
"Hai buka pintu aku, tidak sudi bermalam disini hanya berdua dengan lelaki mesum sepertimu!
"Kau selalu bilang aku mesum. Jika kau tak berhenti mengatakan, aku akan benar- benar melakukan perbatan mesum yang selalu kau tuduhkan.
Enzo dan Chela saling melayangkan tatapan tajam. Chela sama sekali tak mau kalah dari Enzo. tapi Chela mendadak menjadi pendiam dengan ancaman Enzo yang mengerikan.
Tak lama Enzo memanggil Tito dan memintanya membawa Dokter untuk mengobati luka Chela.
Tito yang mendapat tugas dari atasannya segera melaksanakan titah tersebut dengan cepat.
Hanya setengah jam Tito sudah datang bersama Dokter yang akan mengobati luka Chela.
Chela yang begitu takut dengan jarum suntik sekarang justru tak mau keluar dari kamar Enzo, padahal dia tadi sangat bersemangat untuk pergi dari kamar itu.
"Hahaha, rupanya kamu takut dengan jarum suntik?" Ledek Enzo.
"Siapa yang takut, aku hanya ingin istirahat saja, aku lelah," dusta Chela.
"Tapi dokter sudah menunggumu Chela, baiklah biarkan aku suruh masuk saja."
Chela sepertinya tidak bisa menghindari Dokter lagi. Dan jika dia memperlihatkan sebuah kebodohan, takutnya Enzo akan memanfaatkan tentang kejadian hari ini. dan terus mengoloknya.
Setelah dokter menyuntikkan obat pereda nyeri dan memintanya supaya minum beberapa butir obat, Chela langsung mengantuk berat Tubuh Chela terkapar di ranjang big size milik Enzo.
Enzo tak bisa membangunkan Chela yang sudah lelap, Enzo kasihan dengan yang kesakitan.
"Tuan, apa perlu aku pindahkan Nona Chela ke kamar tamu."
"Jangan, biarkan saja dia tidur disini."
"Tapi anda akan sakit pinggang jika tidur di sofa," kata Tito yang sudah tahu kebiasaan Enzo.
"Aku akan tidur di kamar tamu denganmu." jawab Enzo yang sebetulnya juga bingung masa tidur sekamar sesama pria, apa kata dunia.
"Baiklah, aku akan membereskan kamar tamu. Biar anda nyenyak saat memakai kamar itu."
"Ya aku tunggu." kata Enzo sambil menguap beberapa kali.
Sambil menunggu Tito membereskan kamar tamu, Enzo memilih menunggu sambil tiduran di sebelah Chela. Karena saking besarnya ranjang itu, mereka hanya menepati sebagian kecil permukaan ranjang saja.
Saat Tito kembali dari kamar sebelah, dia melihat Enzo sudah terlelap di ranjang besarnya.
Tito akhirnya berinisiatif mengambil foto mereka berdua, berharap akan berguna jika bos meyalahkan dirinya nanti."
Tito yang seharian bekerja juga mulai mengantuk demi sebuah keamanan dia memutuskan tidur di sofa yang ada di luar kamar Enzo.
__ADS_1
Karena terbiasa bangun kesiangan, Tito masih molor ketika nyonya Ellyana datang untuk menjenguk Enzo.
Wanita itu makin sering datang karena sedang berniat menjodohkan Enzo dengan anak sahabatnya. Nyonya Ellyana takut putranya akan jadi perjaka tua, semenjak Enzo gagal mencintai Luna dia tidak lagi sudi menjalin hubungan dengan wanita manapun.
Nyonya Ellyana membawa banyak makanan kesukaan putranya dan sengaja mengantar pagi buta karena berharap bisa ngobrol panjang lebar sebelum Enzo berangkat bekerja.
Suara ketukan pintu berulang kali dari Nyonya Ellyana membuat Tito terkejut dan langsung membuka pintunya.
"Oh, kamu Tito."
"Iya Nyonya, siapa lagi."
"Ya aku berharap yang membuka pintu untukku sekali-kali seorang gadis."
"Hehehe, Nyonya berharap tuan Enzo membawa seorang kekasih pulang."
"Tentu Tito, Bayangkan saja usia Enzo sudah tiga puluh lima, tapi gadis incaran saja dia tak punya. Sepertinya aku harus bawa dia therapi, supaya dia tertarik dengan seorang wanita."
"Tapi Nyonya apa tuan Enzo mau? Dia pasti merasa sebagai laki-laki normal. Akan sangat terhina sekali jika anda membawanya."
"Bantu aku Tito, aku tak peduli siapapun wanita itu, asalkan Enzo cepat menikah, aku khawatir dia suka kamu lagi." Nyonya Ellyana menatap Tito sengit karena dia heran Tito menginap disini. Biasanya juga pulang ke rumahnya.
"Nyonya kenapa memandangku seperti itu, saya normal Nyonya."
Ellyana mengangguk. "Bagus kalau begitu aku tidak perlu curiga sama kamu, tapi dimana Enzo?"
"Tidur? pemalas"
"Bangunkan dia, bilang aku sudah datang karena ingin bicara."
"Baik Nyonya."
Tito menuju kamar Enzo. Baru saja hendak mengetuk pintu tapi nona Ellyana kembali berteriak.
"Berhenti! Tito biar aku saja yang membangunkan anak pemalas itu dengan caraku sendiri."
Nyonya Ellyana diam-diam memiliki kunci serep milik putranya dia segera membuka, tapi pintu ternyata tidak dikunci karena semalam mereka sama-sama ketiduran.
"Aaaa. Enzooo!!"
Mama terkejut melihat Enzo sedang tidur dengan seorang wanita. Yang membuat Mama semakin terkejut adalah Enzo memeluk Chela sangat erat.
Seingat Enzo semalam dia hanya memeluk guling , tapi kenapa Barang yang di peluk bisa berserakan di lantai.
"Maaf Ma, semua tidak seperti yang Mama kira." Enzo segera turun dan mengambil kaosnya yang sengaja dilepas semalam, lelaki itu terbiasa tidur tanpa kaos.
__ADS_1
Chela yang baru saja bangun karena teriakan mami yang memekakan telinga, tentu saja terkejut bukan kepalang.
"Aaaaaaa."
Seingat Chela semalam hanya tidur sendiri, tetapi paginya sudah ada Enzo yang bertel*njang dada, dengan cepat laki-laki itu mengenakan kaosnya.
Tentu Chela segera memeriksa baju yang dia kenakan. Sialnya dua kancing bagian atas kemeja Chela memang terlepas.
"Maaf, Tante ini tidak seburuk seperti yang Anda lihat." kata Chela setelah merapikan baju yang dia kenakan. Chela berusaha membela diri, suaranya gemetar.
"Tidak mungkin, aku tidak percaya, kalian bukan anak kecil lagi, tidur di kamar yang sama dan tidak melakukan apa-apa dalam semalam," ujar Nyonya Ellyana. padahal dalam hati dia senang putranya bukan pecinta sesama, seperti yang ditakutkan selama ini.
"Baiklah, selesaikan masalah ini secepatnya. aku tunggu di ruang keluarga." Nyonya Ellyana pura-pura sedih. dia segera keluar dan duduk di ruang keluarga yang ada di dekat ruang makan.
"Anda benar-benar lelaki mesum! katakan apa yang telah anda lakukan?!"
"Aku mesum sama kamu? tidak mungkin!"
"Buktinya kenapa kancing kemejaku lepas, dan ..." Chela menjeda kalimatnya lalu melanjutkan dengan suara lirih. "Dan aku merasa seperti bermimpi ada tangan yang merambat ke sini, ngaku! itu pasti tangan kamu!" Chela menutup dadanya rapat. Matanya mendelik menatap Enzo dengan tajam.
Enzo diam, semalam dia juga seperti bermimpi menyentuh benda yang kenyal dan tentu menyenangkan, tapi apa itu Enzo juga tak ingat.
"Ahhh sudahlah! aku tidak ingat apapun, kamu pasti yang menggodaku." Enzo beranjak dari ranjang dan segera ke kamar mandi. sedangkan Chela masih berusaha mengingat-ingat semuanya.
Chela kesal karena terpeleset, kejadian memalukan ini terjadi. masalah tidak akan semakin besar kalau Nyonya Ellyana tidak datang.
Tapi dia sudah terlanjur kepergok, dan nyonya Ellyana juga tak percaya dengan penjelasan apapun.
Chela mandi di kamar sebelah lagi yaitu dengan shower, sedangkan Enzo yang mandi menggunakan bathup sudah selesai.
Enzo segera menemui Mama lebih dulu sebelum Chela selesai mandi.
"Enzo kamu harus menikah!"
"Tapi Ma, percayalah Enzo tidak ngapa-ngapain."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin Ma."
"Maaf tapi mama tidak yakin, kamu dan gadis itu harus menikah.Tito jelaskan apa yang kami lihat semalam?" pinta Nyonya.
"Maaf Tuan, semalam anda tidur bersama, dan anda melakukan hal yang memalukan dan lebih baik segera menikah saja ...." kata Tito yang sudah mendapat ancaman dari Nyonya Ellyana.
"Tito!! kamu pasti berbohong!" pekik Enzo.
__ADS_1
"Tidak Tuan. Pernahkah saya berbohong, bukannya anda sudah mengenal saya bertahun tahun!"