
"Kamu wanita licik!!" Adrian mendorong tubuh Angeline hingga tubuh sedikit berisi karena hamil itu terhempas di kursi.
Angeline merasakan nyeri di pinggulnya. Angeline mengelus perutnya yang makin hari makin membesar. "Akhh, pekiknya. Seperti inikah Rian kau membalas cintaku."
Angeline khawatir bayinya terluka. Melihat Adrian kesetanan, Angeline menjadi takut. Jika terus hanya berdua, sepertinya Adrian akan terus mengintimidasi dirinya.
"Security!! Security!!" Angeline ketakutan.
"Adrian mendekati Angel, hendak mencekiknya. "Apa yang kau lakukan ini melampaui batas, ini bukan cinta Angel, ini namanya pemaksaan, kau terus memaksa aku supaya mencintaimu, meski kesalahanmu sudah tidak bisa dimaafkan lagi."
"Security! cepat kesini! hoek …. Tolong!" Angeline terus saja memanggil security, sepertinya Adrian benar-benar mencekiknya.
"Siap Bu Angel!" Security datang tergopoh. "Ada yang bisa saya bantu?!"
"Tolong bawa dia pergi sebelum menyakitiku. Dia akan membunuhku." Angeline membuat drama seolah dia yang paling teraniaya disini.
Sambil memegangi perutnya, Angeline memerintahkan security membawa Adrian keluar. "Bawa orang ini keluar, aku takut dia akan menyakitiku."
Dia security segera memposisikan diri di dekat Adrian, satu di kanan dan satu lagi di kiri.
"Lepaskan!" Adrian menghentakkan kedua lengannya, otomatis pegangan security itu terlepas.
"Maaf Pak! Aku hanya menjalankan tugas." Security terlihat sungkan, karena dia tahu siapa Adrian asal mulanya.
"Angeline mulai sekarang kamu aku talak tiga, kita cerai." Adrian berkata dengan amarah menggebu, jari telunjuknya selalu diarahkan pada Angeline yang menahan tangisnya.
"Lakukan jika kamu bisa, kamu akan miskin, Rian. Kamu akan sengsara, dan Papi akan membuat kamu lebih hancur dari sekarang, ingat itu!!"
"Aku tidak takut!! Dengar aku tidak takut lagi sekarang."
Rian tak menghiraukan, dia masih bisa merayu nenek untuk memberikan perusahaan miliknya. Semoga saja nenek akan berbaik hati mempercayakan perusahaan setelah usahanya menuai kegagalan.
__ADS_1
Adrian keluar perusahaan, dia ingin sekali menenangkan hati. Karyawan yang tinggal beberapa orang masih tinggal disana, tetapi yang bukan penjilat, mereka semua sudah tak ada lagi.
Justru yang Adrian pikirkan bagaimana nasib mereka. Tapi mengingat terlalu banyak masalah yang dihadapi akhir ini, selain itu dia juga masih dalam tahap penyembuhan.
Mobil Adrian sudah berhenti di depan club, tapi untuk masuk dia masih berfikir. Adrian tak mau lagi menambah masalah dengan mabuk mabukan.
Adrian ingat Aluna tak pernah suka saat dirinya mabuk. Mungkin dengan menghindari apa yang tidak disukai Aluna akan semakin menunjukkan jika cintanya tulus, meski tak mungkin lagi memiliki.
Adrian menghentikan mobilnya di sebuah danau, dia melihat suasana danau lumayan mendukung untuk menenangkan diri, mungkin karena hari terlalu panas pemancing ikan malas berangkat.
Adrian melempar batu ke danau, berharap air danau tak akan tenang, Adrian ingin membagi ceritanya yang terus menerus menghadapi cobaan.
Bayangan Dion dan Aluna saat tertawa penuh cinta kembali memenuhi kepala, belum lagi Nabila saat menenteng koper meninggalkan rumahnya, dan baru saja Angeline mengambil alih kursi jabatan presdir di perusahaan.
Angelone sudah mencuri banyak dokumen penting dan file rahasia perusahaan. Sehingga dengan mudahnya dia menduduki kursi kepemimpinan meski tanpa meminta persetujuan dan tanda tangan Adrian.
Saat larut dalam ingatan tentang setiap kejadian buruk, Adrian mendengar sayup-sayup seorang wanita dan laki-laki sedang bertengkar.
"Sudahlah, lupakan aku, dan pergilah, aku tak apa-apa meski tanpa kamu, daripada kau ada bersamaku, tapi hatimu untuk wanita lain."
"Kau ini cemburu buta, aku tidak mencium Denia, gadis minta tolong aku meniup matanya karena kelilipan.
"Aku tidak buta Ferdi, bibir kalian bertautan." Meski kita beda mobil tapi kaca mobil kamu terbuka, aku melihat dengan jelas."
"Nabila, kamu salah lihat, aku tak mau kita baru jadian tetapi terus bertengkar seperti ini. Aku dan Denia tak pernah ada apa-apa dan kita tak akan pernah putus, ngertii!"
"Yakin kamu hanya meniup mata Denia?
"Sueer." Ferdi menunjukkan dua jarinya.
Adrian bersembunyi dibalik pohon yang besar, dia tidak ingin keberadaannya mengganggu Nabila dan kekasihnya. Melihat pertengkaran dua makhluk itu Adrian sedikit terhibur. "Dasar ABG labil mudah dikibulin," kata Adrian sambil memperhatikan tampang Ferdi, yang menurutnya nggak tampan-tampan amat.
__ADS_1
"Aku malah curiga dengan pekerjaan barumu, semenjak kamu bekerja di rumah lelaki hilang ingatan itu, kamu berubah, jarang telepon aku lagi."
"Kan aku sibuk Fer, aku harus melayani Kanebo kering itu. Dia pasien, kesehatannya adalah prestasiku, aku akan mendapat masalah besar jika dia tidak sembuh."
"Kamu nggak jatuh cinta kan sama dia? Siapa tadi? Kanebo kering haha"
"Enggak, asal kamu setia aku juga setia." Nabila menempelkan kepalanya di dada Ferdi sambil mengamati pemandangan danau yang airnya berwarna hijau.
"Setia dong sayang, mana mungkin aku selingkuh. Kamu itu pacar terbaik aku. Percaya deh sama aku." Ferdi memeluk Nabila dengan erat. Nabila pun terlihat nyaman dalam dekapan kekasihnya.
Adrian yang dilibatkan dalam perbincangan itu dia sangat kesal. Tangannya tanpa sengaja memukul batang pohon yang sebagian kulitnya sudah mengelupas itu. "Akhhh," pekik Adrian. Dia segera menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
"Kenapa aku harus dilibatkan dalam perkelahian kalian, enak aja ngatain orang kanebo kering. Awas ya Na, kalau ketemu lagi." Kesal Adrian dalam persembunyiannya.
Nabila dan Ferdi sudah berdamai, dia kembali melajukan kendaraan entah kemana lagi. Mungkin lelah bertengkar sekarang dia makan.
Adrian keluar dari persembunyian, dengan wajah kesal. Bisa-bisanya Nabila mengatakan dirinya milik kanebo kering di depan kekasihnya.
Sore hari Adrian sudah sampai di rumah, dia segera membersihkan diri, lalu mengenakan baju yang menjadi favoritnya t-shirt dan celana jeans selutut, Adrian sore ini ingin terlihat lebih santai. dia juga bukan lagi CEO.
Adrian ingin sekali berterima kasih pada Dokter Jayden yang selama ini sudah ikut berperan penting dalam mengembalikan ingatannya yang telah hilang. Selain itu tujuan Adrian yang lain adalah ingin membalas perbuatan Nabila yang sudah berani mengatainya saat di danau tadi.
Adrian langsung saja menuju rumah sakit, tak lupa dia bawakan bingkisan kecil untuk Jayden sebagai hadiah atas prestasi dan kegigihannya.
Dengan langkah lebar, Adrian menuju ruang pribadi dokter. Kata perawat kebetulan dokter Jayden sedang ada di ruang operasi. yang ada di dalam ruang dokter hanyalah Nabila
"Suster yakin Nabila ada di dalam ruangan itu?"
"Yakin sekali tuan. dia baru saja masuk, aku melihatnya sendiri."
"Baiklah aku percaya, sebaiknya hadiah ini aku titipkan pada dia saja." Adrian langsung saja masuk ke ruang pribadi Jayden.
__ADS_1
Suster juga tidak keberatan, pasalnya wajah Adrian sudah familiar.