
Dion memeluk Aluna makin kuat, menahan tubuh mungil yang sedang ada di depannya agar tak roboh, Aluna pasti akan kehilangan keseimbangan ketika tubuhnya sedang diliputi gairah.
"Kau cengeng, tidak menemukan petunjuk berikutnya, tapi langsung menangis. Padahal ada kejutan lain menantimu."
"Aku memang cengeng, aku penakut tapi aku tetap mencintaimu," jawab Aluna yang mulai ngaco. Dipeluk dari belakang seperti ini dia sudah kehilangan konsentrasi. Perutnya kembali beternak kupu-kupu. Geli, nikmat, semuanya bercampur menjadi satu.
Dion membuka pengait kaca mata kuda tanpa tali itu, otomatis setelah pengaitnya lepas benda itu bisa ditarik dengan mudah.
Kini satu perisai Aluna hilang, hanya gaun putih tipis itu yang melindungi tubuh atasnya. Dion menelusupkan tangannya dibalik gaun belahan rendahan itu. Dion bisa leluasa mer*mas tanpa ada penghalang.
Aluna mel*nguh. Dunianya terasa berputar, lututnya tiba-tiba lemas. Sepertinya Dion serius ingin dia cepat hamil, buktinya setiap hari dia selalu kerja keras setiap ada waktu, dan menyiapkan tempat yang nyaman untuk mereka memadu kasih.
Aluna merasakan satu tangan Dion kembali merayap di pinggang, menyibak gaun lebar dan segera merobek kain segitiga berenda itu.
'apa apa'an ini, kenapa dia menghilangkan semua pelindung dsn hanya membiarkan aku memakai gaun saja.' pikir Aluna.
Karena malu Aluna membalikkan tubuh membelakangi jendela, tapi Dion malah mendorongnya hingga menempel di jendela kaca yang terkunci.
"Aku kira tadi pergi tanpa pamit," rajuk Aluna.
"Lewat mana? Kan pintunya cuma satu," kata Dion.
"Siapa tahu ada pintu lain." Aluna malu.
"Tidak ada, tinggal pintu hati, yang sekarang pun sudah terkunci." Dion mengeratkan pelukannya.
"Honey, aku selalu mendukungmu jika itu baik, tapi berhubungan dengan mantan, aku sakit, kamu tau nggak, tanpamu hidupku seperti sambal tanpa pake cabe, nggak ada nikmat nikmatnya."
"Dapat pepatah dari mana, garing banget. Aluna mendongak.
"Biarin saja garing, yang penting bisa merangkai sendiri," kata Dion lalu menyesap bibir istrinya. Bagi Dion bibir Aluna sangat manis melebihi madu.
Melihat Aluna sudah tak memakai dalaman lagi otak Dion makin liar.Dia gemas dengan bukit-bukit menonjol dengan buah berry merah di puncaknya.
Tinggal menurunkan sedikit saja kain yang ada di pundaknya, maka Dion sudah bisa melihat seluruh tubuh depan Aluna. Dion mulai menambah jumlah angka merah merah di dada Aluna.
"Dasar, penghisap darah." Aluna mendorong tubuh Dion ketika dia merasa Dion berlebihan.
Dion justru tersenyum dan mengangkat tubuh Aluna ke ranjang. Mengungkung tubuh mungil yang hanya tertutup kain tipis itu.
Dion gemas, dia mengecup puncak menjulang tertinggi dari luar baju.
Aluna menggeliat karena geli. Dion semakin gemas.
"Aku mau buat kamu hamil sekarang." Ancam Dion. Sambil melepas jas dan kemejanya. Lalu melepas celana panjang.
__ADS_1
Aluna menggigit bibir bawahnya. Meski sudah sering melakukan penyatuan, tapi Aluna kerap merinding membayangkan kenakalan Tiger.
Dion sudah tak sabar melakukannya lagi dan lagi, setelah melakukan pemanasan Dion segera membuka paha Aluna lebar, dan mengarahkan Tiger yang sudah mengamuk menuju sarangnya.
Merasakan miliknya begitu penuh Aluna mel*nguh, tubuhnya terayun ayun seakan menyemangati Dion.
Ponsel Dion terus berbunyi karena sekretaris mau melaporkan berkas kerjanya pagi ini, sama sekali tidak di gubris. Panggilan beruntung dari Mama dan nenek juga diabaikan.
"A-da-te-le-pon." Suara Aluna tersengal karena tubuhnya terayun ayun."
"Biarlah dulu." Kata Dion terus memompa tubuh mungil Aluna dan mengecup bibirnya.
"Jangan durhaka, nanti dikutuk jadi batu, mau?"
"Jangan, nanti kalau malam kamu kedinginan. Tak ada teman tidur," kata Dion dengan nafas mulai tersengal. Keringat berlomba keluar melumasi seluruh tubuhnya.
"Tiger selalu mengamuk jika lihat tubuh indah ini."
"Tiger dan Papa Tiger sama-sama mesum," kata Aluna mulai merasakan kupu kupu di perutnya semakin banyak.
Ketika ingin menuju puncak, Dion segera menukar posisi, kini tubuh Aluna yang memimpin permainan.
Aluna yang baru pertama berada di atas, mulai menggoyangkan pinggul pelan. Benda tumpul itu semakin menancap lebih dalam.
"Akhhh," Aluna merasa ngilu. Setelah diam sebentar, rasa yang tadi mendominasi penghilang. Aluna mulai memutar pinggul pelan. Meski masih amatir, tapi Dion sangat puas.
Aluna lelah diatas, dia meminta turun tapi Dion menahan pinggulnya. "Keluarkan sekarang, di atas akan lebih nikmat."
Aluna menurut, dia akhirnya bergerak sedikit lebih agresif, Dion terus mere*mas bukit yang naik turun. Merasakan semuanya begitu dahsyat, Aluna mengeluarkan semua kupu-kupu yang sejak tadi berputar putar di perutnya.
Aluna ambruk setelah kupu- kupu terbebas dari penjara.
"Pintar, kau cepat sekali belajar." Kata Dion mengusap peluh Aluna. Dan memeluknya erat. Dion belum keluar dia masih menyimpan energinya untuk nanti lagi.
Dion membiarkan tubuh Aluna diatas tubuhnya hingga lelah itu pergi dan berganti dengan kantuk.
Setelah tidur dua jam, Aluna bangun. Dia melihat penampilannya yang mengenaskan. Kain penutup tubuh dan wajahnya sama-sama berantakan.
Dion tersenyum berhasil membuat istrinya kelelahan.
Dion merengkuh tubuh Aluna dalam dekapan. "Ternyata menikah itu seindah ini, tahu begitu sudah sejak dulu aku mencari keberadaanmu."
"Tak semua pernikahan itu seindah ini." jawab Aluna. "Bagaimana jika wanita yang anda nikahi tapi tidak anda cintai."
"Entahlah, tapi yang jelas, yang aku nikahi sekarang wanita yang aku sayang." Dion mempererat pelukannya dan mengecup pipi Aluna bertubi.
__ADS_1
"Lepaskan aku mau mandi." Aluna merasa tubuhnya lengket, karena percampuran keringatnya dan keringat Dion.
Aku juga mau mandi, Dion ikut beranjak. Tapi Aluna mundur. "Anda saja dulu." Kata Aluna mengalah.
"Bareng."
"Tidak mau, kalau mandi bareng aku bisa pingsan."
Dion dan Aluna terkekeh. Mereka membayangkan pasti akan ada pergulatan lagi kalau sampai mandi bareng.
"Baiklah, kamu mandi dulu, aku akan menunggu sambil memeriksa laporan pekerjaan hari ini." Dion mengalah, dia memakai celana pendek saja sambil memangku laptop.
Aluna terseok, kakinya terasa pegal dan tubuhnya terasa ingin pingsan. Tenaga yang dimiliki berbanding sangat jauh dengan Dion yang rajin olahraga.
Setengah jam Aluna selesai mandi, tubuhnya sekarang kembali segar bugar. Dion menggoda Aluna dengan tatapan menggoda.
Aluna menghindari tatapan Dion, dia mengalihkan pandangannya pada buku di rak yang berantakan.
"Sayang, kapan kita pulang." Tanya Aluna sambil merapikan buku.
"Kita menginap disini saja dulu, tadinya aku sudah menyusun banyak rencana tapi terpaksa batal, ketika dokter sudah mengatakan kalau kamu sudah sembuh aku ingin kita akan pergi honeymoon. Tapi aku yakin kamu tak akan setuju."
Aluna diam, tekatnya masih bulat, dia ingin membantu Adrian menemukan ingatannya.
"Sayang kemarilah." Dion mengulurkan tangannya.
"Ada apa? Aku takut Tiger mengamuk lagi."
"Aku sedang bekerja, aku butuh ciuman penyemangat. "Dion mengulurkan tangannya.
Aluna mendekat, dia mencium bibir suaminya yang beraroma mint. Dion sekarang sudah jarang sekali merokok. Aluna malas dicium kalau bibirnya beraroma rokok.
"Bibir ini manis sekali, aku sudah kecanduan." kata Dion setelah mendapatkan kecupan dari Aluna.
"Itu pasti cuma alasan saja." Aluna duduk di sebelah Dion ikut mengamati cara kerja CEO.
"Benar, aku tidak pernah bohong." Kata Dion lagi.
"Bagaimana, jika kita berjauhan," tanya Aluna.
"Aku akan mendatangimu dan meminta ciumanku," kata Dion sambil fokus pada layar laptopnya.
"Bagaimana jika aku tak di dunia ini lagi?"
Dion langsung menoleh, memeluk Aluna dan mengecup keningnya. "Maka aku akan tetap ikut bersamamu dan meminta ciumanku," kata Dion lirih dan sedih. "Please, jangan katakan itu sayang, kau tahu aku sangat menyayangimu, aku ingin kita akan tetap bersatu sampai kakek dan nenek," kata Dion lagi.
__ADS_1