Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 57. Melewati malam berdua.


__ADS_3

Malam ini Aluna sudah menuruti apa yang diinginkan bibi Sonia. Berdandan cantik dan memakai baju merah anggun sesuai keinginan Adrian. 


Kata Bibi, siapa tahu dengan penampilannya yang cantik Adrian akan berubah mencintainya dan membatalkan rencana pertunangan dengan Angel. 


"Tiiiin!"


Suara klakson terdengar panjang. Aluna sudah menduga siapa yang datang.


Suara pagar diseret terdengar sangat panjang. Penjaga pasti sudah menutup pintu gerbang kembali setelah mobil sudah masuk ke garasi.


"Nona, Tuan sudah datang, Bibi pergi dulu." Sonia tersenyum sambil mengerlingkan mata, sengaja menggoda Aluna. Wanita itu lalu pergi ke dapur.


Aluna yang sedang berada di ruang keluarga makin gusar. Meremas ujung roknya untuk mengurangi kegugupan, tangannya dingin. Aluna heran dengan dirinya sendiri, dengan suami sah begitu tegang dan kaku, sangat berbeda saat bersama Dion, lebih santai dan rilexs. 


"Selamat malam!" Suara seseorang dari arah depan, setelah itu sepi kembali. Pasti pria itu sedang bengong dengan mulut menganga, atau sedang meneteskan air liurnya. 


"Malam Pak Rian." Dengan wajah menunduk. Aluna tak berani menatap sosok tinggi, tubuhnya wangi parfum dan memakai jas hitam. 


"Emmm Luna, malam ini kau cantik." Adrian sampai gugup, terpesona oleh kecantikan Aluna kalau sudah berdandan. 


"Terima kasih Pak Rian, ini semua anda yang meminta bukan?" Jawab Aluna masih menunduk.


"Iya, aku ingin menemani kamu, bukankah kemaren kau bilang kau kesepian di rumah ini."


'Pak Rian, kenapa anda aneh begini, disaat aku sudah siap pergi dari hidup Anda selamanya, anda mulai memberi perhatian, membuat hati ini bimbang saja.' batin Aluna.


"Sekarang tidak lagi, bibi Sonia sudah ada disini."


"Ya, kalau begitu aku yang kesepian." Adrian mulai menyalakan lilin yang beraroma harum dan meminta Sonia menyiapkan menu makan malam yang sudah ada dalam daftar rencana. 


Aluna masih berdiri dalam ketegangan sambil meremas ujung roknya dengan gusar. Dia sudah seperti manekin cantik tertutup oleh busana anggun. 


Adrian menarik kursi persis seperti yang dilakukan Dion waktu di hotel. Lalu Adrian duduk di depannya. "Kau cantik sekali malam ini, pantas saja lelaki itu tak mau jauh darimu."


"Tak ada hubungan yang spesial, kita akan menjadi sahabat karib." Aluna berusaha membuat semuanya baik, berharap dua lelaki itu berdamai.


Tapi apa bisa, mereka berdua sedang bersaing ingin menjadi pemilik perusahaan, bukan CEO. Dan hanya akan ada satu pemilik perusahaan Central. Yaitu siapa yang mampu menguasai pasar dagang di seluruh negeri ini.


"Aku juga mau jadi sahabatmu." Senyum Adrian manis, tapi masih menjadi misteri bagi Aluna, Dia menggenggam jemari Aluna persis dengan yang Dion lakukan malam itu. 

__ADS_1


Aluna kini sadar lelaki itu cemburu, dia ingin mengulangi malam Aluna saat bersama Dion. Pasti karena cemburunya yang melampui batas.


Musik menggetarkan gendang dengan  merdu, musik yang sama seperti malam itu. Aluna berusaha mengatasi kegugupannya. Adrian sedang bertindak konyol. Selucu inikah kalau lelaki sedang cemburu. 


"Kita dansa sebentar sambil menunggu hidangan siap,"pinta Adrian. 


Jemari Aluna diangkat dari atas meja, gadis itu hanya bisa menerima perlakuan lembut suaminya, mau tidak mau dia harus berdiri mengikuti kemana Adrian menapakkan kakinya. Mereka berdua naik diatas ballroom dengan ukuran kecil yang ada di ruang itu. 


Aluna sangat kaku, Adrian harus membimbing tangan wanitanya merengkuh tengkuknya. Sedangkan Adrian menarik pinggang Aluna agar sedikit mendekat. 


Jarak mereka kini sangat dekat, hingga aroma mint dari nafas lelaki itu mulai terendus oleh hidung kecil dan bangir Aluna. Meski asli Indonesia, hidung Aluna tergolong lancip. 


"Berikan senyummu." Pinta Adrian.


"Kenapa melakukan ini semua? Bukankah  anda akan menikahi seorang wanita kaya dan jago berdansa, anda tak perlu lagi bersusah mengajarinya."


"Aku ingin melakukannya denganmu, tidak apa-apa hanya perlu sering latihan, nanti kau juga akan terbiasa."


Aluna menatap kearah lain dimana tak ada wajah Adrian di depannya, hati Aluna sedang sensitif, berdansa dengan suaminya jauh lebih mendebarkan dibandingkan dengan seorang sahabat.


Adrian tak suka, Adrian ingin menatap iris Aluna yang membingkai wajahnya, dan sebaliknya. Adrian terpaksa sedikit memaksa Aluna agar menatapnya dengan menarik dagu. 


Tatapan keduanya menjadi semakin romantis ketika pianis mulai menekan satu persatu tut, hingga mengwluarkan nada nada cinta.


Bibir merah yang alami, hanya dengan sedikit perona pipi. Adrian merutuki kebodohannya yang tak tahu bidadari itu sudah lama di dekatnya. 


Adrian memejamkan mata, mendekatkan bibirnya pada kening Aluna. Netra aluna ikut terpejam merasakan bibir dingin suami menyentuh keningnya. Aluna tak kuasa menolak, hatinya kini setuju menjadikan kecupan yang baru saja terjadi adalah perpisahan, besok baru dia akan mulai mencari cara kabur dari Mansion. 


Aluna sudah bertekad untuk pergi jauh dimana dia tak lagi mendengar nama Adrian disebut dan diagungkan.


Kecupan turun lewat di antara dua mata dan turun ke hidung lalu bergerak ke samping, bibir lembut terus saja menjelajah sekitar wajah.


Jantung Aluna terpacu semakin kencang, dia malu ketahuan menikmati kecupan mesra, aluna mendorong tubuh Adrian saat bibir mulai bersentihan, tapi yang terjadi justru tubuhnya terpental dalam dada bidang suami, Adrian sudah tahu Aluna akan memilih menjauh daripada terperangkap dalam dekap hangat. Itu sebabnya dia sudah berjaga-jaga jika tiba tiba Aluna menolak dirinya.


"Biarlah seperti ini, aku ingin menikmati hanya bersamamu." Suara lembut Adrian bagaikan mantra. 


"Ini terakhir kalinya," pinta Aluna, kepalanya menempel di dada.


"Tidak janji." 

__ADS_1


Lama berdansa tak terasa musik akan berakhir, bibi sudah mengintip dari balik pintu dengan dua piring bistik di tangannya. 


Adrian terpaksa melepas pelukannya. "Kita makan dulu, pasti sudah lapar."


Dibalas anggukan oleh Aluna. Adrian masih belum melepas tangannya hingga menuju meja bundar yang sudah lengkap dengan menu makan malam. 


Adrian baru sadar kalau Aluna istimewa. Tapi sayang pertemuan mereka disaat tak tepat, disaat dia harus membalas budi dan membuat pion yang kuat untuk menggapai puncak.


Jika dia tak melanjutkan rencana, Adrian bisa kehilangan semua, keluarga Angeline yang ada dipihaknya bisa berbalik menjadi musuh dan menyerang seperti monster. 


Aluna melihat cara Adrian memotong daging dia harus belajar cepat supaya tak malu. Piring mulai berdenting karena beradu dengan sendok, Aluna kesulitan karena dia biasa makan daging dengan memegang dan menggigitnya langsung.


"Kalau nggak bisa, aku bisa membantunya." Lelaki itu menarik kursi lebih mendekat dengan si wanita. Aluna tak memiliki waktu menolak, jemari Adrian lebih cepat menggeser piring. 


"Pak Rian aku bisa sendiri." Kata Aluna dengan mengambil kembali piringnya. Tapi Adrian sudah menahan piring dan menggenggam pergelangan Aluna.. 


"Aku ingin menyuapi istriku, jika lelaki lain saja boleh, kenapa aku suaminya tidak diizinkan."


"Kita akan berpisah, saat saya sudah pergi saya tak ingin mengingat sedikitpun kenangan indah bersama anda. Jadi jangan lakukan semuanya dengan berlebihan.


"Tidak akan ada yang pergi, kau akan tetap disini." Adrian meminta Aluna membuka mulutnya. Adrian menyuapi hingga makanan di piring habis. 


"Aku tetap akan pergi."


***


Malam telah tiba, Aluna mulai tak bisa menahan kantuk, dia berulang kali menguap. Mungkin karena dia terlalu kenyang. Adrian memaksa aluna makan banyak malam ini.


"Jangan tidur dulu, aku masih ingin bersamamu malam ini sampai esok pagi."


"Aku sudah tak tahan, mataku sulit dibuka." 


"Ayolah Luna, kamu jangan membuat aku kecewa."


"Hoaammmm, maaf Pak Rian." 


Aluna sudah benar- benar mengantuk, dia tak bisa lagi bertahan lebih lama dalam posisi duduk, Aluna oleng dari kursi, Adrian segera menangkap tubuhnya. 


"Aku ingin tidur Pak, biarkan aku tidur, aku kekenyangan." Rancau Aluna sambil mengelus perutnya. 

__ADS_1


Adrian tersenyum melihat Aluna yang dikiranya sudah dewasa, ternyata memiliki sisi manja yang besar. Adrian menggendongnya ke kamar mengagumi keindahan dalam dekapannya sambil mengecupi pipinya. Aluna menggeleng, menjadikan tangannya untuk menghalangi Adrian agar berhenti mengecup pipinya.


"Jangan cium bibirku, aku masih perawan," rancau Aluna mulai setengah sadar. 


__ADS_2