
Jessica sekarang tinggal di ruang VVip sendirian, Mama Melani dan Papa Davit sudah dalam perjalanan ke RS, sedangkan Dion dan Luna menghabiskan hari bahagianya di rumah bersama buah hati.
Selain menjaga kedua anaknya, Dion juga menyiapkan semua yang dibutuhkan Luna, meski sudah ada Susi tapi Dion tetap saja tak mau kehilangan peran sebagai suami idaman.
Dion kini membelai rambut wanita yang sudah memberinya dua bayi itu, menciumi aroma rambutnya yang wangi di sebuah ranjang besar dimana belum sekalipun digunakan untuk memadu kasih.
"Honey, ranjang baru kita pasti sudah menunggu kita melakukan malam pertama.
"Sayang, jauh jauh sana, aku takut jika terus dekat denganku, belalai itu akan mengamuk." Luna melirik celana Dion, didalamnya sudah terdapat pentungan satpam. Padahal tadi pentungan itu belum terlihat.
"Nggak mau, aku tetap ingin bersamamu, disini, Honey, jika aku ingin, nanti kita bisa pake gang dulu kan, nggak harus lewat itu." Dion mengeratkan pelukannya. Tubuhnya menghangat.
Luna mulai risih dengan Dion yang terus menempel ditubuhnya, tingkah mesumnya tidak juga hilang, apalagi membayangkan gang yang tadi dikatakan, gang apa coba? Luna bahkan tak mengerti.
"Ihhh, jangan begini, dilihatin si kembar, malu, Yang." Luna akhirnya mau tidak mau memilih menjauh.
Luna melihat dua putranya yang sedang menyesap jari jempolnya sambil melihat kemesraan mommy dan daddynya.
"Hay sayang! Daddy baru pulang kerja, nggak papa ya Daddy ajak mommy mesra mesraan sebentar, seharian mommy kan sudah sama kalian." Dion menoleh pada putranya. Kedua putranya mendengar celotehan Dion hanya diam seolah berusaha mendengar apa yang dikatakan sang Daddy, sesekali si kembar mengerjapkan matanya pelan.
"Sudah aku mau mandi Sayang!" Luna menghindari Dion. Dion menahan lengan Luna tapi Luna melepasnya.
Dion tertawa terkekeh. "Setelah melahirkan kau makin cantik saja sayang," pujinya kemudian.
"Jangan mesum, puasa masih tiga puluh enam hari lagi." Aluna mengingatkan suaminya. Langsung lemes Dion mengingat waktu satu bulan lebih itu bukan waktu yang singkat, apalagi ingat pergumulan panas mereka sebelum Luna melahirkan.
__ADS_1
Karena hari telah sore, Luna memilih mandi dan dion menjaga dua anaknya yang anteng karena sudah kenyang.
Hari-hari Dion kini hanya ada kebahagiaan, dia juga tak melihat Angel datang ke kantor ataupun menghubunginya. Syukurlah, Dion berharap Angeline sudah tidak mengusiknya lagi. Berharap gadis itu akan menyesali semuanya.
***
Di rumah sakit tempat Jessica dirawat. Gadis itu sedang menahan sakit karena jarum suntik berhasil Jayden masukkan ke dalam salah satu otot pergelangan tangannya.
"Aaaa, ini sakit sekali!" Jessica berteriak kesakitan hingga tangannya reflek mencengkram pinggang Jayden. Kukunya yang panjang meninggalkan bekas merah di pinggang dan bahu Jayden.
Hanya butuh waktu dua menit, Jayden berhasil menyelesaikan pekerjaan mudah itu, namun Jessica masih saja mencengkram bahunya seperti anak kecil yang di suntik imunisasi.
"Ehem, ini namanya cari kesempatan dalam kesempitan." Jayden meledek Nabila. Gadis itu tak menyadari kalau tingkahnya sudah berlebihan.
"Apa!" Sadar tugas Jayden sudah selesai Nabila reflek langsung mendorong tubuh gempal dokter di depannya.
"Sus, tolong tinggalkan kami berdua, aku ada urusan dengan pasien satu ini, tolong ambilkan obat tidur biar dia tidak menggigit lenganku dan mencakar pinggangku lagi.
Jessica mendelik. "Jangan macam-macam Dokter, setelah aku tidur, anda pasti akan melakukan hal mesum."
"Jangan GR, aku tak mungkin melakukan yang kau tuduhkan, karena aku sama sekali tidak tertarik memakai cara murahan seperti itu, jika aku mau, aku bisa mendapatkannya sekarang." Jayden berkata di dekat telinga Jessica, membuat gadis itu bergidik ngeri.
"Dokter, kau sudah dua kali berusaha mengancam ku dengan ingin mencium bibir perawan milikku, jika aku mau melaporkan, kau pasti akan dipidana," kata Jessica, sambil menatap Jayden dengan tatapan tajam. "Jika anda memang tertarik padaku, bisa terus terang, yang gentle donk."
"Kalau aku memang tertarik padamu,apakah kamu mau jadi pacarku?" Jayden kali ini menantang ucapan Jessica.
__ADS_1
"Apa?" Jessica membuka bibirnya hingga membentuk huruf O. Lalu dia tertawa dengan kepala di geleng kan.
"Tau nggak Dokter, dengan mengatakan semua ini, anda justru terlihat seperti playboy beneran tau nggak. Sudah berapa pasien yang anda perlakukan seperti aku saat ini? Mereka boleh saja tergoda ya! Tapi jangan harap denganku." Jessica membanggakan diri.
"Sudah sudah, pergi sana, aku ingin istirahat," usir Jessica.
Jayden menggelengkan kepala, kesabarannya benar-benar terkuras, Baru kali ini dia menghadapi pasien yang langka macam Jessica. Mungkin Jessica demikian ketus dan tak menghargai dirinya karena memang pertemuan kedua mereka pada suasana yang tidak tepat.
Sore telah tiba. Teman Jessica berbondong bondong berkunjung ke rumah sakit karena mendengar kalau gadis yang terkenal ramah dan enerjik di kampus sedang sakit
Elvan salah satu laki-laki paling tampan segera memasuki ruang rawat dimana Jessica berbaring lemah. Elvan dan dua teman wanita diizinkan masuk pada giliran pertama, sedangkan yang lain haru menunggu antrian.
Jayden yang ada di ruang sebelah, terus terang terganggu dengan suara berisik Teman-teman Jessica yang mungkin bar-barnya sebelas dua belas sama Jessica.
Elvan yang diam-diam suka sama Jessica, dalam moment seperti ini tentu saja dia ingin menunjukkan perhatiannya yang lebih besar.
Elvan, lelaki yang terlihat sudah dandan cakep demi merebut hati Jessica itu segera masuk dan menggenggam tangan Jessica. "Jess, kok bisa tertabrak sih, pasti pengemudi mobil itu yang salah. Kamu bisa laporkan dia pada polisi saja, jika kamu mau aku akan membantu.
"Nggak usah Van, aku bisa kok melakukan sendiri.jika aku mau. Tapi masalahnya dia nggak seratus persen salah, kata Kakakku aku juga bersalah, karena lampu sein belakang motor yang aku kendarai pas putus, dan Kakak lupa untuk memberi tahu." Jessica menarik tangannya dari Elvan dan menjauhkan.
Entah kenapa kedatangan lelaki tampan itu mengusik hati Jayden, dia tidak pernah gelisah seperti hari ini, harusnya kedatangan sahabat Jessica bukanlah masalah untuknya.
Apalagi Jayden tadi sempat melihat laki-laki itu menggenggam jemari Jessica, Jayden tidak suka akan hal itu, rencananya sekarang adalah secepatnya dia harus bisa membuat teman Jessica pulang.
"Ehm, emm, maaf. Pasien butuh banyak istirahat, kondisi kesehatannya sore ini drop, sepertinya istirahat adalah kebutuhan Jessica yang utama saat ini," kata Jayden tak bermaksud menyakiti hati kawan Jessica.
__ADS_1
"Maksud dokter?" Elvan segera berdiri, dia tahu kalau Jayden sedang mencari cara untuk membuatnya pulang cepat.
"Maksud aku sudah jelas, kalian bisa jenguk besok saja, Jessica hari ini masih butuh banyak istirahat, dia tidak boleh menerima tamu dan ngobrol banyak, karena nanti bisa mengganggu kesehatannya," kata Jayden mulai protektif.