. Adrian sengaja melakukannya untuk membalas sakit hatinya karena perbuatan Luna yang bahagia bersama Tito.
"Setelah cuci baju, masih adalagi kerjaan buat kamu, bersihkan kamarku."
"Tapi Pak Rian, bukankah ada banyak asisten di rumah ini," tanya Aluna yang merasakan tubuhnya kurang enak badan.
Tatapan tajam Adrian menunjukkan kalau dia tak mau dibantah, lelaki itu membalikkan tubuhnya tanpa menjawab sepatah kata pun.
Aluna membawa baju Adrian ke tempat cuci. Jas dan kemeja mahal itu tidak dicuci dengan mesin, Aluna terpaksa mencucinya dengan tangan, Aluna sempat melihat banyak lipstik merah menempel di hem putih Adrian. Aluna sudah tahu lipstik siapa itu.
'Aku tidak boleh melibatkan sedikitpun cinta dalam hubungan ini, aku harus kembali ingat siapa diriku. Pak Adrian sudah memiliki kekasih,' batin Aluna menghibur dirinya. Tangannya yang halus mengucek pelan baju yang masih bersih itu. Bahkan aroma wanginya masih melekat.
Aluna mencuci dan menjemurnya dengan hati-hati. Lalu pergi ke kamar Adrian seperti perintahnya.
Tok! Tok!
"Masuk!" Jawaban dari dalam singkat dan padat.
"Ngapain kamu kesini?" Melotot kesal, karena melihat yang datang bukan Imah, yang dia mintai buah potong beberapa menit lalu.
"Tadi Anda yang minta. Katanya suruh datang kemari beresin kamar."
'Ternyata selain menyebalkan Pak Adrian juga pikun, kasian Angeline dapat calon suami pelupa.'
"Oh, iya, iya, masuklah!"
"Awas nggak hati-hati kalau beresin! Soalnya semua benda yang ada di kamar ini semua mahal."
"Iya, saya pasti tahu, Pak,"ucap Aluna yang kesal dengan kebawelan Adrian.
"Nggak usah panggil Pak, aku bukan bapak kamu ketus Adrian lagi.
"Baiklah Tuan Muda Adrian."
Adrian juga tak senang dengan panggilan Luna yang baru. Dia juga bingung nyaman dipanggil apa. Om, Mas, Abang, Kakak. Tak satu panggilan pun yang cocok untuk dirinya.
Adrian bersandar di pinggir ranjang sambil memangku laptopnya, Aluna mulai mengelap setiap kaca dan barang barang kesukaan suaminya melakukan dengan hati-hati. Luna juga menata lemari Adrian yang berisi baju baju kerja dan baju olahraga.
__ADS_1
"Luna, kamu sudah punya pacar?" Tanya Adrian terlebih dahulu. Sepertinya lelaki membeku, dan sedingin Es di kutub utara berlahan bisa mencair.
Aluna sempat tak percaya. Mungkin itu kalimat terindah dari lelaki arogant yang pernah masuk di kupingnya.
"Pacar!" Saya belum pernah pacaran Pak. Apa untungnya pacaran."
"Jelas untung, kamu bisa tau karakter lelaki yang akan menjadi suami kamu."
"Bapak tak pernah ngebolehin Luna pacaran, pulang sekolah diantar teman laki laki saja bapak sudah marah," jawab Luna jujur sambil ke tangannya terus bekerja.
Adrian terdiam, tak percaya mendengar ada gadis seusianya tak pernah pacaran, tapi setelah melihat tampilan Aluna yang tak menyelerakan mungkin itu alasan utamanya.
Aluna naik di sebuah kursi, dia ingin membersihkan bagian atas lemari, kelihatannya ada sedikit debu, mungkin karena sulit di jangkau hingga pelayan sulit membersihkan.
Adrian tetap fokus dengan pekerjaan yang ada di layar laptopnya. Banyak kabar dari Tito yang membuat dia tersenyum. Kurva permintaan dan penjualan naik drastis tak perlu merangkak pelan seperti dulu lagi.
Foto Angel dan sampel bahan sudah sampai di Paris. Alex suka dengan desain dan bahannya. Sang papa yang menguasai pasar dagang lebih luas segera memesan gaun malam yang serupa dengan jumlah puluhan ribu.
Perusahaan Adrian siap-siap untuk segera mengekspor produk yang diinginkan papa dan tentunya dia akan semakin sering tinggal di kantor daripada di rumah.
"Aaaaa!" Aluna memekik ketika kursi yang dia naiki oleng, saat terjatuh Aluna memejamkan mata karena takut dengan ketinggian.
Saat jatuh pasti tubuhnya sakit tapi kali ini Aluna tak merasakan sakit, Aluna tiba-tiba merasakan lantai granit sangat empuk dan hangat. Netra Aluna terpejam lumayan lama.
Aluna segera membuka matanya yang meringkuk di dekapan lelaki bertubuh harum, aroma wanginya begitu khas wangi seorang lelaki maskulin.
Adrian sempat menyentuh gundukan yang begitu kenyal. Tak bisa dipungkiri darahnya berdesir, ukuran yang standar dan kencang, sangat berbeda dengan wanita yang pernah menjadi mainannya.
Aluna membuka kelopak mata perlahan, takut dia sudah di alam yang berbeda. Memori buruk kembali teringat, waktu kecil dia pingsan karena jatuh dari sepeda. Bukan karena sakit, tapi dia memiliki phobia berlebihan dengan ketinggian dan suara petir.
"Hah, kenapa anda memeluk saya, jangan cari kesempatan dalam kesempitan." Aluna segera bangkit dari pelukan lelaki yang membuat jantungnya nyaris melompat, wajahnya bersemu merah.
"Cari kesempatan kamu bilang?" Adrian belum sempat menyelesaikan kata katanya Aluna sudah memotongnya.
"Maafkan saya Tuan, saya harus pergi." Aluna meninggalkan kamar Adrian. Dia sungguh malu dengan kejadian yang baru dialami.
Adrian tau Aluna salah tingkah, makanya wanita itu pergi dengan cepat dari kamarnya. "Dasar gadis aneh,"umpat Adrian.
"Luna, kenapa sih kamu nggak hati hati, jadinya jatuh kan." Aluna menyandarkan tubuhnya di depan pintu kamar yang masih terkunci, kepalanya bersandar dengan mata terpejam.
Ketika dia mendengar derap langkah Adrian Aluna segera menyembunyikan diri di kamar. kejadian tadi membuatnya malu untuk menghadapi siapapun. Apalagi ketemu Adrian.
Aluna melepas kacamatanya dan memulai tidur, harapannya semoga mimpi indah. Serta esok sudah bisa kembali bekerja.
__ADS_1
****
Keesokan harinya Angel sudah tiba di rumah Adrian. Angel mengantarkan hadiah ulang tahun untuk Selena sambil sekalian menjemput Adrian biar ke kantornya bisa bareng.
"Tante selamat ulang tahun." Angel segera menghampiri keluarga yang sedang sarapan. Aluna yang baru ingin bergabung segera memundurkan tubuhnya dan bersembunyi di balik pintu.
"Makasih sayang, ini baru calon mantu Mama." Selena langsung menciumnya dan menerima kado dari tangan Angel.
"Kak Angel, apa kabar?" Chela langsung bahagia dan menggeser kursinya, memberi ruang lebih leluasa pada Angel.
Angeline memilih duduk di dekat Adrian dan menyapa kekasihnya yang sedang sibuk makan.
"Sayang, aku datang masa di cuekin sih. Kamu jahat Rian."
"Sorry, aku lagi makan nie." Adrian menelan makanan di mulutnya lalu mencium pipi Angel kanan dan kiri.
"Kak Angel sarapan sekalian ya." Chela menawari.
"Boleh!" Angel menatap menu di depannya satu persatu. Kebetulan dia juga belum sarapan.
"Kapan kalian tunangan Kak, Chela sudah nggak sabar pengen Kakak ipar cantik seperti Kak Angel. Bukan si buluk …."
"Buluk, siapa?" Angel hampir tersedak, dia langsung menghentikan makannya. Dan meneguk air putih milik Adrian.
Aluna mendengar semua obrolan mereka di meja makan, merasakan hatinya sangat perih. Aluna memejamkan mata hingga beberapa bulir kristal lolos begitu saja.
Aluna hendak pergi, tanpa sengaja tangannya menyenggol guci.
Pyarrrr!
"Aluna apa yang kamu lakukan?!" Pekik Selena. Firasatnya yang pecah itu guci antik miliknya yang dibeli jauh- jauh dari Suriname.
"OG … apa yang telah dia lakukan!!" Angel terkejut melihat Aluna memecahkan barang kesayangan calon mertuanya.
"OG!" Selena terkejut mendengar ucapan Angel.
"Iya, dia OG Tante, OG yang selalu bikin mood Angel hancur saat di kantor."
Aluna menunduk takut, Chela dan Selena terlihat geram. Dia merasa dibohongi.
Sedangkan Adrian sendiri tak mengerti kenapa waktu itu dia perlu berbohong. Toh tak ada untungnya bagi siapapun. Aluna tetap di maki dan dihina.
__ADS_1