
Luna menangis di dalam mobil saat Dion masih menelpon Beni, menanyakan perihal surprize.
Dion senang Beni sudah selesai menata barang belanjaannya di rumah minimalis Aluna.
Dion segera mendekati Aluna yang terisak. "Hei, kenapa menangis? Apa kamu merindukan lelaki yang menjadi suamimu itu?"
Dion yang duduk di kemudi kini memposisikan diri menghadap Aluna.
"Tidak, buat apa saya harus merindukan yang tak pernah mencintai dan menghargai pengorbanan saya. Bahkan dia berjanji akan menceraikan saya dalam waktu enam bulan." Aluna berbicara sambil terisak.
"Bagus donk, artinya dalam enam bulan kamu bukan lagi istrinya, aku jadi tak sabar enam bulan itu berlalu." Dion seperti mendapat sebuah solusi dari jalan buntu yang dia hadapi. artinya secara tidak langsung Adrian hanya menjadi suami Aluna selama enam bulan. Dan itu tidak ada bedanya dengan sebuah pernikahan kontrak.
"Kamu yakin Adrian pernah bicara seperti itu?" Tanya Dion sekali lagi.
"Iya, dia sangat membenci pernikahan ini. enam bulan bersamaku baginya sangat lama. Tapi lagi-lagi demi kepentingannya dia bertahan menjadikan aku istri rahasia."
Dion menangkupkan kedua tangannya di dagu Aluna. Otomatis wajah Aluna sedikit mendongak "Luna, dengarkan aku, mulai sekarang lupakan masa lalu dengan lelaki serakah itu. Mulailah hidupmu dengan pekerjaan baru dan orang yang baru, aku akan selalu ada setiap kali kau membutuhkan, bersandar lah di pundakku saat kau butuh, aku akan ada untuk menenangkan hatimu."
"Pak Dion, Terima kasih untuk semuanya." Aluna hanya bisa berterimakasih, jujur untuk masalah hati Aluna masih belum tau siapa lelaki yang dia cintai.
"Yah, jangan dipikirkan apa yang kulakukan untukmu, pikirkan saja masa depanmu, dan tunjukkan pada dunia bahwa kau adalah wanita hebat."
Aluna mengangguk, memaksakan senyumnya. Dion menurunkan tangannya dari dagu Aluna ke pundak. Aluna merasa tak sendiri lagi setiap kali Dion ada di dekatnya.
"Luna jangan lupa besok." Dion mengingatkan.
"Datang ke kantor? Emang harus besok," canda Aluna.
"Nggak harus, calon istri CEO bisa datang sesukanya." Dion balas menggoda sambil tersenyum lalu memutar badan membenarkan duduknya, kini lelaki itu menghadap kemudi.
"Serius Pak Dion?" Aluna mencondongkan kepalanya ingin melihat wajah cemberut Dion.
"Iya serius, Aku tak pernah bohong." Dion memaksa senyumnya selebar mungkin lalu menoleh ke arah Aluna, wajah Dion kini terlihat menggemaskan.
Mereka berdua lalu meninggalkan parkiran mall setelah barang barang Dion sudah diantar ke mobil oleh lelaki yang menawarkan jasa mengantar barang.
__ADS_1
**
Aluna sudah sampai di kontrakan, dia bergegas turun dari mobil dan Bibi menyongsong kedatangan nya.
"Nona anda pasti akan terkejut jika masuk ke dalam, banyak surprize menanti anda." Bibi tak sabar membagi kabar bahagia pada Aluna.
Aluna menoleh pada Dion, sedangkan laki laki itu sibuk bermain dengan ponselnya. Aluna kembali menatap Bibi yang senyum-senyum, Aluna jadi makin bongung. "Ada apa bibi?"
Aluna segera masuk dengan buru-buru bersama Bibi, melihat Aluna masuk rumah Dion menunjukkan jari jempolnya pada Beni, puas dengan hasil kerja keras Beni.
"Selamat sore Nona, selamat ulang tahun." Mohon terima hadiah kecil dari Tuan CEO." Boneka bear lucu dan besar bisa berbicara didepan Aluna.
"Apa? Ulang tahun, kenapa aku lupa ini ulang tahunku. Pak Dion anda tahu dari mana ini ulang tahunku?"
"Selamat ulang tahun Nona, senang kenal dengan anda, semoga persahabatan diantara kita akan terjalin dengan baik." Ben mengulurkan tangan di depan Aluna.
Aluna tersenyum melihat Ben yang sekarang berubah ramah. Benar kata orang, sedikit merawat diri, tampil elegan, orang akan menghargai kita, dan tidak kesulitan untuk menemukan cinta sejati.
"Selamat ulang tahun semoga kita berjodoh dan cepat menikah, ini doaku, dan semoga tuhan mengabulkan." Aluna menatap Dion. Melihat sebuah ketulusan dimata lelaki itu. Hati Aluna kembali meleleh.
Dion mendekat, mengecup kening Aluna, mata Aluna terpejam merasakan hangat bibir Dion. Hatinya Aluna ikut menghangat berada diantara orang baru dan baik. "Rahasia, aku bisa tahu apapun karena bantuan dia." Jari Dion menunjuk Ben.
Kini Dion menurunkan bibirnya, memimpikan ingin mengecup bibir merah Aluna, reflek gadis itu menjauhkan wajahnya. Dion tahu Aluna sangat menjaga setiap titik sensitifnya agar tak tersentuh lelaki yang belum tentu mencintainya dengan tulus.
" Sudahlah itu tak penting, sepertinya aku juga ingin makan kue." Dion menjauh dari Aluna,
Aluna menoleh mencari kue yang dimaksud Dion. Benar, Bibi membawa kue brownies coklat yang dihias sedemikian unik dan nampak menjadi cantik. Ini pertama kalinya Aluna ulang tahun dengan kue besar dan mewah. Tahun Lalu dia hanya makan di sebuah kedai dengan sang bapak. Aluna jarang mau merayakan karena hanya akan membuat dirinya merindukan sosok ibu ada disisinya. Pada tahun ini makin lengkap sudah kerinduannya pada ayah dan itu.
Mereka semua akhirnya menyanyikan selamat ulang tahun sebentar dan Aluna segera meniup lilinnya.
"Ayo potong sekarang Nona! Pinta bibi tak sabar.
"Tunggu, Aluna kau harus berdoa dulu." Dion merangkul pundak Luna, tangan satunya menggenggam jemarinya. Mereka berdua memejamkan mata.
Dion berdoa semoga bisa meluluhkan hati Luna dan mampu memiliki cinta wanita cantik di depannya untuk selamanya.
__ADS_1
Sedangkan Aluna ingin segera bertemu kembali dengan Adrian untuk menuntut balas dan membuat lelaki itu menyesal di setiap tarikan nafasnya telah mencurangi dirinya selama ini.
"Apa yang kau inginkan? Tanya Dion setelah membuka mata.
"Apa yang kuinginkan semuanya untuk kebaikan dimasa depan. Aku ingin sebuah keadilan." Jawab Luna jujur.
"Aku akan selalu mendukungmu, aku akan menjadi perisai yang bisa kamu andalkan."
Aluna menyuapi Dion dengan potongan kue pertama, sisanya diambil Dion dan disuapkan pada Luna.
Tepuk tangan membahana di dalam ruang tamu kecil itu, Aluna tersenyum malu-malu, dia segera memeluk boneka beruang besar yang lucu. Lalu duduk di sofa baru.
"AC, lemari, TV jumbo, dan aneka perabot apalagi ini?" Aluna menelisik setiap sudut yang semuanya sudah berubah. Rumah kecil Aluna mendadak menjadi istana minimalis yang dipenuhi dengan perabot mahal, di depan juga ada ayunan yang bisa dipakai untuk tiduran sambil menghilangkan penat.
Belum lagi belanjaan di mall tadi semuanya untuk Aluna. Ben membawanya masuk dibantu oleh Adam sang Security.
Tiba tiba tatapan Aluna pada Dion berubah menjadi tatapan tajam. Dion bingung dengan ekspresi Aluna yang tiba-tiba berubah.
"Kenapa selalu seperti ini? Kenapa anda memberi saya dengan banyak barang mewah? Berjanjilah padaku ini yang terakhir kali Pak Dion."
"Untuk calon istri, aku tentu melakukannya dengan senang hati." Dion menjawab dengan selengean.
"Pak Dion !" Aluna melotot bola matanya menjadi lebar dua kali dari biasanya, lelaki itu sering sekali menyebut istri.
"Iya ini yang terakhir kali, setelah jadi sekretarisku aku yakin kamu sudah bisa memenuhi semua yang kau butuhkan sendiri." Dion tersenyum lalu mengacak rambut Aluna. Aluna mengerucutkan bibirnya masih terlihat jengkel.
Tak lama Dion pamit pulang. Dia ingin Aluna istirahat setelah seharian jalan-jalan, gadisnya terlihat amat lelah, Dion juga meninggalkan tumpukan pekerjaan di meja kerja dan pergi begitu saja menemani Aluna seharian.
****
Pagi telah tiba, Lelaki tampan hanya memakai you can see dan celana pendek di bawah selimut tebal terbangun sebelum mama membangunkan. Dua pelayan sibuk menyiapkan segala kebutuhan mandi dan kebutuhan kerja, setelah selesai pelayan memberi hormat dengan sedikit membungkuk lalu pergi setelah mengucapkan selamat pagi.
"Aluna akan menjadi sekretarisku, mulai pagi ini aku akan ditemani Aluna, hariku akan sangat menyenangkan." Lelaki pemilik dada bidang dan kotak kotak di perut depannya itu begitu bersemangat hingga dia berbicara sendiri, dia segera turun dari ranjang big size, bergerak cepat menuju kamar mandi sebelum alarm mandi berbunyi. Terus saja bersiul sebagai tanda hatinya tengah berbunga-bunga.
*Happy reading.
__ADS_1
* Jangan lupa emak kasih Vote, hadiah dan Like, biar jadi tambah semangat ngetiknya.