Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 15. Cemburu yang tak diakui.


__ADS_3

Angel keluar dari ruang OG dengan langkah sedikit buru-buru. Dia kembali menuju ruang foto karena Frengky pasti sudah menunggunya. 


"Kau terlambat lima menit Angel, aku kecewa dengan kinerja kamu." Frengky memasang wajah pura-pura jutek. 


"I'm sorry Frengky, aku harus memberi pelajaran pada gadis kampung itu, dia sudah keterlaluan." Angel merayu Frengky agar tak marah dengan mengecup pipinya kilat.


Frengky mengusap bekas kecupan Angel dan tersenyum. Frengky ingin yang lebih, yaitu bibir Angel. Tapi gadis itu sudah lebih dulu mendorong dada berbulu milik Frengky. "Siapa yang kau maksud gadis kampung itu, jangan sampe seorang Angeline takut kalah saingan dengan seorang gadis kampung. Apa kau benar benar mencintai Adrian? sampai kau pusing pusing mencemburui siapapun yang dekat dengannya."


"Ya, aku penasaran dengan lelaki itu, dia berbeda, hanya dia yang bisa menolak diriku, setelah lama berpacaran." 


"Dia tidak pernah menyentuhmu? kau makin mengejar pria itu. Angel jika kau kesepian kau bisa datang padaku kapanpun pasti aku bersedia memberimu kepuasan." Tawa lelaki dewasa bernama Frengky itu pecah. Sambil sesekali dia memeriksa kamera digital di tangannya.


Frengky tau Angel sudah sering berhubungan badan dengan kekasihnya sebelum Adrian. Tapi Angel juga tak mudah menyerahkan diri pada semua pria hidung belang. 


"Kita mulai sekarang, berposelah dengan seksi, karena ayah mertuamu yang akan melihat pertama kali. Foto ini akan tiba di sana dalam waktu yang singkat," ucap Frengky sambil membungkukkan tubuhnya, mencoba kameranya beberapa kali.


"Kamu pria gila Frengky." Angel menjauh dan mulai duduk berpose, 


"Aku gila karenamu, Cantik. Kau menyiksaku setiap kali aku mengambil foto dirimu." Terlihat nafas Frengky tak beraturan, Frengky sudah lama suka Angel tapi tau diri, fotografer sepertinya bukan tipe Angel. 


Asisten Frengky yang bernama Yosi sudah biasa mendengar perbincangan nakal bosnya, atau bahkan mencumbu wanita di depannya. Dia maklum mencari uang memang banyak cobaan dan godaan.


Beberapa foto Angel sudah diambil dengan berbagai gaya dan ada beberapa pose yang berlebihan dan vulgar. Angel sengaja memancing reaksi Adrian dengan fotonya hari ini.


Orang sering bilang, kalau lelaki itu cinta, pasti dia tak ingin tubuh wanitanya  terekpose dan di lihat lelaki lain berlebihan.


"Gimana Frengky?"


"Hot banget, Cantik. Gue sampai gerah sendiri disini. Pengen langsung bikin kamu keenakan di sofa itu." Frengky menunjukkan fotonya, Angel terlihat puas. sambil mengibaskan kemejanya. tubuhnya berkeringat.


Plak! 


Angel menampar pipi Frengky ringan, Frengky tertawa memegangi pipinya yang terasa panas. 


 "Mimpi aja Lu. Gue cabut dulu Freng. Istirahat, sambil menunggu Rian datang ke ruangan, Sudah nggak sabar liat reaksi dia."


"Tunggulah beberapa menit foto ini akan meluncur ke layar laptopnya. Kau akan tau reaksi pacarmu."


Angel melenggang pergi dengan meninggalkan aroma semerbak parfumnya.


"Oh iya, kalau tak ada reaksi, jangan-jangan dia bukan pejantan tangguh. Kekasih sepertimu harus dibiarkan kesepian."


Angel hanya mengangkat tangannya tanda perbincangan hari ini selesai. Wanita itu segera ganti kostum dan makan siang bersama teman-temannya. 

__ADS_1


Sedangkan Adrian masih di ruang meeting, waktu istirahat tak membuatnya ingin segera beranjak. Adrian juga heran pada dirinya sendiri kenapa bisa menyebut wanita lain dengan nama Luna. Bukankah dia sangat benci gadis jelek itu. Bahkan Adrian berencana  akan membebaskan Luna dengan sebuah talak setelah enam bulan usia pernikahan nanti.


"Pak Rian!"


"Heh, iya Nin ada apa?"


"Saya mohon maaf mengganggu Bapak, saya kira tadi bapak sudah tak ada disini lagi. Sebenarnya bukan saya yang kebagian membersihkan ruangan ini, tapi saya menggantikan teman saya karena dia sedang sakit."


"Teman kamu? Adrian terlihat berfikir sejenak.  Apa wanita yang bernama Luna?"


"Iya Pak, wah Bapak kenal Luna juga. Luna hebat, dia juga sangat akrab dengan pak Tito."


"Tito? Memangnya dia pernah ngapain aja sampai kamu bilang sangat akrab?"


"Bapak, serius pengen tahu?" Ini urusan OG lho pak? Karyawan terendah di kantor ini. Masa Pak Rian ingin tahu."


"Iya, Aku berhak tahu, tak masalah cerita padaku." Adrian berdiri mendekati Nina yang sedang mengelap tiap meja dan membuang gelas bekas minum tamu. 


"Apa menurutmu mereka pacaran?" 


"Tidak Pak, Tidak, benar, jangan pecat Luna. Dia bukan pacar Pak Tito. Luna cuma dekat saja dengan Pak Tito."


"Bagus, kau tahu aturan di perusahaan ini kan? Demi kualitas kinerja yang maksimal, Aku tak ingin ada karyawan yang menjalin hubungan dalam satu perusahaan. Terkecuali aku, Angel juga bukan karyawan tetap disini, status dia kontrak."


"Saya yakin Pak Tito hanya kasian pada Luna. Makanya dia selalu bantu  Luna, Pak."


"Permisi, Pak Rian." Nina segera meninggalkan Adrian, Nina takut ucapannya baru saja akan menjadi sebuah salah paham, jika iya dialah orang yang telah membuat perkara ini dengan mulutnya yang lancang. 


Adrian bergegas meninggalkan ruangan, menuju ruang OG lewat lift khusus CEO. Dia  saat ini hanya mengikuti kata hatinya untuk melihat wanita yang sudah menjadi istri sahnya itu. 


Adrian berhenti ketika melihat Luna duduk dengan raut sedih, sedangkan Tito jongkok di depannya.


"Luna, katakan apa yang telah terjadi?"


"Tidak ada apa-apa Pak Tito, tadi aku hanya terjatuh, dan kaca mata ini pecah." Luna memunguti kaca, dan Tito membantunya.


Tito bisa merasakan kalau Luna berbohong, dia bisa melihat rambut Luna berantakan. Terlihat sekali gadis itu usai dapat perlakuan buruk.


"Pulang kerja nanti aku akan mengantarmu ke toko optik."


"Tidak perlu Pak, saya biasa naik ojol, kadang-kadang Reno juga tawarin tumpangan."


"Nggak apa apa khusus hari ini kamu bisa bareng saya." 

__ADS_1


"Maaf, Pak."


"Halah, nggak usah sungkan dan terlalu formal sama aku Lun. Nanti aku belikan kaca mata yang bagus."


Aluna menunduk tak berani mengiyakan.


Sedangkan obrolan mereka seluruhnya sudah didengar oleh Adrian. 


Aluna dan Tito segera berdiri begitu melihat sosok bos tampan mendekat. "Pak Rian. Sejak kapan anda disitu tadi?"


"Aku cari kamu Tito, ternyata disini, tolong selesaikan semua berkas yang akan kita kirim ke perusahaan Papa.


"Semua sudah siap Pak, Rian. Anda bisa tanyakan pada Sisil." 


"Tito. Aku mau kamu periksa ulang!" Suara Adrian meninggi.


"Baiklah, Pak." Tito mengangguk, sebelum pergi dia juga pamit pada Aluna dengan bahasa isyarat dan tersenyum.


Aluna hanya berani menatap sesaat tanpa berani membalas senyum Tito. Luna sadar pria yang berdiri di depannya dengan raut menakutkan adalah suaminya.


Setelah Tito tak terlihat, Adrian juga beranjak. Aluna berlari mengejar langkah Adrian. "Pak Rian, ada yang ingin saya bicarakan?"


"Harusnya aku yang bertanya." Adrian membenarkan jas sebentar,  baru dia berbalik melihat Aluna yang tepat ada di belakangnya.


"Kenapa kamu suka sekali mencari perhatian pria lain? Apa karena kamu sengaja berpenampilan seperti ini?" Adrian menyelipkan anak rambut Aluna yang berantakan. "Sengaja membuat mereka lebih mudah luluh? Tak-tik apalagi ini Lun? Tito bisa bisanya tak bisa jauh darimu"


"Saya tidak pernah menggoda Pak Tito, saya juga tak percaya Pak Tito selalu ada saat saya sedang dalam masalah."


Adrian tersenyum. Ini pertama kali dia melihat wajah Aluna tanpa kacamata, begitu polos dan imut. Tapi tetap saja tak mampu membuat Adrian jatuh hati. Lelaki itu sangat menyukai wanita cantik, berpenampilan modis dan selalu wangi. Bukan Aluna yang serba alami dan tak tersentuh makeup sama sekali. 


"Oh, jadi Tito selalu datang seperti Spiderman, yang selalu menolong kaum lemah saat dia butuh?" Adrian tertawa. 


"Apa Bapak marah jika saya dekat dengan seorang pria?" Aluna memberanikan diri bertanya. 


"Marah? Kamu sudah gila?" Tertawa makin keras, wanita dengan wajah polos di depannya menanyakan perihal posisi di hatinya. Tentu Adrian sendiri belum tahu jawabannya.


 "Buat apa saya marah? Cemburu kedekatan kamu sama Tito?"


Adrian menarik dagu Luna. Wajah dengan tekstur halus dan bibir merah itu mendongak, sekarang jarak wajah mereka sangat dekat.


"Saya tak akan cemburu dengan wanita manapun, karena saya bisa memiliki banyak wanita dengan mudah, termasuk kamu."


 

__ADS_1


__ADS_2