
Hamdan ketakutan ketika Dion mencekik lehernya dan menempelkan tubuh kekar ke dinding. Dion kesetanan ketika hari masih pagi.
"Pak Dion, ampun, maaf aku telah salah, kukira Aluna sama dengan wanita cantik lainnya yang suka dengan lelaki mapan, tapi rupanya aku salah, sekretaris anda itu ternyata dia gadis baik baik, maafkan saya." Keringat dingin turun membasahi pelipisnya, tubuh hamdan gemetar hebat.
"Aaaaampun," pekiknya saat Dion memelintir tangan dan mematahkan jari-jarinya.
"Ini untuk tangan yang sudah lancang berani menyentuh wanitaku," Ancam Dion dengan tatapan tajam. Ini pertama kalinya Dion melakukan kekerasan pada bawahannya.
"Maaf, aku tak akan mengulangi, aku benar-benar tak tahu kalau dia wanita yang spesial untuk anda." Lelaki itu berulang kali minta maaf dan berjanji tak akan sekali pun mengulangi kesalahan yang sama.
"Bagus."
Aluna yang melihat keributan di belakang segera mengintip dari jendela. Bukan hanya Luna saja, teman-teman juga melakukan hal yang sama.
"Ada apa?" Mereka yang baru datang ikut kepo.
"Entahlah."
"CEO kita marah-marah."
"Dia tak pernah seperti ini sebelumnya."
"Ah, aku tahu penyebabnya, dia marah karena sekretaris kesayangan CEO ada yang menggoda."
"Wah, jadi Pak Dion sudah punya kekasih baru sekarang, beruntung sekali dia, siapa? Apa dia sangat cantik."
"Ya Cantik, Sekretaris barunya"
Obrolan ringan berlanjut menjadi sebuah gosip panas, di dengar oleh Aluna dengan sangat baik. Dia yakin dirinya sudah benar benar bukan Luna yang cupu, buktinya para karyawan tadi bilang kekasih pak Dion sangat cantik.
Aluna kembali tersadar kalau Dion tak berhenti menghajar Hamdan, gadis itu segera berlari ke belakang dan melerai
"Sudah Pak Dion, sudah cukup!' Aluna memegangi lengan Dion, tapi pria itu sulit sekali untuk sekedar mendengar ketika marah.
"Dia sudah kurang ajar Luna, dia harus bayar perbuatannya dengan setimpal, kamu minggir!" Dion terus memukul rahang Hamdan kanan dan kiri dengan bertubi-tubi.
"Pak Dion, dia sudah berjanji tidak akan mengulangi. Beri kesempatan kedua untuk Dia Pak."Aluna yang selalu takut dengan kekerasan kini dia mulai histeris.
__ADS_1
"Iya Pak, saya berjanji tidak akan mengganggu Nona Luna lagi." Hamdan berulang kali meyakinkan Dion.
"Satu kali kau berulah, kupastikan kau kehilangan pekerjaanmu, dengar baik-baik buka telingamu selebar mungkin." Ancam Dion sebelum dia benar benar menjauhkan tangannya dari Hamdan
Kini mereka tinggal berdua, Aluna dan Dion, tak ada satupun karyawan yang berani menampakkan batang hidungnya.
"Pak Dion, terimakasih sudah membela kehormatan saya." Aluna dengan wajah takut mendekat pada Dion. Dia takut karena hari pertama kerja sudah membuat kekacauan.
Dion mengacak rambut Aluna.dan kembali tersenyum manis. "Sudahlah, aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan saja. Wanita benar harus dibela."
Aluna membantu Dion memasuki ruang pribadinya dengan menggamit lengannya, meskipun Hamdan tak membalas, Dion tetap saja mengeluarkan banyak tenaga.
Lelaki itu duduk dan mengatur nafasnya. Aluna mengamati Dion dalam dalam setelah menghapus keringatnya. "Pak kenapa anda seperti ini? Anda terlihat menakutkan, saya suka anda yang baik dan lemah lembut, Ayah Gemoy yang manis.
Dion tetap diam, entahlah Cinta membuatnya buta dan bodoh.
Aluna bergerak menjauh, baru berbalik dan kakinya terangkat satu, Dion kembali meraih jemarinya.
"Tetaplah Disini, aku butuh kamu ada disisiku." Tatapan Dion terlihat sayu.
Aluna mengangguk setelah menoleh. "Iya, aku akan mengambil minuman untuk anda.
Dion mengangguk setuju. "Baiklah."
'Pak Dion, anda adalah orang pertama yang melindungi saya, menganggap saya berharga, menganggap saya wanita istimewa, memberi semangat untuk berubah, akankah kebaikan sebanyak itu mampu aku membalasnya, Pak Dion bagaimana kalau aku nanti membuat anda kecewa, bagaimana jika justru aku tak sesuai harapan anda, apa anda juga akan membenciku.'
"Nona Luna, mari kita makan siang. Kenalkan Aku Diva, mantan sekretaris Pak Dion. Tapi aku sekarang menjadi sekretaris Pak Hamdan."
"Aku Luna, Nona Diva."
"Senang berkenalan dengan Anda, dan anda gadis yang beruntung dari ribuan wanita di King Fashion ini."
"Terimakasih Nona, terima kasih." Aluna tersenyum ramah setelah mereka berjabat tangan.
Makan siang berjalan sesuai jadwal, hanya saja Hamdan terlihat diam menikmati makan siangnya.
Sedangkan Beni senyum-senyum mengganggu Aluna karena tadi memergoki Dion mengecup keningnya.
"Em gimana nie, aturan perusahaan apa masih tetap berlaku. Kayanya harus ada yang di revisi nie"
__ADS_1
"Aturan yang mana sih?" Diva iku kepo.
"Aturan kalau dalam kantor tak boleh ada hubungan yang berurusan dengan hati, kayaknya bos kita yang akan melanggar pertama kali."
"Beni, kamu lebay tau nggak, Aku dan pak Dion, sahabat. Iya kan, Pak?" Beni sukses membuat Aluna malu.
"Satu hari kerja tahap persahabatan, dua hari bisa tahap saling mengagumi, tiga hari kerja pacaran, dan selanjutnya merit deh."
"Kamu benar Ben, aturan perusahaan yang satu itu perlu direvisi. Dengan syarat urusan hati tak boleh mengganggu kinerja.
"Oke, kita setuju." Seluruh karyawan menyetujui.
****
Pukul dua belas malam Adrian mengadakan meeting tersembunyi bersama dua bodyguard di sebuah gazebo di taman belakang. Arga dan Argo sudah standby sejak satu jam yang lalu.
Semua Adrian lakukan demi untuk menghindari Angeline. Gadis itu sudah seminggu tak mau pulang, dia selalu ingin disini dengan alasan Chela yang meminta.
Adrian menatap dua bodyguard bergantian lalu memukul meja pelan untuk mengumpulkan konsentrasi. "Bagaimana? Apakah sudah menemukan petunjuk tentang kebakaran itu?"
Arga lebih dulu menggeleng. Selanjutnya baru Argo. "Aku hanya menemukan ini." Ini bukti kalau penghuni rumah itu tak bisa kabur, dan api besar melahap tubuh mereka hingga menjadi abu. Karena ini pembunuhan, ini bukan kebakaran biasa.
Adrian langsung pias, dua orang di depannya tak berguna sama sekali, Angeline sengaja meminta pada orang suruhan untuk membersihkan jejak dan pergi sangat jauh keluar negeri.
Sedangkan Dion juga membantu Luna menghilangkan jejak dari Adrian dengan cara menganggap Luna mati dalam kebakaran itu, dengan meninggalkan kalung perak di tempat kejadian.
Tapi Adrian curiga kalau Luna masih tetap hidup, Adrian yakin Aluna bisa lolos dari kebakaran itu, walau bukti perhiasan murah yang dipakai Aluna di malam itu mampu membuat hatinya bimbang. Tapi jasad Aluna tidak ada.
Tuan Rian, maaf jika saya lancang. "Siapakah sebenarnya yang anda cintai?
"Tentu aku mencintai yang berhak mendapat cintaku, Aluna juga berhak, karena dia istriku."
"Tapi selama ini anda sangat membencinya."
"Iya, aku membencinya, tapi semua demi untuk melindungi dia yang lemah, agar orang di sekitarku tak membencinya, semua orang punya cara yang berbeda untuk melindungi dan mencintai. Kejadian ini yang aku takutkan, dia pergi selamanya dariku.
"Saya mengerti Tuan, kalau begitu kami akan mencarinya lebih serius lagi, target pencarian kita selanjutnya adalah King Fashion.
"Kamu benar juga. King Fashion harus kita curigai, karena Nona Aluna sangat Akrab dengan CEO Dion.
__ADS_1
*Happy reading. Jangan lupa emak minta like dan votenya mumpung hari Senin.
*Sampai disini siapakah yang anda sukai? CEO Dion atau CEO Adrian.