Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 178. Puncak kesedihan Aluna.


__ADS_3

Jessica, kamu harus percaya padaku, aku memang masih mencintai Luna sampai kapanpun hingga tak terbatas waktu, tapi tidak dengan dia, aku hanya ingin memberikan cincin ini, dan kamu tahu sendiri dia menolak tadi! Ini cincin yang ku anggap sebagai mas kawin. Sudah menjadi hak miliknya penuh."


"Kenapa Kak Rian tidak lupakan saja mbak Luna dan menikah dengan wanita lain. Aku tetap akan mengadukan ini pada kak Dion." Jessica kembali berlari dia masuk mobil dan meninggalkan parkiran. 


Sedangkan Adrian memilih pasrah, dia yakin Dion akan mengerti, buktinya dulu dia juga tak pernah cemburu saat merawat dirinya yang sedang hilang ingatan. 


Luna sedikit tenang setelah minum obat, matanya ngantuk dan ingin cepat-cepat tidur. "Aku ngantuk Na." 


"Tidurlah,Mbak, semoga sakit perutnya segera hilang." Nabila menarik selimut di kaki Aluna hingga menutupi perutnya. "Mbak saat ini sedang masa rentan keguguran, sebaiknya hati-hati. selain obat penguat kandungan, calon ibu tidak boleh lelah dan stress. 


"Nabila benar Luna!" Kata Adrian dari luar kamar, dia tadi juga panik melihat Aluna yang kesakitan. itu sebabnya dia nekat masuk.


Adrian tak tega melihat Aluna yang terlihat capek, takut kenapa-napa Adrian memilih menunggu bersama Dokter Nabila di sofa yang ada di dekat ranjang. 


"Gimana? Apa sudah clear masalah salah paham tadi?" Nabila bertanya sambil menoleh ke arah Rian.


Adrian mendengkus, Nabila tahu artinya semua tidak sesuai keinginan. "Iya, semoga saja gadis keras kepala itu tak mengadukan semuanya. Kalau iya, kasihan Luna.


"Kalau begitu anda pulang saja, sebelum semua makin rumit," pinta Nabila.


"Tapi Aluna?"


"Ada aku, ada Beni juga. Nanti kalau ada apa-apa, aku akan memberitahu."


"Biarlah aku tunggu sampai bangun tidur, jika sudah baik-baik saja, aku akan pergi." Adrian pun keras kepala. Nabila akhirnya membiarkan Adrian ikut menunggu. 


Nabila meninggalkan Adrian sebentar, berinisiatif membuatkan Aluna minuman hangat, sedangkan Adrian menunggu, sebagai dokter Nabila tahu kandungan Aluna pasti bermasalah. 


Dion menghubungi Aluna berulang kali, karena sedang tertidur pulas Aluna tidak mendengar panggilan Dion. Kerinduan pada istrinya yang sudah membuncah bagai haus di padang oase belum menemukan air penebus kerinduan.


Adrian mendengar panggilan Dion, tapi dia bingung, harus menerima, tetapi keadaan makin rumit, atau dibiarkan saja karena tak tega membangunkan wanita yang baru saja lelap.


 Dion terus menghubungi tanpa lelah, hingga dia akhirnya menghubungi Beni. 


"Apa yang terjadi dengan Nona Ben? Kenapa dia tak mengangkat panggilan dariku?"


"Nona sakit." ujar Beni singkat.


"Penyebabnya apa? Bagaimana dia bisa sakit?" Lelaki diseberang terlihat tak sabar. Dibilang istrinya sakit dia langsung berdiri dan meninggalkan hidangan makan siangnya.

__ADS_1


"Tadinya baik saja, setelah ada insiden kesalah pahaman kecil, Nyonya berlari mengejar Nona Jessica, dan dia sekarang merasakan perutnya sakit."


"Apa!! Lalu apakah Nabila bisa mengatasi semuanya?"


"Iya, dokter Nabila bekerja dengan bagus. Dia terlihat sudah memberi obat untuk Nyonya."


Dion sekarang kesal dengan jessica, dia kesal karena adiknya bikin ulah. Dion tak sabar menghubungi Jessica dan memarahinya.


Tetapi saat dihubungi, Jessica membela diri kalau dia tidak bersalah. Dia hanya mengatakan yang sebenarnya. Kalau memergoki kakak ipar dan sepupunya sedang berpegangan tangan. 


Masalah semakin rumit karena Dion tak melihat sendiri, sebuah kejadian yang diucapkan oleh orang lain akan bterasa semakin menyakitkan. 


Dion dengan serta merta langsung cek out dari hotel, tak sabar akan bertanya langsung semuanya pada Aluna. 


Dion menaiki pesawat dengan tiket ekslusif, dia tidak mau hanya jadi pendengar tanpa melihat kenyataan yang terjadi.


Semua meeting dan kerja sama lainnya dia batalkan. Dion tidak mau mengambil resiko kehilangan Aluna dan bayinya. 


"Akh sakit!" Aluna metintih. Darah membasahi rok dan seprey.


Adrian yang mendengar semua rintihan Aluna segera masuk ke kamar. 


Nabila, suruh Beni menyiapkan mobil, kita harus berangkat ke rumah sakit sekarang. 


"Apa yang kamu katakan? Aluna sakit! Tidak bisa menunggu lagi." Adrian tak sependapat dengan Nabila.


Tanpa serta merta Adrian langsung membopong tubuh Aluna ke mobil. Memposisikan Aluna terlentang dan Adrian memangku kepalanya. 


Aluna tak bisa menolak, sekarang hanya rasa sakit dan putus asa yang dia rasakan. Sedangkan Nabila duduk di depan kemudi, di sebelah Beni. 


"Ke klinik Dokter Ambar saja, aku biasa periksa disana." kata Aluna lirih. 


Adrian yang terus menatap Aluna. Dengan iba dia mengangguk. " Beni bawa Aluna ke clinik yang diminta."


"Baik, Pak Rian."


"Luna sakit banget ya?" Adrian tak tega, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Dia tak pernah bisa menenangkan lebih dari ini karena tahu dia bukan wanita yang boleh sembarang di sentuh lagi. 


Aluna segera dibawa Adrian ke ruang yang disarankan oleh dokter, Adrian tak sabar menunggu perawat membawa brankar. 

__ADS_1


Dokter Nabila mengikuti di belakang dengan panik. 


Dalam moment seperti ini, ada orang yang masih memanfaatkan untuk mencari keuntungan. 


Orang itu segera mengirim semua reksman ke Dion dan mengirim pesan. 'Dia adalah Papa  dari anak di rahim istrimu  yang sesungguhnya, lihatlah, betapa paniknya seorang papa yang akan kehilangan bayinya.Dia tidak akan pernah mencarimu, tapi dia butuh papa bayi itu ada bersamamu.'


Dion membaca pesan misterius itu dengan tangan gemetar. Kecewa sampai tingkat langit ke tujuh. Saking tak bisa mengendalikan emosi.


Dion segera meneleponnya, tapi begitu cepat pengirim misterius itu menonaktifkan panggilannya.


Hati Dion semakin berapi api, dia ingin tak percaya semuanya, tapi semua tak mungkin kebetulan, Jessica yang sedang marah padanya dan Aluna yang kini di gendong Adrian masuk ke clinik. 


Lima jam dalam pesawat Dion hanya bisa menahan marah, dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk wanita yang dicintai, keraguan bermunculan di benaknya. Dion jadi bimbang dengan kesetiaan Aluna. 


Bisa-bisanya Adrian tahu tempat tinggal barunya, dan lelaki itu ada disana. saat dia tak di rumah.


Bahkan Aluna tidak mengatakan apa apa saat kondisinya begitu lemah. 


Dion segera turun dari pesawat, berlari melewati lapangan luas dengan tas ditangannya seorang diri, begitu ada taksi yang menunggu penumpang, Dion segera masuk tanpa izin dan meminta sopir untuk segera mengemudikan dengan cepat ke arah clinik. 


Di dalam ruang perawatan Aluna menangis sesenggukan, bagaimana dia lupa kalau hamil, ini salahnya. Dokter Ambar sudah meminta untuk hati hati, karena kandungannya lemah, tapi apa yang dilakukan Luna.


Aluna tidak bisa mengatakan berita buruk tentang bayinya yang sudah tiada pada Dion. Aluna takut Dion dan keluarga akan memarahinya, dia tak bisa melihat nenek dan mama mertua kecewa. 


Beberapa hari dia baru saja melihat tawa bahagia dan harapan-harapan besar dari mereka. Tapi harapan itu sekarang sudah tidak ada.


"Maaf, aku harus mengatakan sekarang, kandungan anda memang lemah, dan bayi tumbuh diluar kandungan, jadi ini bukan semata karena kesalahan anda." Dokter berusaha menguatkan hati Aluna.


"Luna jangan terlalu kecewa, benar yang dokter katakan ini bukan semata kesalahanmu."


"Tidak Rian, ini kesalahanku, ini salahku. Ini juga salahmu, seharusnya kamu tak perlu datang ke rumahku." 


"Pergi! Pergi! kau dariku, seharusnya setelah kita berpisah, kita tak perlu lagi bertemu."


Bukan malah menjauhi Aluna, Adrian malah menggenggam jemari wanita yang tengah prustasi itu. Apa yang akan dikatakan pada Dion nanti. 


Aluna berusaha menarik tangannya dari genggaman Adrian. Tapi laki laki itu malah mempererat genggamannya. "Luna, aku tahu aku salah. Aku minta maaf, tapi percayalah kamu tidak bersalah. jangan salahkan dirimu."


"Pergi Rian, aku tak butuh kamu sekarang." Penolakan Aluna membuat Adrian makin tak bisa pergi, dia ingin menemani Aluna sampai sehat kembali. Walaupun bukan sebagai orang yang berarti, tapi setidaknya sebagai saudara suaminya. 

__ADS_1


Pendarahan belum berhenti. Dokter meminta Adrian untuk menunggu di luar. 


Aluna yang menerima perawatan maksimal dari Dokter Nabila dan Dokter Ambar hanya bisa menangis sesenggukan diatas brankar. 


__ADS_2