
"Kabar bagus Tuan, aku melihat Nona Aluna masih hidup." Laporan dari Argo membuat Adrian yang beberapa hari ini hanya urung-uringan, detik ini seketika seperti ada air es yang mengguyur tubuhnya. Tubuhnya menjadi adem dan lega.
"Apa kau sudah melihatnya sendiri?"
" Benar sekali, aku sudah melihatnya sendiri, bahkan kami sangat dekat tadi, nona Aluna menang sengaja menghindari kita, dia sangat ketakutan saat aku melihatnya."
"Apa yang membuatnya takut? Bukankah terakhir aku bertemu dengannya sikapnya sikapku sudah sangat baik, aku bahkan bersikap sangat lembut dengannya."
"Entahlah, Tuan. Pasti sesuatu sangat buruk sudah terjadi tanpa kita ketahui." Arga ikut menerka
"Benar sekali, Aku berharap kau kali ini tidak kehilangan jejak lagi, karena aku tak mau kehilangan dia lagi, aku tak mau terlambat menyadari cinta yang tumbuh diantara kita, aku ingin Aluna tidak pergi dariku." Adrian berkata dengan sungguh sungguh sambil menempelkan siku di bedo teralis yang menjadi pembatas balkon.
Dia menelepon sambil menatap alam bebas dan sendiri. Adrian tak ingin ada keluarganya yang tahu kalau cintanya sudah berubah. Mama tak pernah mendukung, apalagi adik semata wayangnya.
***
"Sayang, aku mencari dimana mana ternyata kau ada disini." Dua lengan sekaligus memeluk pinggangnya, jemari lembut menggelitik dada dan mencubit kecil tonjolan. Adrian mencoba mencari kehangatan yang dulu dia dapat dari seorang Angeline. Adrian memejamkan mata, mencoba mencari sensasi hangat seperti dulu, saat kepala Angeline Menempel di punggungnya. Namun semua menjadi hambar, tidak bersemangat. Adrian yakin ini pasti karena cinta yang dulu seratus persen untuk Angeline sudah berubah menjadi lima puluh lima puluh, atau bahkan sudah berubah menjadi tiga puluh untuk Angeline dan tujuh puluh untuk Aluna.
"Adrian aku nggak sabar malam akan segera tiba, dan pertunangan kita akan dimulai. Aku sangat senang, apa kau juga sama?"
"Ya, aku juga sudah tak sabar menunggu hal itu." Jawab Adrian masih dengan mata terpejam. Kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa menunjukkan ekspresi bahagia itu pada Angeline.
__ADS_1
Angeline meminta Adrian untuk menghadap dirinya, membalikkan tubuh dan membuat wajah mereka saling memandang sepuasnya. Adrian yang tampan bahkan untuk sekarang dia masih sangat tampan, hanya sayang dia sudah berubah, tatapan matanya tidak seliar dulu.
Adrian merasa Angel sudah tak membuatnya penasaran lagi, meski selama ini permainan hanya setengah-setengah saja, tidak sampai hubungan intim. Tapi tetap saja separuh dari kenikmatan sudah sering dia dapatkan.
Angeline membimbing kedua tangan Adrian, memintanya untuk memberinya kenikmatan seperti biasa. Dia belum pernah melakukannya di balkon, selama ini hanya di kantor dan di tempat-tempat tertutup. Angeline ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Adrian menurut dia menelusupkan kedua tangannya dan meremas dua benda kenyal di depan mata yang sudah tanpa pelindung kacamata, bahkan baju tipis yang digunakan bisa mencetak bentuknya dengan sempurna.
Lenguhan dan desisan pelan mirip ular mulai terdengar, Angeline terbuai oleh jemari Adrian yang bermain indah di tubuh depannya. matanya merem melek dan bibirnya bertautan.
Saat memejamkan mata justru bayangan Aluna yang terlihat di benak Adrian. Adrian berusaha melawan hati yang mulai berkhianat, otak Adrian ingin berjalan lurus tidak boleh menghianati gadis yang sudah ada bersamanya bertahun-tahun. Tapi sayang sekali semua itu tak berhasil. Bayangan Aluna memakai baju merah dan tersenyum padanya semakin jelas. Rengek manja Aluna yang mengatakan kalau dia tidak mau dicium, dia tidak mau memberikan bibirnya yang masih perawan pada lelaki yang tidak tepat mulai terdengar kembali, Aluna mengatakan tepat saat adrian menggendongnya di malam itu.
"Ini tidak benar." Andrian menggeleng.
Brukk! Adrian mendorong tubuh Angel hingga tubuh wanita itu tersungkur di lantai. Dengan bagian depan tubuhnya acak acakan.
"Maaf, aku tak sengaja melakukannya."
"Apa kau bilang? Tak sengaja mendorong tubuhku? Tapi Aku jatuh Adrian kau pasti melakukannya dengan sengaja." Angeline terlihat menahan amarah, wajahnya memerah. Matanya berkaca kaca.
Adrian memasang wajah bersalah mengulurkan tangannya pada Angeline yang kini sedang menatap dirinya dengan intens, gadis itu tidak bodoh, perubahan Adrian sangat mencolok. Tapi Angeline yakin Adrian akan kembali lagi ke pelukannya, setelah ingat kalau wanita itu tak mungkin kembali karena dia sudah mengikat dan membakarnya.
Angeline menerima uluran tangan Adrian. Adrian memeluknya untuk menebus kesalahannya baru saja. "Maafkan aku, kita tidak boleh melakukannya sebelum pernikahan berlangsung, kita harus belajar menahan semua ini, kesabaran akan berbuah sangat manis." bujuk Adrian sambil membelai rambut Angeline yang kini berubah warna lagi menjadi pirang, gadis berwajah oriental itu menangis terisak di dekapan Adrian.
__ADS_1
"Kau menyakiti hatiku Rian, kau membuat aku kecewa, seharusnya kau tidak melakukan semua ini, aku sangat mencintaimu, aku selalu ada disampingmu tapi kini kau malah kasar sekali." Angeline kembali mengungkit jasanya selama ini pada Adrian. Entah berapa puluh kali Adrian selalu diingatkan Angeline dengan hal yang sama.
"Maaf, aku sudah katakan aku tak sengaja, aku minta maaf. Sekarang pulanglah, malam nanti kita akan bertemu di acara pertunangan kita."
Angeline tersenyum, kali ini dia menuruti ucapan Adrian. "Iya, aku pamit pulang, kamu juga siap-siap sayang, aku tak sabar ingin malam ini segera berlangsung."
Angeline masuk ke kamar yang pernah menjadi tempat tinggal ternyaman bagi Aluna itu, mengambil handbag dan koper besar lalu menyeretnya ke luar kamar dan menguncinya. Tangannya menggenggam ponsel hendak menelpon asisten yang sedang bekerja di lantai satu. Adrian melarangnya.
"Aku akan antar kamu sampai mobil." Adrian sepertinya merasa bersalah dengan sikapnya baru saja.
Angeline tak menolak tawaran Adrian. Mereka berdua kini sama-sama berjalan mendekati lift, dan Andrian membantu membawakan koper milik Angeline.
Sampai di garasi Angeline segera membuka pintu belakang untuk memasukkan koper lalu kembali mendekati Adrian dan mencium bibirnya. Adrian tak kuasa menolak karena angeline melakukannya dengan sangat cepat. Hak sepatu yang tinggi membuat tubuh Angeline hampir sama tinggi dengannya.
"Bye, emuah!" Angeline berlakukan cium jauh.
"Bye, hati hati dijalan." Adrian melambaikan tangan. Lelaki yang sedang dilanda dilema itu menatap kepergian mobil Angeline, hingga hilang tertutup oleh pohon kaktus dan tanaman bougenville yang berjejer rapi sepanjang jalan keluar mansion.
Angeline ingin segera pulang, tapi niat itu dia urungkan, dia ingin menemui sahabat, partner kerja sekaligus partner ranjang itu.
__ADS_1
Kebetulan rumah Frengky satu jalan dengan rumahnya. Berbagi keluh kesah dengan lelaki itu sangat menyenangkan bagi Angeline. Laki-laki itu juga harus tahu kalau nanti malam dia akan bertunangan. Angeline ingin Frengky juga datang di hari bahagianya.