Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 148. Aluna dan Nabila


__ADS_3

"Dia kehilangan separuh ingatan." Kata Jayden pelan. 


"Maksud Dokter." Dion sudah mengerti tapi masih tak paham, kenapa hal serius harus dibicarakan dengan orang yang bukan keluarganya. 


Dokter Jayden bisa tahu kebingungan Dion, tetapi dia disini hanya ingin menyampaikan permohonan keluarga Adrian. Rasanya keluarga itu tak punya keberanian sendiri untuk membicarakannya dengan Aluna. Apalagi Aluna sekarang sudah menjadi istri Dion, dia tak pernah punya hak sedikitpun pada wanita itu.


"Begini Pak Dion, Pak Adrian kehilangan ingatannya beberapa bulan terakhir ini, dia hanya mengingat masa lalu, saat masih bersama istri anda. Dan menurut keterangan keluarga, kalau Nona Aluna ini yang bisa membantu."


"Istriku!! Tidak bisa, aku tidak akan mengizinkan wanitaku untuk kembali bersama mantannya. Kamu kira hatiku ini sudah mati rasa apa." Dion yang tadinya berdiri di belakang istrinya yang duduk di depan Dokter Jayden terlihat emosi. Beberapa kali menggelengkan kepala tak percaya. 


Sedangkan Aluna hanya Diam, bingung dengan apa yang harus dilakukan. 


"Tapi pak, ini demi kesembuhan Pak Adrian, bukankah membantu yang sangat membutuhkan, berbuat baik akan mendapatkan balasan yang baik juga."


"Aku tahu! Aku tak keberatan jika itu materi yang diminta, tapi ini istriku, Harus berpura-pura menjadi istrinya. Bayangkan saja, dia harus menemani makan, belum lagi saat malam hari, bagaimana aku bisa membiarkan itu semua. Mungkin anda pikir ini wajar saja, tapi maaf aku tidak bisa, aku tidak akan membiarkan istriku bersama laki-laki lain apalagi ini mantan suami."


Dokter Jayden mengerti Dion sangat mencintai istri cantiknya, Aluna.


Sebagai lelaki yang baru kenal saja, Jayden juga kagum dengan wanita pemilik kulit halus namun alami itu. Sayang sekali Jayden mengenalkan Aluna disaat dia sudah menikah. 


"Baiklah, akan aku sampaikan keberatan Pak Dion. Aku berusaha untuk mengerti posisi anda. Tapi tolong pikirkan sekali lagi ini demi rasa kemanusiaan."


"Jika itu yang anda minta , Maaf." Dion menangkupkan tangannya lalu keluar dengan wajah memerah, sedangkan Aluna berada dalam dilema, disatu sisi ingin membantu Adrian, disisi lain dia tak mau membuat lelaki yang dicintainya itu merasakan cemburu, cukup dia saja yang merasakan rasa sakit itu. 


Dion menhajak Aluna keluar dari ruang Dokter Jayden. Ekspresi wajahnya terlihat sekali sedang marah, Selena bisa menyimpulkan kalau Dion pasti keberatan. 


"Dion! Dion!" Selena memanggil Dion. Ingin sekali Dion menutup rapat telinga sehingga dia tak mendengar teriakan dari Selena.


"Kakak, tolong bantu Kak Rian, Kakak Dion pasti bisa mengijinkan Aluna ada di dekatnya. Kak Rian sedang sakit, dia butuh Aluna. 


Dion yang sedang menggandeng lengan Aluna, membalikkan tubuh. "Saat Aluna ada di dekat kalian, coba ingat apa yang kalian lakukan!"


"Tapi kami sudah minta maaf, kami menyesal Kak," ucap chek


"Sayang …." Aluna menatap diam seolah dia ingin berpendapat.


"Honey, dia dulu sudah jahat padamu, dia sudah menganggap pembantu di rumahnya, dan OG di kantor. Padahal waktu itu mereka satu-satunya keluarga yang kau miliki, dia juga tak kasihan padamu." kata Dion mengingatkan kejahatan Selena. 


"Sayang, kalau kita membalas semua perbuatan buruk orang yang menyakiti kita dengan buruk juga, lalu apa bedanya kita dan mereka."

__ADS_1


Dion menatap istrinya, Dion tahu Aluna ingin membantu, hati Aluna pasti akan tersentuh. Dion lupa sadar kalau istrinya terlalu baik. 


Dion berhenti menatap Aluna, dia ingin segera pergi dari sini, tapi Aluna menahan lengan suaminya. 


"Berarti Pak Dion tak pernah percaya dengan cintaku pada anda, sehingga anda bisa berpikir kalau aku akan berpaling. Amnesia ini tidak akan lama, pelan pelan kita akan beritahu kebenarannya."


"Dion, Luna saja setuju membantu Adrian, seharusnya kamu mendukung niat baiknya," mohon Selena. 


"Baiklah, tapi ada syaratnya, yang akan tinggal dirumah kalian  bukan hanya Aluna saja, tapi aku juga akan tinggal disana bersama Aluna, entah bagaimana kalian memberi penjelasan pada Adrian, apa alasan aku ada disana."


"Baiklah." Selena setuju dan senang. 


"Chela memeluk Aluna." Terimakasih Kak Luna, maafkan aku yang terlambat menyadari semuanya.


Chela, sudahlah, lagian kamu tahu sendiri, aku sekarang sudah sangat bahagia dengan rumah tanggaku yang baru.


"Andai saja waktu bisa diputar, dan Kak Luna nggak buru buru menikah, aku akan menyatukan Kak Rian lagi, dan aku orang yang sangat menyayangi setelah Kak Rian."


"Tidak semua orang diberi kesempatan kedua Chela. Hidup saja juga cuma satu kali," cibir Dion yang mendengarkan di sebelah Aluna.


"Kak Dion benar," kata Chela. Meralat ucapannya. "Mungkin Kak Dion memang jodoh Kak Luna."


"Sayang, tadi mau ke kantor kan?" Luna mengingatkan.


"Kalau begitu aku disini sama Chela dan Mama Selena, nanti Kalau Adrian bangun tidur, dia bisa bertemu dengan aku langsung."


"Iya, kalau begitu aku berangkat dulu, jaga kepercayaan yang aku beri sayang. Aku tahu kamu wanita yang setia."


"Jangan takut, aku akan menjaga janji suci yang telah kita ucapkan di hadapan penghulu." kata Aluna menjatuhkan kepalanya di dada bidang Dion. Dion mengecup rambut Aluna yang wangi.  lalu mendongakkan wajah sang istri dan mengecup kedua pipinya.


Dion pamit untuk ke kantor, pulang kerja nanti akan menjemput istrinya, tapi jika Adrian sudah sadar, Dion akan ikut menunggu di RS ini. 


Dion melambaikan tangan sebelum mobilnya meluncur ke jalanan. Dion menjadikan ini ujian untuk kesabaran cintanya. 


Sampai di kantor Dion langsung masuk ke mobil kantor dan meeting ke beberapa tempat untuk menjalin kerja sama, menjadi investor di perusahaan lain. 


Aluna diminta Dokter Jayden untuk masuk ruang rawat Adrian, Lelaki itu sudah dipindahkan jam delapan tadi dari UGD. 


Adrian masih tidur karena obat penenang yang  diminum. Kata dokter sebentar lagi akan siuman.  

__ADS_1


Selena, Alek dan Chela mengintip dari kaca. Karena di dalam hanya boleh ada satu perawat dan satu pengunjung. Keluarga nampak sedih. 


Aluna mengamati wajah Adrian yang tetap tampan meski sedang sakit sekalipun. Adrian ingin menggenggam tangan Adrian supaya dia tahu kalau sedang tak sendiri. 


"Pak Adrian, maafkan aku jika aku ada salah, jika hati ini begitu cepat berpaling darimu. Aku juga manusia biasa yang punya kelemahan, cinta pak Dion begitu tulus, dan dia satu satunya orang yang bisa jadi sandaran saat aku rapuh."


Nabila yang sejak tadi berada di salah satu sudut. Mendengar ucapan Aluna rasanya ingin sekali tahu lebih jauh tentang hubungan mereka, tapi rasa penasaran itu segera dia tepis karena bukan urusannya. 


Lama hanya diam karena tak saling kenal, ditambah lagi Aluna sedang kalut, Nabila berinisiatif menyapa lebih dahulu.


"Hai, kenalkan aku Nabila, adik Dokter Jay, kau pasti mengenal kakakku itu kan?" Nabila berbasa basi. 


"Wah, ternyata Dokter Jay memiliki adik yang sangat cantik," puji Aluna. Sambil mengusap air matanya. Kesedihan yang tadi dia susun seperti puzzle kini menguap begitu saja. 


"Siapa Dia?" Tanya Nabila.


"Mantan," jawab Aluna.


"Mantan kekasih?" tebak Nabila lagi. 


"Bukan, tapi suami. Karena perjodohan."


"Ouh, kamu masih sayang sama dia."


Aluna menggeleng. "Sudah tak boleh, aku sudah menikah lagi."


"Kasihan Dia, dia sangat mencintaimu." kata Nabila. Sambil menatap Adrian yang masih pulas. 


"Ngomong-ngomong ambil jurusan dokter juga." Tanya Aluna mengalihkan pembicaraan. 


"Iya, Mama yang minta, tadinya aku ingin jadi model, tapi Mama tak setuju. Katanya lebih baik bantu Kakak di rumah sakit. Tapi Mama nggak salah. Mungkin ini profesi yang menurutnya paling baik," curhat Nabila pada Aluna. 


"Kalau boleh tahu sekarang apa pekerjaanmu?" Tanya Nabila balik.


"Aku? Apa ya, aku kerjanya santai, kata suamiku sekretaris, tapi sebenarnya dia sudah ada sekretaris lama, kayaknya suamiku memang sengaja memberi aku pekerjaan dengan nama sekretaris, biar aku dekat dia terus." 


"Wah suami kamu pasti romantis banget, apa karena itu alasan meninggalkan Adrian."


"Tidak juga, kita berpisah memang tak lagi satu jalan saja. Aku tak pernah selingkuh dari dia. Tadinya aku bersabar menunggu dia mencintaiku, tapi rasanya mustahil. Dan aku sadar ada yang lebih mencintaiku, ternyata dicintai itu sangat indah."

__ADS_1


"Dia mencintaimu Luna, buktinya dia ingat namamu saat amnesia."


Aluna tersenyum, menepuk lutut Nabilla. "Kalau begitu mang tidak jodoh," 


__ADS_2